Chapter 3

1767 Words
Dari sekian banyak perempuan yang pernah aku temui, salah satu yang paling absurd itu adalah maba yang kutahu bernama Fiore Araryadari nametag di bajunya ketika ia mencegat ku saat hari pertama ospek. Bagaimana tidak, di pertemuan pertama kami, dia sempat menyangka aku adalah COPET dan yang lebih gila lagi dia malah menyuruh aku buat tidak mencopet dia dan malah memberi alternatif tempat nyopet yg lain. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, Ia juga tidak begitu bersalah menyangka aku adalah copet. Tindakanku yang tiba-tiba duduk disampingnya bisa dikatakan terlalu aneh untuk seseorang yang baru pertama bertemu ditambah masih banyak bangku kosong yang tersedia untuk aku duduki. Tetapi tindakan itu bukannya tanpa alasan, aku sengaja mengambil tempat disampingnya karena aku tahu dia adalah salah satu maba di kampusku dari seragam hitam putih dan pita di rambutnya. Aku berniat untuk tidur di perjalananku ke kampus tetapi takut kalau aku kebablasan dan malah berakhir melewati kampusku, karena itu aku memilih duduk di samping fio agar kalau ia ingin turun mau tidak mau ia harus lebih dulu membangunkanku. Such a great idea, isn'it?. Tetapi naasnya ide itu bukannya menguntungkanku malah membuat ku jadi copet Ah ya, dan satu lagi fakta yg bikin aku tidak habis pikir dengan seorang Fiore Ararya. Jujur, untuk ukuran seorang perempuan yang kutahu bekerja di dunia malam, dia tidak ada cocok-cocoknya bergaul di tempat seperti Night Sky. Dia termasuk perempuan polos yang pernah aku temui, well sekarang aku gak berpikir seperti itu lagi. Mana ada perempuan polos yang bekerja di night club. Dan melihat kejadian yang sedang berlangsung di depanku ini, sepertinya kesanku terhadap gadis ini bertambah, Dia perempuan yang sangat nekat *** Aku berteriak kaget saat melihat tangan salah satu dari senior itu tiba tiba terjulur kearahku. Jangan macam-mac...” kata-kataku tersangkut ditenggorokan ketika kulihat tangan senior itu meraba sisi kiri ku dan mengambil hp yg menyembul keluar dari kantong rok yg sedang ku pakai. “Balikin hape saya. Itu masih nyicil kak. Emang kakak mau gantiin saya bayar cicilannya?” kataku berusaha memprovokasinya agar mengembalikan hp ku itu. “Kan lo sendiri yg tadi ngomong kita kita ini kompeni, nah gimana klo lu cosplay jadi pahlawannya bocah ini dengan ikhlasin hp ini kita jual,” tawar senior tersebut yg disambut kekehan jahat dari teman-temannya. Aku berteriak tidak setuju “Lah mana bisa gitu kak.” protesku tidak terima. Aku membuat wajahku sememelas mungkin agar mereka berubah fikiran dan mengasihaniku. “Please balikin hape saya kak.” Tidak mempan dengan wajah memelasku, aku pun tidak kehabisan akal. Aku berusaha menggapai tangannya yg sedang memegang hape ku tapi sepertinya ia sudah mengantisipasi gerakanku dan dengan luwesnya ia dapat menghindar sehingga yg dapat ku genggam hanyalah udara kosong Belum sempat aku kembali menggapai handponenya tersebut, tiba-tiba suara sirine toa mengagetkan kami. Aku refleks menutup telinga dan berpaling ke arah datangnya suara tersebut. “Ngapain kalian masih disini, teman-teman kalian udah pada ngumpul dilapangan,” tegur orang yg memegang Toa tersebut yg ternyata adalah kak Dimas. Aku yg melihat kedatangan kk dimas buru-buru menghampirinya dan melaporkan kelakuan para senior tersebut. "Kak, saya pikir ini adalah ospek yang tujuannya untuk membuat para maba lebih mengenal kampus yg akan mereka jadikan tempat belajar selama berberapa tahun kedepan. Bukan tempat untuk menunjukkan kekuasaan kalian para senior.” ucapku sembari melihat ke arah senior dan MABA tersebut yang masih diam menunduk mengisyaratkan bahwa perkataanku barusan ditujukan kepada mereka. "Kami memang membuat ospek ini dengan rujuan seperti itu Fio,” balas kak Dimas sambil mematikan suara sirine toanya yg lama-lama menjadi mengganggu pendengaran. "Tapi tindakan yg barusan dialami teman saya tidak seperti itu kak. Mereka-mereka ini. "kataku sembari menunjuk muka para senior-senior tersebut. “Tidak mencerminkan perilaku tersebut. Mereka mencoba memeras teman saya. Apa itu salah satu jobdesk panitia ospek ini kk?” Aku bertanya sembari memasang muka menantang kepada kak Dimas. “Oh iya dan menurut saya Ini sdah termasuk tindakan Bully" tambahku. "Oke sekarang kamu dan teman kamu kembali ke barisan. Biar masalah ini saya yg tangani." Dimas menunjukku dan MABA yang menjadi korban perundungan yang saat ini masih berdiri di dekat para senior tersebut dengan muka takut. "Oh tidak bisa gitu dong kak, masalah ini harus diselesaikan secara terbuka dan senior-senior ini,”balasku sambil menunjuk oknum yang melakukan tindakan pemerasaan tersebut. “Harus minta maaf di hadapan seluruh maba. Supaya ini jadi pembelajaran utk panitia biar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.” “Oke biar dewan mahasiswa yg menangani masalah ini tapi kamu dan kawan kamu tetap harus kembali ke barisan. Sekarang.” Kak Dimas kekeuh menyuruh kami kembali ke barisan dan ingin menangani masalah itu sendiri. Aku tidak mau mengalah, enak saja dia bilang seperti itu. "Oh tidak bisa kak. Ini sudah menyalahi aturan, dan bagaimana kami bisa tahu kalau masalah ini terselesaikan dengan baik? jangan sampai panitia malah dengan mudahnya bebasin mereka,” kataku curiga dengan kak Dimas yang ingin menangani masalah ini tanpa campur tangan kami. Dia seperti memiliki agenda lain. Aku ngotot untuk mengawal kasus ini sampai para senior salah asuhan ini mendapat ganjaran yg setimpal atas perbuatannya. Enak saja mereka mau bebas dengan mudah. "Fiore, kami punya aturan, dan kami pasti menangani masalah ini sesuai dengan aturan yg kami buat.” "Then prove it.” “Perlihatkan kepada kami bagaimana aturan yg kalian buat menangani masalah ini.” Aku tidak akan semudah itu mengalah. "Kalian masih MABA dan ini sudah bukan ranah kalian untuk menuntut apa dan bagaimana kami harus bertindak.” Aku mendengus, tidak setuju dengan perkataannya. "Justru karena kami MABA kak dan ini sudah merugikan kami, jadi kami gak akan tinggal diam untuk hal ini.” Kak Dimas menghela nafas frustasi. Sepertinya Ia sudah menyerah berdebat denganku. "Baik kalau itu mau kamu. Kita selesaikan dengan cara kamu.” Keputusan final kak Dimas yang ia ucapkan dengan setengah hati membuatku menampilkan senyum kemenangan. Akhirnya manusia di depanku ini mengalah juga. "Oke baik, kalau begitu ayo," kataku sembari memimpin mereka menuju kumpulan maba yang telah berbaris rapi. Mau tidak mau kelima senior tersebut mengikuti langkahku dengan terlebih dahulu mendapat tatapan tajam dari kak Dimas. Tetapi sepertinya aku melupakan satu hal penting, tapi apa ya? Oh iya handphone ku, handphone itu masih ada di genggaman salah satu dari senior-senior itu. Aku kemudian menghentikan langkahku kemudian berbalik kebelakang dan mendapat tatapan heran dari kak dimas “Ada apa lagi?” “Ada satu hal penting lagi.” “Hal penting apa?” “Handphoneku” “Kenapa sama handphone kamu?” “Handphone aku masih ada sama dia.” Aku menunjuk senior di belakang kak dimas yg di tangannya masih ada hape ku yg ia genggam erat-erat. Aku yakin ia pasti berharap aku melupakan soal hape itu. Oh tidak semudah itu ferguso. “Balikin. hape aku . sekarang,” Tuntutku dengan memberi penekanan dramatis pada setiap kata-kataku. Mau tidak mau senior tersebut memberi handphone ku dengan pandangan tidak rela disertai tatapan ingin sekali menghajarku. Well, bukan hanya dia sih tetapi semua teman-temannya melihatku dengan pandangan yang sama. Bodo amat yang salah disini kan mereka. Setelah menerima kembali handphone ku, kami pun melanjutkan langkah ketempat dimana para maba dikumpulkan. *** Permintaan maaf kelima senior tersebut di hadapan ratusan MABA membuat kericuhan, ternyata banyak para MABA yg sama berangnya denganku dan tidak terima dengan sikap senior tersebut. Hal ini sampai kepada dekan fakultas dan malah berbuntut panjang, dimana fakultas turut menjatuhkan hukuman kepada kelimanya dengan memberi sanksi skors selama satu semester. Hukuman tersebut memang lumrah untuk kejahatan yang mereka lakukan, tetapi hal itu tidak bagi seorang Dimas Aryasatya yg saat ini sedang menatapku dengan tatapan kesal. "Waktu saya bilang kalau kami yg akan menangani masalah ini, itu karena kami tidak mau kejadian tersebut jadi seperti ini." Dimas menatap ku tajam dengan kilat marah di matanya. "Lah memang kenapa kak? bukannya itu sudah konsekuensi mereka? mereka harus siap nanggung resiko dong dan resikonya ya termasuk ini.” Aku membalas perkatannya tidak terima. Ia seolah-olah membuatku merasa seperti penjahatnya disini. "Kamu tahu mereka sudah semester berapa?” Dimas bertanya, nada suaranya sudah tidak semarah tadi. Aku menggelengkan kepala tanda tidak tahu dengan jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan. "Mereka udah semester 10," terang kak Dimas "Trus?,” balasku yg masih belum tahu korelasi antara hukuman yg di terima senior tersebut dengan semester berapa mereka saat ini. "Di kampus ini mahasiswa yg melewati semester 10 dan belum juga di wisuda bakalan di DO dan sekarang gara-gara kamu dan teman-teman kamu mereka bukan hanya sekedar di skors tapi juga terancam di DO, jelas kak Dimas. “Sampe sini kamu paham." Mendengar penjelasan panjang lebar kak Dimas, ada sedikit rasa bersalah di hatiku, tetapi setelah mengingat kembali mengapa hal ini bisa terjadi, Aku kembali ke pendirian awal. Mereka pantas dihukum. Siapa suruh mereka masih banyak tingkah padahal mereka tahu konsekuensinya bakal seperti ini. Mereka tetap salah jadi tidak wajar dirinya yang merasa bersalah. "Trus kalau mereka di DO, salah siapa? salah gue?? salah temen-temen gue?" Salah siapa gue tanya,” balasku menirukan dialog fenomenal Cinta kepada Rangga di film AADC. Dimas memang sedikit banyak mirip dengan karakter Rangga. Dimas tidak habis fikir dengan otak bebal anak ini. Selain polos, bego, dan nekat, ternyata seorang Fiore Ararya juga sangat keras kepala. Dimas yg tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskannya, ia merasa percuma berbicara panjang lebar. Toh, hal yang ia takutkan sudah kejadian. Dimas akhirnya beranjak pergi dari hadapannya dan mengucapkan kalimat terakhir sebelum berlalu pergi dari hadapan Fio "Fiore, Apa yang kamu lakukan ke mereka itu JAHAT" ucap Dimas yg juga menirukan dialog fenomenal Cinta ke Rangga di film AADC 2 sebelum pergi. Aku yg mendengar kalimat terakhir Dimas itu antara ingin tertawa dan merasa bersalah dalam waktu yg bersamaan "What??? itu dia lagi bercanda yah? dia lagi ngeledek aku atau gimana?" ucapku lebih kepada diriku sendiri. Aku tidak habis fikir seorang Dimas Aryasatya juga bisa bercanda dan hafal dialog AADC lagi. Gokil. Sepeninggal Dimas, aku kembali memutar ulang perkataan-perkataannya dan dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku diam-diam merasa bersalah. *** Ketika Fio memasuki gerbang kampus, jam baru menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Masih terlalu pagi untuk Fio yang memiliki jadwal kuliah menjelang siang nanti. Tetapi kedatangan Fio ke kampus pagi ini bukannya tanpa alasan, ia memiliki janji temu dengan teman kelompok presentasinya di mata kuliah Pengantar Ilmu Komuikasi yang dilaksanakan siang ini. Fio baru mendapat info semalam bahwa kelompoknya mendapat giliran pertama untuk mempresentasikan makalah tentang latar belakang sejarah ilmu komunikasi. Teman sekelompok Fio merupakan tipe-tipe mahasiswa SKS (Sistem Kebut Sejam) alhasil disinilah Fio, Kantin ILKOM sedang menyeruput es teh manisnya sembari menunggu teman-teman sekelompoknya tiba. Fio sedang mengambil kerupuk dari piringnya ketika suara seseorang berteriak memanggil namanya. “Fiore Ararya”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD