Aku memundurkan langkah, kaget melihat mas-mas di depanku ini merogoh tasnya. "Jangan-jangan..." belum sempat aku memikirkan tindakan dia selanjutnya, Orang itu menarik sebuah benda dari dalam tasnya. "Sebelum pisau yang mas ambil nusuk perut saya, batu ditangan saya ini bakal lebih dulu bikin bocor kepala mas ya!” ancamku sembari memundurkan langkah dan mengambil ancang-ancang siap melempar batu tersebut ke kepala si pencopet itu. Tetapi alih-alih mengeluarkan pisau, mas copet itu mengeluarkan sebuah jas almamater biru dari ranselnya kemudian memakai almamater tersebut di depanku.
Aku hanya melongo melihat si mas copet tersebut berubah menjadi seperti para panitia ospek yang sedang sibuk meneriaki para maba. Kesadaran tiba-tiba menghantam otakku. s**t! dia bukan copet. dia mahasiswa sini dan dia panitia ospekku! Double s**t. Otakku kemudian dengan cepat memikirkan bagaimana cara keluar dari situasi akward ini.
“Ehm mas, e...eh maksud saya kak. Maaf i..i..tu tadi saya kira mas.. e..eh kakak buntutin saya. Sekali lagi maaf ya mas.” Ucapku dengan nada memelas dan tidak berniat memperbaiki ucapan mas yang untuk ketiga kalinya kukatakan sebelum kabur dari hadapan si ‘kang copet’itu dan bergabung dengan barisan para teman sependeritaanku yang masih setia mendengarkan teriakan para senior kampret.
***
Siang ini para maba dikumpulkan di dalam aula untuk mendengarkan presentasi dari para ketua Himpunan Mahasiswa di fakultasku. Aku dengan khusyuk mendengarkan salah satu ketua himpunan yang sedang menjelaskan mengenai pentingnya mahasiswa melek literasi. Halah... dasar pencitraan. Typical mahasiswa yang baru kelar baca bukunya Jostein Gardeer atau Yuval Noah Harari tuh gini. Sok merasa paling melek literasi. Belum lagi kalo kesana kemari ngecengin maba sambil nenteng-nenteng buku padahal kerjanya skip kelas. Aku masih sibuk mencela kelakuan para senior haus pencitraan itu ketika seseorang tiba-tiba menepuk pundakku.
“Hai, boleh minta tolong gak?”
Aku menoleh ke belakang, mendapati cewek yang menepuk pundakku itu menatapku dengan wajah harap-harap cemas.
“Iya boleh, kenapa?”
“Bisa temenin saya ke toilet?”
Yaelah... gue kira masalah sepenting apa yang mau diminta tolongin sama cewek ini. Perkara ke toilet doang mesti banget yah ditemenin. Sampe bela-belain nepok pundak orang gak dikenal lagi buat dia ajak. Tapi muka kasihan yang dipasang cewek ini sukses menyentuh sisi kemanusiaan gue sebagai sesama teman spenderitaan di tempat ini.
Aku beranjak bangkit. “Oke gue temenin.”
***
“Makasih ya udah nemenin. Oh iya kenalin Almira Lestari. Ilmu Komunikasi.” Mira menjulurkan tangannya kearahku.
Aku menyambut tangannya dan bersalaman sebagai tanda perkenalan kami. “Iya sama-sama. Fiore Ararya. Ilmu Komunikasi”
“Wah kita sejurusan. Moga-moga nanti sekelas yah” ucap Mira dengan senyum sumringah.
Aku tidak pernah paham dengan cewek sejenis si Mira ini. Dia typical cewek yang kalau pergi ke kantin atau toilet harus bergerombolan bareng gengnya atau minimal ditemenin oleh satu orang temannya. Tetapi ia malah mengajakku yang notabene bukan salah satu gengnya atau kenalannya. Tidak mau terjebak oleh rasa penasaran, aku memutuskan bertanya kepada cewek yang saat ini sudah berani-berani menggandeng lenganku. Eh kapan gue ngijinin dia gandeng-gandeng gue sih. Sok akrab banget sih nih cewek.
“Eh Mir, lo kok minta tolong sama gue sih? temen-temen lo mana?”
Almira menghela napas. “Huh, gue sama geng SMA gue gak sekampus, kita mencar, Yah namanya juga lagi ngejar cita-cita gak mungkin sama-sama terus. Ini udah bukan SMA lagi yang kemana-mana harus bareng, kan.”
“Kata orang yang ke toilet aja minta dianter.” Aku mendengus dalam hati mendengar ucapan sok bijaknya.
“Trus motivasi lu buat milih gue buat nemenin ke lo toilet itu apa?”
“Diantara maba-maba yang ada disana, gue liat nasib lo gak jauh beda sama gue. Sama-sama belum punya teman, yang lain udah punya geng sendiri-sendiri. Sisa lo aja yang belum, makanya gue milih lo.”
Kampret bener.
“Jadi karena kita sama-sama gak punya teman, gimana kalo mulai sekarang kita temenan aja.” serunya dengan senyum kelewat riang.
“Okee.” balasku sambil nyengir kecut ke arah Mira
Sisa hari itu tidak lagi aku habiskan dengan mendengar presentasi para ketua Himpunan Mahasiswa tetapi cerocosan Mira yang kini mendeklarasikan dirinya sebagai teman pertamaku. Entah ini anugrah atau musibah mendapatkan teman seperti dia. Berkat cerocosan Mira sepanjang hari itu, akhirnya ada juga satu hal yang ku syukuri dari pertemanan baru kami, aku jadi tahu mengenai si ‘Kang Copet’ tadi pagi itu dari nama, jurusan dan prestasinya diceritakan Mira dengan lancar. Untuk seseorang yang katanya tidak memiliki teman, Mira cukup handal mengumpulkan informasi seperti itu.
Aku tersenyum sembari melihat kearah ‘ si kang copet’ itu yang tengah berbincang dengan teman panitianya. Dimas Aryasatya, 23 tahun, Ilmu Komunikasi 2015, Anggota MPM, Single. Big thanks to Mira for all of this information.
***
Night Sky semakin ramai seiring malam yang kian larut. Wangi alkohol bercampur dengan keringat orang-orang serta wangi parfum berbagai macam merk menguar di udara. Berapapun lamanya aku bekerja ditempat ini, aku tidak akan pernah bisa betah dengan suasana dan aroma tempat ini. Tetapi setidaknyaman apapun aku, bibir ku tetap otomatis menyunggingkan senyum cerah menyambut calon pelanggan yang kini duduk dihadapanku. Seorang wanita yang masih memakai setelan kerja yang kalau aku taksir umurnya sudah mendekati kepala tiga. Raut mukanya kurang mengenakkan, sepertinya ia mengalami hari yang buruk dan aku yakin tujuan ia kesini adalah melupakan hal apapun yang membuat harinya buruk. Well, bekerja disini selama setahun lebih membuat aku tahu satu hal. Ada dua tujuan orang datang ketempat ini, yang pertama untuk merayakan hari bahagia mereka dan yang kedua adalah melupakan hari buruk mereka dan aku berani bertaruh kalau perempuan dihadapanku ini ada di opsi yang kedua.
“Mau minum apa, Mbak?”
“Saya mau Wiski, double, tanpa es.”
Tanpa banyak basa-basi, aku segera meracik pesanan wanita tersebut.
Ini sudah gelas ke-5 yang dipesan oleh wanita bersetelan kerja ini, yang akhirnya ku ketahui bernama Clara. Ia sudah cukup mabuk dan omongannya sudah melantur kemana-mana. Dalam waktu setengah jam ia duduk dihadapanku, aku sudah tahu nama, tempat kerjanya dan mengapa ia memutuskan ke tempat ini.
“ hei lo tahu gak? seumur-umur baru kali ini ada cowok yang nolak gue.” racau Clara sembari menenggak habis gelas wiskinya yang ke-5 malam ini.
“ Gue mau kasi saran sama lo. Jangan pernah nyatain cinta duluan. Liat gue! ini semua gara-gara pernyataan cinta sialan gue yang ditolak. Mau ditaro dimana muka gue besok dikantor. Huwaa gue mau resign aja.” Racauan si Clara makin menjadi-jadi sepertinya ia tidak akan bisa pulang sendiri malam ini. Aku kemudian menghampirinya dan menepuk pipinya berupaya mengembalikan sedikit kesadarannya.
“ Clara, lo udah mabuk banget. Hape lo mana? gue mau hubungin keluarga atau teman lo yang bisa jemput lo disini. Lo gak mungkin pulang dalam keadaan begini Clar.”
Aku merogoh tasnya mencari keberadaan handphone nya sembari mengajaknya berbicara.
“ Clara hape kamu dimana?” tanyaku lagi. Kali ini aku mengguncangkan badannya agak kasar untuk menyadarkannya.
“Hape gue lowbatt. Pake hape lo aja dulu.” balas Clara sembari mengulurkan tangannya.
Aku tidak yakin ia masih mengingat nomor handphone seseorang dalam keadaan mabuk begini bahkan aku gak yakin dia masih ingat namanya sendiri.
“ Clara, lo yakin ingat nomor temen lo?” tanya ku tidak yakin.
“ Yakinlah, nomornya gampang diingat kok. Catat yah 085255155655.” balas Clara dengan setengah meracau.
Aku yang tidak punya pilihan lain akhirnya menekan tombol dial di handphone ku. Nada sambung terdengar yang artinya nomor itu benar-benar ada dan aku berharap semoga tidak salah sambung melihat kondisi si pemberi nomor sudah dalam keadaan setengah sadar.
“Halo!”
Suara serak laki-laki di seberang sana menjawab. Sepertinya aku mengganggu tidur nyenyaknya. Ini memang sudah jam 1 pagi.
“Halo, ini temennya Clara ya?”
“Eehmm Iya. Ini dengan siapa ya?”
“Saya Fio, Clara lagi di Night Sky dan dia gak cukup sober untuk pulang sendiri. Bisa tolo—”
“Oke saya kesana sekarang.” balas laki-laki tersebut sebelum menutup teleponnya secara sepihak.
***
Setengah jam kemudian seorang pria menghampiri meja tempat Clara yang tak jauh dari konter tempatku berdiri saat ini. Aku yakin dia adalah pria yang ku telepon tadi. Aku tidak bisa melihat jelas tampangnya dari konter tempatku berdiri saat ini berkat suasana bar yang memang di desain remang-remang.
“Temennya Clara ya?” Tanyaku sembari menghampiri pria tersebut yang berusaha membangunkan Clara.
“Adiknya. Kamu yang tadi nelpon?” Balasnya mengalihkan tatapannya dari Clara ke arahku.
Tempatku berdiri saat ini cukup jelas untuk melihat wajah teman Clara tersebut yang tidak lain adalah pria yang tadi pagi sudah aku tuduh sebagai “kang copet”.
“Kamu? ngapain kamu disini?” Kak dimas bertanya seraya meneliti penampilan ku dari bawah sampai ujung rambut. Aku meringis mengingat penampilanku malam ini yang tidak bisa dikatakan mencerminkan sosok perempuan baik-baik. Kemeja putih ketat dilapisi rompi hitam dan rok hitam ketat diatas lutu. Standar seragam untuk bartender wanita.
“Saya lagi...” belum sempat aku mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan keberadaanku di Bar ini, tahu-tahu teman sesama bartender ku, Moreno memanggil dari balik konter.
“Fi, jangan kelamaan ngobrol, ada yang mau mesen nih!”
Oke, aku rasa panggilan itu sudah cukup menjawab pertanyaan kak Dimas tentang mengapa aku bisa ada di tempat seperti ini.
“Sori, kak saya harus balik kerja lagi.” kataku cepat dan buru-buru pamit sebelum kak Dimas bertanya lebih lanjut.
Diam-diam aku mengamatinya dari balik konter sembari membuat minuman pesanan. Kak Dimas masih sibuk menepuk-nepuk pipi dan membopong Clara yang setengah sadar keluar dari Night Sky.
***
Matahari Jakarta pertengahan September sedang terik-teriknya saat ini tetapi senior di depanku ini sepertinya tidak ada tanda-tanda akan menyudahi ceramahnya. Daripada ceramah sepertinya lebih tepat disebut bentakan. Ketua komdis ospek ku ini sepertinya memiliki banyak stok unek-unek yang mesti di muntahkan kepada kami.
Banyak yang bilang kesan pertama itu menyesatkan, kamu gak bisa nentuin sifat seseorang dari kesan pertama yang kamu dapat dari dia. Dan sosok yang lagi teriak-teriak soal kedisiplinan di depanku ini membenarkan teori tersebut.Lupakan soal kesan pertama ku yang melihat orang didepan ini sebagai wajah paling sopan yang pernah kulihat. Wajah galak dia saat ini melunturkan wajah sopannya yang pertama kali kulihat itu. Dimas Aryasatya yang kemarin masih menyandang status “kang copet” dari aku, hari ini dapat tambahan julukan baru “kang misuh”.
“Kamu mau pergi dugem atau kuliah? Pake baju seketat dan rok sependek itu. Disini itu kampus tempat orang-orang berpendidikan bukan tempat dugem.” Dimas tiba-tiba berdiri di hadapannya sembari meneliti penampilannya dari atas ke bawah seperti yang semalam ia lakukan di Night Sky.
“Maksud kakak apa bicara seperti itu?”
“Memang ada yang salah sama ucapan saya? Kamu pake baju kurang bahan begitu memang untuk apa selain bermaksud menggoda orang yang melihatnya.”
Kali ini aku tidak bisa menahan amarahku mendengar perkataan terakhirnya. Dia boleh mengkritik ku soal hal-hal lain tapi ini sudah melampau batas sabar ku. Perkataan terakhirnya benar-benar tidak bisa ditoleransi lagi.
“Saya disini mau belajar kak. Bukan mau cari ribut. Jadi tolong minta maaf atas perkataan kakak yang terkesan merendahkan saya.”
“Maaf tapi kata-kata saya yang mana yah yang merendahkan kamu? balas Dimas. “Itu kamu sendiri yang sekarang sedang merendahkan diri dengan memakai pakaian seperti itu,” tambahnya, kali ini dia merendahkan suaranya, setengah berbisik sehingga mungkin hanya aku yang dapat mendengar kalimat terakhirnya itu.
Aku tidak bisa membalas perkataannya karena dengan tidak rela aku membenarkan apa yang manusia menyebalkan itu katakan. Aku menunduk dalam merasa malu. Oke, dia mungkin memang benar seandainya saja aku tadi tidak terlambat bangun dan hanya memakai pakaian putih kekecilan ini yang berada di tumpukan teratas pakaian ku aku pasti tidak mengalami peristiwa memalukan ini. Dihina dan dipermalukan dihadapan ratusan mahasiswa baru dan panitia ospek bukanlah awal yang baik untuk memulai dunia perkuliahanku.
“oke thank you kak sudah mengingatkan. I’ll take it as a an advice.” Baiklah kali ini aku mengalah untuk tidak mengonfrontasinya lebih jauh karena aku tidak ingin menambah rumit dan panjang masalah ini terlebih ini masih dalam suasana ospek dan ia adalah panitia apalagi panitia komdis yang mana ia masih memiliki kuasa untuk membuatku menderita setelah ini.
“Kalau begitu saya permisi kak mau ngambil jaket buat nutupin baju ‘kurang bahan’ saya.” Balasku dengan menekankan kata ‘kurang bahan’ agar ia mengizinkan ku.
“Gak usah kemana-mana bentar lagi pergantian materi. Pake jaket ini aja.” Ia mengambil jaket hitam di kursi yang tidak jauh dari tempat ia berdiri dan melemparkannya kepadaku. Terpaksa aku harus menerima dan memakai jaket hitam beraroma sandalwood itu sepanjang sisa ospek.
***
Ospek hari terakhir tidak lebih baik dari dua hari sebelumnya, mungkin karena ini hari terakhir, para panitia menyuruh kami untuk membersihkan semua area fakultas tanpa terkecuali. Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk tugas membersihkan ini. Aku dan teman kelompok ku mendapat tugas di area belakang fakultas. Area ini lumayan jarang di datangi oleh para mahasiswa sehingga sampah yang ada disini hanya berupa debu, potongan-potongan kayu serta meja dan kursi bekas yang diletakkan secara sembarangan. Aku sibuk menumpuk kursi-kursi bekas pakai yang diletakkan secara sembarangan ini ketika tahu-tahu suara berdebam mengagetkan ku di susul suara beberapa langkah kaki menuju ke arahku. Suara ribut-ribut tersebut akhirnya berhenti tidak jauh dari tempatku berdiri. Saat ini aku hanya dibatasi tumpukan meja-meja yang menghalangi pandangan mereka ke arah tempatku berdiri. Mereka berjumlah 6 orang yang salah satu dari ke-6 orang tersebut adalah maba yang saat ini berdiri dengan kepala menunduk dihadapan kelima orang tersebut
“Bagi duit dong.” bentak salah seorang dari mereka
“Saya gak punya bang.”
Salah satu dari kelima orang tersebut kemudian maju dan memukul kepala Maba tersebut. “Ck buruan, masa duit ceban aja lo gak punya sih.” desak senior tersebut.
Temannya tidak tinggal diam dan sigap menggeledah kantong celana dan baju maba malang tersebut.
Aku heran bagaimana para senior ini memaknai kata ospek, ini sudah bukan lagi ospek ini adalah tindakan bully. Aku tidak bisa tinggal diam. Mereka memang senior. Tetapi ini sudah bukan lagi bagian dari ospek.
“Wah..wah... jaman udah merdeka, mental-mental penjajah masih di pake aja kak.”
Masih dengan ekspresi sok berani yang kupasang, aku melanjutkan, “Lagi cosplay jadi kompeni ya kak?” Itu keren sih, tapi bisa lepasin temen saya gak? Gak liat itu muka temen saya udah melas banget gitu. Bentar lagi pingsan loh dia. Emang kakak-kakak ini sanggup gotongnya. Pusat Kesehatan Kampus jauh lo dari sini. Mana kendaraan gak bisa masuk lagi kesini.” tambahku panjang lebar.
Senior di depanku ini sepertinya mulai murka mendengar cerocosan panjang lebarku dan mengambil langkah lebar kearahku.
“E..ehh kakak mau ngapain?”