Bab 9 - Grocery Date

2109 Words
“Berhenti menatapku seperti itu!” pekikku malu saat melihat Alfian terus menatapku dengan tatapan tak percaya. Setelah melihatku menghabiskan bubur ayam komplit plus sate telur burung puyuh, ati ampela bahkan sate ceker dengan cepat. Aku dapat melihat tatapan dingin yang Alfian perlihatkan berubah menjadi lebih hangat. Pria itu terus menatapku dengan tatapan mengolok sehingga membuat wajahku tak berhenti memerah dan kepanasan. “Kau tidak pernah makan sebanyak itu di rumah,” ujarnya lagi membuatku cemberut. “Bagaimana aku bisa makan dengan enak jika di depanku ada robot yang tak mengajakku berbicara,” kataku ketus membuat senyum tipis yang terlihat di wajah pria itu semakin lebar. “Hei ... aku bukan robot ya ...” ujarnya lagi yang membuatku mengangguk dengan begitu kesal. “Iya, bukan robot tapi pria dingin, irit bicara yang sebenarnya sebelas dua bela sama robot,” ujarku lagi membuatnya kembali tertawa. Aku terdiam saat melihatnya hari ini terlihat begitu berbeda. Sejak memutuskan untuk berteman dengan pria itu. Baru hari ini aku dapat melihatnya begitu lepas. Seolah pengendalian diri yang selalu dia lakukan perlahan dia lepaskan sehingga memperlihatkan sikap asli pria itu yang sebenarnya begitu hangat. Alfian mungkin bukan termasuk pria yang banyak bicara, tapi pria itu selalu melakukan aksi ataupun hal-hal kecil yang membuat semua wanita pasti akan terpesona, selain wajahnya yang begitu tampan keturunan seperti keturunan Eropa dengan iris mata Abu yang membuat semua wanita yang pertama kali menatapnya tak dapat melepaskan tatapan dari Alfian. Terlihat saat kami makan bubur tadi, hampir semua wanita yang berada di sana menatap Alfian dengan penuh minat. Rasanya tadi dia ingin berteriak kepada mereka semua yang seolah kelaparan melihat Alfian bahwa pria tampan, dingin dan bermata abu ini adalah suamiku. Namun, itu tak jadi aku lakukan saat menyadari bahwa hubungan kami bahkan seperti orang yang baru kenal daripada sepasang suami istri. “Mulai lagi,” dengusku menyadari bahwa kami kembali dalam mode hening. “Apa yang mulai lagi?” Tanyanya bingung dengan ucapan yang baru saja kuucapkan. “Mode hening yang terjadi di antara kita,” dengusku membuat Alfian kembali terdiam. Dia kembali mengarahkan pandangannya ke arah jalan. “Sudah aku katakan bahwa aku tidak biasa memulai percakapan sebelumnya,” ujarnya membuat alasan membuatku mendelik. “Setidaknya kau bisa menanyakan hal random yang memancing orang lain untuk menjawabnya,” “Seperti?” “Menanyakan bagaimana kabar, bagaimana cuaca hari ini atau bahkan memuji penampilan lawan bicaramu,” ujarku lagi. Hal terakhir yang aku ucapkan membuat wajahku kembali merona. “Kau cantik hari ini,” ujarnya tiba-tiba membuat telingaku memekak. Debaran jantungku kembali menggila saat mendengar bagaimana Alfian memuji penampilanku. Tanganku meremas tali tas yang berada di depan dadaku. Tak menyangka pria itu akan benar-benar memuji seperti ini sesaat setelah aku mengucapkan perkataan konyol itu. “Kau ... cantik hari ini~” aku menyanyikan ucapannya yang mirip dengan lirik lagu dari penyanyi Indonesia yang aku lupa siapa namanya. Alfian kembali menyadari kesalahannya hanya bisa kembali fokus ke arah jalan raya sebelum kemudian mencuri pandang ke arahku lalu tertawa menyadari kebodohannya. Alfian memarkirkan mobilnya dengan cepat saat kami masuk ke dalam salah satu kawasan super market. Tangannya yang kembali menyentuh bahuku dan memindahkan posisi tubuhnya  saat aku mengambil catatan yang kupersiapkan dari dalam tas membuatku tersenyum melihat aksi kecil yang namun begitu berarti yang dilakukan oleh Alfian. Wajahnya memang terlihat datar seolah tak memiliki ekspresi membuatku menatapnya dengan penuh kekaguman. Yang aku lakukan setelah ini adalah bagaimana Alfian berjalan terlebih dahulu untuk mengambil troli lalu menungguku yang berjalan ke arahnya. “Satu cukup?” tanyanya yang kujawab dengan gelengan. Aku mengambil satu troli lainnya, “satu untuk perlengkapan rumah tangga satu untuk bahan makanan,” ujarku yang dijawab anggukkannya. Tanpa sadar tangannya bergerak ke arah punggungku lalu memintaku untuk berjalan terlebih dahulu. Kami berjalan bersisian, seolah tahu bahwa aku sibuk dengan catatan milikku, salah satu tangannya bergerak ikut mendorongkan troli yang kubawa. “Ke bagian sabun dulu ya ...” aku melihat Alfian mengangguk saat kudorong troli milikku mendahuluinya mengambil beberapa sabun cuci baju, pengharum ruangan, sabun cuci piring dan berbagai keperluan lainnya. “Sudah semua?” tanya Alfian saat melihat Troliku sudah mulai penuh dengan segala persabunan dan peralatan kebersihan yang kuperlukan. Dengan satu tangannya, dia menarik troli yang kubawa ke arahnya lalu menukar troli miliknya. “kamu bawa yang kosong saja,” ujarnya dengan nada datar kembali membuatku menganggukkan kepala. Kami beralih ke bagian bahan makanan, hal yang pertama aku lakukan adalah berjalan ke arah snack section dan mengambil berbagai cokelat yang biasanya menjadi cemilan wajib untukku saat gula darahku turun setelah begadang mengerjakan tugas. “Kau seolah menghabiskan semua persediaan cokelat di sini,” kekeh Alfian membuatku tersadar. Tanganku yang ingin kembali meletakan cokelat itu kembali terhenti saat menyadari bahwa troli milikku penuh dengan berbagai macam cokelat berbagai merek. Aku terkekeh sembari menatap Alfian takut-takut, lupa bahwa hari ini kami belanja bulanan menggunakan uang miliknya, “A-aku akan membayarnya sendiri,” lirihku kini kembali membuat pria itu menggeleng. “Nope ... kau bisa membeli apa yang kau suka,” ujarnya lagi membuat senyumku kembali tertampak di wajahku. “Tak ada yang kau inginkan?” tanyaku ke arahnya yang menggelengkan kepala. Selama menikah dengan Alfian, aku menyadari bahwa dia adalah tipe orang yang menyukai masakan asin daripada manis. Melangkah dengan begitu cepat mengambil beberapa keripik singkong, jagung dan juga kentang ke dalam troli. “Untukmu. Kau juga perlu makanan ringan jika lembur agar tidak ngantuk,” ujarku membuat Alfian menganggukkan kepalanya. Setelah puas dengan bagian makanan ringan, kami melangkah ke makanan pokok. Kulihat dia berjalan ke bagian beras dan mengangkat karung seberat sepuluh kilo itu dengan satu tangan. “Beras sudah mau habis kan?” tanyanya ke arahku yang masih terperangah. Dengan cepat, aku menganggukkan kepala lalu bertepuk tangan seperti orang bego. Sebelum kembali tertawa saat dia hanya mengernyitkan dahinya dan kembali mendorong troli miliknya. Aku mengikuti Alfian dari belakang, melihatnya memasukkan s**u dan berbagai macam yogurt ke dalam troli yang aku bawa, “Kau tak perlu repot-repot membuatkan sarapan dan bekalku sekaligus. Roti atau smooties sudah cukup untukku sarapan,” ujar Alfian mulai membuat percakapan. Aku berhenti, merapikan barang-barang yang ada di troli agar dapat memuat barang lebih banyak, lalu melakukannya pula ke troli yang didorong oleh Alfian. “Yakin cukup dengan itu?” tanyaku mengangkat kepala dan melihatnya mengangguk. “Makan berat saat pagi terkadang membuatku mengantuk.” Dia kembali mengambil minuman bercafein tinggi dari kulkas lalu menaruhnya di troli. Aku yang melihat hal itu meletakkan minuman yang dia ambil kembali ke dalam kulkas lalu melotot ke arahnya. “Habiskan dulu yang ada di rumah. itu terakhir kalinya kamu minum minuman berkafein tinggi kayak begitu. Ganti sama air putih saja, nggak baik buat ginjal,” ujarku menasihatinya yang hanya dijawabnya dengan helaan napas dalam. “Ah ...” aku kembali menghentikan langkah kemudian membalikan badan ke arah Alfian dan menunggu pria itu agar berjalan berdampingan denganku saat kami memasuki bagian sayur-sayuran. “Kau lebih suka masakan Indonesia atau westren food?” tanyaku penuh minat ke arahnya. Alfian kembali terdiam mengarahkan pandangannya ke arahku, “Apa saja ...” ujarnya singkat. Aku mendengus, “kumasakin kodok tahu rasa,” ujarku sembarangan kembali membuat Alfian tertawa. Dia melihat kekesalan yang kuperlihatkan dengan hentakan dan gesekan kakiku ke lantai, “Aku suka makanan pedas ...” ujar Alfian pada akhirnya membuatku berhenti melangkah. Kembali kubalik tubuhku melihat ke arah Alfian, terlihat telinganya memerah seolah malu saat mengucapkan kalimat itu. “Aku menyukai semua masakanmu, terutama makanan rumahan sederhana yang kau masak,” ujarnya lagi. Entah mengapa, aku merasakan getaran yang aneh dari ujung kaki hingga ke puncak kepalaku saat mendengar kalimat itu dari mulut Alfian. Wajahku kembali memerah, namun tak dapat menyembunyikan senyum malu yang kembali terlihat. Rasanya hatiku berbunga saat menyadari bahwa selama ini Alfian memang memakan semua makanan yang aku masak untuknya. Kulihat dia kembali berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depanku. “Aku menyukai semuanya, tapi mulai besok. Kau tak perlu repot memasakkanku setiap hari seperti itu.” “Aku tak merasa repot,” balasku cepat. “Melihat seseorang memakan masakanku dengan begitu lahap sudah membuatku berbahagia,” ujarku mengangkatkan kepala dan melihat ke arah iris Abu Alfian yang juga menatap mataku. Aku tersenyum, saat melihat jauh di dalam tatapan Alfian terlihat kehangatan yang tertutupi oleh manik dingin yang selalu pria itu perlihatkan. Entah mengapa, semakin menatap ke arah iris Abu itu, semakin aku ingin membuat Alfian berubah menjadi pribadi yang hangat dan lepas seperti hari ini. Meskipun, pria itu terkadang seolah menarik diri tapi setidaknya pria itu membiarkannya memanjat dinding es tebal yang dia bangun. Berharap pria itu  tak akan mendorongku jatuh atau membuatku menyerah. Bagiku pernikahan yang kami jalani bukanlah main-main, Aku ingin dia juga mencoba membuka hati dan menerima pernikahan ini, seperti aku yang berusaha untuk menerimanya sampai sekarang. Kami kembali berjalan bersisian, Alfian membiarkanku memasukkan semua bahan makanan yang kuperlukan. Kuperhatikan bagaimana dia mendorong trolinya, namun juga membantuku mendorong troli milikku yang sudah mulai penuh. “Mau kumasakan daging mercon untuk makan malam?” tanyaku membuatnya tersenyum sebelum kemudian menganggukkan kepala. Tidak ... Pria ini memang belum menerima keberadaanku, tapi setidaknya Alfian tidak mendorongku untuk menjauh. Yang harus kulakukan sekarang adalah membuat pria dingin yang seolah terpenjara dalam kesepian yang dia bangun sendiri itu menyadari dan menerima keberadaanku di sisinya. **** “Sudah semua?” tanya Alfian saat aku mencoret daftar terakhir dari catatan yang aku buat. Kulirik dua troli yang ada di hadapan kami, melirik satu persatu barang yang ada di sana bergantian dengan catatanku lalu mengangguk. Aku mencoba untuk mendorong troliku, namun Alfian sudah terlebih dahulu menarik troli milikku ke depannya, “Aku saja yang bawa,” ujarnya lagi membawa dua troli penuh dengan barang-barang itu menuju kasir. Kugelengkan kepala sembari menatap kagum Alfian dari belakang melihat bagaimana d**a bidang pria itu berjalan dengan dua troli di depannya, menandakan bagaimana pria itu berusaha keras untuk menjaga bentuk tubuhnya agar fit dan pelukable... Aku terkekeh menertawakan diriku sendiri dan pikiran m***m yang kembali terlintas di kepalaku, Bagaimana mungkin seorang Maharani Varisha memikirkan untuk memeluk seorang pria dari belakang. Padahal seperti yang Rena katakan, melihat pria mendekat saja aku sudah kabur dan bersembunyi. Tapi, entah mengapa rasanya aku tergoda untuk memeluk Alfian dari belakang dan menyandarkan kepalaku di bahunya yang bidang. Tidak salahkan jika aku membayangkannya, toh pria itu adalah suamiku yang sah. “Ayo!” ujar Alfian membalikkan badan saat menyadari bahwa aku masih ada di belakangnya dan tak bergerak. Dengan cepat, aku mengangguk dan sedikit berlari ke arahnya yang menunggu lalu membantunya mendorong salah satu troli, walaupun Alfian tak melepaskan tangannya dari troli itu menuju ke arah kasir. Beruntung, Antrean di kasir tidak terlalu panjang sehingga kami bisa dengan cepat. Kulirik belanjaan kami, aku mulai memisahkan cokelat-cokelat kesukaanku dari barang belanjaan kami. Namun, Alfian yang melihat apa yang kulakukan, malah menaruh cokelat itu ke depan meja kasir. “Aku bayar sendiri cemi ...” aku menghentikan ucapanku saat melihat wajahnya mengeras dan mendelik ke arahku. Aku hanya mendesah saat pria itu kembali mengambil kartu ATM milikku yang ingin kubayarkan ke kasir. “Bukan yang ini,” ujarnya melirik ke arah dompetku yang menyembunyikan kartu kredit miliknya yang aku sembunyikan. Rasanya aku tak enak semena-mena menggunakan uangnya padahal dia sudah bekerja hingga larut malam untuk menghasilkan uang itu. Aku mendesah saat melihat mata Abu Alfian yang mendelik memintaku untuk mengeluarkan kartu kredit miliknya. Ku ambil Kartu ATM milikku dari tangannya dan mengganti dengan kartu kredit miliknya. Dia tersenyum tipis dan mengangguk setelah aku melakukan itu. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu sebelum kemudian ponselnya berdering. Alfian memberi kode ke arahku untuk menerima telepon yang kujawab dengan anggukan. “Ya ... BI ....” ujarnya lembut membuatku terdiam. Tanganku membeku saat melihat panggilan lembut yang dia keluarkan sesaat setelah menerima telepon itu. tiba-tiba rasanya dadaku nyeri melihat Alfian mengangguk dengan mata berbinar yang tak pernah dia perlihatkan kepadaku. Siapa BI? Pertanyaan itu muncul begitu saja di dalam pikiranku, membayangkan bahwa panggilan itu terlalu manis digunakan untuk seorang pria. Mungkinkah sebenarnya Alfian mempunyai kekasih saat menikah denganku dan kini kekasihnya itu mengetahui bahwa pria itu menikah denganku. “Ra ...” panggil Alfian tiba-tiba mengarah kepadaku yang dengan cepat mengubah raut wajahku menjadi biasa saja dan menatapnya dengan senyuman tipis. “Ehm ...” “Kita ke cafe dekat sini dulu sebentar ya, Bianca katanya ingin ketemu.” Deg .... Napasku tiba-tiba terasa tercekat, oksigen yang ada di dalam paru-paruku seolah terenggut begitu saja saat mendengar Alfian menyebutkan nama wanita lain dengan begitu mudah. Bianca? Siapa sebenarnya Bianca sehingga membuat Alfian terlihat begitu khawatir seperti ini? Rasanya aku ingin bertanya kepada Alfian, namun bibirku terasa begitu kelu dan yang dapat aku lakukan hanyalah mengangguk, mengiyakan permintaan Alfian untuk menemui wanita bernama Bianca setelah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD