Zendra sudah memastikan kondisi adiknya baik-baik saja. Setelah berjanji untuk tidak kelelahan dan akan berhati-hati, Zendra bisa tenang membiarkan adiknya masuk sekolah setelah ijin selama dua hari. Kini, Zendra kembali ke kantornya dan mulai berjibaku dengan dokumen yang terbengkalai dua hari ke belakang.
"Maaf Pak, tapi, ada yang ingin bertemu dengan Pak Zendra." Zendra yang awalnya fokus pada dokumennya akhirnya menolehkan pandangannya.
Anaya berdiri di hadapannya dengan tampang masam. Oh, here we go again. "Aku ingin bicara denganmu."
"Apa?" tanya Zendra dengan malas. Ia bangkit dari kursinya dan berdri di hadapan wanita-yang-menganggap-dirinya-sebagai-pacarnya.
"Again, Zendra, kamu menyakiti perasaan aku semalam. Apa kamu tidak peduli dengan pemikiran semua orang tentang kita? Zendra Wijaya yang lebih mementingkan adik manjanya daripada calon tunangannya? Begitu?"
Zendra menghela napas. "Dan kamu tidak memikirkan keadaan adikku? Dia terlalu lemah, Anaya. Harusnya kamu tau itu."
"Lihat? Kita selalu membicarakan adikmu yang menjadi masalah kita."
Zendra tidak tahan dengan sikap Anaya yang terlalu kekanakan. "Apa yang kamu mau dariku?"
"Kamu harus berhenti mengkhawatirkan adikmu. Oh ralat, berhenti jadi kakak yang posesif dan kamu harus memprioritaskan aku, mulai sekarang." Ingin sekali Zendra tertawa.
"Aku tidak bisa."
Anaya mengeryit kesal. "Zendra?! Whats wong with you? Aku pacar—"
"Aku tidak pernah mengatakannya. Kamu yang menganggap dirimu sendiri."
Anaya memukul d**a Zendra kesal. "Kamu akan menyesal setelah ini!"
Drama.
***
"Ada pertandingan basket sore ini." Eliza menghampiri Tavie yang sedang memakan mie ayannya dengan tenang.
"Hm?"
Eliza langsung sumringah. “Ayo kita lihat, Tavie. Aku yakin Aidan akan senang jika kamu hadir." Tavie bahkan tidak tau kenapa Eliza menyebut nama Aidan, padahal mereka tidak dekat sama sekali. Sepertinya, satu sekolah ini tau jika Aidan adalah penggemar berat Tavie.
Tavie hanya mengangguk menyetujuinya.
"Ayo, Aidan!!!" Eliza berteriak menyemangati cowok yang kata banyak orang, tertampan di sekolah ini. Tavie hanya diam. Ia tidak terlalu menikmati pertandingan ini. Ia tidak begitu tertarik.
Tavie memegang botol minumnya yang kata Zendra tidak boleh berjauhan dengannya. Karena, pertama, Tavie harus banyak minum agar tubuhnya tidak cepat lelah. Kedua dan kata Zendra yang paling penting, botol minum itu dibelikan oleh Zendra agar adiknya selalu dekat 'dengannya' dan tidak akan nakal. Tavie tersenyum mengingatnya.
"Wohooo!!!! Good job!!" Eliza bangkit dari kursi penonton dan bertepuk tangan riuh. Tim Aidan menang, dan hampir semua murid yang menonton pertandingan ini, khususnya kaum hawa, semakin tergila-gila padanya.
Tavie memerhatikan Aidan yang berjalan ke arahnya. What? Kenapa Aidan--
"Itu untukku, bukan?" Aidan mengamati botol minum Tavie. Tanpa permisi dulu, Aidan mengambilnya dan meminum isinya. Tavie melongo, pe-de sekali cowok ini.
"Thanks. Setelah ini, pulang denganku ya?"
Tavie masih melongo. Apa-apaan ini? Ia melirik Eliza yang tersenyum jahil padanya.
***
Tavie berjalan sendiri ke arah gerbang sekolahnya yang cukup ramai karena pertandingan baslet baru saja usai, Eliza sendiri sudah pulang terlebih dahulu setelah di telepon Ibunya. Tavie menunggu Zendra menjemputnya. Ketika sedang fokus pada ponselnya, sebuah deruman motor menyita perhatiannya.
"Hai, Tavie."
Tavie diam. Ia masih kesal dengan sikap Aidan yang semena-mena.
"Ayo, aku antar kamu pulang."
Tavie menggeleng. "Maaf, aku sudah dijemput.”
"Bilang saja pada jemputanmu, kamu diantar aku."
Tavie tetap menggeleng. Kini ia meyakinkan dirinya bahwa Aidan adalah laki-laki yang harus ia hindari. "Aku tidak bisa."
Gerakan Aidan selanjutnya mampu membuat ia tersentak. Aidan menarik pergelangan tangannya cukup kasar. "Ayo, Tavie. Apa yang salah dengan ini?"
Tavie menggeleng kuat. Kini ia takut.
"Tavie." Tavie langsung mengalihkan pandangannya. Ia melihat Zendra berdiri di sampingnya. Pandangannya datar, lebih terkesan marah.
"Kak Zendra." Untungnya, Aidan melepaskan cengkeramannya begitu melihat Zendra di sana. Tavie berlari dan bersembunyi di belakang punggung kakaknya. Tangan kecilnya memegng jas yang dipakai Zendra dengan kencang. Ia takut.
"Jika dia tidak mau, jangan dipaksa. Kamu membuat dia takut," ucap Zendra tegas pada Aidan. Matanya menyalang marah.
Aidan hanya diam tidak berkutik di motornya. Bahkan, hingga kedua orang itu sudah masuk ke mobilnya, Aidan masih diam.
***
Tavie memeluk Zendra ketika ia berada di mobilnya. "Kakak, aku takut."
Zendra balas memeluknya. Cukup erat. Tavie tidak tahu saja jantungnya kini bertalu-talu setelah melihat Tavie dipegang pria lain, walaupun hanya sebatas pergelangan tangannya. "Tidak apa-apa. Lain kali, kamu harus jauhi cowok seperti itu."
Tavia mengangguk. "Aku tidak tau dia seperti itu, Kak."
Zendra melepaskan pelukannya. Ia memandang adiknya dengan sayang. "Aku janji akan selalu menjaga kamu, Magentha. Aku janji." Zendra mengusap pulan rambut adiknya.
Tavie tersenyum. "Aku sayang Kakak."
Tavie menyayanginya. Iya, hanya sebatas Kakak.
***
Zendra menemui ayahnya ketika ia dan Tavie baru saja sampai di rumah. "Kenapa, Ayah?" Bahkan Zendra belum sempat berganti baju karena sang Ayah langsung mengatakan ingin berbicara serius dengannya.
"Harris mengancam akan mencabut 40% sahamnya di perusahaan Sydney."
Hal itu mampu mengejutkan Zendra. "Apa? Kenapa? Bukannya Pak Harris yang selama ini berkerja sama dengan kita? Kenapa tiba-tiba?"
Kenneth memijat pelipisnya. "Katanya ini kesalahanmu, Zendra. Ia benar-benar akan melakukannya jika kamu tidak membereskan semua ini."
"Memangnya apa yang kamu lakukan?" lanjut Kenneth.
Sial. Ini pasti kerjaan Anaya. "Sepertinya, ini masalah pribadiku dengan Anaya. Maaf, Ayah, aku tidak tau Anaya akan berbuat seperti ini."
Kenneth mengeryit. "Anaya? Bukankah kalian kan bertunangan? Kenapa sebenarnya?"
Zendra memilih untuk tidak menjawabnya. "Aku akan menyelesaikannya, Ayah. Aku janji." Anaya sialan. Dalam hati ia mengutuk dan menyumpah serapahi wanita ular itu. Ia tidak menyangka Anaya akan segencar itu untuk membuatnya tumbang. Maksudnya, jika yang diancam hanya Zendra, Zendra masih bisa menerimanya bahkan ia tidak masalah karena ia akan menyelesaikannya dengan caranya sendiri tanpa harus melibatkan keluarganya. Namun, masalahnya, Anaya mengancam perusahaan Ayahnya yang membuatnya semakin merasa sulit.
“Zendra.”
Zendra menatap Ayahnya, menunggunya untuk melanjutkan ucapannya.
“Apa kalian baik-baik saja? Ayah lihat, kamu dan Anaya sedang tidak baik-baik saja.”
Zendra tersenyum. “Kami...entahlah. Dia yang terlalu membesar-besarkannya. Maaf, ini urusanku dan Anaya, tapi Ayah jadi terlibat di dalamnya.”
Kenneth menggeleng tidak setuju dengan apa yang dikatakan anak lelakinya. “Ini bukan masalah ancaman Harris, Son. But, are you alright? Ayah tau mungkin sedikit gengsi untukmu untuk bercerita pada Ayah. Tapi, I’m here, kamu bisa bercerita apapun padaku, termasuk soal Anaya.”
Zendra tertawa kecil. “Sepertinya, Ayah akan menertawakannya jika tau. Aku memilih untuk tidak menceritakannya, Ayah. Aku takut Ayah akan kurang menyukai Anaya jika aku mengatakan yang sebenarnya. Maaf,” ucap Zendra yang membuat Kenneth tersenyum.
“Aku dan Mama kamu membesarkanmu dengan benar. Look at you, such a gentleman.” Kenneth menepuk pundak anaknya seraya bangkit dari duduknya. “Ayah bangga padamu.” Dan Kenneth berlalu begitu saja.
***