Suara Rinai hujan yang terdengar dari unit apartemennya seolah jadi back ground yang memperlihatkan kesedihannya. Desahan penuh kesakitan yang dia keluarkan seolah menjadi temannya setiap saat. Tangannya bergetar saat membuka kaleng bir lalu menyesap minuman beralkohol itu. Memang Alkoholnya tidak setinggi minuman lain, tapi mengingat sudah berapa kaleng bir yang dia habiskan berteman dengan kesendirian dan rasa sakit ini, membuat rasa sesak yang menderanya terasa sedikit menghilang. Hanya sedikit, tapi sepertinya bisa membuatnya menghirup udara yang selalu terasa menyesakkan untuknya. Dia kini duduk di kursi dan meja kecil yang sengaja dia letakan di depan jendela besar apartemennya. Sudut Apartemen yang memperlihatkan pemandangan ibu kota Jakarta, yang menyadarkannya bahwa ternyata Jak

