Perjalanan bersama Dimas sabtu kemarin benar-benar membuka mata hati Fio. Segumpal rasa bersalah mengganjal hatinya sejak minggu kemarin. Dan disinilah Fio saat ini. Di depan kantor dekan fakultasnya, ia ingin berbuat sesuatu untuk meringankan perasaan bersalahnya dengan menemui sang pembuat keputusan bagi kelima senior tersebut.
Fio membuka pintu ruangan di depannya, hawa dingin AC menyambutnya ketika pintu itu terkuak lebar.
“Bapaknya ada kak?” tanya Fio ketika staf dekan fakultasnya menyambutnya dengan tatapan bertanya.
“Silahkan menunggu ya dek, bapak lagi ada tamu. Silahkan menunggu di kursi seberang sana,” balas staf tersebut sambil menunjukkan kursi tempat Fio dapat menunggu gilirannya untuk menemui dekan fakultasnya.
Kira-kira 10 menit sudah Fio menunggu ketika pintu di hadapannya terbuka dan menampilkan tamu sang dekan yang Fio perkirakan adalah mahasiswa bimbingannya, terlihat dari map berisi satu jilid skripsi di tangannya serta raut muka kusut yang menandakan revisiannya mungkin banyak. Fio membayangan 3 atau 4 tahun lagi dia akan berada di posisi seperti mahasiswa itu.
“Silahkan masuk dek.” Perkataan staf tersebut menyadarkan Fio dari lamunannya sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir yang diribetkan oleh skripsi.
“Oh iya makasih kak,” ujar Fio sembari tersenyum sopan ke arah staf tersebut dan berlalu menuju ruangan di hadapannya.
***
Aku berjalan meninggalkan ruangan Pak Wirya—dekan fakultasku dengan perasaan luar biasa lega seolah-olah batu sebesar satu ton baru saja terangkat dari dadaku. Perasaan mengganjal itu sudah hilang. Aku yakin pembicaraanku bersama pak Wirya tadi memiliki hasil yang bagus untuk kasus skorsing ini.
Langkahku terhenti di depan pintu kelas ketika melihat yang menyambutku di dalam sana bukannya Adit dan teman sekelasku yang lain melainkan beberapa kakak tingkat. Aku menatap mereka heran, sepengetahuan gedung ini dimana tempat kelasku berada di khususkan untuk para mahasiswa baru dan kehadiran para senior itu menimbulkan tanda tanya di benakku.
“Hei yang ditunggu udah datang nih,” ujar salah satu dari mereka
Aku memutuskan masuk. “Kakak nungguin saya?”
“Iya dong kita nungguin lo,” balas kak Gita—orang yang sama yang ku dapati berbincang bersama kak Dimas di perpustakaan tempo hari.
Melihat kehadirannya disini, aku sepertinya dapat menebak alasan mereka mencariku.
Kak Gita melanjutkan ucapannya. “Untuk ukuran mahasiswa baru rajin juga ya lo jam segini udah di kampus, sendirian lagi, upss gue lupa seorang attention seeker kayak lo ya ga masalah sih ya berkeliaran tanpa temen-temen lo. Secara cari perhatian di depan ratusan mahasiswa baru bukan masalah besar buat lo.”
“Sebenarnya masalah kakak itu apa sih?” Emosi ku terpancing mendengar cerocosan manusia di depanku ini. Gak ada angin gak ada hujan mereka tiba-tiba mencecarku sembarangan. Mana main keroyokan lagi. Jujur aku sangat teintimidasi dengan situasi saat ini.
“Oke let me tell u somethin, perbuatan lo itu udah bikin masa depan teman-teman kita terancam. Efek dari perbuatan sok pahlawan lo itu bikin teman-teman kita terancam di DO.”
Here we go, still the same problem
Aku memutar bola mataku. “Please kak ini gak adil buat saya. Kakak seharusnya gak disini mencecar saya kalau ingin masalah teman-teman kakak ini selesai. Seharusnya kakak sekarang di gedung fakultas ngajuin tuntutan keringanan hukuman. Yang kakak-kakak lakuin sekarang dengan mengeroyok saya itu gak menghasilkan apa-apa. Useless.
Kak Gita melangkah maju dan memelototiku. “Gak adil lo bilang, trus yang lo lakuin sama teman-teman gue itu adil menurut lo.”
Satu persatu teman-teman kelasku telah berdatangan di sela-sela perdebatan ku dengan kak Gita. Mereka tidak berani mengintrupsi apa yang sedang terjadi dan memilih menonton dari jarak jauh. Kehadiran kak Dimas di antara teman-temanku dan beberapa senior yang juga berdatangan adalah satu-satunya yg ku syukuri. Hanya merasakan kehadirannya saja di tempat ini aku sudah merasa aman.
“Karena lo bilang kalau kedatangan gue dan temen-temen gue kesini ketemu lo hanya sia-sia. Gue bakal ngebuat pertemuan ini berguna atleast buat temen-temen lo.” Kak Gita menyeringai licik. Aku mendapat firasat tidak enak. Ini gak akan berakhir mudah.
“Oke guys attention please, gue disini cuman mau ngasih tahu kalian satu hal.” Kak Gita memulai pidatonya.
Kak Gita melirik kearahku sebelum melanjutkan perkataannya.
“Teman kalian, seorang Fiore Ararya yang selama ini kalian anggap seorang pahlawan, the innocent, sweet, and a good girl tidak lebih dari seorang perempuan gak bener yang setiap malam kerjanya keluar masuk klub, right Fio”
Nafasku tercekat
Kesiap kaget dan that judgemental sight yang diedarkan oleh seluruh mahasiswa di ruangan ini membuatku tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
“Oke gue rasa cukup ya info nya kalau kalian-kalian pada mau ngebuktiin ucapan gue silahkan aja datang ke Night Sky tempat mangkalnya Fio.” Selepas mengatakan itu kak Gita dan antek-anteknya bergerak meninggalkan ruangan ini.
Sontak aku menahan lengannya. “Tarik kata-kata kakak barusan.”
Ia meraih tangan ku dan menghempaskannya kasar
“Loh emang ada yang salah dari kata-kata gue barusan. Lo emang kerja di sana kan? Bahkan Dimas tahu. Ya kan, Dim? Seorang Dimas gak akan bohong dong.” Kak Gita dan aku sama-sama menolah ke arah tempat dimana Dimas berada. Kami sama-sama membutuhkan klarifikasinya. Sama-sama berharap kak Dimas membenarkan perkataan salah satu dari kami.
Aku menatap kak Dimas yang malah menghindari tatapanku. Hatiku mencelos. Sepertinya aku tahu ia memihak siapa.
Kak Dimas hanya diam seolah membenarkan pernyataan kak Gita. Aku tidak mengenal kak Dimas di hadapanku ini. Ia bukanlah seseorang yang sama yang mengajarkanku tentang bagaimana melihat sebuah masalah dari dua sisi sabtu kemarin.
Aku masih menunggunya mengucapkan sesuatu yang membuatku memiliki alasan untuk tetap mempercayainya.
“Guys I think we should stop here.” Perintah Dimas dan berlalu pergi diikuti Gita dan antek-anteknya dengan senyum kemenangan menghiasi wajah-wajah mereka.
He betrayed me
***
Kuliah hari ini berakhir tanpa seorang pun berniat mengonfrontasi Fio perihal kejadian tadi pagi. Mereka diam seribu bahasa tapi Fio tahu kerap kali teman-temannya mencuri pandang ke arahnya di sela-sela perkuliahan yang sedang berlangsung. Tatapan penasaran juga dilayangkan mereka tetapi hanya sebatas itu. Sikap Diam Dimas seolah-olah menjustifikasi kebenaran berita soal Fio tanpa perlu teman-temannya bertanya langsung mencari kebenaran dari sumbernya langsung.
Fio meraih tumpukan bukunya dan menjadi orang pertama yang bangkit menyusul dosennya keluar dari kelas. Di ambang pintu, langkah Fio terhenti. Ia berbalik dan berkata.
“Kalo kalian sepenasaran itu, kenapa gak bertanya langsung aja sama gue. Gak usah lirik-lirik dan natap gue kayak gue adalah seorang pendosa. Kalian gak ada hak buat ngejudge gue. Dan satu lagi, gue gak berniat buat ngejelasin kebenaran rumor itu. Kalau kalian mau percaya silahkan. Mau gue jelasin sampe mulut berbusa kalau kalian gak percaya, ya percuma, gak guna juga kan. Dan gue rasa kalian juga gak sepeduli itu buat ngertiin keadaan gue. Kalian cuman butuh gosip buat bahan obrolan kalian. So go ahead, lanjutin aja gosipin soal gue, in case kalian kehabisan bahan obrolan.”
Debam daun pintu akibat empasan Fio menandakan kepergiannya.
***
Kamar itu masih gelap, sangat kontras dengan suasana di luar sana yang terang benderang. Si empunya kamar tidak ada niatan beranjak dari kasur empuknya bahkan untuk sekedar membuka jendela untuk menikmati sinar mentari pagi. Hal seperti ini sudah menjadi rutinitas Fio sejak ia mulai bekerja di Night Sky sebagai bartender, pekerjaannya tersebut mengharuskannya pulang setelah pukul 4 pagi setiap 4 kali dalam sepekan. Kuliahnya membuat Fio hanya mengambil 4 shift dalam seminggu itupun ia harus menyesuaikan jadwal peerjaannya dengan jadwal a bekerja. Ia tidak akan sanggup berangkat ke kampus dengan mata terbuka jika malamnya ia harus bekerja.
Fio masih meringkuk di kasurnya ketika suara gedoran pintu terdengar tidak sabaran mengetuk pintu kosannya.
“Assalamu ‘alaikum Fio!!!”
“Lo di dalem gak sih?”
“Fio buka dong. Gue bawa sarapan nih.”
Gedoran itu masih berlanjut dan semakin intens disertai dengan suara cempreng yang memanggil nama Fio.
Tetapi gedoran itu hanya bertahan selama dua menit, sepertinya si pelaku sudah menyerah. Selang beberapa saat pintu tersebut mengeluarkan bunyi lagi tapi kali ini bukan karena gedoran tetapi karena suara kunci pintu yang mencoba membuka pintu tersebut.
BAMM!! Pintu tersebut berhasil dibuka.
Dan masuklah sang pelaku penerobosan tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mira
Pemandangan kamar Fio yang disaksikan Mira ketika ia masuk membuatnya berteriak histeris. Ia dengan tidak santai menyibak selimut Fio dan mengguncang-guncang tubuhnya.
“Fio lo jangan ngelakuin hal bodoh ya.”
“Pliss Fio lo jangan mati, jangan ninggalin gue.”
Mira yang panik dan mengira Fio melakukan hal yang tidak-tidak berniat menghbungi 911.
“Halo pak iya Saya dengan Almira, ia ini teman saya minum pestisida, dia pingsan tolong segera bawa ambu—“
Fio buru-buru merampas paksa handphone Mira sebelum ia menyelesaikan ucapannya dan mematikan Hp tersebut.
“Siapa yang mati oon.”
“Lo gak jadi bunuh diri?”
“Si kamprett ini bener bener yah,” dumel Fio dalam hati
Mira melihat temannya itu dengan mata berkaca-kaca. Detik itu juga Mira menghambur ke pelukan Fio dan menangis kencang.
“Huwaaa gue kira gue bakal kehilangan temen gue.”
“Lo lebay banget sih. Ya kali gue mau bunuh diri. Buat apaan coba.” Fio berusaha membebaskan diri dari pelukan Mira yang sangat erat itu.
“Ya kan siapa tau lo stress gara-gara rumor soal lo yang kemaren. Lagian botol itu botol apaan kalo bukan botol pestisida.” Mira menunjuk botol beserta gelas yang masih berisi setengah cairan dari botol itu yang tergeletak asal di dekat kaki ranjang disertai tebaran puntung-puntung rokok di sekitarnya. Benar-benar tidak mencerminkan kamar perempuan banget.
“Itu namanya alkoholl Mira sayang,” jelas Fio
“Astagfirullah ukhti. Lo gak boleh minum-minuman kayak gitu. Itu tuh haram. Solat lo bisa gak diterima 40 hari kalo lo minum itu.”
” Fio memutar bola mata. “Kalau-kalau lo lupa ya Mira Oon gue itu kristen.”
Mira menepuk dahi nya
“Oh iya gue lupa,” balasnya ngakak. Ia menertawai kebodohannya sendiri.
Dasar absurd
“Oh iya sarapan yang katanya lo bawa mana?” Fio tiba-tiba mengingat tujuan gadis itu kemari yang katanya membawakannya sarapan. Sebenarnya dari gedoran pertama Mira di pintunya tadi Fio sudah mendengarnya, hanya saja ia terlalu malas beranjak dari kasur sekedar membukakan pintu buat curut satu ini. Ia butuh ketenangan saat ini tapi ya mau gimana lagi sepertinya gadis oon di depannya ini punya seribu satu cara untuk mengganggunya. Ia meminta kunci cadangan kepada ibu kos Fio dengan alasan yang sama mengapa ia menelpon 911 tadi yang untungnya segera digagalkan Fio. Untungnya ibu kosnya bukan tipikal ibu-ibu resek yang kadar kekepoannya tinggi sehingga ketika ia melihat Fio bangkit dari ranjang, ia langsung pergisetelah memastikan kalau perkataan Mira tersebut hanya mengada-ngada.
Fio mengerutkan dahinya seperti berusaha mengingat-ngingat sesuatu
“Oh iya sarapan lo yah?”
“Gue lupa Fi gue taro dimana.”
“Kayanya gue lempar deh pas mau ngambil kunci di ibu kos lo,” terang Mira dengan wajah polosnya.
Fio mengecek keluar pintu kosan benar saja di halaman depan, ayam Ibu kosnya sedang berpesta pora memakan nasi uduk yang dilemparkan Mira. Ya udah hitung-hitung bersedekah sama si ayam nanti kalau ayam-ayamnya udah gede, giliran mereka yang gue makan he he he, batin Fio.
***
Gue bener-bener speechless mendengar jawaban Mira setelah aku menjelaskan panjang lebar soal pekerjaanku di Night Sky dan rumor sialann yang sedang beredar. Dari sekian banyak informasi yang aku jejalkan ke kepalanya yang aku curigai hanya berisi tempurung karena otaknya sudah hilang entah kemana itu, dia hanya menanggapinya dengan protes mengapa aku tidak pernah mengatakan kalau bekerja di bar hits tersebut.
“Daebakk!! Gue gak mau tahu ntar malam gue mau ikut lo kerja.”
“Gak lo gak bakal kemana-mana apalagi ngikutin gue,” tolakku cepat. Anak ini bahkan gak pernah minum (kasta terenndah dalam dunia peralkoholan). Gaya banget mau sok-sok nakal.
“YAH GAK BISA GITU DONG FI,”Protes Mira lebih terdengar seperti lengkingan. “Lo tau si Tya, teman SMA gue yang sok hits itu yang tiap malam bikin instastory tempat dia clubbing dan yang ngatain gue anak cupu yang kalo malam kerjanya cuman nontonin bang Al sama mamah di rumah? Gue harus tunjukin kalo pergaulan gue bukan cuman sebatas rumah ama kampus doang.” Mira sepertinya benar-benar serius soal permintaannya itu.
Aku menghela nafas dan memegang kedua lengan Mira sambil menatap matanya dalam-dalam. “ Yaelah Mir, masalah gitu doang kok lo sampe segitunya sih. Lagian si Tya-Tya ini kan juga bukan temen lo banget. Gak usah dipermasalahin lah. Lagian clubbing itu bukan prestasi Mir, gak bakal bikin dapat penghargaan juga kalo lo sering clubbing, dapat masalah sih bisa jadi.”
“Gak pokoknya gak, gue harus bisa ke Night Sky meskipun cuman sampe pagernya doang, seenggaknya buat bikin insta story doang abis itu gue cabut dan ngumumin ke seluruh pengikut gue di ig kalo seorang Almira juga anak-anak hits meskipun tiap malam sebelum ke club nontonin mas Al dulu. Lo tahu gak Fi ini tuh bukan cuman demi harga diri gue tapi juga mas Al Fi. Bayangin si Tya itu jelek-jelekin kalo penggemarnya mas Aldebaran itu cuman ada dua ya kalo bukan emak-emak ya pasti anak ansos yang hopeless romantic kayak gue. Itu penghinaan banget tau buat KITA.” Mira sepertinya tidak akan mundur dari rencananya. Tapi sepertinya ada yang salah dari perkataan Fio barusan.
“Waitt.... KITA? Sejak kapan gue bilang kalo suka si Al?” protesku tidak terima.
“Ya kita kan sering nonton Ikatan Cinta bareng-bareng Fi.”
“Hehh kutu kupret gue nonton itu kepaksa ya.”
“Ya tapi kan lo gak protes lama-lama, kirain kesengsem juga sama mas AL-nya aku he he he.”
***
Sepulangnya Mira sehabis membuat kacau pagiku yang semalam kurencanakan akan kupakai untuk tidur sepuasnya gagal total, aku hanya berbaring menatap langit-langit kamarku. Rasa kantukku sudah hilang entah kemana digantikan dengan rasa asing yang menggangguku sejak kemarin. Rumor yang menyebar tentagku itu dan membuat semua teman-teman kelasku menilaiku buruk tidaklah masalah, hal itu tidalah terlalu menggangguku meskipun dalam hati kecilku aku sedikit berharap teman-teman kelasku berpihak kepadaku. Tapi hal yang paling membuat ku terganggu adalah Dimas yang menghindari tatapanku dan hanya diam melihatku menjadi pesakitan di depan umum pagi kemarin. Sakit hati bukanlah perasaan yang tepat atas tindakannya tersebut. Aku tidak merasa pantas untuk merasakan sakit hati, Dimas belum seberarti itu di hidup aku sampai bisa membuatku sakit hati atas tindakannya. Ah! Aku tahu perasaan yang kurasakan ini mungkin lebih tepat disebut kecewa. Ya aku kecewa terhadap Dimas, Ekspektasi ku terhdapanya terlalu tinggi, Kejadian sabtu kemarin seolah-olah membuatnya sebagai senior dan orang yang paling bijak yang pernah ku temui. Kata-katanya yang menyadarkanku soal hidup dan bagaimana menyikapi sebuah masalah benar-benar membuatku mengaguminya. Tetapi tindakannya kemarin membuatku sadar, mungin dia hanya pandai bermain kata-kata dan ketika itu terkait tindakan, ia nol besar.
Tapi aku juga tidak bisa seratus persen menyalahkan kak Dimas. Ia tidak berkewajiban apa-apa untuk membelaku dibanding teman ia sendiri. Ini hanya tentang ekspektasiku sendiri yang melukaiku. Aku teralu berekspektasi terlalu tinggi terhadapnya. Aku mengasihani diriku yang terlalu berharap.
Sekuat tenaga aku berusaha menghilangkan perasaan ini, sejak kemarin aku menyibukkan diriku di Night Sky dan tidak membiarkan sedetik pun pikiranku dipenuhi dengan Dimas, tetapi saat ini, ketika aku berbaring di ranjangku dan tidak tau lagi harus melakukan apa, pikiran tentang kekecewaanku terhadap Dimas kembali menyerbuku. Aku benci ini. Aku tidak suka dikecewakan. Hidupku sebelum ini kulalui dengan banyak kekecewaan-kekecewaan yang semuanya berasal dari seseorang. Aku melarikan diri dari kehidupanku sebelumnya bukan untuk merasakan perasaan ini lagi.
Aku selalu memiliki cara untuk membentengi diriku dari perasaan kecewa yang mungkin kurasakan dari manusia-manusia yang memiliki potensi untuk membuatku merasakannya. Hal ini sudah kulakukan berkali-kali dan aku bisa mengataan kalau cara ini sungguh berhasil tapi psikolog tempatu beronsultasi mengatakan cara itu salah. Cara itu malah membuatku tidak bisa memberi kesempatan diriku untuk sembuh. Ia mengatakan cara itu membunuh kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja adalah salah satu hal yang dikirim Tuhan untuk menoongku. I push people away. Orang yang ku tahu memiliki potenis untuk membuatku kecewa dikemudian hari. Aku selalu mendorong orang-orang jenis itu. Dari mana aku bisa tahu mereka memiliki potensi itu? Because they did it once. Dan ketika mereka melakukan itu, hal yang aku lakukan selanjutnya adalah, I push them away.Aku tidak akan memberikan mereka kesempatan kedua untuk menyakitiku. Terdengar egois yah? Ya, orang-orang disekitarku selalu mengatakannya.
Dan selama setahun sejak aku memiliki kehidupan baru ku disini, di Jakarta. Untuk kali pertama, aku kembali menggunakan cara yang lama untuk melindungi diriku.
***