Arthur dan semua siswa yang tengah melaksanakan tes pengujian bakat ini tidak terlalu memperhatikan hasil tes pertama ini, karena dia harus segera masuk kedalam alat pengujian bakat yang kedua secepatnya. Toh tadi di dalam mesin dia sudah melihat semua stat yang dia miliki. Arthur memperkirakan bahwa dirinya mungkin saja memiliki setidaknya skor rank A. Popularitas bakat rank A memang kurang dari rank- S, namun dengan embel-embel sebagai teman dari para jenius, mungkin saja Arthur tetap tidak akan selamat dari incaran reporter.
Arthur memilih untuk tidak memikirkannya saat ini. Jadi saat pintu mesin terbuka, Arthur segera masuk kedalamnya begitu juga semua siswa yang tengah mengikuti tes. Mereka tidak peduli dengan kehebohan yang terjadi di aula pada saat ini. Namun mereka sama sekali tidak sadar, bahwa saat semua siswa masuk ke alat pengujian bakat kedua, para reporter dan Jurnalis sangat panas dalam memberitakan hasil tes bakat siswa di Olympus saat ini.
Sedangkan di dalam ruang tes pengujian bakat, pada pintu pertama, Arthur segera melepas semua pakaian yang ada di badannya. Bahkan cincin keluarga yang melingkari ibu jarinya, juga Arthur lepaskan dan ia tempatkan pada alat penyimpanan sistem pada pintu pertama. Itu agak terasa aneh dan memalukan pada awalnya. Namun saat Arthur membuka pintu kedua, sebuah cahaya tiba-tiba saja menyelimutinya dan jutaan partikel logam membentuk satu set pakaian tempur lengkap yang membungkus seluruh tubuh Arthur. Melihat sekeliling, itu hanyalah ruangan kosong, hampa dan terlihat seperti ruangan bernuansa putih yang tidak berujung. Itu mungkin karena saat memasuki ruangan ini, Arthur sama sekali tidak memiliki ketakutan pada objek apapun. Mungkin saja karena hal itu, sihir ilusi belum bekerja.
“Aku memang agak lupa tentang ini.” Arthur sama sekali tidak mengingat akan adanya pakaian yang terbuat dari sihir ilusi. Namun sihir yang dipakai saat ini adalah sihir murni dari sistem dan masih bekerja agak lama untuk menutupi semua tubuh. Pada masa yang akan datang, untuk berpakaian, dan ujian ilusi, mereka akan menggunakan alat sihir yang dapat memadatkan energi cahaya membentuk miliyaran partikel yang akan membentuk sebuah pakaian seperti yang di setting oleh alat sihir. Cara kerjanya lebih cepat dan lebih halus. Alat itupun akan mudah ditemukan meskipun harganya cukup tinggi pada masa itu.
Meskipun Arthur tidak ingat dengan adanya sihir pakaian ini, namun beruntung bahwa Arthur masih ingat dengan jelas bahwa ujian saat ini adalah menguji siswa menghadapi hal yang paling dia takuti. Seberapapun kecil hal yang mereka takuti, jika kamu dapat mengalahkannya dengan baik, maka nilai rank mu akan naik. Tentu saja ini adalah bug sistem yang hanya diketahui oleh Arthur. Karena bug ini baru akan terdeteksi tiga tahun dari masa ini setelah ketua asosiasi hunter--Haisen mencoba masuk menguji alat ini. Anehnya saat keluar dari alat ini, skor rank miliknya hanya level C padahal jelas-jelas dirinya adalah orang dengan bakat S. Barulah setelah dilakukan penyelidikan, dan diketahui bahwa Rank pada alat ini didasarkan pada seberapa mudah kamu mengalahkan lawanmu. Namun sayangnya ‘lawan’ yang diciptakan oleh sistem adalah hal yang ditakuti oleh mereka saja. Jadi jika orang itu takut pada kecoa, dia hanya akan menghadapi kecoa. Bisa dikatakan ini hanya alat tes untuk mengalahkan ketakutan saja.
“Yah, ini bukan kecurangan. Tapi aku memang membutuhkan Rank-S setelah rank-A. setidaknya itu akan membantuku agar terhindar dari beberapa pengganggu.”
Setelah mengalami hidup dan mati melawan Balbark, Arthur sama sekali tidak merasakan ketakutan pada apapun. Dia hanya takut bahwa dia akan kembali melihat teman-temannya mati hanya demi menyelamatkannya. Arthur berpikir kemungkinan saat ini yang akan muncul pada ilusi saat ini adalah sosok Balbark. Mengingat mahluk itulah sosok yang merupakan sumber kehancuran semua orang yang dia cintai.
“Baiklah… aku tidak akan memiliki nilai jika aku sama sekali tidak memiliki ketakutan pada objek tertentu.” Arthur berpikir keras. Awalnya dia berpikir bahwa mungkin saja Balbark akan muncul pada tes ini mengingat dialah alasan utama dia kehilangan segalanya. Namun anehnya sosok itu tidak tercipta sama sekali oleh ilusi. Arthur terus memikirkan beberapa sosok kuat yang memungkinkan dirinya merasa takut untuk memicu sihir ilusi menciptakan objek ketakutannya. Lalu sesuatu benar-benar terjadi. Ruangan hampa yang tadinya mengelilinginya, kini berubah sedikit demi sedikit membentuk menjadi halaman hijau yang familiar untuknya. Halaman itu luas, dengan ujung halaman yang dikelilingi oleh sungai kecil buatan dengan air mancur dewi Freya.
“Bukankah ini…rumahku?” Arthur tidak yakin. Bukan dia tidak percaya berada di rumah, hanya saja dia bingung siapa di mansion duke yang dia takuti?
“Oh? Kau kembali.” suara berat itu datang dari belakangnya. Arthur menoleh lalu mendapati sosok ayahnya—Duke Glerand dengan jubah perangnya mendekatinya. Arthur mematung. Sosok ayahnya yang muncul saat ini, bukankah itu berarti bahwa sosok yang dia takuti adalah ayahnya?
“Ha-ha, lucu sekali. Tidak mungkin aku justru takut dengan pak tua ini kan?” Arthur tertawa garing. Namun dari lubuk hatinya yang terdalam, dia merasakan sesuatu di hatinya merasa gembira dapat melihat sosok tegas ayahnya lagi. Duke Glerand terlihat jauh lebih muda dari yang ada dalam ingatannya. Dia memang lelaki yang selalu memasang wajah tegas bahkan dengan keluarganya sekalipun. Namun dia jugalah orang yang mungkin akan pertama kali Arthur paling percayai di Asternal. Dalam ingatan Arthur, sosok ayahnya ini menghilang saat dirinya baru saja lulus dari akademi saat menjalankan tugas untuk memasuki dungeon level A yang diduga akan mengalami breakout. Namun siapa yang menyangka saat itu gate berubah sendiri dari level A menjadi S dan tertutup secara otomatis. Bersamaan dengan itu, ayahnya tidak pernah lagi kembali dan Julianlah yang menjadi kepala keluarga menggantikan ayahnya. Seratus tahun setelahnya, Arthur baru mengetahui bahwa semua itu hanyalah pengaturan dari pihak kerajaan untuk menyingkirkan ayahnya yang dianggap mengancam kedudukan Hayde—raja saat ini.
“Apakah itu cara bicaramu pada ayahmu? Dimana sopan santunmu!”
Arthur segera pulih dari keterkejutannya. Arthur ingat bahwa saat ini dia hanyalah seorang siswa berumur empat belas tahun. Dimana dia memang memiliki ketakutan dengan sikap ayahnya yang selalu tegas padanya.
“Maafkan aku ayah.” Arthur segera berlutut dihadapan ayahnya. Ilusi sosok Glerand mengangguk puas. Lalu dia berjalan mendekati Arthur dan melemparkan sebuah pedang kayu di samping tubuh Arthur.
“Bangun, ayo bertanding.”
Arthur memandangi pedang kayu disampingnya. Kini Arthur ingat bahwa hal yang paling dia takuti saat berumur empat belas tahun adalah berlatih pedang dengan ayahnya. Mungkin saja alat sihir yang digunakan saat ini hanya mampu merekam apa yang ditakuti pada tubuhnya saat ini.
“Benar juga, itu baik karena itu berarti alat ini tidak akan mampu mewujudkan ketakutanku yang sebenarnya. Jika hal itu terjadi, saat alat perekam ini dibuka oleh akademi, aku akan mendapatkan masalah karena memiliki ketakutan yang tidak wajar dan belum pernah terjadi pada masa ini.”
“ Kenapa kau diam? Bertandinglah dengan semua kemampuanmu!”
Arthur terbangun dari lamunannya mendengar Ayahnya menghardik—tiba-tiba saja senyuman ceroboh muncul dari sudut bibirnya. Dengan penuh semangat Arthur mengambil pedang kayu yang tergeletak di lantai dan berdiri menatap sosok Ayahnya.
“Baiklah, mari kita lihat seberapa kuat aku saat ini.”
Glerand tertawa, “ Kalau begitu mari mencobanya.”
“Ayah! Kau yang memintanya!” Arthur langsung menyerang Ayahnya dengan menghunuskan pedangnya. Namun kecepatan Glerand lebih baik dalam menghindari serangan Arthur. Arthur terus menyerang dengan mencari titik-titik lemah anatomi manusia. Namun ilusi diciptakan dengan sangat baik dengan menirukan kekuatan ayahnya. Sehingga yang terlihat oleh Arthur adalah Glerand mampu menghindari semua serangan Arthur. Bahkan lelaki itu sama sekali tidak menyerangnya balik dan tidak pula menggunakan tenaganya sekalipun. Sangat berbeda dengan Arthur yang menyerangnya dengan semua kemampuannya. Beberapa kali kali Arthur terlihat agak oleng dan kesulitan dalam menggerakkan tubuhnya sesuai dengan pikirannya. Mungkin itu dikarenakan tehnik yang dia gunakan saat ini tidak seimbang dengan kekuatan yang dia miliki setelah kelahirannya kembali ini.
“Sial!” Arthur mengumpat. Tidak dapat dipungkiri saat ini tubuhnya sama sekali tidak terlatih dengan baik. Hingga dia merasa bahwa tubuhnya bisa saja pingsan karena dia telah mengeluarkan terlalu banyak tenaga mental. Benar saja, terus menyerang membuatnya kelelahan dan terduduk bertumpu pada pedang kayu yang berada di tangan kanannya.
“Kenapa? Apa kau merasa akan menyerah? Aku bahkan belum menyerang balik.” ilusi Glerand memprovokasi.
Arthur mengatur pernafasannya. Sangat sial baginya karena terlahir kembali pada hari dimana dia harus melakukan tes ini. Saat ini jelas tubuhnya sama sekali tidak pernah digerakkan dengan benar. Dan makanan yang dia makan sudah pasti tidak terlalu baik dikarenakan saat di mansion Duke, dia tertekan dengan ejekan para pelayan yang membuatnya tidak nafsu makan. Jelas ini adalah tubuh kekurangan nutrisi.
Arthur akan memikirkan hal itu nanti. Saat ini jelas tidak ada pilihan lain selain menyerang. Dia tidak boleh menyerah atau dia akan keluar dengan rank terburuk pada tes ini. Dia sudah pernah menjadi pecundang sekali, dan dia bukan orang bodoh yang akan mengulangi hal itu lagi.
“Aku pasti mengalahkanmu!” Arthur melompat melayang di udara, membalikkan badannya dan memijakkan kakinya tepar di pundak ilusi Glerand. Dengan gerakan cepat, dia melayangkan tinju pada kepala , pundak, dan punggung Glerand .Terakhir dia melakukan serangan dengan menggunakan pedangnya mengincar lutut belakang Glerand saat tubuhnya mendarat di tanah. Benar saja, serangan itu berhasil membuat satu kaki Glerand terduduk. Arthur tidak berpuas diri, mengambil kesempatan dengan Glerand yang tengah terduduk, Arthur mulai mengumpulkan mana yang ada di sekitar. Tentu saja itu hanyalah mana ilusi yang justru lebih mudah dari mana asli dari alam yang harus dikumpulkan oleh tubuh.
Semua mana itu dia kumpulkan dan pusatkan pada pedang kayu miliknya. Ilusi itu cerdas, sosok Glerand tampak bangkit dan mulai menanggalkan wajah wibawa ayahnya. Kini ilusi Glerand benar-benar terlihat datar layaknya robot. Kali ini ilusi Glerand mulai menyerang balik dirinya dengan melayangkan tinju pada Arthur dan berusaha menggagalkan mana itu terbentuk di tangan Arthur. Arthur menghindari serangan Glerand dengan baik dan berusaha menstabilkan mana yang sedikit demi sedikit terbentuk.
“Sial! Berapa lama lagi ini terbentuk? Kenapa tubuh ini lemah sekali sih?” sekali lagi Arthur melompat menghindari serangan dari ilusi ayahnya. Meskipun ini hanya ilusi, namun alat sihir membuatnya mengkonsumsi mental para siswa sehingga rasa sakit saat terkena serangan pasti akan terasa dua puluh persennya. Tetap saja itu rasa sakit, dan Arthur tidak mau merasakan hal itu.
Akhirnya mana yang dia kumpulkan sudah cukup, Arthur sengaja menjauh dari sosok Glerand untuk memadatkan mana. Saat mana terbentuk sempurna, Arthur mulai berlari menghampiri Glerand dan dengan satu dorongan, Arthur melepaskan tembakan mana tepat di jantung Glerand.
Suara ledakan itu sangat keras hingga Arthur merasakan telinganya berdengung. Tubuh ilusi Glerand terlihat berlubang tepat di posisi jantung. Lambat laun sosok itu mulai menjadi kepingan-kepingan hologram disusul dengan tempat itu yang kembali menjadi ruangan hampa. Lalu jendela pesan mulai muncul di tengah-tengah udara. Tulisan dan suara robotik terdengar disertasi satu set lengkap pakaian Arthur dan barang bawaannya yang muncul di udara dan terjatuh dengan rapi di hadapannya. Sihir ilusi pakaian yang menyelimutinya kini perlahan menghilang dan menampilkan sosok Arthur tanpa sehelai benang sekalipun.
[selamat kepada siswa Arthur, kamu berhasil memenangkan pertarungan ini. Pintu akan segera terbuka oleh sistem , harap segera memakai pakaianmu setelah hitungan mundur ke sepuluh.] sistem lalu mulai menghitung mundur.
Arthur segera memakai pakaiannya secepat yang dia bisa. Sekarang Arthur paham kenapa siswa laki-laki dipisah dengan siswa perempuan. Ini mungkin akan menjadi hari terburuk sepanjang sejarah jika kita tidak memakai pakaian dengan tepat waktu saat sistem membuka pintu alat tes tanpa sedikitpun kelonggaran.
pintu tes berbunyi.
Pintu ruang tes benar-benar terbuka disaat Arthur selesai memasang kancing seragamnya. Baru saja Arthur hendak melangkahkan kakinya keluar, ratusan sihir cahaya dari kamera ponsel maupun kamera reporter menyerbu dirinya. Arthur terpaku, bingung dengan situasi saat ini. Namun begitu Arthur membalikkan tubuhnya, dia segera mendapatkan jawabannya.
“Ini…apa yang sebenarnya terjadi?”
[nama pengguna : Arthur
Departemen terdaftar : Chronos
Stat kelas saat ini : S
Optimalisasi skill awal : Rank- SS
Penilaian skill : SS
Skill khusus : hidden]
“Oh sial! Sepertinya aku mengundang masalah.” Arthur berteriak dalam hati.
“Cepat rekam itu! segera tulis ulasan hari ini! Jangan sampai kita keduluan dengan reporter lain!”
“Aku mencatatnya! Aku mencatatnya! Jangan berteriak saja! Kau harus fokus merekam!”
Semua jatuh dalam kegaduhan dengan tulisan pada papan informasi hologram dari alat pengujian bakat milik Arthur. Disana jelas tertulis Arthur—bakat yang terbangun rank—SS. Rank-SS! Bahkan selama seratus tahun Asternal berdiri bakat itu sama sekali belum pernah muncul.
Bahkan Julian tidak dapat lagi menahan dirinya untuk tidak berdiri. Dia seakan tidak percaya bahwa sosok yang dikenal luas sebagai sampah Asternal merupakan kini menunjukkan bakat sebagai Rank—SS!
“Arthur…dia tidak mungkin adikmu kan?” Eugine masih tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
“Kenapa kau menahan semua cacian untuk menyembunyikan bakatmu?” Julian memutar permata merah pada cincin di ibu jari milik Julian bersinar. Semua rekaman tentang adiknya dari awal hingga akhir tidak ada satupun yang terlewatkan, telah dia transmisikan pada ayahnya.
“Eugine, bantu aku menemui dekanmu.” Kata Julian. Dia berdiri lalu melihat bahwa adiknya saat ini tengah dikerubungi oleh teman-temannya. Jika para reporter tidak dihalangi oleh sihir penghalang yang ada di arena, kemungkinan mereka saat ini akan langsung masuk ke aula untuk menyerbu adiknya.
“Untuk apa kau menemui dekanku?”
“Untuk apa lagi? Aku harus melihat bagaimana adikku melewati tes bukan?”
“Oh aku mengerti. Baiklah ayo ikuti aku.” Eugine berdiri dari duduknya. Sepertinya hari ini akademi tidak akan menjadi membosankan lagi.
Disisi lain di sebuah ruangan bernuansa hitam,
berbanding terbalik dengan kehebohan yang terjadi di akademi, sosok yang duduk di kursi itu tampak tenang seolah sudah mengetahui segalanya.
“Apakah itu SS?” pemuda itu duduk dengan malas menunggu jawaban.
“Sesuai prediksi anda tuan, memang ada bakat SS disana, namun anehnya justru itu dimiliki oleh anak sampah dari Dewantara.”
Bola kristal yang dipegang pemuda itu masih bersinar lalu meredup perlahan, “ Ramalanku tidak akan pernah salah. Awasi dia.” katanya sambil melemparkan bola kristal itu dalam saku.