Chapter 8

2204 Words
Perpustakaan hari itu sepi seperti biasa, suara sekecil apapun memiliki potensi dapat di dengar oleh beberapa mahasiswa di perpustakaan ini begitupun bunyi notifikasi dari aplikasi instagramnya yang mengalihkan Fio dari kegiatannya membaca buku. Handphonenya ia letakkan di dekat buku yang ia baca, matanya sekilas melirik ke arah layar yang menampilan notifikasi tersebut. Sebuah direct message dari akun @DimasAryasatya berisi satu kata , lima huruf dan diakhiri dengan sebuah question mark. Fiore? Pesan sangat singkat mampu membuat mood Fio berantakan. Fiore berdecak kesal “Ck, mau apa lagi sih orang ini,” dumel Fio dalam hati sambil meraih handphonenya dan membalik layarnya agar pesan itu tidak terlihat oleh pandangannya. Lima belas menit kemudian Fio kembali medengar nada notifikasi dari handphonenya. Kali ini beberapa mahasiswa melirik ke arah Fio, mereka mungkin merasa terganggu dengan bunyi handphonenya yang sudah dua kali mengganggu ketenangan di ruangan ini. Fio meringis dan menunjukkan gestur permintaan maaf kepada mereka. Ia dengan buru-buru membereskan buku dan barang bawaannya kemudian berlalu dari perpustakaan. “Fio, are you there?”  Kali ini Direct Message itu bertambah tiga kata. Fio menutup aplikasi tersebut dan mematikan handphonenya, tidak berniat membalas pesan itu. Ia melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karena melihat DM tersebut, belum terlalu jauh, langkahnya kembali berhenti. Sosok di seberang sana kembali membuatnya berhenti, dari jauh Fio sudah dapat mengenali sosok tegap tersebut. Diantara puluhan mahasiswa yang lalu lalang, sosoknya seperti anomali diantara mereka, ia seperti memiliki persona sendiri yang membuat seseorang akan kembali menatapnya, tidak akan puas hanya dengan meliriknya, atau cuman Fio yang merasakan hal tersebut. Ia tidak tahu. Hari ini ia kelihatan begitu berwibawa dengan baju PDH Himpunan yang ia pakai. Dimas yang di depannya inilah yang membuat Fio kagum. Dari jarak sejauh ini pun, kehadiran Dimas sudah membuat jantung Fio berdebar-debar. Tatapan matanya mengunci pandangan Fio, sosok tersebut seperti melihat mangsanya dan berjalan ke arah Fio dengan tatapan mata yang tidak melepaskan Fio barang sedetik pun. Bahkan ketika Dimas sudah menghentikan langkahnya dihadapan Fio, ia masih menatapnya lekat. “Kamu gak balas pesan saya.” Itu bukan pertanyaan, itu pernyataan. “Kenapa? Kamu marah sama saya?” lanjut Dimas. Fio tidak siap bertemu Dimas saat ini. Terlebih langsung dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang Fo sendiri pun tidak bisa menjawabnya. Fio gelagapan. “A..Aku sibuk,” jawab Fio singkat. Dimas mengerukan dahinya tidak percaya. “sesibuk itu.” “Sekarang sudah tidak sibuk kan? Saya mau bicara.” Dimas tidak membiarkan Fio menolak ajakannya. Ia meraih tangannya setengah menyeret karena penolakan yang Fio beri. Bangku taman di depan gedung perpustakaan menjadi pilihan Dimas membawakku. Dimas mendudukkan Fio sebelum dirinya ikut menyusul duduk di samping Fio. Atmosfer kecanggungan begitu kentara di antara mereka. Dimas berdehem dan menatap Fio, “Fio, saya mau minta maaf.” Fio balas menatap Dimas. “Ngapain minta maaf, emang kamu ada salah apa sama saya?” “Aku hanya tidak mau kamu merasa kalau aku hari itu bersikap tidak adil sama kamu.” “ooh gak, kakak gak salah apa-apa. Emang aku siapa sampai harus merasa kayak gitu.” Fio berusaha terlihat santai. Ia tidak mau Dimas tahu kalau ia memang merasa seperti itu. “Hari itu saya hanya berusaha untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadi kamu, karena itu saya diam, itu bukan karena saya tidak mau membela kamu. Itu karena saya tahu, bukan ranah saya untuk menjelaskan soal hal-hal pribadi soal kamu.” “Kakak merasa tidak berhak untuk ikut campur atau kakak juga sedikit percaya sama omongan mereka?” balas Fio. “Kakak bisa aja ngomong kalau kakak tahu saya bekerja di sana sebagai bartender, tidak lebih. Tapi kakak memilih untuk bungkam dan buat seolah-olah apa yang temen kakak katakan itu benar.” Lanjut Fio. “Kakak juga berpikiran seperti itu kan?” “Saya nggak akan munafik dengan bilang kalau saya gak pernah berpikiran seperti itu soal kamu, tetapi saya juga berpikir mungkin juga kamu gak seperti yang mereka bilang. Dan karena itu saya ada disini Fio untuk bertanya soal itu secara langsung sama kamu dan minta maaf soal kejadian kemarin. Saya cuman mau mendengar penjelasan kamu, bukan dari kata-kata orang lain,” balas Kakak Dimas. Selain Mira, Fio tidak percaya masih ada orang yang ingin mempercayainya dan tidak memakan mentah-mentah rumor tersebut. Dari berbagai banyak kemungkinan seseorang yang Fio bayangkan untuk percaya dengannya, ia tidak pernah membayangkan Dimas menjadi salah satunya. Fio tidak segera menjawab. Ia bimbang dengan hatinya saat ini, di satu sisi ia bertekad untuk tidak lagi berhubungan dengan Dimas seperti rencana awalnya. Di sisi lain, perasaannya goyah mendengar penjelasan yang Dimas paparkan. Tapi apapun itu sepertinya pilihan pertama tetap menjadi opsi yang paling baik untuk ini. Dimas terlalu berpotensi untuk mengacaukan Fio. Lihat saja baru setengah jam ia duduk bersamanya. Dimas sudah berhasil membuat Fio goyah. Hal yang tidak pernah Fio rasakan kepada laki-laki yang ia putuskan untuk ia tinggalkan sebelum ini. Dimas terlalu berbahaya untuk kesehatan hati dan mentalnya. Dimas memegang lengan Fio dan membuat si pemilik lengan tersentak kaget. “Fiore, tolong buat saya percaya sama kamu?” Hati Fio benar-benar kacau saat ini. *** Lelaki tersebut berjalan memasuki Night Sky yang malam itu sedang ramai-ramainya. Weekend memang selalu berhasil menarik banyak pelanggan untuk melepas penatnya dengan segelas alkohol atau hanya sekedar hangout menghabiskan weekendnya. Tetapi lelaki itu memiliki tjuan yang berbeda, pandangannya tertuju pada gadis yang sedang meracik minuman di depan sana. Gadis tersebut adalah tujuan ia datang ke tempat ini. Seumur hidupnya, bisa dihitung dengan jari ia mampir ke tempat-tempat seperti ini. Terakhir kali ia mendatangi tempat ini adalah untuk menjemput kakaknya yang sedang mabuk. Tempat ini tidak pernah masuk ke dalam daftar tempat yang akan ia tuju untuk merayakan sesuatu atau menenangkan diri seperti beberapa orang yang ia kenal. Tetapi tempat ini juga tidak bisa ia masukkan ke dalam daftar tempat yang tidak akan pernah ia kunjung. Sesekali ia harus mengunjungi tempat seperti ini, kehidupan sosialnya seringkali menuntutnya untuk itu. Menjadi mahasiswa di kampus yang memiliki mahasiswa dari berbagai macam budaya menjadikan ia harus beradaptasi dengan tempat-tempat seperti ini. Bar dan Night Club selalu menjadi opsi teman-temannya untuk hangout dan mau tidak mau sesekali ia perlu ikut dengan mereka. Sebagai seseorang yang memiliki peranan penting di jurusan dan kampusnya dan menjadi pusat perhatian mahasiswa ia harus bisa beradaptasi dan menjadi apapun yang teman-temannya inginkan. Meskipun itu bertentangan dengan nilai-nilai yang dianutnya. Dan perempuan di depan sana berhasil membuat Dimas kembali membuatnya melakukan hal tersebut. “Fio,” Dimas berseru sedikit meninggikan suaranya mengalahkan kebisingan tempat ini. Fio sedang melayani seorang pelanggan ketika Dimas memanggilnya. Ia berbalik dan kaget melihat kehadiran Dimas. “Kakak ngapain disini?” “Apa itu pertanyaan yang selalu kamu katakan sama semua orang yang datang ke tempat ini?” “Ya gaklah, sudah pasti kan mereka kesini buat minum-minum.” “Yap you already know the answer, ngapain masih nanya.” “What??? Kak Dimas minum?” tanya Fio sedikit tidak percaya. “Kenapa? Kaget?” “Yah gak nyangka aja orang kayak kak Dimas juga bisa minum-minum di tempat kayak gini.” “Wow kamu punya penilaian tersendiri soal saya. please explani orang kayak kak Dimas itu gimana?” Fio menelan ludah. Perkataan itu terdengar biasa saja, tapi sorot mata Dimas begitu menusuk dan menuntut penjelasan dari Fio. Ia berdehem seedar menentralkan suaranya yang bergetar. “Yah orang kayak kak Dimas itu gak mungkin lebih memilih menghabiskan minggunya yang tenang di Night Club seperti ini. Orang kayak kak Dimas itu lebih memilih meminum Red Wine di rumah diiringi musik klasik dan tanpa gangguan seseorang. Cuman kak dimas, musik klasik dan Wine. Sementara Night Sky itu kebalikan dari definisi seorang Dimas Arya satya. Night Sky terlalu bising untuk seorang Dimas Aryasatya yang suka ketenangan. Right?”balas Fio. Dimas tersenyum tipis mendengar penjelasan Fio soal dirinya. “Kamu benar, saya orang yang seperti itu, tapi khusus malam ini saya tidak butuh etenangan itu karena saya mau mengenal dunia seorang Fiore Ararya yang bising itu.” Perkataan Dimas sontak menimbulkan gejolak yang hebat di diri Fio. Minggu lalu di taman perpustakaan, Fio masih bisa menghindari Dimas dengan bantuan Mira yang tiba-tiba muncul menyelamatkannya dengan mengatakan bahwa kelasnyasudah dimulai. Tapi malam ini, tidak ada Mira dan ia sedang bekerja saat ini tidak mungkin ia kabur dan berakhir dengan mendapat surat peringatan dari atasannya. Fio terdiam tidak tahu bagaimana ia harus merespon. Seorang pelanggan yag memesan Gin and Tonic mengalihkan fokus Fio. Ia pun tersadar dan dengan cepat membuatkan apa yang diminta pelanggan tersebut. Dimas masih di dekatnya, memperhatikan Fio yang sedang mencampurkan entah apa dan memberi minuman tersebut kepada pelanggan tersebut. Fio kembali menatap Dimas yang masih berdiri di depan Counter Bar sembari memainkan gelas kosong di hadapannya. Fio menghela nafas pelan. “Kakak mau minum apa?biar saya buatkan.” “Suprise me, saya mau minum racikan terbaik kamu.” “Oke tunggu sebentar.” Fio kembali sibuk dengan pekerjaannya meracik minuman. Ia mengambil sebuah gelas berbentuk bulat dan membuka sebuah botol berwarna hijau dan menuangkannya ke gelas tersebut. Setelah itu Fio memasukkan sebuah es batu yang telah dibentuk seperti bola ke dalam gelas. Dan terakhir ia menuangkan sebuah cairan keemasan dari botol bening yang ia ambil dari rak berisi deretan berbagai macam minuman di belakangnya. Fio menyodorkan gelas berisi minuman tersebut ke depan Dimas. “Nama minuman ini apa?” tanya Dimas penasaran “Aku belum memberinya nama. Itu racikan terbaruku. Aku baru meraciknya semenit yang lalu. Berdoa saja semoga itu enak.” Balas Fio Dimas memasang wajah tidak percaya mendengar perkataan Fio barusan. Bisa-bisanya ia dijadikan kelinci percobaan. Bagaimana kalau minuman ini memiliki campuran yang tidak pas dan membuatnya masuk rumah sakit. “Kamu yakin campuran minuman ini gak akan buat saya kenapa-kenapa?”Dimas bertanya dengan nada tidak yakin. “ Drink it dan kita bisa tahu hasilnya.” Balas Fio santai. Dimas speechless Ia merapalkan doa sebelum menenggak habis minuman tersebut. Cairan alkohol tersebut memenuhi tenggorokannya. Dimas bisa merasakan rasa manis dan segar dari minuman tersebut. Rasa lemonnya benar-benar kuat tapi ia juga bisa merasakan sentuhan kayu manis yang memberi efek manis di lidahnya. Minuman ini benar-benar enak. Seumur hidup Dimas menyukai anggur yang memiliki rasa pekat di lidahnya tapi kali ini racikan Fio mungkin bisa ia pertimbangkan sebagai salah satu safe drink nya. “ Ini enak kamu harus mencobanya sendiri.” Puji Dimas dengan tulus. Ia kembali memesan minuman tersebut dan membawanya ke meja tidak jauh dari tempat Fio. Meja yang sama yang ditempati oleh kakaknya teakhir kali. Dimas masih di tempatnya ketika jam sudah menunjukkan pukul empat pagi dimana waktunya untuk Fio berhenti bekerja. Satu persatu para pelanggan Night Sky juga sudah hilang entah kemana, kebanyakan mereka sudah pulang kerumah atau kehotel terdekat. Hanya ada ia dan teman-teman sesama pekerja di Night Sky yang tersisa dan juga Dimas yang saat ini sudah tertidur lelap. Dimas sepertinya sudah cukup mabuk untuk dapat berkendara seorang diri, bagaimana tidak, ia menghabiskan enam gelas minuman yang sama sepanjang ia berada disana. Fio berdiri dengan berkacak pinggang dihadapan Dimas. Ia bingung bagaimana caranya ia membawa Dimas pulang. Tubuhnya terlalu berat untuk ku angkat sendiri. Kuputuskan untuk meminta bantuan kepada Romi, teman kerjaku untuk mengangkatnya ke dalam taxi yang biasa mangkal di depan Night Sky. Masalah selanjutnya muncul ketika kami berdua berada di dalam taxi, aku harus membawa cowok ini kemana? *** Kos Lingga menjadi destinasi ku membawa Dimas yang mabuk ini, aku sebenarnya ingin membawanya pulang tapi setiap kali aku bertanya tempat tinggalnya ia hanya menggumam tidak jelas. Aku tidak mungkin membawanya pulang ke kosan ku. Bisa-bisa aku menjadi bahan gunjingan para tetangga kos ku karena membawa laki-laki. Menjadi pekerja malam saja sudah cuup membuatku jadi bahan omongan mereka. Aku tidak bakal membuat mereka memiliki bahan gunjingan lain tentang aku. Kos lingga benar-benar pilihan yang tepat untuk membawa Dimas. Lihat saja, lampu-lampu depan kamar kosan Lingga masih menyala dan beberapa teman-teman kosannya masih duduk-duduk dan bermain kartu sembari menenggak amer. Aku melenggang masuk dan menaiki lantai 2 kosan tersebut dimana kamar Lingga berada para penghuni kosan Lingga sudah mengenalku sebagai salah satu kawan Lingga yang diberi free access untuk masuk ke kosan ini. Kamar Lingga kosong. Aku mengetuknya beberapa kali dan tidak mendapat jawaban. Aku berinisiatif mencari kunci kosannya yang biasa ia tinggalkan di kisi-kisi jendela kosannya. Kuncinya ada disana. Untung saja. Aku kembali ke bawah dan meminta tolong kepada salah satu kawan Lingga yang sudah ku kenal baik, Romeo. Ia kumintai tolong untuk membopong Dimas ke amar Lingga. Rencana awalnya sih aku ingin meminta tolong Lingga yang ternyata sedang tidak berada di kosannya. Untung saja ia meninggalkan kuncinya, kalau tidak, pilihan terakhir Fio adalah menyewa hotel untuk Dimas. Para penghuni kosan melihat kami dengan tatapan penasaran ketika lewat di depan mereka. Raut wajah terkejut tidak dapat mereka sembunyikan etika mengenali siapa sosok laki-laki yang sedang dibopong Romeo. Semua orang disini tidak ada yang tidak mengenal Dimas. Di samping fakta bahwa Dimas adalah kawan Lingga. Dimas sebagai seorang Ketua HIMA membuatnya dikenali hampir oleh  seantero kampus. Untung saja yang melihat mereka adalah para pria dikarenakan ini adalah kosan khusus laki-laki. Jadi tidak ada drama tatapan-tatapan sinis dan mulut-mulut minta di tabok yang mengiringi langkah Fio. Laki-laki memang beda dengan perempuan dalam menyikapi hal seperti ini. *** Tidur Fio terusik oleh guncangan di tubuhnya. “Fio bangun!!! Lo ngapain tidur di kamar gue?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD