“Apa yang terjadi? Kau bertengkar dengan kakakmu? Kali ini, apa masalahnya?” tanya Adamas setelah menyuapkan sepotong tiramisu cake ke mulutnya. Ia sudah menghabiskan sekitar lima potong kue manis itu, setelah menunggu pemuda tanggung itu datang menghampirinya.
Ragnala, begitulah bordiran nama di seragam sekolah yang dikenakannya. Pemuda itu baru saja datang ke kafe itu dan memesan segelas lemonade yang tak kunjung tersaji. Mungkin, para pelayan sedang hectic karena kunjungan pelanggan yang tak berhenti sejak pukul lima sore ini. Ia sebenarnya enggan untuk bercerita, apalagi pria dewasa di depannya ini seringkali tidak memiliki solusi dari permasalahannya.
Sebenarnya, ia merasa bersalah. Hanya saja, ketika tersulut amarah, bukankah tidak sopan memintanya untuk minta maaf lebih dulu? Toh, Ragnala sering melakukannya! Ya … dia langganan minta maaf, hanya karena dianggap anak kecil yang tidak memahami jalan pikiran orang dewasa. Lalu, di manakah letak masalahnya?
Katanya, orang dewasa mudah marah karena lelah dan banyak masalah. Lalu, apakah remaja sepertinya harus selalu memahami mood orang dewasa yang menurutnya berlebihan ketika sedang marah? Mengapa orang dewasa selalu melebih-lebihkan perasaan mereka, padahal remaja sepertinya pun pasti pernah mengalaminya.
Ragnala marah! Namun, ia tidak bisa berbuat banyak. Ia sudah tidur di belakang sekolah, tepatnya di gudang lama yang katanya dihuni hantu penunggu sekolah atau ratusan tikus yang berkoloni untuk menjarah gedung lama tersebut untuk dijadikan tempat tinggal dan lumbung makanan. Sebab, ada beberapa orang yang sering menggunakan ruangan itu sebagai tempat strategis bolos sekolah sambil makan makanan ringan.
Biasanya, kakaknya akan gencar mencarinya ke rumah teman-temannya atau menghujaninya dengan pesan ancaman. Namun, kemarin berbeda. Kakaknya memilih senyap, sehingga ia menjadi gusar sendirian. Apakah kakaknya sudah tidak lagi peduli karena ucapan pedasnya tempo hari? Apakah kakaknya akan pergi meninggalkannya atau menitipkannya ke panti asuhan seperti ancamannya ketika ia masih kecil? Namun, Ragnala sudah terlalu tua untuk dititipkan!
Panti asuhan mana yang mau menerima pemuda bugar yang sudah berusia delapan belas tahun. Ragnala rasa, tidak ada…
“Kakakmu sedang tidak bisa diajak bicara dua hari ini. Sepertinya ada sesuatu yang dicarinya,” ujar Adamas kemudian, “Berhentilah merajuk. Kau tahu sifat kakakmu yang keras kepala itu? Dia tidak akan pernah mengatakan maaf seperti harapanmu.”
Benar! Kakaknya tidak akan meminta maaf. Mungkin, meminta maaf adalah pantangan yang akan membuat kakaknya tiba-tiba sakit parah atau gatal-gatal. Itu hanya perumpamaan saja. Ragnala tidak akan rela jika hal tersebut terjadi. Jika memang benar pantangannya begitu, Ragnala tidak segan meminta maaf setiap hari. Mengapa begitu? Kakaknya adalah keluarganya satu-satunya.
“Ada apa?” tanya Adamas yang berceloteh tanpa henti sambil terus mengunyah. Seharian ini ia tidak makan, karena ada tugas penting yang dibebankan kepadanya. Apalagi, dialah si ketua tim yang sempat dielu-elukan dengan kengeyelannya.
“Aku pergi sekarang…” ujar Ragnala yang beranjak dari duduknya.
“Minumanmu bahkan belum datang.”
“Tak apa. Bye, Kak…” pamitnya seraya melambaikan tangan sebelum meninggalkan kafe.
Sebelum pulang, ia menyempatkan mampir ke sebuah minimarket untuk membeli mi instan dan telur. Mungkin enak makan mi telur malam-malam. Apalagi sekarang sedang musim hujan. Ia bisa menikmati semangkuk mi di balkon apartemen sambil melihat deru hujan yang membasahi bumi.
Ketika sedang mengantre di belakang pria tua, ia tidak senang dengan perlakuan kasir wanita yang memarahi pria tua itu, hanya karena uang yang dibawanya recehan.
“Tolong jangan bicara begitu pada orang tua. Biarkan aku yang membantunya,” ujar Ragnala yang mengambil alih koin receh pria tua itu dan menghitungnya.
Ragnala menyesuaikannya dengan harga sekaleng s**u yang ingin dibeli pria tua itu. Setelah cukup, diberikannya uang itu pada si kasir yang memasang wajah kesal. Beberapa menit kemudian, wanita itu memberikan setruk pembelian kepada Ragnala tanpa mengucapkan terima kasih atau maaf.
“Ini Paman…” ucap Ragnala sambil menyodorkan kantong belanjaan tersebut kepada pria tua itu.
Pria tua itu tampak linglung. Ia menerima kantung belanja tersebut dengan was-was.
“Ragnala…”
Ragnala menoleh ke belakang saat namanya dipanggil. Ia mendapati sosok tegap berambut gondrong berjalan ke arahnya. Ia sedikit merasa kikuk, tetapi melambaikan tangan kanannya juga.
“Baru pulang?” tanya kakaknya dan mengambil alih kantung belanjaannya.
“Ya. Kakak juga baru pulang? Kenapa tidak membawa mobil?” tanyanya balik.
Pria itu menggelengkan kepalanya. Ia merangkul pelan pundak Ragnala dan mengajaknya berjalan pulang. Tidak ada yang membuka pembicaraan, terlebih melihat sikap hangat pria itu—seperti tidak terjadi masalah sebelumnya.
Mereka sampai di sebuah apartemen mewah yang dibeli kakaknya tiga tahun yang lalu setelah kenaikan pangkat. Kakaknya berhasil mendapatkan hadiah uang dari walikota, karena menyelamatkan orang-orang dari serangan bom bunuh diri. Meskipun kakaknya sempat mengalami koma selama satu bulan akibat menjadi tameng hidup bagi orang-orang yang mungkin tidak mengingatnya lagi.
Kakaknya berjalan ke dapur, sedangkan ia memilih untuk merebahkan diri di sofa. Semalaman, ia tidur di kursi kayu yang membuat punggungnya terasa sakit. Diamatinya beberapa ornamen dinding dan foto yang terpajang di sana. Hanya ada fotonya, karena kakaknya selalu menjadi pihak yang mengambil foto. Katanya, Ragnala harus melihat tumbuh-kembang dan pencapaiannya agar selalu bersyukur.
Ragnala merasa pahit. Ia menyalahkan segalanya dan mengatakan hal-hal menyakitkan kepada kakaknya. Padahal, kakaknya sudah berusaha keras mengurusnya. Kakaknya tidak memiliki pengalaman mengurus anak kecil. Bukankah itu wajar jika kakaknya tidak begitu memahaminya?
Ragnala mendekat ke lemari di mana berbagai jenis penghargaan berjajar di sana. Ada satu nama yang membuatnya begitu bersyukur diberikan kehidupan hingga saat ini.
Penghargaan ini diberikan kepada Reagan, sang profiler kriminal.
Reagan, pria itu adalah orang yang merawatnya sejak kecil dan menggantikan fungsi orang tua baginya. Tanpanya, Ragnala tidak akan hidup dengan nyaman, bukan? Mengapa ia begitu berambisi dan mencaci seseorang yang menancapkan luka pada tubuhnya sendiri? Ragnala mengerti sekarang! Ia tidak terlalu sakit, karena ia masih memiliki kakaknya. Lantas, siapakah yang dimiliki kakaknya?
“Kak…” sapa Ragnala seraya melongok ke dapur.
Reagan melepaskan celemeknya dan menggantungnya di dekat kulkas, sebelum menoleh ke arah adiknya.
“Katanya, bidang kesiswaan akan meminta Kakak untuk menjadi narasumber tentang wawasan kebangsaan dan bela negara. Surat permohonannya sudah dikirim ke e-mail. Apakah Kakak menerimanya?” tanya Ragnala basa-basi.
Reagan mengecek ponselnya dan menekan logo e-mail. Ada banyak sekali pesan di kotak masuknya, dan akhirnya ia menemukan surat yang Ragnala maksud.
“Ya, sudah.”
“Kak?”
Reagan mengangkat kepalanya.
“Aku mau meminta maaf untuk ucapanku kemarin. Aku sedang kesal, jadi tidak bisa berpikir jernih. Aku berjanji tidak akan mengikuti kegiatan yang Kakak larang…” ujarnya dengan menggigit bibir bawahnya.
“Kau boleh mengikuti ekstrakulikuler itu,” jawab Reagan yang mengundang kerutan di dahi Ragnala.
“Maksud Kakak?”
“Jika kau bertanya sekali lagi, aku akan menarik semua ucapanku.”
“Jangan…”
Ragnala tersenyum dengan lebar.
“Terima kasih, Kak… Aku sayang Kakak.”
***