Edgar terbangun dengan perasaan waspada. Ia menoleh ke sekitar dan menemukan Daniel yang tidur di sebelahnya. Daniel mendengkur cukup nyaring, tangan dan kakinya sudah terbentang menindih tubuh Edgar. Edgar berusaha mendorong Daniel, lalu dengan susah payah mencari ponselnya yang tergeletak di nakas, mengecek jam yang terpampang di layar. Sudah pukul empat dini hari.
Edgar segera menyingkir lalu turun dari ranjang. Ia mengambil jaketnya yang tergantung lalu mengenakannya. Setelahnya ia berjalan keluar dari kamar penginapan dengan gerakan pelan agar Daniel dan Leo yang sedang tertidur tidak terkejut mendengarnya.
Edgar menyusuri lorong penginapan yang sepi dan remang-remang. Ia berpapasan dengan seorang petugas kebersihan berwajah muram yang sudah mulai akan bekerja, tampak sedang mendorong troli yang berisi alat bersih-bersih. Edgar terus berjalan hingga keluar dari bangunan penginapan. Ia pun mengambil duduk di kursi halaman yang lembab karena embun.
Ia mengamati papan reklame nama penginapan dengan lampu warna-warninya yang masih berkedip lemah, satu-satunya penghias di kota kecil yang terasa kosong itu. Ketika langit mulai agak terang, Lampu papan reklame pun padam.
"Hai."
Edgar menoleh dan Sia sudah berjalan menuju ke arahnya. Gadis itu pun bergabung dengan duduk di sebelahnya. Celana mereka berdua pasti akan basah karena menduduki kursi yang berembun.
"Pagi banget bangunnya?" tanya Sia.
"Daniel menindihku," kata Edgar.
Sia tertawa mendengarnya. Mereka berdua pun sama-sama menyaksikan langit yang semakin terang. Lokasi mereka tak dapat menunjukkan langit timur yang menggiring matahari naik ke langit.
"Aku masih tidak percaya." Kata Sia. "Akhirnya kita benar-benar berangkat."
"Kalian begitu tertarik dengan Siprus ya?" Tanya Edgar.
Sia menoleh pada Edgar, ia tersenyum dan mengangguk. "Ya. Tentu saja. Kami bertiga sudah memulainya sejak dua tahun lalu. Tidak ada kata mundur lagi." Ia menghela napas. "Aku masih ingat ketika Prof Alan menemuiku pertama kali, dua tahun lalu. Aku tidak pernah mengambil kelasnya, tapi dia datang sendiri menemuiku dan mengajukan diri sebagai dosen pembimbing. Dia bilang dia tertarik dengan proposal penelitianku. Padahal sudah banyak dosen yang menolak proposal itu. Mereka tidak suka Siprus dijadikan objek. Menurut mereka itu kasus lama. Tapi menurut Prof Alan kasusku menarik untuk diangkat kembali."
"Kukira kau sudah mengenal Ben cukup lama," komentar Edgar.
"Tidak." Sia menggeleng. "Sebelumnya tidak."
"Dan kau menjadi asisten pribadinya kan?" Tanya Edgar.
"Ya. Setelah Prof menjadi dosen pembimbingku, dia menawariku tambahan pekerjaan sebagai asistennya. Katanya dia punya urusan di Vanadis dan butuh asisten. Tentu saja aku menerimanya dengan senang hati. Namun tidak pernah sekali pun aku berpikir akan memasuki SQF dan membantu Prof dalam mengurus pengeluaranmu."
"Dia tidak memberitahumu?" Tanya Edgar, agak kaget.
"Oh ya, dia memberitahuku ketika kami sudah sampai di Vanadis. Mengejutkan sekali. Dia memberikan semua berkas tentangmu dan memintaku untuk mempelajarinya." Sia tertawa kecil. "Begitulah Prof. Semua tindakannya begitu mengejutkan. Tidak terduga. Itu kali kedua dia membuatku terkejut setelah dia mengajukan diri menjadi dosen pembimbingku. Berikutnya dia terus saja mengejutkan kami bertiga dengan pandangan serta tindakannya yang tiba-tiba."
"Kupikir mengangkatku sebagai saudaranya itu agak konyol," komentar Edgar.
"Prof memang masih muda. Terlalu muda malah. Tapi otaknya bekerja dengan sangat cepat melebihi kapasitas otak manusia normal seperti kita. Seandainya bukan karena usia, dia berniat ingin mengangkatmu sebagai anak."
"Itu lebih konyol lagi," gerutu Edgar dan Sia hanya tertawa. Mana mungkin seorang pria pertengahan dua puluh mengangkat anak seorang bocah berusia lima belas tahun?
"Sia..." Panggil Edgar dengan nada ragu.
"Ya?"
"Apakah kau percaya pada sihir?" Edgar menolehkan wajah, memandang pasang mata cokelat Sia. Ekspresi gadis itu berubah agak kaget mendengar pertanyaannya.
"Sihir?" Sia memiringkan kepalanya. Kemudian ia tersenyum kecil. "Ilmu pengetahuan bisa menjadi sihir jika orang-orang tidak mempelajari asal usulnya."
Edgar cukup kaget mendengar jawaban Sia yang tidak segera langsung menertawakan pertanyaan, malah membuat konteksnya terdengar masuk akal. Mungkin memang begitu. Obat yang ia temukan di ruang rahasia Ben pastilah suatu hasil dari ilmu pengetahuan. Pasti ada penjelasan ilmiah mengenai cara kerja obat itu yang mempu memperbaiki sel-sel otaknya hingga ia mampu mengingat lagi.
"Kurasa kau benar."
"Ayo, kita bangunkan yang lain untuk sarapan." Ajak Sia. "Aku sudah lapar nih."
Edgar mengangguk setuju. Ia pun beranjak berdiri mengikuti Sia sementara perutnya mulai bergejolak meminta asupan pagi.
--
Mereka kembali berada di dalam mobil yang melaju. Kali ini Sia yang mengemudi. Daniel sudah tertidur lelap sementara Leo sedang membaca sesuatu di ponselnya.
Edgar kembali memilih duduk di samping kursi kemudi. Ia setuju dengan Daniel agar memisahkan Leo dan Sia. Entah mengapa Edgar tidak tahan melihat keduanya duduk berdekatan. Dia tidak suka.
Namun meskipun keduanya sudah berjauhan, Sia dan Leo masih saja asyik mengobrol tentang hal yang tidak dimengerti oleh Edgar. Mereka membicarakan mata kuliah, orang-orang di fakultas, pernikahan teman mereka dan sebagainya. Edgar sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk dapat ikut dalam topik pembicaraan. Edgar tidak dapat menahan tampang cemberut di wajahnya. Ia memalingkan wajah ke jendela, lebih memilih memandangi pemandangan di luar jendela yang membuatnya semakin mengantuk.
"Hah? Apa? Apa? Kita sudah sampai?" Daniel yang sejak tadi tertidur tiba-tiba tersentak bangun.
Sia cekikikan melihat reaksi Daniel yang tiba-tiba. Sementara Leo menggeleng-gelengkan kepala, heran melihat tingkah Daniel.
"Kita baru saja meninggalkan penginapan tidak terlalu lama," kata Leo. "Tapi kau sudah tidur nyenyak."
Daniel menghela napas, ia mengucek matanya. "Yah, kayaknya aku kurang tidur." keluhnya, dan membuat Edgar mengerutkan dahi.
Edgar ingat sekali Daniel yang lebih dulu tidur malam kemarin juga yang paling lama bangun pagi ini. Tapi Daniel masih berkata jika ia kurang tidur. Konyol sekali.
"Aku bermimpi seram," kata Daniel kemudian. "Mau dengar mimpiku?"
"Jangan deh, nanti kita bernasib sial gara-gara mimpimu." Tolak Sia, mengibaskan tangannya. Tidak siap untuk mendengarkan.
"Dengar deh," Daniel tetap ngotot, tersenyum jahil.
"Tidak mau!" Seru Sia.
"Kau bermimpi apa?" Leo terlihat pura-pura penasaran, ikut tersenyum jahil, sengaja ingin membuat Sia bertambah panik.
"Hei... Kalian tidak pernah dengar ya kalau menceritakan mimpi buruk itu bisa menyebabkan nasib sial?!" Sergah Sia jengkel.
"Tidak tuh," kata Leo. "Itu cuma mitos!"
"Aku bermimpi kadaver kita di ruang penyimpanan mayat tiba-tiba bangkit!"
"Daniel!" Seru Sia.
"Dan kadaver itu menyerang lalu memakan kita semua hidup-hidup!"
"Demi Tuhan! Daniel!" Seru Sia bertambah kesal.
Leo malah tergelak. "Jadi siapa yang mati lebih dulu?" Tanyanya pada Daniel. "Kau kan ya?"
"Enak saja. Kan aku yang bermimpi. Kalau aku dimakan lebih dulu, bagaimana aku tahu kelanjutan kisah mimpiku?" Sungut Daniel. "Yang mati lebih dulu itu Edgar!"
Daniel segera mengacak rambut Edgar dari kursi belakang. Edgar yang terkejut segera menghindar.
"Apa-apaan...!" Seru Edgar jengkel.
"Tidak mungkin Edgar." Kata Sia. "Edgar adalah mantan pelatihan SQF, seharusnya dia yang selamat sampai akhir. Dan kau yang mati lebih dulu!" Todongnya pada Daniel yang malah tertawa cengengesan.
"Calon dokter seharusnya hidup lebih lama," Daniel membela diri. "Jika kalian terluka lalu siapa yang mengobati kalian?"
"Kok kedengaran seperti bukan mimpi lagi deh, kau mengarang cerita ya?" Tuduh Leo.
"Tidak. Yang kukatakan benar kok!"
"Hei, hei... Sudah deh!" Sela Sia.