Chapter 4

1831 Words
Fio berbalik berniat melihat siapa gerangan yang memanggilnya itu dan mendapati seseorang dengan wajah familiar berjalan kearahnya. Ia menyipit memastikan penglihatannya tidak salah. Fio melotot tidak percaya dengan penglihatannya, “Ling-ling si anjingg!!!” umpat Fio. “ Gue kira kita udah beda dunia,” tambahnya tidak percaya bahwa di depannya sekarang ini berdiri seorang Lingga Adi Pramana, mantan tetangganya sekaligus teman dekatnya sejak ia kecil sampai SMA sebelum Lingga memutuskan pindah. Lingga hanya menanggapi reaksi kaget Fio dengan cengengesan sembari menggaruk kepalanya. “Waku aku dengar anak-anak ngomongin si Fio anak MABA yang bikin seniornya minta maaf depan umum itu, aku gak expect kalo orangnya itu kamu,” ujar Lingga sembari mendudukkan diri di hadapan Fio. “So, kenapa dari semua tempat kamu lebih milih Jakarta dan keruwetannya?” tanya Lingga dengan raut penasaran. “well, mungkin karena keruwetan Jakarta gak bakal mengingatkan gue buat pulang.” Fio tidak berani menatap ke dalam mata Lingga ketika menjawab pertanyaanya. Ia tidak mau Lingga tahu tentang alasan ia memilih hijrah dari Samarinda, kampung halaman mereka berdua. “Jangan-jangan kamu pindah karena mau nyusul aku ya?” ujar Lingga dengan cengiran jahil di bibirnya. “Idih pede banget lu” “Eh bokap gimana kabarnya?” Fio terdiam Lingga tidak sadar pertanyaannya barusan menimbulkan perubahan di raut muka Fio. Lingga masih menatap Fio menunggu jawabannya yang dibalas Fio dengan menegdikkan bahu tanda tidak tahu bagaimana keadaan papanya. “Masa kamu gak tahu sih, durhaka banget jadi anak,” cecar Lingga. “ Nih ya aku kasih tahu jadi anak rantau itu gak mudah, satu-satunya yang buat kita waras diperantauan itu ya kalo kita nelpon orang di rumah.” Lingga tidak tahu saja kalau satu-satunya yang diinginkan Fio saat ini adalah sejauh mungkin dari rumah. Fio tidak mau membahas lebih jauh mengenai topik soal papanya dan berusaha fokus dengan menyantap bubur ayam di depannya dan sepenuhnya mengabaikan Lingga yang masih menatapnya. “Kamu ngampus pagi banget, ada kuliah pagi.” Lingga berusaha mencairkan suasana yang sesaat lalu tiba-tiba kaku. “Gak ada, kuliahnya baru mulai ntar siang,” terang Fio. “Gue janjian sama teman kelompok buat ngerjain makalah yang mau dipresentasiin ntar siang,” tambahnya. Lingga manggut-manggut “Eh Ling bisa gak lo ngomong pake gue-lo aja, gak usah pake aku-kamu,” protes Fio. “Gue udah setahundi Jakarta, denger lo ngomong aku-kamu berasa apaan dah.” Lingga tertawa ngakak mendengar protesan Fio “ha ha ha ha aku gak keberatan kok ngomong aku-kamu kalo orang itu kamu,” balas Lingga sembari menatap Fio dalam dan memberi senyuman mautnya yang biasa ia gunakan untuk menggaet gadis incarannya. Fio tidak dapat menahan ekspresi jijiknya dan melempar Lingga dengan tissu yang ia pegang “Gue yang keberatan monyett.” protes Fio Lingga tertawa lagi. “Bercanda Fi.” *** Aku mengabaikan Lingga dan lanjut menyantap makanan di depanku. Ia masih sibuk duduk di depanku dan tidak henti-hentinya menatapku sambil tersenyum tidak jelas “kalau laper pesan sana,” kataku sembari menyeruput teh manis. Lingga menggeleng. “Gak lapar, gue udah kenyang lihat lo makan.” “Thank God dia udah gak ngomong aku-kamu lagi.” “Ya udah. Gue lanjut makan kalo gitu.” Aku membeku ketika tangannya tiba-tiba meraih rambutku dan membawanya ke belakang telinga. “Kalau makan pelan-pelan dong Fi, jangan rambut sendiri di embat juga.” Aku mendongakkan kepala dengan mulut masih penuh dengan makanan seraya menatap Lingga dengan tatapan melongo yang disambutnya dengan senyuman manis serta tatapan penuh.. rindu? Damn! jantung gue! Tidak tahan di tatap seperti itu, aku kembali menunduk dan mencoba berkonsentrasi dengan makanan di depanku, tapi gimana bisa mau makan dengan tenang kalau tangannya masih sibuk mengusap lembut puncak kepalaku. Aku berdeham “Udahan kali ngusapnya, gue bukan anak kucing.” “Iya tapi lo lebih lucu dari anak kucing.” Fix jantung gue copot! Lingga mengacak-acak rambutku sebelum menyudahi kegiatannya yang bikin sistem kerja jantungku gak karuan. “Pesen sono daripada tangan lo gangguin gue mending di pake makan.”Aku terdengar salah tingkah ketika megucapkan kalimat itu. “Gue gak mau makan, gue cuman mau nebus waktu 4 tahun gue dengan mandangin lo kayak gini.” Aku berdecak kesal. Jakarta benar-benar merubah Lingga jadi seorang Cassanova. Rayuan mautnya di luar sana pasti sudah memakan banyak korban. Perasaan, Lingga yang dulu gak sefrontal sekarang kalau lagi ngerayu cewek, dia kan dulunya kalau suka sama cewek pasti malu-malu taii kucing di depan cewek yang disukainya. Lingga pernah menjadikanku kurir surat cintanya hanya karena dia malu mengantar surat itu sendiri. “Pergaulan lo disini rusak banget ya ling.” Aku sungguh amazed dengan Lingga yang sekarang, aku tidak pernah membayangkan seorang Lingga Adi Pramana menjadi seorang Cassanova yang digilai banyak perempuan. Dari mana aku tahu kalau dia digilai banyak perempuan? lihat saja penampilan dan sikapnya saat ini, tidak butuh cenayang untuk tau bagaimana sepak terjangnya di luaran sana. Sejak dulu Lingga memang punya potensi menjadi playboy dengan dukungan wajah playfulnya dan sifatnya yang mudah bergaul tetapi dulu hal itu tidak ia manfaatkan seperti sekarang. Seorang Lingga yang aku kenal dulu hanya lah remaja tanggung tukang bolos yang kemana-mana nentengin gitar. Tipikal anak SMA tukang rusuh yang kalau gak ada dia di kelas, suasana kelas jadi suram. Yah sebatas itu Lingga dulu di mataku, seorang peramai suasana. Tidak seperti sekarang, Center of attention. Dari Lingga datang ke kantin ini dan duduk di hadapanku, mata-mata dan bisikan-bisikan lirih sudah tidak terhitung ke arah kami, itu cukup membuktikan kalau Lingga disini bukan hanya seorang Lingga Adi Pramana, mahasiswa semester 5 jurusan Ekonomi Bisnis. He’s more than that *** Rencana berubah, kita kumpul di perpus Whatsapp dari Adit—teman sekelompokku datang ketika aku baru saja menghabiskan tegukan terakhir Es Teh ku. Oke ini bisa jadi alasan ku buat kabur dari buaya di depanku ini. “Ling gue cabut yah, anak-anak nyuruh kumpul di perpus,” ujarku buru-buru sembari berdiri dan menuju penjual bubur ayam dan membayar makananku. Aku kembali melewati Lingga sembari menampilkan gestur pamit. Lingga mengangguk tanda mengijinkanku pergi. “See u Fi, kapan-kapan gue main ke kosan lo ya,” teriak Lingga dengan suara lantang yang dapat di dengar oleh seluruh mahasiswa di kantin itu. Kata-katanya terdengar salah, seolah-olah menyiratkan kalau kami punya hubungan spesial. Tapi Fio tidak tahu harus menjawab apa dan memilih melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda karena teriakan Lingga. Hubungan spesial my asss. Frenemy, IYA Lagian tahu darimana dia kosan aku. *** Langkah Fio tertunda di antara deretan rak-rak berisi buku ketika sayup-sayup telinganya mendengar orang bercakap-cakap dari balik rak buku di seberangnya. Ia mengenali salah satu suara tersebut. “Dim, lo serius gak ngambil tindakan soal masalah Dika dan Adit,” ujar salah satu suara tersebut yang Fio yakini dimiliki oleh seorang perempuan. “Gue gak tau Git, pihak kita lemah buat ngajuin tuntutan,” balas suara satunya yang dapat Fio yakini sebagai milik Dimas. Fio mengintip di antara deretan buku yang membatasi ia dan dua orang di seberang sana untuk memastikan dugaannya benar. Fio menajamkan kupingnya. Muncul rasa penasaran dalam diri Fio ketika mendengar nama Dika dan Adit hadir dalam percakapan keduanya. Dika dan Adit adalah salah dua dari kelima senior yang terancam di skors itu. Perempuan di seberang sana memasang tampang kalut. “Lo gak bisa lepas tangan Dim, ini tanggung jawab lo sebagai ketua Hima.” Dimas menghela nafas. “Aku usahain ya Git,” balas Dimas sembari menepuk bahu Gita sebelum berlalu pergi.” Fio tidak habis pikir jalan pikiran Dimas, sebagai seorang ketua HIMA yang memang seharusnya bertanggung jawab terhadap kesejahteraan mahasiswa di bawah pimpinannya, ia terlalu bias. Seharusnya ia tahu bahwa mereka salah dan memang sudah sepantasnya mendapat hukuman itu tetapi sepertinya pertemanan mereka menjadikannya tidak bisa melihat masalah in dari kacamata seorang ketua yang adil. Detik itu juga, Fio menyusul Dimas dan mencegatnya sebelum Dimas pergi terlalu jauh. “Kak Dimas tunggu,” teriak Fio Seketika Dimas menghentikan langkahnya dan membalikkan badan menatapku dengan pandangan heran. “Ada apa?” “Tadi aku denger pembicaraan kakak soal masalah kemarin. Saya tidak habis pikir, seharusnya masalah tersebut sudah selesai dengan mereka menerima hukuman itu, dan lagi kak Dimas sebagai seorang ketua tidak adil dalam masalah ini.” protes Fio. “Kak Dimas terlalu bias menanggapi masalah ini, mentang-mentang yang terlibat adalah kawan kakak, saya gak nyangka atas dasar apa kak Dimas dapat terpilih jadi seorang ketua,” sambung Fio tersenyum meremehkan kepada Dimas Dimas diam, ia tidak bereaksi apa-apa. “Sudah bicaranya? kalau begitu saya permisi.” Dimas pergi seolah-olah perkataan yang diucapkan Fio itu hanya angin lalu. Kamprettt *** “Astaga Fio, lo abis tawaf dari mana baru nyampe sekarang.” Protesan Adit menyambutku ketika tiba di meja tempat teman kelompokku mengerjakan makalah kami. “Ya maap tadi abis dari kantin, makan dulu bentar.” Aku tidak menceritakan pertemuan ku dengan kak Dimas serta hal apa yang baru saja ku curi dengar kepada mereka. Tidak ada alasan yang berarti kenapa aku tidak menceritakannya, mungkin karena sebagian dari diriku berharap kak Dimas tidak akan melakukan apapun untuk membatalkan hukuman itu. “Ya udah karena makalahnya udah kelar, bagian lo sisa nge-print di tempat fotocopy depan.” Adit menyerahkan flash disk berisi hasil kerja keras mereka kepadaku yang kuterima dengan tidak ikhlas. Tempat fotocopy terdekat dari sini adalah di dekat gerbang belakang fakultas yang bisa memakan waktu 10 menit berjalan kaki. Ya kali gue ikhlas. “Ya udah tapi pinjem motor lu,” putusku akhirnya. “Emang lo bisa bawa motor?” tanya Adit tidak yakin. “Iya lah,” balasku dengan muka sok meyakinkan dan mengambil kunci motor yang diberikan adit di iringi dengan tatapan tidak percayanya. Aku sebenarnya tahu mengendarai motor, Thanks to Lingga yang dengan hati setengah ikhlas setengah nge dumel yang setiap minggu pagi menjadi mentor ku dalam belajar mengendarai kendaraan roda dua itu meski di setiap sesi latihannya diselingi adu bacot antara kami berdua. Tapi itu sudah empat tahun lalu dan semenjak itu aku sudah tidak pernah lagi mengendarai motor. Well, tapi aku yakin ini gak sesulit teman kelompokku yang harus mengerjakan makalah 50 lembar itu dalam waktu 2 jam lagian tempat fotocopynya juga deket jadi ku pikir gak akan ada masalah sih. And here I am, di parkiran perpustakaan dengan membawa makalah yang sudah di print di dalam tote bag ku. Ya I did it. Meskipun masih kaku dan sempat tidak tahu bagaimana cara belok, tapi itu wajar sih untuk seseorang yang 4 tahun vakum mengendarai sepeda motor. Aku buru-buru turun dari motor Adit ketika kulihat jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 11. 15 yang artinya 15 menit lagi kuliahku dimulai, saking terburu-burunya aku lupa menurunkan ganjelan motor Adit. Motornya roboh dan menimpa motor di sampingnya yang ikutan roboh sehingga menimpa motor di sampingnya lagi hingga motor terakhir di ujung sana. Spersekian detik aku diam meresapi apa yang terjadi di depanku, hingga suara bariton dari arah belakang menyentakku. “Looks like someone in trouble huh.” Ucap pria itu dengan wajah mengejek. Aku masih memasang tampang cengo dan berkata “Motornya roboh semua kak.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD