40. Ngidam dan Musibah

1012 Words

"Mas! Bangun ih." Zenith mencebikkan bibirnya kesal melihat Dito yang tak kunjung bangun walaupun sudah ia panggil beberapa kali, ia bahkan sudah lelah menggoyang-goyangkan bahu suaminya itu.  Kedua matanya sudah berkaca-kaca, bersiap menurunkan bulir-bulir air matanya yang sudah penuh di pelupuk matanya. Matanya sudah terasa memanas dan kabur karena hal itu.  Entah mengapa, semenjak hamil Zenith jadi lebih emosional dan gampang menangis, alias kalau bahasa gaulnya adalah baperan. "MAS!" panggil Zenith sebal untuk kesekian kalinya.  Hingga akhirnya, mendengar panggilan terakhir dari Zenith yang cukup tinggi berhasil membangunkan Dito dan membuyarkan alam mimpi pria itu. Matanya terlihat mengerjab-ngerjab beberapa kali, kemudian menatap Zenith dengan menyipit. "Ada apa, Nith? Kamu ken

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD