Chapter 6

1538 Words
Rubicon yang kami kendarai kali ini berhenti di depan sebuah warung tenda bertuliskan “Warung Mie Ayam Cak Bagus”.  Warung ini kelihatannya punya menu yang cukup enak kelihatan dari banyaknya pengunjung yang datang. Kami hampir tidak kebagian kursi. Untungnya kak Dimas kenal sama pemilik warungnya sehingga ia membantu kami membantu kami mencarikan meja dan kursi kosong. Ralat, pemilik warung ini sepertinya tidak hanya sebatas mengenal kak Dimas, mereka kelihatannya sangat akrab. “Wah udah lama yah nak Dimas gak mampir?” “Iya pak, akhir-akhir ini kegiatan kampus lagi banyak banget. Warung gimana pak? tambah rame aja nih kelihatannya.” Dimas sangat luwes berbicara dengan bapak ini. Dia kelihatan tidak kaku sama sekali. Sepertinya mereka benar-benar akrab. Satu lagi hal yang gak bisa kutebak dari diri Dimas. “Iya nak, bapak sampe kewalahan ngeladenin para pelanggan.” jawab pak Bagus sambil membersihkan meja di hadapan kami. “Oh iya pesenannya seperti biasa?” lanjutnya seraya menatap Dimas. “Iya pak” “Kalo neng di sebelah nak Dimas?” Aku gelagapan ketika pandangan pak Bagus dan Dimas tertuju kearahku menungguku menyebutkan pesananku. “Samain aja pak,” jawabku singkat sembari menyunggikan sedikit senyum sopan. “ Ya udah, nak Dimas sama mbaknya silahkan duduk, bapak bikinin dulu,” ujar pak Bagus seraya berlalu menuju area dapur di sisi belakang warung ini. Selepas kepergian pak Bagus, suasana tiba-tiba hening diantara kami. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Selama beberapa saat, aku hanya sibuk melamun dan memperhatikan kesibukan yang terjadi diluar warung ini. Posisi duduk kami berada tepat dihadapan pintu masuk sehingga memungkinkanku melihat keluar. “Mungkin kamu udah penasaran dari tadi tujuan saya bawa kamu keliling seharian ini ketemu pak Supardi dan Pak Bagus itu apa.” Kak Dimas akhirnya bersuara dan menyentakku dari kegiatan melamunku. Aku mengerjapkan mata, berusaha mencerna ucapannya. “Aku tau pasti daftar pertanyaan yang mau kamu tanyakan ke saya itu udah banyak banget yah.” tambahnya sambil tertawa kecil. Aku melengos dan membalasnya dengan memberi tatapan yang kira-kira artinya begini, Ya menurut lo aja bang. Aku tidak menanggapinya dengan membalas perkataannya, aku memberinya kesempatan untuk menjelaskan maksudnya tanpa bermaksud menginterupsi. “Saya rasa kamu udah tahu nama bapak tadi siapa kan,” ujarnya yang ku balas dengan anggukan. “Beliau itu dulunya korban tsunami Aceh beberapa tahun yang lalu. Semua keluarganya meninggal, anak dan istrinya semuanya meninggal. Jasad mereka gak pernah ditemuin. Hal itu buat Pak Bagus merasa kalau hidupnya sudah gak ada artinya lagi. Ia benar-benar depresi dan ingin bunuh diri menyusul keluarganya, sampai akhirnya ia bertemu seorang anak laki-laki berumur 5 tahun di tenda pengungsian yang sama. Anak ini memiliki nasib yang serupa dengan Pak Bagus, ia juga kehilangan semua anggota keluarganya. Kala malam hari, hujan sedang deras-derasnya tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri Pak Bagus yang sedang tertidur. Ia kelihatan menggigil, bibirnya bergetar dan wajahnya pucat. Anak itu tidur di samping Pak Bagas, Pak Bagas yang menyadari ada akan hal itu terbangun dan menanyakan kondisinya. Anak itu bilang kalau Pak Bagas mengingatkan dia sama bapaknya, kalau ia sakit bapaknya akan tidur bersamanya dan memeluknya. Tapi sekarang bapaknya sudah tidak ada lagi, jadi ia berharap untuk malam ini Pak Bagas menggantikan peran ayahnya. Hanya untuk malam ini. Dan Pak Bagas malam itu memeluk dan menggantikan peran bapak anak itu. Sejak malam itu sampai saat ini Pak Bagas menggantikan peran bapak anak itu.” Aku mematung lama. Berusaha mencerna kata-kata Kak Dimas. Fio mengulang-ulang kalimat yang diucapkan Kak Dimas. Sejak malam itu sampai saat ini pak Bagas menggantikan peran bapak anak itu. Mungkin dengan cara itu mereka berduabisa saling menyembuhkan. Sungguh aku tidak bisa percaya di balik senyum penuh kebahagiaan yang ditampilkan Pak Bagas, dia punya masa lalu semenyedihkan itu. “Terus anaknya Pak Bagas sekarang dimana?” tanyaku penasaran dengan nasib anak angkat Pak Bagas sekarang. “Anaknya kuliah juga di tempat kita.” balas Kak Dimas. “Oh ya.” “Iya, namanya Rama Mahendra Ilmu Komunikasi 2015.” Aku kehilangan kata-kata. Ingatanku sontak melayang kepada salah satu diantara para senior-senior yang membully Dikta tempo hari. Salah satu senior tersebut kuketahui bernama Rama, sosoknya yang paling sok jagoan diantara kelima senior tersebut membuatku langsung menandainya. Jangan bilang Rama anak Pak Bagus sama dengan Rama si Senior itu. “Ya Rama Mahendra adalah salah satu teman saya yang tempo hari ikut aksi bully itu. Bukan cuman itu anak Pak Supardi juga salah satu dari mereka, Deva Wardhana,” terang kak Dimas menjawab apa yang ada dalam pikiranku. Perasaanku campur aduk diserang oleh fakta-fakta yang dilontarkan Kak Dimas. Selama beberapa saat, aku hanya terpaku menatap ke dalam matanya. Berusaha mencerna arti dibalik tujuannya menceritakanku semua ini. Aku memang tersentuh mendengar kisah Pak Supardi dan Pak Bagas yang ia ceritakan kepadaku. Tapi mendengar cerita tersebut, aku tidak serta merta merasa kasihan kepada kedua senior tersebut. Aku memang tipikal seseorang yang tidak gampang mengasihani orang lain hanya karena masa lalu mereka yang menyedihkan dan lantas memaklumi semua sikap buruk mereka hanya karena hal tersebut. Bagi aku, terlepas dari kehidupan mereka yang buruk itu, tidak serta merta membuat mereka berhak melakukan hal buruk juga terhadap orang lain. Aku masih terdiam, tidak tahu harus menanggapi cerita Kak Dimas seperti apa. Untung saja Pak Bagus datang membawa pesanan kami sehingga aku tidak harus berlama-lama dalam suasana hening ini. Aku menyunggingkan senyum kepada Pak Bagas sembari mengucapkan terima kasih. Kami makan dalam diam, hanya ada dentingan garpu dan sendok beradu dengan mangkok mie ayam yang sesekali terdengar. *** Mobil Dimas sudah berhenti di depan kos Fio tapi sepertinya sang pemilik kos masih tidak berniat untuk turun. Percakapan mereka di Warung Mie ayam Pak Bagus belum selesai. Fio ingin mempertegas sikapnya, ia sedikit paham tujuan Dimas membawanya bertemu kedua bapak tadi dan menceritakan kisah sedih mereka. “Kak, saya tahu ini mungkin terkesan jahat, tapi apa yang kakak lakuin seharian ini dengan bawa saya ke tempat-tempat itu dan menceritakan kisah-kisah mereka itu tidak merubah pendapat saya soal mereka. Mereka yang kumaksud disini adalah Rama dan Deva. Don’t get me wrong, saya kasihan dengan Pak Bagus dan Pak Supardi, saya berempati dengan mereka dan lebih kasihan lagi mengetahui kalau mereka punya anak sebangsat Rama dan Deva. Mereka benar-benar gak menghargai orang tua mereka. Tapi itu gak buat keputusan saya berubah kak.” Dimas tersenyum kecil “I know, ini tidak akan merubah pendirian kamu. Sedikit banyak saya paham sama karakter kamu. Kamu orang yang punya pendirian yang tidak gampang untuk digoyahkan.” Dimas berbalik ke arah Fio dan menatapnya tepat di kedua matanya. Fio menelan ludah gugup. “Saya ngajak kamu hari ini cuman buat nunjukkin ke kamu alasan saya kenapa belain mereka.” “Karena kasihan dengan mereka?” Dimas menggeleng. “No, saya gak kasihan sama mereka. Tapi saya akan merasa berdosa karena membuat hati kedua bapak tadi terluka gara-gara tidak berbuat sesuatu untuk menolong mereka. Kedua bapak tadi sudah saya anggap seperti bapak saya sendiri, saya akan merasa berdosa sekali melihat mereka harus terluka gara-gara perbuatan anak mereka dan saya ada disana tapi tidak berbuat apa-apa. Meskipun saya tahu ini salah, tapi untuk seorang anak demi menyenangkan hati orang tuanya apapun akan dia lakuin Fio” “Kalau menuruti logika, saya akan 100% setuju sama kamu Fio. Tapi terkadang kita perlu mengikutsertakan nurani kita dalam mengambil keputusan. Terkadang kita hanya melihat masalah dari satu sisi saja dan serta merta mengambil keputusan berdasarkan apa yang sudah kita lihat padahal masih ada satu sisi yang belum kita lihat dan pertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Saya cuman mau kamu melihat kedua sisi tersebut Fio sebelum memutuskan sikap.” Dimas masih melanjutkan perkataannya, kali ini dia mengubah posisi duduknya tidak lagi menyamping ke arah Fio, ia menatap lurus ke depan sambil berbicara “Saya tahu sebagai seorang Ketua Himpunan, saya bias dalam hal ini seperti yang kamu katakan. Tapi saya hanya ingin kamu paham seperti apa posisi saya dalam hal ini. Saya tidak mau kamu salah paham dan menganggap say tidak memiliki kapabilitas sebagai seorang ketua. Dan kalau memang setelah ini kamu masih menganggap saya tidak pantas menjadi seorang Ketua Hima, dengan senang hati saya akan mengundurkan diri. Saya hanya tidak mau mengorbankan nurani saya hanya demi sebuah jabatan.” Dimas tersenyum lembut dan menatap Fio. “Ini sudah malam, kamu pasti capek banget seharian ini sudah bersedia saya bawa kesana-kemari.” Dimas turun dari mobilnya dan berlari kecil ke sisi mobil tempat Fio duduk dan membukakan pintu mobil. Fio segera turun dari mobil. Ia kini berhadapan dengan Dimas yang baru saja menutup kembali pintu mobil yang tadi dibukanya untuk Fio. Dimas sudah ingin berpamitan ketika aku mendahuluinya berkata. “Saya minta maaf sudah marah-marah sama kakak. Hari ini saya banyak belajar dari kakak, makasih udah ngajarin saya untuk gak berpikiran sempit. Kak Dimas bener, kalau kita bicara perspektif itu emang luas dan di dunia yang punya seribu macam pemikiran ini bukan cuman perspektif kita yang paling penting. Kita harus terima kalau mungkin saja dalam beberapa hal kita mengambil keputusan yang salah. Thank you kak. Saya belajar banyak.” Dimas tersenyum lembut, tangannya terulur menyentuh rambutku dan mengusapnya pelan. “Masuk gih ini udah malem.” katanya seraya melepaskan tangannya dari rambutku dan berbalik menuju mobilnya. Aku masih berada disana menunggu ia pergi sembari menormalkan detak jantungku yang berdetak kencang akibat perlakuannya tadi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD