“Ho? Kau cukup tangguh untuk ukuran seorang manusia.” Balbark menekan ujung dagu Arthur.
Dengan ukuran telapak tangan Balbark yang bahkan dapat menutupi sebuah pohon berumur ratusan tahun, jelas wajah Arthur seperti seekor semut. Mungkin saja gambaran semut masih terlalu tinggi dari sudut pandang Balbark. Sebagai eksistensi terkuat dari pimpinan semua monster yang ada di bumi ini, penampakan Balbark dapat dikatakan sangat baik. Wujud fananya adalah sosok lelaki tampan dengan rambut biru panjang dengan mata biru safir yang menyala merah di kegelapan malam. Kulitnya terang terlihat terawat dan di tengah dahinya akan ditemukan sebuah simbol seperti cinabar berbentuk teratai merah. Jika tidak melihat bagaimana ukuran dia yang terlampau besar, mungkin bahkan jika dia adalah mahluk terkejam di dunia ini, akan banyak wanita yang bertekuk lutut dibawah kakinya untuk melayaninya. Namun hanya Arthur yang tahu bagaimana buasnya wujud asli dari iblis ini.
Balbark adalah keturunan setengah dewa dengan seekor naga. Dia memiliki wujud naga berwarna hitam dengan ekor biru dengan tubuh besar dan duri yang melingkari hampir di seluruh tubuhnya. Balbark memiliki sepasang mata yang memancarkan kebanggaan dan kesombongan. Sebagai eksistensi terkuat di dunia ini, tidak heran dia memiliki alasan untuk menjadi angkuh. Di alam khayangan, dia dibuang oleh ayahnya sendiri—Dewa langit dikarenakan darah naga yang mengalir di tubuhnya dianggap najis oleh bangsa langit. Namun meskipun begitu dia tetaplah keturunan Dewa. Dimana meskipun terbuang di dunia fana, Balbark memiliki kekuasaan penuh atas dunia. Bahkan jika di menginjak-injak manusia sekalipun, dewa langit hanya akan menutup mata. Mungkin dewa langit hanya akan meminta dewi pencipta menciptakan peradaban baru sebagai pengganti manusia yang telah punah.
“hm…aku mencium kekuatan suci yang cukup besar dari tubuhmu. Seperti aroma orang itu.” Balbark membuat tubuhnya mengecil hingga seukuran Arthur tanpa melepaskan cengkeramannya pada dagu pemuda itu dia berkata,
“Pantas saja kau dapat mengambil separuh jantung nagaku dengan sosok fanamu. Ternyata kita memiliki darah yang sama. Ah, sayang sekali.”
Mata Arthur menyusuri sosok mahluk didepannya. Dengan wujud fana dan ukuran tubuhnya ini, tidak akan ada yang menyangkal bahwa sosok didepannya memanglah keturunan dari setengah dewa. Namun sangat berbanding terbalik dari penampilannya, sifat mahluk didepannya bahkan lebih kejam dari iblis sekalipun.
“Ho? Aku rasa orang itu juga berhubungan dengan kaum manusia? Sangat menjijikkan.”
“Aack!” Arthur memekik saat tangan Balbark tiba-tiba saja mengencang. Ada setetes darah yang merembes keluar dari dagunya ketika kuku Balbark merobek kecil di atas kulit dagunya.
“Lemah! Sangat lemah! Andai saja kau menyadari kekuatanmu lebih awal, mungkin pertarungan ini akan lebih baik.”
Benar, Arthur sadar akan hal itu. jika saja dia tidak berputus asa saat dia berada di akademi hanya karena ejekan teman dan keluarganya, harusnya dia lebih banyak berusaha saat dirinya dikatakan lemah, harusnya dia dapat menyadari ada atau tidak ada kekuatan dirinya itu tidak berarti dia harus menjadi pengecut bersembunyi dibelakang adiknya—Adele. Bahkan dengan kematian Adele, nyatanya tidak serta merta menjadikan Arthur berani untuk melawan takdir. Benar, dia hanyalah seorang pengecut.
“Arck!” sekali lagi Arthur merintih. Kali ini kuku panjang milik Balbark mulai menusuk daerah sekitar pipinya. Rasa sakit yang menyengat membuat Arthur kembali pada kenyataan saat ini.
“Kau berani manusia! Kau berani memikirkan hal lain disaat aku merendahkan diriku untuk menjadi bentuk sepertimu.”
“Apa kau yakin kau lebih tinggi dari kami?” Arthur mengelak. Meski dalam wujud manusia, sosok Balbark tetaplah mengeluarkan nafas yang panas yang membuat luka di wajah Arthur memerah hampir mengelupas. Itu terasa sangat sakit.
“hm?” Balbark tampak berpikir. Lalu menjawab dengan serius,
“Jika itu kau, mungkin tidak. Mungkin kau adalah serangga besar yang menjijikan dimataku. Meskipun kekuatan suci orang itu ada di darahmu, kau tidak bisa sombong karena kau gagal untuk memanfaatkannya.”
“Sebagai seorang iblis kau terlalu banyak bicara!”
Tangan Barbalk kini berpindah pada leher Arthur—mencekiknya. Bahkan dengan tekanan cekikan itu, Arthur bersumpah dalam hatinya untuk tidak berteriak. Di dalam hatinya Arthur menanamkan diri bahwa jika dia mati saat ini, setidaknya dia telah berhasil merenggut setengah dari jantung naga yang menjadi sumber kekuatan Balbark. Tanpa setengah jantung naga itu, Balbark jelas bukanlah eksistensi yang paling berkuasa lagi. Mungkin saja setelah kematiannya dan jasadnya telah melebur di dalam tanah, akan ada sosok yang lebih kuat dari Balbark yang akan melawan Balbark.
“Aku…ber…sumpah…bahkan jika aku terlahir kembali, jantungmu tetap akan separuh…ackh!”
“Sungguh banyak bicara. Meskipun kalian dapat memperpanjang hidup kalian seratus tahun, itu tidak memungkiri bahwa umur kalian sangat pendek dibandingkan kami.” Balbark melemparkan sosok Arthur yang sekarat.
Dalam penglihatan Arthur, dia masih melihat senyum bengis Balbark ketika dia merubah sosoknya menjadi sosok naga bersayap dan pergi meninggalkannya sendirian tanpa berbalik.
Arthur tersenyum lemah. Bahkan saat kematiannya sekalipun, dia tidak dapat berkumpul dengan teman-temannya yang telah berjuang bersama dengannya. Teman-temannya telah menjadi tameng untuknya dengan mengorbankan nyawa agar dia dapat merebut dan mengambil setengah jantung Balbark yang disimpan di gua labirin dengan harapan mereka dapat mengalahkan mahluk itu. Namun pada akhirnya itu hanyalah khayalan mereka saja.
Pada akhirnya Arthur tetaplah tidak dapat mengalahkan Barbalk. Dan kini, di detik-detik kematiannya, Arthur menyadari satu hal, walaupun teman-temannya telah berkorban nyawa untuknya, untuk umat manusia, pada akhirnya mereka dapat mati secara bersama-sama dalam satu kuburan. Sedangkan dia, tetaplah menjadi Arthur yang kesepian…
“Aiden, Patrick, Adele, Simoc, Lohan, Patricia, aku berharap dunia setelah kematian aku dapat bertemu dengan kalian lagi.”
Saat Arthur menutup matanya. Sebuah sinar yang sangat terang keluar dari jantungnya dan melingkupi seluruh tubuhnya. Sinar itu seolah berkecamuk dan melahap tubuh Arthur dengan girang hingga tubuh Arthur hilang tak tersisa.
***
Di sebuah ruangan serba putih, beberapa barang yang tampak masih berantakan, dan beberapa baju masih berada di dalam koper. Kamar itu diisi dengan empat kasur lipat yang secara otomatis akan melipat sendiri jika tidak ada orang yang menempati. Semua barang yang ada di dalam kamar itu tampak masih belum tertata rapi. Bahkan kamu akan dapat menemukan kaus kaki lusuh yang berada di belakang pintu kamar dengan bau yang tidak sedap. Hanya ada satu tempat tidur yang terbuka . Diatas tempat tidur lipat berbaring seorang pemuda jangkung dengan rambut biru. Pemuda itu masih mengenakan seragam lengkap dengan tag nama ‘Arthur Dewantara’ bahkan kaus kaki masih membungkus dikedua kaki lelaki itu. Entah pemuda itu pingsan, atau mungkin saja hanya tertidur karena kelelahan. Namun yang jelas ada jejak biru keunguan di pipi sebelah kanan pemuda itu yang hampir memudar. Perlahan-lahan, mata pemuda itu terbuka. Pemuda itu termenung beberapa saat merasa aneh dengan keadaan disekitarnya.
“Apakah ini langit?” Arthur bertanya pada dirinya sendiri. Dia terkejut menyadari kedua tangannya jauh lebih kecil dan warna kulitnya tampak kusam. Butuh beberapa saat bagi Arthur untuk menyadari bahwa ini adalah tahun pertama dia bergabung di akademi Olympus. Sebagai siswa tahun pertama di akademi Olympus, para siswa diwajibkan untuk tinggal di asrama sekolah dengan dua kali kesempatan untuk pulang kerumah masing-masing. Hal itu dimaksudkan agar para siswa tidak akan terpengaruh dunia luar saat menjadi siswa ujicoba sebelum masuk ke jurusan yang sesuai dengan bakatnya di tahun kedua.
Sebuah bunyi terdengar tanda pesan masuk pada ponselnya. Masih dalam keadaan linglung Arthur meraih ponsel tak jauh dari meja tempatnya berbaring, disana jelas tertulis nama ‘Adele’ dalam pesan chat yang masuk.
“Adele!” Arthur tidak menyangka bahwa sosok adik angkatnya itu adalah orang yang memberinya pesan. kenyataan itu membuat Arthur terperanjat dari tidurnya dan langsung mencubit dirinya sendiri. Ada rasa sakit pada bekas cubitan dirinya, namun dia masih belum mempercayainya. Dengan segera Arthur turun dari tempat tidur. Saat dia turun, tempat tidur secara otomatis melipat sendiri dan masuk kedalam sebuah kotak di dalam dinding. Arthur melihat hal itu dengan takjub. Bukan karena betapa canggihnya teknologi yang ada di depannya, namun dalam sudut pandang Arthur yang telah hidup selama hampir dua ratus tahun berkat bantuan dari ramuan dan ujicoba lab, teknologi kasur otomatis ini jelas hal yang sangat tua baginya.
Sekali lagi Arthur mencubit lengannya dengan tangannya sendiri. Rasa sakit yang dia alami benar-benar membuat Arthur percaya bahwa dia memang terlahir kembali. Namun untuk apa dia terlahir kembali? Pada dasarnya dunia ini memiliki hukum Gaia. Dimana dia telah mempelajari cara kerja dunia ini dimana akan selalu ada sebab dalam sebuah akibat. Dan ada sebuah alasan dalam sebuah sebab. Hanya bagaimana dia dapat terlahir kembali? Dia ingat dia sama sekali tidak memiliki artefak atau apapun itu yang dapat membuatnya terlahir kembali. Bahkan dengan darah ayahnya yang merupakan salah satu orang langit, itu tidak akan menembus batas umur sebagai seorang manusia.
Tiba-tiba , Arthur memikirkan sesuatu,
“Mungkinkah karena setengah jantung Balbark?”
Arthur memegang jantung yang berada di sebelah kirinya, mencoba merasakan dan mencari hal yang mungkin saja aneh pada tubuhnya. Pada pertarungan terakhir, alih-alih menghancurkan jantung Balbark, dirinya lebih memilih menelan setengah jantung itu karena takut Balbark akan kembali mengambil setengah jantungnya. Hal itu karena jantung itu memiliki kekerasan melebihi Adamantium yang bahkan tidak dapat dihancurkan dengan pedang miliknya. Itu adalah jantung dengan dengan warna cerah seukuran telur merpati. Arthur ingat bahwa dia memilih menelan setengah jantung itu sebelum Balbark menemukannya dan membunuhnya setelah membunuh semua teman-temannya.
“Mungkinkan jantung itu yang membuatku terlahir kembali?” Arthur masih tidak mempercayai fenomena yang misterius ini. Dulu dia selalu berpikir bahwa kelahiran kembali hanyalah sebuah omongan kosong. Di Asternal , ilmu pengetahuan merupakan dewa kedua bagi para penduduk. Sehingga banyak sekali semboyan yang berkaitan dengan buku. Salah satu semboyan itu adalah jika aku mati pada cerita ini, maka dilembar berikutnya aku harap dapat menulis kisah lebih baik dari yang saat ini aku tulis.
Atau sebuah ungkapan seperti,
“ada kalanya penulis adalah pembaca, jika dia tidak puas dengan apa yang dia tulis sebagai pembaca, maka dia dapat kembali membaca halaman depan dan mengubahnya menjadi lebih baik.”
itu adalah beberapa ungkapan panjang yang menggambarkan bahwa orang – orang disini percaya bahwa meskipun mereka para manusia hanya dapat hidup beberapa abad, namun mereka adalah mahluk yang lebih hidup panjang bahkan dari dewa sekalipun dengan reinkarnasi. Awalnya Arthur selalu menentang hal itu. Bagaimanapun eksistensi manusia memang memiliki keterbatasan umur dibandingkan mahluk-mahluk lain seperti iblis, dewa, dan bahkan Elf yang terendah sekalipun.
“Hei kau anak baru! Apa kau tidak mendengar bahwa semua siswa tahun pertama harus segera berkumpul?”
Seorang pemuda dengan seragam lengkap berkacamata meneriakinya dari lorong asrama. Arthur terpana. Tidak mungkin bagi dirinya melupakan sosok itu. sosok tinggi berambut hitam legam dengan kacamata yang khas. Buku catatan yang selalu dibawanya kemana-mana tidak pernah menutupi daya tarik pemuda itu. Aiden Orlendo—wajah yang tidak pernah Arthur lupakan. Meskipun sosok itu jelas jauh lebih muda dari ingatan terakhir yang dimilikinya, namun ketegasan dan kesan ‘kutu buku’ tidak pernah berubah sekalipun.
“Aiden! Aku sangat merindukanmu!” Arthur yang tiba-tiba saja berlari dan melompat memeluk Aiden, membuat tubuh pemuda berkacamata itu kaku tanpa dapat menghindari pelukan Arthur.
“Kau! menjauh dariku!” gertaknya pada wajah Arthur.
Oh! Arthur melupakan bahwa Aiden adalah sosok dengan penderita OCD terhadap kotor saat masa remajanya. Arthur mencium bau tubuhnya, dan saat ini Arthur yakin dirinya butuh mandi.