Chapter 1
Tau nggak apa yang lebih nyebelin dari lembur menjelang weekend?
Bangun sebelum jam 5 pagi saat weekend.
Dan disinilah Fio saat ini. Di halte. Jam 5 pagi. Di Hari Sabtu. Dan ini semua karena Ospek Jurusan yang dilaksanakan senior-seniornya saat weekend. Belum mulai ospek aja perasaan Fio sudah sekesal ini, bagaimana nanti kalo sesi marah-marah komdis ospeknya sudah dimulai. Fio harus buru-buru bangun dari tidur nyenyaknya untuk menunggu bus yang sebentar lagi akan tiba di halte ini. Ospek jurusannya dimulai tepat pukul 6 pagi sementara perjalanan dari kosnya ke kampus baru Fio butuh setengah jam sementara bus Fio tiba di halte pukul 5.15. Jadi fio masih memiliki waktu 15 menit kalau-kalau perjalanannya ke kampus terhambat dan Fio harap semoga itu tidak terjadi. Ia tidak boleh terlambat di hari pertamanya ospek, ia tidak boleh memberi peluang untuk senior-senior brengseknya tersebut memarahi Fio di hari pertama Ospek, kalau tidak ia akan jadi bulan-bulanan mereka untuk tiga hari kedepan, selama ospek jurusan berlangsung. Sudah jadi rahasia umum kalau Ospek Jurusan adalah ajang ‘silaturahmi’ para senior kepada junior dengan cara yang well, let’s say NORAK BANGET. Bagaimana tidak, selama 3 hari tersebut para senior ini akan bertindak seperti “tuan besar” yang setiap perintah dan titahnya adalah hukum yang tidak boleh dibantah oleh junior aka MABA kalau ingin kehidupan perkuliahannya tenang. Ini adalah derita mahasiswa yang kuliah di tempat yang masih menjunjung tinggi senioritas seperti kampus Fio saat ini.
Bus pagi itu benar-benar kosong hanya ada Fio dan dua orang di depannya, mungkin karena ini weekend. Ya memang siapa sih yang sesibuk itu sampai harus menunggu bus subuh-subuh gini selain Fio dan dua orang di depannya. Oh gak, ada satu orang lagi yang baru naik, sepertinya masih banyak juga orang yang bernasib sama dengan Fio hari ini. Setidaknya hal itu menaikkan sedikit mood Fio. Bukan hanya dia saja yang harus bangun sepagi ini saat weekend.
“Permisi, saya mau duduk disini.”
Fio mengalihkan pandangannya dari jendela di sisi kirinya dan mendapati sesosok lelaki dengan raut wajah yang paling sopan yang pernah Fio lihat. Fio tidak mengatakan kalau lelaki tersebut tidak ganteng dengan menyebutnya sopan. Lelaki tersebut tampan tetapi Fio lebih suka menyebut raut wajah tersebut dengan kata sopan karena bagi Fio lelaki tampan itu variatif, dan lelaki di depan fio ini--- kalau kata orang ada jenis suara yang sopan banget masuk ditelinga, nah jenis wajah pria dihadapannya ini adalah jenis wajah yang sopan banget masuk dimata.
“Uhm, permisi, boleh saya duduk disini?”
“Oh... um, boleh-boleh aja sih tapi kan masih banyak tempat kosong.” balas Fio melihat kursi di sekelilingnya yang masih kosong.
Lelaki itu tersenyum kecil sembari mendudukkan diri di kursi sebelah Fio. “Tapi saya lebih suka disini” balas lelaki tersebut sembari memejamkan matanya sementara Fio masih mengamatinya heran. Wajah dan sikapnya berbanding terbalik. Tidak pernah Fio bertemu dengan lelaki seaneh itu. Ia bisa memilih duduk dimana saja di bus ini tetapi lebih memilih duduk di samping orang asing yang tidak dikenalnya bahkan tidur dengan nyaman disampingnya. Hanya ada satu kemungkinan jawaban kenapa lelaki tersebut meminta duduk di samping Fio, yaitu bermaksud flirting dengannya seperti kebanyakan lelaki yang selama ini dikenal Fio. Tetapi alih-alih mengajaknya berkenalan atau sekedar berbasa-basi, lelaki tersebut malah tidur nyaman di samping Fio.
Pagi itu sepanjang perjalanan dari halte sampai kampusnya,Fio tidak bisa tidur, padahal ia ingin memakai waktu 30 menitnya di perjalanan tersebut untuk mengganti waktu tidurnya yang harus dirampas paksa gara-gara ospek ini, tetapi ia malah berakhir menjaga orang yang tertidur nyaman di sampingnya. Niatnya yang semula ingin menyusul tidur juga tertunda karena pikirannya yang langsung mewaspadai orang disampingnya tersebut. Ada kemungkinan kedua mengapa orang tersebut tiba-tiba duduk di sampingnya, ia adalah copet yang biasa beraksi di bus ini. Modus mencopetnya hari ini bisa jadi berubah karena angkutan umum ini lagi sepi, jadi dia tidak bisa melakukan aksi mencopetnya yang biasa ia lakukan pada saat bus lagi ramai-ramainya. Tapi masa sih? wajah sepolos dan sesantun itu bisa jadi copet. Tetapi wajah kan biasa menipu. Hidup di Ibukota selama setahun ini membuat Fio tidak mudah percaya dengan orang dan selalu waspada termasuk kali ini. Sisa perjalanan itu pun dihabiskan Fio dengan memutar musik dan mendengarkannya melalui earphone sembari memeluk tasnya erat-erat.
***
Kupandangi lekat-lekat sosok lelaki di sampingku ini sambil menimbang apakah ingin membangunkannya atau melangkahinya agar aku bisa bebas melenggang keluar dari bus ini yang telah berhenti sesaat yang lalu. Tetapi belum sempat memilih, laki-laki tersebut sudah menunjukkan tanda-tanda kesadarannya. Kelopak matanya perlahan terbuka dan mengerjap beberapa kali sebelum berpaling ke arahku.
“Oh sudah sampai yah?” pertanyaan retorisnya menyadarkanku yang masih sibuk memandangnya.
“Oh i..iya tadi niatnya mau bangunin mas tapi udah keburu bangun.” balasku membela diri karena terpergok sibuk memandanginya yang sedang tidur. “Kalau gitu saya permisi mas.” pamitku. Ia bangkit dari duduknya untuk memberi ku jalan keluar. Aku memutuskan berbalik untuk memandang pria tersebut untuk terakhir kalinya sebelum turun dari bus. Aku merasa bersalah sudah sempat berpikir kalau pria tersebut adalah copet tetapi bukannya mendapat lelaki tersebut kembali duduk di tempat semula, aku malah melihat lelaki tersebut berjalan menyusulku tidak jauh di belakang. Aku kembali memasang Self-defence mechanism mode-ku dan buru-buru turun dari bus tersebut sembari melangkah cepat menuju gerbang gedung fakultas yang memang tidak terlalu jauh dari halte. Aku berbalik sekali lagi untui mengecek, lelaki tersebut masih berjalan menyusulku, Oh tidak, kali ini langkahnya juga semakin cepat.
Aku memutuskan untuk menghentikan langkahku dan menghadangnya. Saat ini aku sudah tidak takut kalau-kalau lelaki tersebut melakukan tindakan kriminalnya disini. Tempat ini sudah dipenuhi para mahasiswa-mahasiswa baru dan beberapa panitia yang terlihat sibuk mengatur para maba untuk berbaris sembari berteriak seakan kuping para maba tersebut tidak cukup mendengarnya jika mereka berbicara dengan nada normal. Ia aman disini banyak yang akan menolongnya kalau ia sampai kenapa-kenapa karena orang jahat ini.
“Mas kok dari tadi ikutin saya ya? Kalau mas berniat jadiin saya target copet, sepertinya mas salah orang. Saya ini mahasiswa kere ya mas. Hape saya bukan Iphone yg kalau dijual masih laku lumayan. Hape saya cuman Xiaomay mas, itupun masih nyicil. Jadi mending mas balik arah trus mampir di GI di sana banyak Koko-koko yang hapenya iphone yang kalo hilang mereka sisa melipir ke counter buat beli lagi. Jangan saya deh mas.” cerocos ku sembari mengambil batu yang lumayan besar buat digebukin ke kepala mas copet. Lelaki tersebut terdiam dan memandangku heran. Ia menghela nafasnya sembari membuka ransel yang dibawanya.
“Mas mau ngapain?