BAB 5: Memancing Kemarahan Publik

1405 Words
“Aw,” rintihnya saat tetesan kopi tanpa sengaja menetes ke jarinya. Ia sangat ceroboh sampai-sampai membiarkan ujung jari telunjuknya masuk ke dalam gelas di mesin kopi. Agacia memasukkan ujung jarinya ke dalam mulutnya, ia masih percaya bahwa air liur dapat membuat lukanya membaik. Dibawanya secangkir kopi itu ke sebuah meja yang berdempet dengan dinding kaca. Ia meninggalkan pantry dan duduk sendirian sambil mengamati lalu-lalang kendaraan di siang hari yang terik ini. Beberapa teman kerjanya sedang keluar untuk makan siang di restoran ayam yang baru saja buka beberapa hari lalu. Ia tidak ikut. Bukan karena tidak mau, tetapi karena tak diajak. Agacia pun memilih menikmati kopinya dan beberapa pastry gratisan sendirian. Ia juga bisa bermain game atau merokok di rooftop jika bosan. Hidupnya begitu tenang akhir-akhir ini. Diseruputnya kopi panas yang uapnya masih mengepul di udara. Sesekali ia melirik ke arah ponselnya yang bergetar beberapa kali ketika Rendra mengirimkan pesan untuk sekadar mengajaknya makan siang. Ia tidak ingin merepotkan Rendra, dengan membiarkan pria itu datang ke kantornya yang memiliki jarak cukup jauh dari Kantor Polisi Pianika. Jadi, pesan-pesan pria itu sengaja diabaikannya. “Ah … sialan. Mengapa hidupnya begitu nyaman?” Agacia tertawa pelan saat melirik ke bawah, di mana ia melihat sepasang kekasih yang berjalan bergandengan bersama menuju ke lobi kantor. Seharusnya ia berada di sana, memegang lengan pria itu dan tertawa bersama dengan teman-temannya. Bahkan, ia pernah begitu bahagia sebelum Liona mengambil kekasihnya dengan dalih telah tidur bersama. Ia kembali mengingat pengkhianatan yang dilakukan Kelen dan Liona padanya. Padahal, keduanya berbuat kesalahan fatal dan menyakitinya, tetapi tidak ada satu pun orang yang membelanya. Semua orang memihak Liona karena wanita itu atasan mereka. Bahkan, mereka semua merundung Agacia dan mengatakan hal buruk tentangnya setiap kali tanpa sebagai berpapasan dengan Kelen. “Kau seperti orang bodoh ketika diam saja, Agacia. Kau tidak mau bergabung dengan kami dan memilih duduk di sini seorang diri. Apakah kau tidak punya teman?” ejek Liona sambil menggandeng lengan Kelen yang merasa tidak nyaman. Agacia tersenyum tipis dan menjawab, “Aku lebih suka keheningan. Lagi pula, aku tidak diajak. Bukankah lebih baik aku tak ikut pergi?” “Ah, benar. Mengapa kau harus ikut? Kau bahkan bukan siapa-siapa. Kau bukan bagian dari Tim Elite. Baiklah, terima kasih telah sadar diri…” ucap Liona dengan tawa cerianya yang memuakkan, “Kudengar kau menemui bos. Apakah kau berencana mengunggah berita bodoh tentang pabrik pupuk itu? Ah, pasti kau akan dicaci maki.” Agacia tak berencana menjawab. “AGACIA!” teriak Rhodes dengan kencang begitu menemukan orang yang dicarinya, “Apa yang kau unggah? Apakah kau sudah gila? Sialan kau!” Semua orang menatap ke arah Rhodes yang kemudian berjalan dengan cepat, menampar keras pipi kanan Agacia. Wanita itu jatuh terjerembab karena kerasnya tamparan pria itu. Tidak ada yang berniat membantu, mereka semua cukup shock dengan kejadian yang baru saja mereka lihat. Liona pun sama, wanita itu menutup mulutnya tidak percaya. Agacia memegang pipi kanannya yang kebas. Ia hampir kehilangan separuh kesadarannya karena dipukul dengan keras. Darah keluar dari hidungnya, tetapi diusapnya kasar. Ia sudah memperkirakan kejadian ini akan terjadi. Namun, Agacia tidak akan pernah takut. Ia akan melakukan apa pun untuk mendapat tempat di Mega Mendung Media. Ia akan merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya. “Apa kau membodohiku? Dasar kau jalang sialan,” ucap Rhodes dengan u*****n kasarnya. Agacia menghapus jejak darah di hidungnya. Ia mencoba berdiri dan menatap Rhodes yang tengah kalap karena merasa sudah dikambinghitamkan oleh bawahannya tersebut. “Semua orang perlu tahu tentang kematian putri bungsu pimpinan Delacorte Company, Bos. Hal ini seharusnya tidak media tutupi. Setidaknya kita menjadi media pertama yang membuat berita ini,” tanya Agacia dengan berani, “Bukankah kita ingin menjadi yang pertama? Kita semua berusaha keras untuk mengalahkan Candala Berita. Jadi, aku melakukan hal lebih untuk membuat kita lebih terkenal dari mereka.” Rhodes mulai frustrasi. Unggahan viral yang kemudian dibaca hampir satu juta orang dalam kurun waktu lima menit, memancing amarahnya. Ia tahu Agacia wanita yang ambisius, tetapi ia tidak menyangka bahwa wanita itu memiliki sebuah bom yang akan meledakkan kepalanya. KEMBALINYA JAS HUJAN: Pembunuhan Pertama di Tahun 2020. Benarkah Jas Hujan sudah ditangkap? Nama Jas Hujan terkenal di tahun 2009, di mana beberapa siswa SMA Raumeda Semesta dibunuh secara brutal dan mayatnya dibuang di Hutan Alemenia. Ketiga mayat tersebut diduga melakukan tindakan perundungan pada beberapa teman sekolahnya dan sempat menyebabkan salah satu siswi meninggal bunuh diri dengan melompat dari rooftop sekolah di malam hari. Pada tahun 2010, polisi menetapkan Kefar, ayah dari siswa yang bunuh diri, sebagai tersangka utamanya. Namun, apakah semua bukti valid dan mengarah pada Kefar? Bagaimana jika pembunuhnya bukan Kefar dan ia masih berkeliaran di luar sana? Pernahkah kalian berpikir demikian? Baru-baru ini, polisi secara diam-diam menemukan mayat di Hutan Alemenia dengan kondisi tanpa busana dan mengenakan jas hujan warna kuning. Diduga korban adalah Lara, putri dari pemilik Delacorte Company, yang baru-baru ini mendapatkan kritik setelah beberapa karyawannya meninggal karena keracunan bahan kimia pembuatan pupuk. Lantas apakah semua ini berhubungan dengan kembalinya Jas Hujan dan apa yang membuat Jas Hujan akhirnya bangkit dari peti matinya? Semua orang yang berada di sana berusaha memeriksa ponsel mereka, membuka beberapa akun sosial media untuk melihat tranding pembahasan nomor satu di Negara Alcantra. Benar saja, Jas Hujan menjadi bahasan utama setelah artikel berita dari Mega Mendung Media dengan penulis beritanya, Melodyna Agacia, melejit. Beberapa orang yang telah melupakan kisah pembunuh berantai tersebut, kemudian kembali bernostalgia. Hal itulah yang kembali memicu kekhawatiran publik dan akhirnya menuntut pemerintah dan jajaran kepolisian untuk memperketat kembali penjagaan. Sebagian orang juga mulai menaruh simpati kepada korban pabrik pupuk yang meninggal misterius dan diputuskan sebagai kasus bunuh diri. Publik marah! Mereka mulai mengenang kasus beberapa tahun lalu, Kasus Pembunuh Berantai Karen Andersson yang membunuh banyak orang penting karena tidak percaya dengan pemerintah dan polisi. Mungkin, itulah yang memicu sebuah grup pendukung Karen Andersson mulai gagah berani untuk menunjukkan jati diri mereka. “Kau keterlaluan Agacia! Kau meragukan kepolisian dan kejaksaan tentang penangkapan Jas Hujan? Bagaimana kau akan menanganinya?” bentak Liona yang akan melayangkan tangan kanannya ke pipi Agacia, tetapi ditahan oleh Kelen. “Jangan memperkeruh keadaan, Liona…” tegur Kelen dan menarik kekasihnya untuk sedikit menjauh. “Aku datang ke Hutan Alemenia dan aku merekamnya. Aku akan mengunggahnya…” ucap Agacia lagi. “b******k!” bentak Rhodes, “Kau wanita sialan. Aku akan memecatmu jika kau tidak membuat klarifikasi—“ “Untuk apa membuat klarifikasi?” tanya seorang pria yang baru saja keluar dari lift dan berhasil memotong ucapan Rhodes. Rhodes membungkukkan tubuhnya ke arah pria itu dan meremas jemarinya sendiri. Keringat mulai banjir di keningnya. Ia takut karena berhadapan dengan orang paling penting di perusahaan ini, cucu pemegang saham terbesar di Mega Mendung Media. “Kurasa itu bagus. Saham kita tidak pernah naik setinggi ini. Aku bahkan datang ke sini untuk menemui orang yang telah berjasa membantu menaikkan profit perusahaan dalam waktu singkat. Kabar baiknya, aku banyak mendapatkan sanjungan karena Mega Mendung Media menjadi media nomor satu saat ini,” ucapnya sambil berjalan mendekat, memecahkan riuhnya manusia yang berada di area pantry. ALDEN WAILANO. Semua orang mengenalnya. Pria itu terkenal dengan cucu pemegang saham utama dan memiliki karier yang cemerlang di bidang pendidikan. Ia bahkan menjadi salah satu pengajar di sebuah SMA internasional dan mengajar bidang keilmuwan kimia terapan. Pria itu seperti malaikat bagi Agacia. Jika ia tak datang tepat waktu, mungkin Rhodes akan memukulnya sampai mati. “Tuan, aku…” ucapan Rhodes kembali dipotong oleh Alden. “Kau harus memperlakukan bawahanmu dengan baik. Kau beruntung karena aku tidak akan meminta komite disiplin untuk memecatmu. Jadi, minta maaflah padanya dengan tulus dan bayarkan uang kompensasi dan bonus atas kerja kerasnya. Dan satu lagi, masukkan dia ke Tim Elite. Aku suka kerjanya,” tandas pria itu. “Tapi Tuan, Agacia tidak bisa naik begitu saja. Semua karyawan pasti akan merasa iri,” ujar Liona memberanikan diri. “Siapa kau, sehingga berani mengaturku? Bukankah aku tidak perlu menjelaskan lagi. Dia sudah meningkatkan profit perusahaan dan mengembalikan kepercayaan rakyat kepada media. Kita mendapatkan keuntungan dari unggahannya. Jika kau keberatan, bagaimana dengan memulai menulis surat untuk mengundurkan diri?” ujar Alden dengan tatapan tajamnya. “Maaf, Tuan…” ucap Liona sambil menggigit bibirnya kuat-kuat, ia benar-benar dipermalukan di depan umum. “Selamat…” ucap Alden yang menyodorkan telapak tangan kanannya ke arah Agacia. Agacia menyambut uluran tangan Alden dan berkata, “Terima kasih, Tuan.” Akhirnya, ia berhasil. Berhasil menaiki satu tangga ke atas. Tim Elite, yang diinginkannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD