Alfian mungkin saja menganggapku aneh. Seorang Maharani Varisha yang biasanya tak berhenti mengoceh. Tahu-tahu mogok bicara seperti orang yang sedang terkena sariawan di seluruh rongga mulut. Yang lebih membuatku kesal adalah manusia robot kurang peka yang ada di sampingku ini yang tak berusaha untuk menjelaskan siapa itu Bianca.
Hei, Rani ...
Sepertinya kau perlu ditampar agar tersadar dari pikiran tak masuk akal yang memenuhi pikiranmu saat ini? Siapa kau sampai Alfian harus menjelaskan kepadamu perihal gadis yang akan kau dan Alfian temui sekarang.
Aku mendesah membenarkan pemikiran yang memenuhi kepalaku sekarang. Mood-ku yang awalnya naik karena sikap dingin namun perhatian yang Alfian perlihatkan tadi, berubah menjadi down hanya karena mendengar nama wanita lain yang disebutkan oleh Alfian. Hal itu membuatku beberapa kali menarik napas dalam dan mengembuskannya berat sehingga membuat Alfian menolehkan kepala.
“Capek?” tanyanya khawatir. Mendengar nada khawatir yang keluar dari mulutnya kembali membuatku tersenyum dan menggelengkan kepala.
Ya ampun, Rani ....
Batinku kesal kepada diriku sendiri yang bisa berubah dengan mudah hanya karena mendengar satu kata itu keluar dari mulut Alfian. Aku memukul jidatku, merutuki kebodohanku yang tiada ampun.
“Kau bisa makan sepuas hatimu lagi nanti,” kekeh Alfian kembali mengingatkanku bagaimana pagi tadi aku terlihat seperti wanita rakus di depannya.
Aku menghela napas, sedang tak selera membalas ucapannya hanya bisa mendengus sebelum kemudian mengalihkan pandangan ke arah jendela. Sepertinya jalan di sampingku lebih menarik daripada melihat wajah tampan Alfian yang berubah menjadi tak menarik lagi di mataku untuk saat ini.
Tak ada pembicaraan lagi, hingga mobil yang Alfian kendarai masuk ke dalam sebuah cafe mewah yang bisa disebut sebagai restoran sebetulnya. Aku mencoba menarik napas dalam guna menghilangkan kekesalanku, sebelum akhirnya ikut keluar. Langkahku terasa begitu berat memasuki cafe resto ini. Desahan napasku kembali berat. Rasanya aku harus menguatkan hatiku melihat wanita yang dipanggil dengan begitu lembut oleh pria yang berstatus suamiku ini.
“Mas Afi ...” panggil seorang wanita ke arah Alfian membuat mataku mencalang. Tubuhku membeku saat wanita salah, gadis itu memeluk tubuh Alfian dengan begitu erat. Beberapa kali mataku mengerjap tak percaya. Wanita yang kusebut bukankah seorang wanita ... salah, maksudku wanita itu masih seorang gadis.
Iya ... Gadis.
Gadis di depannya ini terlihat begitu muda, umurnya bahkan sekitar 14 – 15 tahun dengan gaya pakaian yang baik. Brand-brand terkenal dunia memenuhi tubuhnya mengingatkannya kepada Emma Roberts dalam film Nancy Drew, terlihat fashionable dan berkelas. Menyadari keberadaanku, gadis itu melepaskan pelukannya dari Alfian lalu menatapku dengan tatapan awas.
Matanya memicing, menyusuri gaya berpakaianku dari ujung kaki hingga kepala sebelum kemudian beralih ke arah Alfian dan melakukan hal yang sama. Kepalanya terangkat membentuk sudut 15 derajat. Aku mencoba tersenyum walaupun rasanya aku ingin sekali mematahkan leher dari gadis yang menatapku lancang.
“Bianca, yang sopan!” ujar Alfian menarik pakaian gadis itu yang entah sejak kapan berjalan ke arahku. Kulihat dia berdecak sembari menghentakan kakinya kesal ke arah Alfian. Dia mengangkat tubuhnya yang setinggi diriku, berjinggit berusaha menyamakan tinggi tubuhnya kepada Alfian namun gagal. Saat Alfian meletakkan telapak tangannya ke puncak kepala gadis itu dan menekannya.
“Mas Afi, apa salahnya sih aku melihat kakak iparku sendiri,” sungutnya kesal, mendelik ke arah Alfian yang membalasnya dengan lototan.
Tunggu dulu ....
Apa yang gadis itu katakan? Kakak ipar?
Aku berusaha menyadarkan diriku saat mendengarkan kata itu keluar dari mulut gadis yang sedikit tak sopan itu, lalu terdiam saat menyadari bahwa Alfian menarik tubuh gadis itu agar berada di dekatnya, lalu mendorong punggung gadis itu sama seperti dia mendorong tubuhku saat di supermarket tadi.
“Perkenalkan Ra ... ini Bi ... Bianca, adik bungsuku,” ujar Alfian memperkenalkan gadis itu lalu mendorong pelan kepala gadis itu agar menunduk ke arahku yang masih terdiam terpaku. Mencoba mencerna semua hal yang terjadi.
“Ah, mungkin kamu masih bingung. Saat pernikahan kita di rumah sakit. Dia dengan Tari sedang dalam perjalanan dari luar negeri dan baru bisa pulang beberapa hari terakhir,” jelas Alfian membuat wajahku sontak memerah. Malu dengan pemikiran yang tidak-tidak yang baru saja tercetus di kepalaku.
“Hai, kakak Ipar ... senang bertemu,” ujarnya tiba-tiba mengambil tanganku kemudian mencium punggung tanganku.
Oh gosh ...
Aku mengingatnya. Bagaimana Mama menceritakan bahwa Alfian sebenarnya memiliki dua orang adik perempuan yang sengaja Ayahnya kirim untuk berlibur ke luar negeri agar tidak mengetahui bahwa Mama mereka sedang operasi bypass jantung saat itu. Ya ... kalau tidak salah namanya mereka adalah Tari dan Bi ...
Bergegas, aku menutup mulutku lalu tersenyum malu kepada gadis yang tiba-tiba saja berubah menjadi begitu cantik di depanku, padahal sejak tadi aku memandangnya sebagai Medusa yang menyebalkan. Sepertinya aku harus minta maaf kepada gadis bernama Bianca ini karena menyebutnya sebagai gadis tak sopan padahal gadis itu mengecup tangannya dengan begitu santun. Seolah, keluarga Alfian mengajarkan kepada gadis itu harus sopan kepada yang lebih tua.
“Dari wajah mbak, aku yakin Mbak tadi pasti ngira aku pacar Mas Afi ya ....” tebak gadis itu dengan benar membuat rasa panas yang kurasakan di wajahku menyebar hingga ke telinga.
Bugh ....
Aku meringis saat melihat Alfian menjitak kepala gadis itu dengan cukup keras sehingga menimbulkan bunyi yang membuatnya memekik dan mengusap kepalanya yang terlihat kesakitan sembari mencemberutkan bibirnya.
“Mas, Sakit!” pekiknya keras.
“lagian itu mulut nggak bisa di jaga, main ngejeblak saja!” ujar Alfian dengan wajah memerah ke arah gadis itu.
Aku tak dapat menutupi senyum geliku saat melihat tingkah Alfian dan adiknya. Pria itu .... ya, Alfian yang biasanya terlihat begitu dingin dan datar bisa mengeluarkan ekspresi kesal di depan adiknya. Dia seperti Pria biasa yang kesal dengan celetukan sembarangan yang dilakukan oleh adik bungsu di depan pacar atau gebetannya.
Alfian kembali berjalan mendekatiku, lalu berbisik. “jangan didengarkan ABG labil itu.” Aku terkekeh sebelum kemudian menangguk kecil. Adik bungsu Alfian itu hanya mendengus sebelum kemudian berjalan mendekatiku kemudian mengalungkan tangannya ke lenganku dan menariknya begitu saja sehingga membuatku mengikuti langkahnya masuk ke dalam Cafe Resto ini.
“Mbak Rani, Jangan dengerin manusia robot nan dingin macam dia,” ujar Bianca dengan begitu ceria membuatku tertawa. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Alfian yang hanya menggelengkan kepala geli mengikuti langkah kami.
Aku tak dapat menutupi kekagumanku saat melihat tampilan Cafe Ressto bergaya industrialis dengan warna-warna solid dan juga memiliki inner garden yang cantik. Kualihkan pandanganku ke arah Bianca yang masih mendumel menceritakan betapa menyebalkannya Alfian yang kutanggapi dengan anggukan membenarkan ucapannya.
“Dia menyebalkan kan, Mbak? Kayak robot yang nggak bisa ngomong atau kasih reaksi kalau kita lagi ngomong,” dumelnya tak lama saat kami mendapatkan tempat duduk. Dia membiarkanku duduk terlebih dahulu sebelum dia duduk berdempetan di sampingku seolah tak ingin jauh.
Dengusan geliku terdengar saat menatap gadis ini. Bianca. Adik bungsu Alfian ini terlihat sangat supel. Sifatnya hangat dan ceria berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pria dingin minim ekspresi di depanku ini. Aku memperhatikan wajahnya, lalu tersadar bahwa bagian T-zone gadis itu mirip dengan Alfian. Dahi, hidung dan dagunya begitu mirip dengan Alfian.
Wajahku kembali memerah, malu karena cemburu tak jelas dengan adik Alfian itu. Aku menatap Alfian malu-malu yang dibalasnya dengan kening yang naik, seolah bertanya apa yang sedang aku pikirkan. Namun, aku hanya menggeleng pelan membuat pria itu tersenyum simpul sebelum kemudian ikut menggeleng.
Dumelan Bianca berhenti saat melihat pelayan datang dan memberikan menu makanan yang langsung gadis itu berikan kepadaku dan juga Alfian sebelum dirinya sendiri. Aku mencuri pandang ke arah gadis ini, hal yang pertama aku lihat adalah iris mata Cokelat milik Bianca yang berbeda dengan Alfian, Sejenak wajah cantik Bianca merupakan perpaduan antara Papa Alex dan juga Mama Ambar. Membuat wajahnya terlihat seperti blasteran seperti Alfian, namun bedanya adalah sorot mata Alfian terlihat dingin sedangkan sorot mata Bianca penuh binar dan juga keceriaan. Saat gadis itu tersenyum, dia akan memperlihatkan eye smile cantik yang membuat semua orang ikut tersenyum bersamanya.
Walaupun berkesan ceplas-ceplos, Bianca terlihat begitu menyayangi dan patuh kepada kakak laki-lakinya ini, terlihat dari bagaimana dia memeluk menu itu dengan pandangan menatap Alfian binar seolah meminta izin memesan makanan yang dia inginkan. Aku kagum melihat bagaimana kedua orang kakak beradik itu seolah memiliki telepati dan berbicara hanya dengan tatapan mata.
Aku melihat bagaimana bahu Bianca bergerak kesenangan hanya dengan karena satu anggukan kecil dari Alfian.
“Aku mau Chicken Sambal matah, Chicken Cordon Blue, Oxtails with spicy soup,” Dia kembali melirik ke arah Alfian lalu menunjukkan gambar makanan. Dia kembali memekik kesenangan setelah mendapat persetujuan kakak sulungnya, “Spaghetti Aglio Olio ... spicy ...”
Aku hanya menggelengkan kepala melihat makanan-makanan yang Bianca sebutkan, “Habis itu semua?” tanyaku khawatir yang dijawabnya dengan anggukan.
“Kau tenang saja, Bianca akan menghabiskan semuanya. Di dalam perut kecilnya itu tersimpan kulkas dua pintu. Dia selalu kelaparan jika melihat makanan, sama seperti kamu,” kekeh Alfian membuatku dan Bianca mendengus kesal.
“Aku masih dalam masa pertumbuhan,” elak Bianca yang kujawab dengan anggukan.
“Ih, nggak lagi deh aku makan sama kamu kalau diledekin seharian karena masalah bubr saja,” dumelku membuat Alfian kembali tersenyum dan meminta maaf.
“Aku bakalan tutup mulut,” ujarnya meminta maaf, lalu memberikan buku menunya ke arahku, “Steiknya enak. Kamu mau?” tanya Alfian yang kujawab dengan anggukan.
Kututup buku menu milikku, sebelum menatap ke arah Alfian yang memesankan makanan untukku dan untuk dirinya sendiri. Aku terkejut saat melihat ke arah Bianca yang memicingkan mata ke arah kami berdua, “kenapa?” tanyaku yang hanya dijawabnya dengan senyuman lalu gelengan kepala.
Kening berkerut saat melihat Bianca menatapku dengan binar. Memperhatikan kami berdua dengan seksama lalu tersenyum tipis saat melihat Alfian mendelik ke arahnya. Satu hal baru yang kulihat dari Alfian adalah bagaimana cara dia memperhatikan adiknya. Seperti dalam pemikiranku, bahwa pria di depanku ini bukan termasuk pria yang suka berbicara, namun lebih melakukan semuanya melalui tindakan dan tatapan mata.
Hal yang paling menarik dari tatapan mata Alfian adalah bagaimana ada pintu di tatapan mata itu yang bisa terbuka saat dia menginginkan semua orang untuk membaca keinginannya, namun pintu itu bisa juga tertutup saat dia tak ingin ada orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan. Aneh memang, tapi itulah yang dia pelajari dari Alfian seharian ini.
Kadang, dia merasa bahwa Alfian berbicara dengan tatapan matanya yang terlihat seolah hangat, namun sejenak kemudian tatapan itu bisa berubah dingin seolah kristal es perlahan menutupi tatapan mata itu.
“Mau Ke mana?” tanya Bianca saat Alfian tiba-tiba saja berdiri.
“Toilet,” ujarnya singkat lalu berjalan begitu saja membuatku menggelengkan kepala.
“Mas Afi nyebelin kan, Mbak?” tanya Bianca membuatku menolehkan kepala dari yang awalnya memperhatikan Alfian. Mata Bianca melirik, berharap Alfian sudah menjauh lalu kembali merapatkan tubuhnya ke arahku.
Aku melihat Bianca yang menatapku dengan permohonan maaf, namun kubalas dengan anggukan kecil, “Sometimes ...”
“Jangan bohong deh, Mbak. Dia bukan kadang-kadang nyebelinnya, tapi hampir setiap waktu,” dumel Bianca menjelek-jelekkan abangnya. Tatapan binar yang dia perlihatkan tadi berubah redup lalu tiba-tiba memeluk tubuhku dengan begitu erat sehingga membuatku membulatkan mata bingung.
“Makasih sudah mau nemenin mas Alfian Ya, Mbak ...”
Aku terdiam merasakan pelukan Bianca yang semakin erat, “Mas Afi itu orangnya terlalu tertutup dan tidak bisa berteman dengan siapapun, walaupun dia selalu memperlakukanku dengan baik dan penuh kasih sayang tapi, kami sadar ada kalanya dia menarik diri dari kami dan terkurung dalam dinding es yang dia bangun.”
Ucapan penuh keceriaan yang awalnya dia perlihatkan berubah menjadi sendu. Aku sadar, Bianca terisak dalam pelukanku. “Mama bilang, mama menikahkan Mas Afi dengan Mbak Rani karena ingin mas Afi nggak sendirian lagi dan bisa membagi perasaan yang selama ini dia tutupi dari kami.”
Aku melepaskan pelukan Bianca, menatap lembut adik iparku yang masih ABG itu. Memikirkan kata demi kata yang Bianca rasakan. Bahkan adiknya yang masih remaja ini tahu bahwa pria itu terlalu penyendiri dan membangun dinding es yang sulit untuk dihancurkan. Aku menatap Bianca gamang. Bisakah aku melakukan apa yang Bianca katakan?
Alfian termasuk pria yang sulit untuk didekati, apalagi hingga pria itu membagi perasaannya. Pria itu bahkan membutuhkan waktu lama untuk menyadarkan bahwa ada dia di sisinya selama ini. Menghela napasku dalam sebelum kemudian menghapus air mata Bianca yang terus membasahi wajah cantiknya, “Mbak nggak bisa janji bisa membuat Mas mu membagi perasaannya kepada Mbak, tapi yang pasti mbak akan selalu ada di sisi Masmu, sampai dia yang mendorong mbak menjauh dari hidupnya,” ujarku merapikan rambut Bianca yang berantakan.
Bianca menggelengkan kepalanya, “Mas Afi nggak akan melakukan itu ke Mbak Rani. Melihat bagaimana tatapan lembut yang Mas Afi perlihatkan ke Mbak, membuatku yakin sebenarnya Mas Afi mulai tertarik ke Mbak Rani,” celetuk Bianca kembali penuh binar membuatku terkekeh, menertawakan ucapannya.
“Ish .... kami masih dalam tahap saling mengenal satu sama lain. Kami membutuhkan waktu untuk saling terbuka. Jadi, jangan khawatirkan hubungan Mbak sama Masmu. Yang kamu harus khawatirkan adalah kesehatan Mama Ambar. Mbak sama Mas Alfian bakalan baik-baik saja,” ujarku lagi ke arahnya membuat senyuman manis itu kembali terlihat di wajah cantiknya. Dia terlihat tersenyum kemudian mengangguk pelan.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Alfian yang tiba-tiba datang dengan wajah datar dan memicing ke arah kami membuatku mendengus.
“Adeh, Kepo ...” ujar Bianca kesal membuatku tertawa melihat bagaimana gadis itu bisa dengan cepat mengubah raut wajahnya. layaknya bunglon. Padahal, baru tadi dia tertawa, menangis kini bahkan bisa menatap kesal kakak sulungnya itu.
Alfian terlihat menggelengkan kepala sebelum kemudian kembali duduk di depanku dan menatapku seolah bertanya apa yang terjadi. Kujawab tatapan itu dengan senyuman dan gelengan kepala sembari memikirkan kata demi kata yang Bianca ucapkan tadi. Suasana hening kembali terjadi hingga putri bungsu Keluarga Abiyaksa ini terlihat kembali bersemangat saat melihat makanan yang dia pesan telah datang satu persatu dan memenuhi meja kami.
Tatapanku mencuri pandang ke arah Alfian yang menggelengkan kepala melihat tingkah adik bungsunya. Sejenak aku membenarkan ucapan Bianca. Bisakah aku membuatmu membagi perasaanmu, Fi .. Tatapan kami tiba-tiba bertemu. Aku menatap dalam iris mata Abu pria itu sembari berharap pria itu secepatnya membuka pintu hatinya dan membiarkanku untuk memasukinya suatu saat nanti.