Chapter 7

1053 Words
"Zendra, can you come here and tell everyone about us? Aku hanya ingin memiliki kisah cinta seperti Kent dan Alesya untuk kita." Karena dorongan dan paksaan semua orang, Zendra naik ke atas panggung. Ia hanya ingin menghargai perasaan Anaya agar wanita itu tidak merasa dipermalukan. Ia mengambil microfon dan baru saja akan mengatakan sesuatu, ketika... "Tolong!" Ia tau Tavie pingsan. Sial. Zendra tidak memedulikan apapun di sana, ketika semua orang memerhatikan ia dan Anaya, ia memilih untuk menjatuhkan microfon itu, berlari ke arah Tavie. Semua orang memerhatikan itu. Semuanya. Bagaimana Zendra lebih memilih meninggalkan panggung hanya untuk menolong adiknya. "Magentha!" Zendra langsung merengkuh tubuh Tavie yang tergolek lemas dan dikelilingi beberapa orang di sana. Ia melepakan jasnya, menyelimuti tubuh Tavie. "Tavie, can you here me?" Darah dari hidungnya kini mengalir di wajahnya. Violet dan Kenneth tidak tau sebenarnya siapa yang pingsan. Baru ketika Zendra yang menghampiri, mereka langsung tau itu Tavie-nya. "Aku akan panggilkan ambulans." Kenneth sendiri masih berusaha mengendalikan dirinya agar tidak panik. "Astaga, kenapa bisa begitu?" tanya Adele. Ia memerhatikan wajah pucat sepupunya, namun ia tidak sadar saja wajah Zendra lebih pucat pasi. "Apa dia sakit? Setahuku tadi cucuku baik-baik saja." Ketika semua orang ribut dn tidak ada yang bertindak cepat, Zendra menggendong Tavie sigap. Ia berlari ke luar ballroom hotel. Sebelumnya, ia sempat berucap pada Violet. "Ambulans terlalu lama, biar aku yang membawa Magentha." Di tengah kericuhan itu, Anaya masih berdiri mematung di panggung. Ia kalah. Pertarungan belum dimulai, tapi ia sudah kalah. *** Zendra menggenggam tanan Tavie yang dingin. "Harusnya kamu tau kamu gampang kelelahan. Kenapa kamu nakal sekali, Tavie?" Zendra melepaskan genggamannya ketika Violet masuk ke ruang rawat Tavie. "Mama bisa menunggunya, kamu pulang saja dengan Ayah." Kenneth kelimpungan tadi hingga tidak bisa berpikir jernih ketika tau anaknya sakit lagi. "Tidak. Aku di sini saja." Zendra menatap Tavie kembali. Violet yang melihat itu hanya bisa tersenyum. "Kamu bertingkah seperti pacarnya saja, Zendra." Berkali-kali banyak orang yang mengatakan hal itu. Zendra diam saja. "Aku khawatir pada adikku, Mama." Tanpa mengatakannya pun, semua orang di sana tahu seberapa paniknya Zendra. Violet mengangguk. Wanita itu mengelus pelan rambut anak perempuannya. "Dia sangat ceroboh, pantas kamu selalu mengkawatirkannya." "Iya, ceroboh dan manja." Zendra tersenyum. Violet menangkap arti yang berbeda dari tingkah dan ucapan Zendra. Namun, ia menampik hal itu. "Seperinya habis ini kamu memiliki masalah dengan Anaya." "Aku tidak peduli. Bahkan semua itu hanya keinginannya, Ma. Mama tau aku tidak pernah mendeklarasikan aku akan seriusa dengannya." Violet mengangguk paham. "Tapi, sepertinya dia memang menginginkan kamu." "Tadi aku hanya ingin menghargai perasaannya saja agar tidak dipermalukan, aku memang belum memikirkan sampai sejauh itu hingga harus bertunangan dengannya." Ini saatnya Violet. Ini saatnya kamu memancing anak ini untuk jujur. "Apa ada wanita lain yang mengisi hatimu? Boleh Mama tau siapa wanita beruntung itu?" Zendra terdiam. Violet bisa peka pada tatapan Zendra yang lagi-lagi melirik Tavie. "Tidak ada." "Oh begitu ya," ujar Violet kecewa. Iya, tidak ada wanita yang ia cintai. Hanya ada seorang bocah belia di hatinya. Bocah ceroboh yang selalu membuatnya khawatir. *** "Berapa kali harus Mama bilang, Tavie? Kalau kamu capek, jangan dipaksakan. Seharusnya kamu beritahu Mama." Tavie baru saja sadar setengah jam yang lalu, dan Violet langsung memarahinya karena kecerobohannya. "Aku tidak tau akan seperti itu, Mama. Aku kira aku hanya kelelahan biasa." Violet berdecak. "Kelelahan menurutmu itu adalah pingsan dan mimisan akibatnya, Tavie." Astaga, ia hanya memiliki Tavie sebagai anak kandungnya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa padanya. "Dan kamu merepotkan Zendra lagi." Tavie menunduk, merasa bersalah. "Aku minta maaf." Di ruangannya ada Zendra, Mama, dan Ayahnya. Tavie merasa tatapn mereka seolah menelanjanginya. "Maaf, Kak." Tavie menatap Zendra dengan perasaan bersalah. Tentu saja, ia mengacaukan momen romantis Zendra dan Anaya, setelah ini pasti Anaya akan membencinya setengah mati. Zendra menghela napas dan tersenyum kecil pada adiknya. "Lain kali, jangan ceroboh lagi." Tavie mengangguk. Sebenarnya tadi di sekolahnya diadakan pentas drama, Tavie yang mengurus dekorasinya. Setelah selesai jam sekolah, Tavie menghadiri rapat pemilihan ketua OSIS. Ia tau tubuhnya tidak sekuat itu untuk baik-baik saja. Hanya kelelahan sedikit, ia sudah mengkhwatirkan semua orang. Kenneth tersenyum pada anak manisnya. "Kami sayang padamu, Tavie. Jangan buat kamu khawatir lagi, okay?" ucapnya seraya memeluk Tavie. Ia merasakan anaknya mengangguk kecil di pelukannya. *** "Tiga belas hari lagi." Zendra yang sedang menyelimuti adiknya itu mengeryit tidak paham. "Waktumu sebelum pergi ke Australia. Tiga belas hari lagi." Tavie nemandang Zendra dengan senyuman sedih. Ia mengambil guling kesayangannya. Menumpukkan kepalanya di atas guling itu. Zendra melihat Tavie yang imut sekarang. "Aku taku jika nanti aku ceroboh, tidak akan ada yang menjagaku lagi." Tangan Tavie menggenggam tangan Zendra di sampingnya. "Kalau aku egois, aku tidak mau Kakak pergi." Zendra tersenyum. Sepertinya baru pulang dari rumah sakit membuat kepala Tavie sedikit oleng. Tidak biasanya adiknya seperti ini. "Tavie, hanya sementara. Paman Sean bilang hanya sementara." "Iya, tapi tidak tau sampai kapan." Tavie ingin menangis. Dari kecil, ia tidak pernah berjauhan dari Zendra. Makanya, sekarang ia berat hati harua ditinggalkan kaka satu-satunya. "Apa aku harus memiliki pacar? Agar ada yang menjagaku, Kak." Tavie menatap langit-langit kamarnya yang ia hiasi bintang-bintang. "Sepertinya iya. Jadi, akan ada pengganti kamu agar aku tidak ceroboh lagi." Zendra menghela napas. "Aku sudah bilang, langkahi dulu mayatku." Tavie tergelak. "Tapi aku tidak bisa menemukan laki-laki seperti kamu. Aku selalu menginginkan seseorang yang seperti kamu, Kak. Tapi aku tidak pernah menemuinya." Sebaris kelimat yang Tavie katakan membuat Zendra menahan napasnya. "Apa lebih baik jika aku denganmu saja ya, Kak? Bukannya itu lebih mudah?" Zendra yakin wajahnya sudah pucat pasi sekarang. Ia baru akn menjawab, tapi Tavie sudah tertawa lepas. "Aku bercanda, Kak. Hahaha... Kamu harus liat muka kamu yang tadi pucat." Sial. Ia dipermainkan. Padahal tadi ia akan menjawab, "Ide bagus." Zendra serius. Untungnya, akal sehatnya masih bisa mengendalikannya dan membuat ia tidak jadi berkata demikian. Entah apa yang akan terjadi berikutnya jika Zendra keceplosan dan mengatakan bahwa ia tidak keberatan dengan itu. Zendra membenarkan letak bantal yang digunakan Tavie. Ia memandang wajah tenang itu. Ada sesuatu dalam diri Tavie yang membuatnya tertarik. Sesuatu yang ia lihat sejak mereka masih kecil dan tidak akan bisa dilihat oleh orang lain. Tapi Zendra tidak tahu apa itu—satu yang ia tahu, ia tidak bisa membayangkan jika Tavie disukai oleh pria lain. Ia tidak akan pernah bisa membayangkannya. Apalagi jika membayangkan Tavie bersama pria selain dirinya. Big no! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD