Hutan Alemenia mulai ramai dipadati oleh mobil polisi, BFN (Badan Forensik Nasional), dan ambulans. Agacia menatap keramaian tersebut dari dalam taksi yang ditumpanginya sambil memotret dari kamera ponselnya. Seharusnya ia prepare dengan kamera, tetapi ia tidak tahu kejadian mendadak semacam ini akan terjadi. Agacia meminta sopir taksi menurunkannya di pintu masuk hutan yang berpagar tak terurus. Ia tidak ingin diusir oleh polisi yang sedang memasang police line.
Ia mulai merekam dengan kamera ponselnya, bergerak perlahan menuju ke TKP dengan hati-hati. Namun, tangannya dicekal oleh seseorang secara tiba-tiba. Spontan Agacia berteriak dan membuat gerombolan polisi yang berjaga di sana menoleh ke arahnya. Seorang pria berambut gondrong dengan brewok di sepanjang dagunya menatapnya dengan tatapan menyelidik.
“Lepaskan!” tukas Agacia yang meronta-ronta. Ia tidak dapat membanting pria itu karena gerakannya mudah dibaca. Itu artinya, pria itu punya basic bela diri yang bagus.
“Kau dari kantor berita?” tanyanya dengan tatapan dingin.
“Bukan!” kilah Agacia.
“Kau tidak bisa berbohong,” ucap pria itu menunjuk ke arah lanyard yang masih menggantung di lehernya.
Agacia mengumpat di dalam hati dan membela dirinya dengan berkata, “Aku hanya penulis berita, bukan wartawan.”
“Bagiku semua sama saja. Wartawan atau penulis berita, sama-sama b******k. Kau ingin dipenjara karena menerobos garis polisi dan mengganggu penyelidikan?” tanyanya dengan wajah garang.
Agacia menggelengkan kepalanya, kemudian menjawab dengan lantang, “Aku bahkan tidak melewati garis polisi. Aku hanya sedang berjalan-jalan.”
“Mengapa berjalan di tempat gelap?”
“Itu bukan urusanmu!”
“Ini jelas-jelas menjadi urusanku, Nona. Kau ketahuan mengambil video. Itu pelanggaran privasi!”
Agacia menghela napas panjang. Ia kehabisan stok kata yang dapat digunakannya untuk beradu argumen dengan pria di depannya. Akhirnya, ia hanya pasrah ketika ditarik ke mobil polisi. Sepanjang perjalanannya menuju mobil polisi, ia tidak melihat satu pun orang dari kantor berita mana pun datang untuk meliput. Biasanya, dalam kasus pembunuhan, akan banyak pencari berita yang datang ke lokasi kejadian.
Pria itu menutup pintu mobil polisi tersebut dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Padahal, ia sudah cukup teliti dengan menyelinap lewat gerbang depan. Mengapa ia masih ketahuan? Dibukanya laptopnya yang masih dalam mode sleep. Ia mencoba untuk browsing, tetapi tak menemukan apa pun di sana. Ah, bagaimana mungkin dunia tahu tentang berita ini, sedangkan tidak ada satu pun wartawan yang bertandang ke tempat ini.
Seorang pria berpakaian polisi membuka pintu mobil dan menyodorkan botol minuman ke arahnya sambil berkata, “Dari Pak Reagan…”
“Pak Reagan?” tanya Agacia kebingungan.
“Itu…” ucap polisi tersebut sambil menunjuk ke arah pria berambut gondrong yang ditemuinya tadi.
“Ah. Apakah itu namanya? Siapa dia?”
Polisi itu tidak menjawab dan menutup pintu mobil itu. Agacia mengumpat dalam hati sambil membuka tutup botol air mineral yang diberikan kepadanya, lalu menenggak isinya. Ia teringat sesuatu tentang ucapan si penyiar radio beberapa jam yang lalu tentang siapa orang yang mengirim pesan ke radio. Ia kembali mengetikkan sesuatu di mesin pencarian.
Siapakah Jas Hujan
Hanya ada informasi mengenai jas hujan yang biasanya digunakan orang-orang ketika musim hujan, bukan semacam istilah atau nama seseorang. Agacia merasa frustrasi, bukankah ia tidak salah dengar? Jika memang pesan yang dibacakan sang penyiar radio itu benar, bukankah pelakunya benar-benar orang yang mengaku dirinya sebagai si Jas Hujan?
“Apakah aku harus bertanya pada pria itu?” ucap Agacia.
Lamat-lamat, Agacia melihat kantong mayat telah terisi dan dimasukkan ke dalam ambulans. Tidak lama kemudian, mobil tersebut melesat tanpa menghidupkan sirine, seakan-akan ini adalah kasus yang ditutupi. Agacia mengerutkan keningnya bingung. Penasaran mengapa kasus ini begitu senyap dan siapa korbannya? Siapa yang dibunuh? Agacia penasaran.
“Keluarlah…” ucap pria bernama Reagan itu setelah ia membukakan pintu mobil untuk Agacia, “Pindahlah ke mobil merah di sana, aku akan mengantarmu pulang.”
“Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri, kecuali kau butuh bantuanku…” jawab Agacia berusaha memberanikan dirinya untuk berbicara dengan tegas, “Bukankah itu alasanmu untuk mengetahui sesuatu?”
Reagan menatap Agacia dan kemudian tersenyum, “Kau perlu informasi, bukan? Masuklah!”
“Harusnya kau berbicara dengan baik padaku,” gerutu Agacia, tetapi tetap memasuki mobil milik Reagan.
Reagan menatap Agacia sejenak dan mengalihkan fokus matanya ke arah beberapa pria yang mengenakan seragam polisi di depannya. Kedua polisi tersebut berlari ke arahnya dengan terburu-buru dan memberikan hormat. Agacia tidak mendengar apa yang mereka katakan dan hanya menerka-nerka saja. Tak lama kemudian, Reagan masuk ke mobilnya dan duduk di kursi kemudi.
“Pakai seat belt,” ucap Reagan tanpa menatap Agacia.
Agacia menurutinya tanpa bicara. Reagan melajukan mobilnya, meninggalkan heningnya Hutan Alemenia menuju ke Kota Candala. Agacia tidak protes atau curiga sedikit pun terhadap Reagan. Ia ingin mengetahui rahasia tentang kasus ini. Apa pun risikonya, Agacia akan mempertaruhkan dirinya.
Setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kafetaria 24 jam. Reagan mengajak Agacia untuk turun dari mobil dan masuk ke dalam kafe. Pria itu mendekat lebih dulu ke meja counter sambil mengamati papan menu.
“Iced americano satu,” ucap Reagan memesan menu yang ada di papan dan menoleh ke arah Agacia, “Kau mau pesan apa? Siapa namamu? Aku lupa bertanya.”
“Teh hijau,” jawab Agacia dengan singkat.
“Namamu?”
“Kau bisa membacanya!” tandas Agacia dengan ketus.
Reagan menghela napas panjang, lalu mendekatkan diri ke arah Agacia. Wanita itu mundur perlahan karena Reagan terlalu dekat dengannya. Pria itu menatap lanyard yang dipakai Agacia dan menatapnya sambil tertawa. Setelah itu, Reagan menjauh dari Agacia dan berjalan ke sebuah meja paling pojok setelah membayar pesanan keduanya.
“Kau tidak akan memberi tahuku?” tanya Agacia yang menarik kursi di depan Reagan. Ia memilih duduk di hadapan pria itu agar mudah berkomunikasi dan mencari informasi.
“Tentang apa? Kau sendiri sudah tahu…” ujar Reagan sambil menatap ke luar, “Siaran radio itu disebarluaskan. Siapa pun bisa mendengarnya. Anehnya, mengapa hanya kau yang menerobos masuk ke Hutan Alemenia?”
“Kau mencurigaiku?”
“Hm. Biasanya pelaku akan datang ke tempat kejadian. Kupikir itu kau,” jawab Reagan dengan entengnya.
“Aku? Pelakunya? Apakah kau sudah gila?” teriaknya sambil berdiri di depan Reagan.
Reagan menarik pergelangan tangan Agacia agar wanita itu kembali duduk, sebelum senampan pesanan mereka jatuh berhamburan. Pelayan yang kebetulan mengantar untungnya memiliki refleks yang bagus. Jika tidak, mungkin Agacia sudah disirami dengan minuman pesanannya sendiri.
Setelah pelayan tersebut meletakkan pesanan keduanya dan undur diri, barulah Reagan meneruskan ucapannya. Kali ini, pria itu berada dalam kondisi serius. Agacia yang mulanya ingin menyeruput tehnya, mengurungkan niatnya.
“Kau pernah mendengar tentang kasus Jas Hujan?” tanya Reagan sambil memainkan ujung jarinya pada bibir gelas.
Agacia menggeleng.
“Tapi, aku sempat mendengar nama Jas Hujan disebut oleh si penyiar radio,” jawabnya kemudian.
“Lalu, mengapa kau begitu terburu-buru datang ke Hutan Alemenia, jika tidak tahu betul tentang cerita Jas Hujan?” tanya Reagan penuh selidik.
Agacia menggigit bibir bawahnya dan menjawab, “Aku banyak belajar dari kasus Karen Andersson. Tidak ada orang yang menyangka bahwa dialah pembunuh berantainya. Kupikir ini akan membantu karierku. Aku hanya mengikuti instingku sebagai penulis berita.”
“Dari mana kau tahu itu kasus pembunuh berantai?”
“Aku hanya berasumsi!” jawab Agacia tanpa berpikir, “Lalu … mengapa tidak ada siapa pun di sana? Bukankah pemburu berita akan langsung berdatangan saat ada informasi sekecil apa pun?”
Reagan terdiam dan menjawab, “Orang yang berkuasa akan lebih paham cara menangani masalah dibandingkan kita.”
“Jadi, siapa korbannya?”
“Putri pimpinan Delacorte Company,” jawab Reagan, “Apa ada orang yang tahu tentang kejadian ini selain kau?”
“Ah, sopir taksi.”
“Apa perusahaan taksi itu? Berapa nomor platnya?”
“Apa itu penting? Aku bahkan tidak mengingat platnya atau apa pun itu.”
“Perusahaannya?”
“Ah, benar. Black o***m Transportasi, anak perusahaan dari Delacorte…”
“Ada riwayat transaksinya?” tanya Reagan memastikan
Agacia menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak sadar taksi yang ditumpanginya milik perusahaan itu. Apa hubungannya dengan sopir taksi? Apakah ini hanya sekadar kebetulan semata?
***