BAB 1: Ada Penguntit

1455 Words
Bulan Februari 2021 Blam! Agacia terbangun dari tidurnya setelah terdengar suara lampu yang dipadamkan secara serentak setelah pukul sembilan malam. Beberapa kantor menetapkan sistem ini untuk menghalangi beberapa pegawai yang nekat lembur di atas jam sembilan tanpa persetujuan atasan atau manajer operasional. Perusahaan akan mendapatkan surat cinta dari kementerian ketenagakerjaan jika sampai ketahuan. Wanita berkulit putih, berbulu mata lentik, dengan riasan tipis itu, mengelap sudut bibirnya di mana air liurnya telah bermuara pada tumpukan kertas yang berada di bawah kepalanya. Ia menggeliat sejenak, mengumpulkan nyawanya yang masih beterbangan dan penyesalan mulai menyergap jiwanya, karena belum sempat menekan kombinasi CTRL plus S. Ia berdecak sebal, matanya tampak memerah ingin menangis. Namun, sebuah panggilan masuk dari seseorang, membuatnya terkejut bukan main. Ia telah melupakan janji dengan seorang pria tampan di bawah sana. Agacia melongok ke bawah, menemukan sebuah mobil sport warna hitam metalik terparkir di sana. Seorang pria menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil menatap layar ponselnya yang berkedip beberapa kali. Tak lama kemudian, pria itu mendongak ke atas, menemukan siluet tubuh Agacia meskipun tidak terlalu kentara. “Kau menungguku? Aku minta maaf karena tertidur,” ucap Agacia merasa bersalah dan buru-buru merapikan mejanya. Ponselnya terapit di antara telinga dan bahunya, sedangkan jemarinya sudah heboh memasukkan beberapa kertas lecek ke dalam tas mahalnya, hadiah dari pria di bawah sana. Terdengar suara tawa yang renyah. Agacia dapat merasakan kehangatan setiap kali suara pria itu menyapa gendang telinganya. Pria itu tidak pernah marah atau kecewa padanya. Hanya sesekali, tetapi tidak terlalu parah. “Tidak masalah. Apakah aku perlu menjemputmu?” tanya pria itu yang berusaha mencari senter di dalam mobilnya, tetapi nihil. Ia tidak pernah meletakkan barang semacam itu di mobilnya. Jadi, mana mungkin ia akan menemukannya di sana. “Tidak. Aku membawa senter milik ayahku. Kau hanya perlu menunggu sekitar sepuluh menit lagi. Aku akan turun...” jawab Agacia terburu-buru, tetapi masih sempat memoleskan lipstik warna nude ke bibirnya. “Take your time,” lirih pria itu sebelum memutuskan mematikan sambungan telepon mereka. Agacia menatap layar komputernya yang mati, dicabutnya sebuah flashdisk yang tertancap di sana sebelum memutuskan untuk melangkah pergi. Seperangkat tas, lengkap dengan isinya ditenteng Agacia menuju ke tangga darurat yang memiliki tingkat kegelapan maksimal karena tidak adanya penerangan. Dihidupkannya senter untuk menerangi jalannya. Ia berjalan pelan-pelan karena takut tergelincir. Sepatu heels barunya sedikit licin meskipun harganya fantastis. Ia sangat hedon sekali, karena menghabiskan setengah gajinya untuk membeli sepatu yang bahkan tidak terlalu penting ini. Agacia meringis sesekali, merasakan tekanan pada rekeningnya yang hampir kosong melompong. “Hantuuuu…” teriaknya dengan kencang tepat ketika senternya menyorot sesosok pria yang berdiri di ujung tangga membelakanginya. Sontak saja, senter yang dipegangnya terjatuh! “Eh, tidak. Aku Kelen...” ucap pria yang mengaku bernama Kelen itu sambil memegang lengan Agacia, agar wanita itu tidak terjerembab jatuh. Setelah memastikan bahwa pria di depannya bukanlah hantu, Agacia buru-buru mendorongnya. Ia tidak mau terlibat skandal tidak pantas dengan pria di depannya. Meskipun jalinan asmara keduanya sudah rampung, tetapi kekasih mantannya ini sangat menyeramkan. “Kau mengagetkanku,” ucap Agacia dengan nada rendah tetapi menusuk. Ia berusaha bersikap normal, meskipun jantungnya berdetak lebih cepat. Ini bukan semacam gelombang jatuh cinta, tetapi karena respons keterkejutannya. Kelen tersenyum tipis, hampir tak dapat dilihat oleh Agacia yang pucat pasi karena tegang berhadapan dengannya. Diinjaknya sebatang rokok yang sempat dinikmatinya dalam gelap dan memfokuskan dirinya pada wanita cantik yang memiliki aura menarik itu. “Mau kuantar pulang? Ini sudah malam,” ucap Kelen berbaik hati. Tidak. Bagi Agacia, pria itu adalah sampah masa lalu yang telah menyulitkan dirinya. Jika saja ia tidak membawa Kelen ke perusahaan ini, mungkin kariernya akan naik satu step lebih tinggi dibandingkan sekarang. Namun apa? Ia harus berhadapan dengan wanita serigala yang bergelar kekasih Kelen dan sangat amat membencinya. “Tidak,” jawab Agacia yang kembali melangkahkan kakinya lebih pelan karena ia hanya bermodalkan senter dari ponselnya yang begitu redup. “Kau bisa jatuh. Berhati-hatilah! Heels-mu terlalu licik. Liona pernah terjatuh karena—“ “Apa kau bisa diam?” ucap Agacia dengan kesal ketika pria itu mulai menyebutkan nama wanita serigala yang sangat dibencinya itu. “Baiklah,” Kelen berjalan di belakangnya, memastikan bahwa Agacia dapat menjangkau lantai satu dengan aman. Ia dapat melihat sebuah mobil sport dengan seorang pengemudi yang dikenalnya. Kelen tidak pernah bertegur sapa dengan pria itu sebelumnya, tetapi ia tahu bahwa Agacia begitu dekat dengan pria itu. Jauh, jauh sebelum mengenalnya. Kelen sempat bertatapan dengan seseorang itu, sangat tajam. Ia tak bisa berbuat banyak ketika pria itu mulai membukakan pintu untuk Agacia dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. “Apa dia mantan kekasihmu itu?” tanya Rendra setelah Agacia masuk ke dalam mobilnya dan memasang atap agar wanita itu tidak kedinginan. Agacia mengangguk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil Rendra yang nyaman. “Kau ada—” “Tidak. Tidak. Dan tidak...” jawab Agacia seakan memahami isi kepala Rendra, “Ah sialan, aku melupakan senter milik ayahku.” “Kita perlu mengambilnya?” “Tidak. Aku sengaja membuangnya. Bisakah kau mengantarkanku ke toserba? Aku harus membeli senter yang baru,” ujar Agacia dan memejamkan matanya karena sudah lelah. “Baiklah.” Rendra melajukan mobilnya dengan pelan, melewati sebuah mobil yang terparkir di depan sana. Ia tahu bahwa itu mobil Kelen, tetapi ia tidak membunyikan klakson sebagai tanda perkenalan atau apa pun itu. “Kudengar kau datang ke psikiater minggu lalu,” tanya Rendra membuka pembicaraan ketika mereka terjebak di lampu merah. “Dari mana kau tahu?” “Navi,” “Dia memang tidak bisa menjaga rahasia. Apa dia bilang soal diagnosanya padamu?” “Ya.” “Aku tidak ingin membahasnya dan sebenarnya itu privasi kan?” Rendra mengangguk dan menjawab, “Kau seharusnya memberi tahu perusahaan tentang kondisimu. Beberapa hal dapat menjadi trigger yang—” “Dan dipecat?” Rendra menoleh ke arah Agacia dan menghela napas kasar. Ia tahu bahwa temannya itu tidak akan menyerah apa pun alasannya. “Berhentilah mencari tahu tentang pabrik pupuk itu dan fokuslah pada beberapa pekerjaan yang mudah,” ucap Rendra memperingatkan. “Mengapa begitu?” “Kau tidak tahu betapa menyeramkan orang-orang itu...” “Aku hanya ingin masuk Tim Elite,” “Carilah pekerjaan lain.” “Perusahaan lain tidak akan menerimaku. Usiaku sudah lebih dari dua puluh lima tahun.” “Apa itu penting?” “Ya.” Rendra tidak menjawab lagi. Ia memilih menghela napas panjang karena Agacia yang keras kepala tak akan pernah mendengarnya. Apalagi ia tahu bahwa Agacia sangat mencintai pekerjaannya meskipun berada di dalam lingkungan yang toxic. Agacia membuka sebuah artikel berita yang dirilis secara eksklusif oleh media berita Candala Berita dan ditulis oleh rivalnya di dunia jurnalistik, Dammam. Ia mengamati berita itu dengan serius, hingga berita tersebut lenyap tak bersisa dalam beberapa detik setelah dirilis. Kematian Buruh Pabrik Pupuk yang Misterius: Apakah ini semacam konspirasi yang dilakukan perusahaan agar tidak perlu membayar santunan kematian? Kematian beberapa buruk pabrik di PT. Pupuk Sonic Delacorte diduga akibat terpapar bahan kimia beracun dari bahan pembuatan pupuk. Perusahaan menolak untuk bertanggung jawab dan membayar uang santunan kematian bagi keluarga korban, karena dianggap tidak adanya bukti yang kuat. Manajer produksi mengatakan bahwa tidak ada perubahan bahan pembuatan pupuk dan hal tersebut tak mungkin terjadi. Pihak kepolisian telah menemukan bukti kuat, tetapi tidak dijabarkan kepada publik. Mungkinkah ada permainan orang dalam dengan pihak kepolisian? Benarkah pihak perusahaan menyamarkan kematian korban dengan memanipulasi bukti, sehingga menjadi kasus biasa atau kasus bunuh diri? “Apa kondisi ayahmu sudah membaik?” tanya Rendra secara tiba-tiba setelah berhenti di depan rumahnya. Agacia mengangguk seraya melepaskan seat belt yang melindunginya. Ia menutup kembali ponselnya dan memasukkan ke dalam tasnya sebelum mendorong pintu untuk keluar. “Aku akan mampir sebentar.” “Baiklah.” Agacia yang mulanya hendak turun dari mobil Rendra, mengurungkan niatnya. “Sebenarnya aku merasa aneh akhir-akhir ini,” ucap Agacia. “Aneh?” “Ya,” jawab Agacia sambil memainkan jemarinya, “Aku merasa ada orang yang mengikutiku.” “Kau bercanda?” “Tidak,” ucap Agacia lagi, “Malam harinya ada yang mengetuk pintu. Aku buru-buru keluar dari kamarku dan mengintip dari lubang kunci, ada seseorang yang berdiri di sana, tetapi aku tidak mengenalnya. Orang itu terlihat aneh dengan mantel hitam. Padahal, ini musim semi, mengapa orang tersebut menggunakan mantel tebal?” Rendra mengerutkan keningnya dan berkata, “Kudengar kau mengalami sedikit masalah dan dokter sudah memberi tahumu soal PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Apakah kau tidak mau menceritakannya padaku? Maksudku, bisa jadi itu bukan manusia sungguhan, hanya sekadar halusinasi.” Ada sebuah pemberitahuan artikel baru. Agacia buru-buru membukanya. Ia mengabaikan ucapan Rendra tentang psikiater atau masalah mental. Ia benar-benar tidak mempedulikannya sama sekali. “Apa-apaan ini? Apa Dammam sudah gila? Bagaimana bisa ia menuliskan artikel yang bertentangan dengan artikel sebelumnya?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD