“Pernahkah kamu berpikir tentang masa depan pernikahan kita?” Tanyaku mengulang pertanyaan saat melihat Alfian terdiam. Ada nyeri yang kurasakan saat melihat Alfian tak juga menjawab ucapanku. Dia masih menatapku bingung, kening yang mengerut. Aku menunggu, menatap ke wajah tampannya. Dia kini memang hampir tak pernah kembali menatapku dengan tatapan dingin. Hanya saja, keterdiaman yang terjadi sekarang membuatku ragu. Apakah Alfian memikirkan masa depannya denganku. “Apa yang membuatmu menanyakan itu?” Alfian menjawab pertanyaanku bukan dengan penjelasan, namun dengan pertanyaan lain. Aku menghela napas memberi jarak kepada tubuh kami, tanganku yang awalnya berada di punggung Alfian. Kini meremas seprai yang ada di bawahku. “Kau belum menjawab ucapanku. Jawab dulu, baru aku jawab pert

