BAB 4: Pembunuhan Pertama

1107 Words
“Rendra…” panggil Agacia kepada Rendra yang sedang sibuk bermain game di komputernya. “Ya,” jawabnya tanpa menoleh sama sekali. “Kau mengambil cuti untuk kegiatan tidak berguna ini?” cibir Agacia sambil menatap ke arah Rendra. “Tentu!” jawab Rendra seadanya. “Siapa Jas Hujan?” tanya Agacia penasaran. Rendra berhenti bermain, ia menoleh ke arah Agacia yang mengetikkan sesuatu di laptopnya. Pria tegap yang mengenakan pakaian santai itu duduk di samping temannya yang sibuk berkutat dengan fail-fail yang menumpuk. Mulanya, Rendra tidak peduli dengan pekerjaan Agacia karena ia sudah cukup lelah menasihati wanita untuk berhenti. Namun, ketika Agacia bertanya tentang Jas Hujan, kekhawatirannya kembali memuncak. “Dari mana kau tahu tentangnya?” tanya Rendra penasaran. “Aku hanya penasaran!” Jas Hujan pembunuh berantai, begitulah kata kunci yang Agacia masukkan di mesin pencarian untuk mengetahui siapa Jas Hujan sebenarnya. Ia begitu kesal karena tidak pernah mendapatkan hasil selama seminggu belakangan ini. Apalagi, ia tidak bisa bertemu dengan Reagan untuk bertanya lebih lanjut. Toh, dia tidak tahu siapa pria itu dan di mana ia bekerja. Agacia cukup kesal karenanya. “Kau tidak akan mendapatkan apa pun. Semua kata kunci tentang Jas Hujan telah dihapus dari data pencarian. Kau hanya akan membuang waktumu,” ucap Rendra sambil menyandarkan punggungnya di sofa apartemennya. Agacia menatap temannya itu dengan kedua mata yang berbinar-binar sambil berkata, “Jadi, itu benar-benar ada? Jas Hujan pembunuh berantai? Seperti Karen Andersson?” “Kau tahu dari mana?” “Hm … itu banyak dibahas bukan? Ada rekan kantorku yang sempat mengatakannya,” ujar Agacia berbohong. Rendra menganggukkan kepalanya. Pria itu beranjak dari duduknya, masuk ke dalam kamarnya dan keluar dengan membawa laptop berwarna hitam metalik yang memiliki stiker logo kepolisian. Pria itu menghidupkan laptopnya, mencari-cari sebuah fail dari beberapa folder bersandi. Agacia yakin bahwa fail itu sangat penting dan rahasia. Namun, menahan Rendra sampai melakukan hal itu? Apakah ini karena permintaannya atau karena hanya sekadar iseng saja? Agacia tidak mampu membaca pikiran pria itu. Jas Hujan. Begitulah nama fail yang masih tertutup rapat dan belum dibuka. Agacia ingin sekali mengintip isinya, tetapi diurungkannya sebelum Rendra sendiri yang mempersilakannya untuk membuka fail itu. Namun, tanpa diminta sekalipun, Rendra akhirnya mengklik dua kali fail tersebut dan … voilla, terbuka. Berkas Kasus Jas Hujan di Tahun 2009 Nomor berkas kasus: KP/VIII/00113 Status: ditutup Pelaku: Kefar Korban: 1. Helena (MD) 2. Serena (MD) 3. Athaar (MD) 4. Yasahiro (MD) 5. Belum diketahui identitasnya (Selamat) Kronologi: Kefar merasa dendam kepada Helena dan teman-temannya karena telah merundung Dasha, putrinya, selama di sekolah dan menyebabkan Dasha mengakhiri hidupnya satu minggu sebelum kematian korban. Kefar melakukan penculikan dan pembunuhan. Namun, Kefar tidak mengatakan dengan detail bagaimana pembunuhan dilakukan. Pihak psikolog tidak dapat menemukan keterkaitan kasus dengan Kefar yang dianggap bingung dan tidak tepat dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. TKP: Hutan Alemenia (perbatasan Kota Candala dan Kota Pianika) Kondisi korban saat ditemukan: Korban ditemukan dalam keadaan tanpa busana dan hanya mengenakan jas hujan plastik warna kuning. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, hanya ada dua titik di leher yang menyerupai gigitan ular. Namun, tidak ditemukan adanya tanda-tanda bisa dalam darah. Selain itu, korban membawa cermin di tangan kanannya, menghadap ke arah wajah. Hasil Autopsi: korban meninggal karena penggumpalan darah “Bukankah ini aneh?” tanya Agacia setelah membaca seluruh berkas kasus tersebut, “Ini seperti gejala yang terjadi saat seseorang digigit ular?” Rendra mengangguk dari arah dapur dan mulai menyahut, “Pelakunya sudah tertangkap. Jadi, berhentilah mencari tahu! Kau hanya akan membuang-buang waktu.” Agacia tidak menjawab peringatan Rendra. Ia memilih menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas. Tidak lama kemudian, ia beranjak dari duduknya setelah menyeruput es lemonade yang baru saja dibuatkan oleh Rendra. Sayangnya, Rendra tidak sempat menghalau Agacia, karena ia telah berjalan keluar dari apartemennya sebelum Rendra menyelesaikan satu kalimat saktinya: berhentilah bekerja! Dari gelagat Rendra, Agacia menyimpulkan bahwa pria itu menyembunyikan sesuatu darinya. Baru saja menginjakkan kakinya di lantai satu Apartemen Senggala, Agacia berpapasan dengan seseorang yang dikenalnya, Reagan. Namun, pria itu tak bereaksi sama sekali. Bahkan mengabaikannya seperti mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. “Hai, kita pernah bertemu sebelumnya. Ingat padaku?” tanya Agacia yang berjalan di samping Reagan. “Tidak!” jawabnya tanpa menoleh sedikit pun. “Kau bahkan belum melihat wajahku dengan sungguh-sungguh. Jadi, cobalah menatapku sebentar dan pastikan sekali lagi bahwa kita pernah bertemu di Hutan … emmm!” ucapan Agacia terputus karena mulutnya dibungkam oleh Reagan dengan tangannya. Lalu, didorongnya Agacia untuk masuk ke dalam lift. Tidak ada pembicaraan begitu lift tertutup. Agacia pun merasa kikuk dengan pertemuan mereka yang tanpa rencana. Apakah ini yang disebut dengan takdir Tuhan? Agacia sangat ingin bertemu dengan Reagan untuk membahas kasus itu. Maka dari itu, Tuhan memberinya kesempatan untuk bertemu dengan satu-satunya kenalannya yang mengetahui kronologis tentang pembunuhan di Hutan Alemenia beberapa minggu yang lalu. Rupanya, Reagan membawanya ke rooftop apartemen itu sambil menghidupkan sebatang rokok untuk dihisapnya. Pria itu benar-benar terlihat berantakan dan tak terurus. Andaikan orang lain yang tak mengenalnya, mungkin berpikiran bahwa pria itu gelandangan atau tunawisma. Potongan rambutnya saja gondrong dan kusut, seperti tidak tersentuh hair care sama sekali. Agacia bergidik ngeri dengan penampilan kenalannya tersebut. “Berhenti menilaiku sesukamu,” ujarnya seperti tahu isi pikiran Agacia. “Kau bisa membaca pikiran orang lain?” “Anggap saja begitu.” “Apa pekerjaanmu? Kau seorang polisi?” “Bukan. Aku dukun.” Mendengar jawaban Reagan membuat Agacia tertawa dengan keras. Ucapan pria itu memang selalu di luar prediksi. Bahkan, ia tidak bisa menebak profesi Reagan berdasarkan cara bicaranya yang frontal dan menyebalkan. “Ngomong-ngomong, aku akan tetap mencari tahu dan mengunggah beritanya. Kau tahu bahwa media b******k kan? Setidaknya aku sudah memberi tahumu lebih awal. Kau dapat bersiap-siap dengan konferensi pers…” tandas Agacia. “Baguslah. Setidaknya ada media yang akan mengambil risiko untuk memberi tahu semua orang tentang kasus ini. Aku punya rencana…” “Apa maksudmu?” “Kau bisa menulis dengan baik, bukan?” “Kau meragukan kompetensiku? Tentu saja aku sangat bisa diandalkan. Kau tahu, aku mendapat banyak sertifikat yang mengakui kinerjaku. Aku bahkan mendapatkan penghargaan dari presiden,” ujar Agacia sombong. “Baiklah … baiklah. Aku akan memberimu berkas kasus. Jika kau bisa membuat beritanya naik dan mendapat perhatian. Aku akan memberi tahu informasi tambahan. Kau bilang ingin bergabung dengan tim apalah itu, bukan? Aku akan membantumu…” ucap Reagan yang memberikan penawaran. Kemudian, ia menyodorkan tangan kanannya ke hadapan Agacia. Agacia membuka mulutnya tak percaya dan menyambut uluran tangan Reagan untuk bersalaman, sebagai tanda bahwa mereka akan berada di dalam kubu yang sama dan akan saling membantu. Fail berhasil dikirim. Kasus pembunuhan pertama Jas Hujan di tahun 2020. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD