Hujan lebat baru saja mengguyur kota. Beberapa pejalan kaki buru-buru menepi ke halte atau bangunan terdekat, terlebih saat mereka tidak membawa payung atau jas hujan. Kelap-kelip lampu kota menambah sendunya malam ini dengan memberi ruang hangat bagi siapa pun yang melihatnya. Agacia terpaku di atas rooftop kantornya, menatap nominal uang yang baru saja ditransfer ke rekeningnya.
Wanita itu tersenyum, matanya fokus pada orang-orang yang berjejal di halte bus untuk berteduh. Mungkin, ia bernasib sama jika memilih pulang tepat waktu. Namun, selama ini, ia tak pernah pulang lebih awal karena ingin mendapatkan sesuatu hal yang menarik untuk ditulis. Bukankah ia berhasil? Ketamakan atau usaha kerasnya mendapatkan hasil yang luar biasa.
Ditatapnya wajahnya di layar ponselnya. Ada lebam yang tak terlalu kentara. Setidaknya, karena insiden hari ini, ia mendapat kompensasi dan bonus sekaligus. Ia benar-benar kaya dadakan! Apa ini sudah garis finis?
“Hahaha…” tawa Agacia pecah begitu saja. Ia bertepuk tangan seperti orang yang baru saja memenangkan lotre. Dalam artian ini, memang benar. Ia telah mendapatkan keberuntungan sekaligus, uang dan kenaikan tingkat.
Agacia menoleh ke belakang ketika mendengar suara langkah kaki menaiki tangga menuju rooftop. Ia bersembunyi di balik tembok, menghindari siapa pun itu. Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu rooftop dibuka dan ditutup keras. Agacia bisa mendengar suara dua orang bercakap-cakap. Ia mengenal dengan baik suara keduanya, tetapi memilih untuk diam saja, bersembunyi di tempat persembunyiannya.
“Sialan! Kau tahu w***********g itu sudah membuatku malu di depan semua orang? Apakah kau lihat bagaimana sikapnya saat Tuan Alden muncul? Aku ingin membunuhnya,” ujar Liona kepada temannya sambil membakar ujung rokok yang dibawanya dan kemudian menjepitnya di bibirnya.
“Wanita sialan itu akan masuk ke tim kita. Apakah kau tidak akan melakukan sesuatu?” tanya Gia, wanita yang lebih tua dari Liona, “Kau tahu sejarah kekasihmu dengannya, bukan? Jangan pernah membiarkan mereka berdekatan lagi.”
“Sial!” umpat Liona sambil menghembuskan asap rokok yang dihisapnya, ke udara.
Agacia mendengarkan pembicaraan mereka. Meskipun ia tidak terima, apa yang bisa dilakukannya selain bersembunyi seperti pengecut? Ia sudah melakukannya seumur hidupnya—menjadi pengecut yang selalu dirundung setiap hari. Ia seperti tidak punya pilihan jika masih ingin bertahan. Orang miskin sepertinya, tidak punya tempat untuk membela diri.
Seharusnya, Agacia marah kepada Liona atas perbuatan jahatnya. Seharusnya, Agacia memukuli Kelen atau menyebar berita di sosial media dengan akun anonim tentang kekasihnya yang berselingkuh dengan atasannya dan dirinya yang menjadi korban perundungan. Namun, ia tidak melakukannya! Ia lebih memilih mengalah. Entah, apa yang ada di dalam pikirannya.
“Setelah kupikir-pikir, kekasihmu mulai berulah. Kau bahkan selalu berada di bawah kendalinya. Apakah itu cinta?” sindir Gia sambil tertawa pelan, mengejek Liona yang tampak kesal.
“Hei, bukankah kau keterlaluan? Aku sudah berbaik hati memungutmu, Senior. Jadi, bertindaklah sopan padaku. Aku masih atasanmu. Apakah kau ingin bergabung dengan Agacia dan bermain siapa yang paling menderita?” tantang Liona picik.
Gia mengatupkan bibirnya beberapa saat dan berbicara, “Ah, sorry, aku hanya bercanda. Kau salah menangkapnya.”
“What do you say? Kau ingin mati?” bentak Liona.
“Maafkan ucapanku yang lancang,” ujar Gia, meremas tangannya sendiri yang berkeringat. Tentu saja ia tidak ingin kembali ke asalnya—di mana ia menjadi orang terbuang.
“Pergilah! Kau merusak mood-ku…” tandas Liona yang menatap hamparan lampu di tengah gerimis yang semakin lama semakin deras.
Gia beranjak dari hadapan Liona, sebelum wanita galak itu mendepaknya dari circle. Bagaimanapun, ia harus berada di sisi Liona jika ingin mendapatkan tempat di perusahaan ini. Jika ia bermasalah sedikit saja, ia akan bernasib sama dengan Agacia. Padahal, Agacia tak melakukan kesalahan!
“Keluarkan dari persembunyianmu, w***********g?” ujar Liona setelah melihat siluet seseorang yang bersembunyi di balik tembok. Ia tidak bodoh, ia sudah tahu Agacia berada di rooftop, maka ia dengan sengaja datang ke tempat ini.
Hujan semakin lebat, rokok yang dihisapnya padam, hanya menyisakan kepulan asap kecil sebelum dibuangnya ke bawah. Hal inilah yang seringkali menyulitkan para petugas kebersihan, karena puntung rokok sulit disapu. Apalagi jika telah bertemu dengan rumput basah. Liona benci Agacia, wanita itu menyebalkan baginya.
“Apa telingamu sudah tak berfungsi?” ucap Liona karena tidak menemukan pergerakan seseorang di balik tembok.
Wanita itu kemudian berjalan di atas pembatas rooftop, mendekati orang yang tengah bersembunyi. Suara ketukan heels yang dipakainya menggema, meskipun hujan menghujaminya tanpa permisi.
“Ketemu…” ucapnya begitu melihat Agacia yang hanya berdiri seperti orang bodoh, “Apa kau menguping pembicaraan orang lain? Apakah ini hobimu? Pantas saja kau mendapatkan promosi instan. Kau menjilat Tuan Alden dengan sangat baik…”
“Aku hanya melakukan tugasku…” jawab Agacia. Ini kali pertamanya bersuara dengan tegas, meskipun suaranya sedikit bergetar.
“Sialan kau, Agacia! Aku akan membunuhmu …ah… tolong aku…” lirih Liona sambil menangis.
Tangan wanita itu berusaha berpegangan erat, meskipun sangat licin akibat hujan. Agacia terpaku sejenak. Di dalam hati, ia berterima kasih karena sekali dalam hidupnya, Tuhan telah mengabulkan doanya. Bukankah ini yang diinginkannya? Apakah Liona akan mati jika terjatuh dari atas gedung? Apakah Agacia tidak akan melihatnya selamanya dan bisa hidup tenang?
Agacia hanya melihat dan mendengar rintihan Liona. Ia tidak berniat membantu. Toh, beberapa orang akan berterima kasih jika Liona benar-benar lenyap dari dunia ini. Bukankah mereka akan menganggapnya sebagai bunuh diri? Pemerintah sangat suka membuat keterangan semacam itu agar pihak keluarga korban tidak mendapatkan santunan kematiannya. Bukankah ini impas?
“Agacia kumohon…” lirih Liona yang berusaha untuk berpegangan pada pembatas rooftop, tetapi lama-kelamaan akan terlepas karena terlalu licin.
Dua sisi saling bertengkar. Siapakah yang akan menang? Apakah Agacia akan tega melakukannya? Apabila Liona mati sekalipun, itu bukan salahnya.
“Aku akan membantumu…” teriak Agacia memegang tangan Liona yang hampir jatuh.
Terkadang, kita harus merelakan sisi egois yang menguasai diri kita. Hingga akhirnya, Agacia hanya dapat menatap langit yang membasahinya dengan rintikan hujan. Wanita itu tiba-tiba teringat dengan hal-hal kecil yang dilupakannya. Ia tidak bisa mati begitu saja dan meninggalkan ayahnya. Ia harus hidup dan menjalani kehidupan dengan bahagia. Agacia meyakinkan diri sebelum tubuhnya benar-benar menghantam sesuatu.
Sisi jahatnya berbisik, “Seharusnya kau biarkan dia mati saja!”
Perlahan, matanya menutup. Ia masih bisa melihat siluet tubuh wanita yang berdiri di atas rooftoop, meskipun dalam keadaan gelap. Air matanya meleleh dari sudut matanya. Agacia bergumam pelan sambil mengingat rentetan kejadian di masa lalu yang sempat dilupakannya. Katanya, orang yang akan mati, akan mengingat perjalanan hidupnya dari awal hingga akhir.
“Ayah…ini sakit!”
***