Setelah membersihkan diri, Arthur kembali keluar kamar dengan Aiden yang sudah pergi meninggalkannya. Mungkin pemuda itu tengah membersihkan diri. Mengingat bagaimana parahnya pemuda itu terhadap kebersihan. Bahkan dulu ketika mereka dewasa dan menjadi rekan, kebiasaan Aiden tentang kebersihannya yang membuat kepala Arthur sakit kepala. Bayangkan ketika kau telah selesai membersihkan dungeon, saat itu Aiden sama sekali tidak memperbolehkannya memasuki rumah sebelum dirinya benar-benar menghilangkan bau darah para monster di tubuhnya. Namun saat Aiden mati, justru hal itulah yang paling Arthur dan kawan-kawan mereka rindukan.
Di kehidupan sebelumnya, Aiden telah mati lebih awal dikarenakan serangan rahasia dari keluarga kerajaan yang ingin mencuri temuannya tentang memperpanjang umur manusia. Keluarga kerajaan ingin memperkerjakan Aiden, namun Aiden menolak hal itu dikarenakan pengetahuannya tentang bagaimana busuknya keluarga kerajaan bekerja dan memilih untuk bekerja di bawah naungan Asosiasi kimia.
Temuan Aiden jelas akan menjadi hak milik Asosiasi kimia dan akan dipergunakan untuk semua kalangan termasuk warga biasa. Meningkatkan kualitas hidup para warga jelas akan menjadi sumbangan terbaik bagi umat manusia. Namun keluarga kerajaan memiliki pemikiran lain. Kebanyakan dari mereka tidak ingin hal itu terjadi. Mereka ingin hanya darah bangsawanlah yang berhak untuk memperpanjang hidup mereka. Dengan keinginan egois mereka untuk selalu dipandang atas semua warga. Karena hal itulah keluarga kerajaan menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Aiden setelah mencuri ramuan yang telah dikembangkan Aiden.
Namun Aiden ternyata mengetahui hal itu terlebih dahulu. Saat itu Arthur yang tengah dalam misi menyelesaikan dungeon seorang diri untuk meningkatkan kekuatannya, mendadak mendapatkan pesan singkat dari Aiden yang menyuruhnya untuk datang ke markas tersembunyi mereka yang merupakan rumah peninggalan nenek Aiden. Saat sampai disana, Arthur sama sekali tidak menemukan pemuda itu. Namun dia mendapatkan pesan singkat satu kali baca bahwa dia harus membawa sebuah kotak yang berada di ruang bawah tanah rumah tempat penyimpanan wine. Arthur sangat terkejut saat menemukan bahwa itu adalah rumus dari ramuan untuk memperpanjang hidup manusia.
Saat itu Arthur merasakan firasat yang tidak enak. Dan ternyata firasatnya benar. Saat dia sampai di kediaman dia dan Aiden, dia menemukan tubuh Aiden meninggal bersimbah darah. Bahkan Arthur menemukan salah satu jari Aiden menghilang karena dipotong. Kemungkinan hal itu dilakukan oleh pembunuh itu untuk menempelkan sidik jari milik Aiden pada brankas pribadi Aiden. Kemungkinan mereka melakukan hal itu untuk menemukan formula yang telah diciptakan sahabatnya itu.
Arthur merasakan matanya panas mengingat kejadian itu. Dia sangat bahagia bahwa dia dapat terlahir kembali dan bertemu dengan Aiden. Meskipun pemuda itu jelas tidak akan mengingat masa lalunya, tidak menjadi masalah bagi Arthur. Dia tahu sifat lelaki itu yang lurus dan selalu membela warga sipil meskipun dia adalah anak dari seorang penasihat kerajaan. Kedekatannya dengan Aiden dulu juga dikarenakan dirinya yang berkali-kali secara tidak sengaja membantu warga sipil yang membutuhkan bantuan. Di kehidupan keduanya ini, Arthur bersumpah bahwa dia tidak akan menjadi pengecut dan melindungi semua orang yang telah menyayanginya dengan tulus.
Saat Arthur datang ke dalam aula Akademi, ratusan murid telah banyak berkumpul dengan membentuk kelompok-kelompok kecil. Arthur baru sadar setelah mengamati beberapa saat bahwa kebanyakan dari mereka dari daerah yang sama, atau latar belakang kedua orang tua yang sama. Sehingga sepertinya hanya Arthur yang datang ke Akademi ini benar-benar seorang diri. Entah kenapa dia merasa kasihan pada dirinya di masa lalu.
Arthur langsung menyapukan pandangannya untuk mencari keberadaan Aiden diantara kerumunan. Bagaimanapun untuk saat ini Aiden adalah sahabatnya dimasa lalu yang lebih mudah untuk di dekati dibandingkan dengan yang lain. Lama Arthur menyapu ratusan murid, akhirnya dia dapat menemukan sosok Aiden yang berada jauh dari kerumunan. Arthur bahkan ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat Aiden mengenakan sepasang sarung tangan karet lengkap dengan cairan pembersih guna menghindari sentuhan dengan orang lain. Arthur akan melangkah mendekati Aiden sebelum sebuah suara dari belakang memanggilnya.
“Kakak!”
“Adele?” Arthur dapat melihat sosok jauh lebih muda dibandingkan ingatannya di masa lalu. Adele adalah anak dari mendiang raja terdahulu yang dititipkan pada keluarganya sedari kecil. Dia adalah gadis yang dua tahun lebih muda darinya. Namun dikarenakan kejeniusannya, Adele saat ini sudah dapat masuk setara dengan dirinya di bangku menengah pertama. Dia masih Adele manis seperti dalam ingatannya. Sosok gadis berambut emas panjang, dengan mata biru laut menawan. Dua buah lesung pipi yang akan terlihat ketika gadis itu mengangkat suaranya membuatnya terlihat sangat manis. Bahkan jika dia merupakan gadis termuda diantara para siswa. Sosoknya yang tinggi hampir mencapai telinganya itu sudah memiliki beberapa pasang mata pemuda yang tertarik padanya. Arthur mendadak merasa posesif untuk melindungi adiknya. Bagaimanapun diantara pasang mata yang melirik Adele, dia tahu bahwa ada b******n yang memandang Adele sebagai tatapan menjijikkan, bukan kekaguman.
“Kakak, kenapa kau tidak membalas pesanku?” Adele memasang wajah cemberut.
“Oh?” Arthur sungguh melupakan hal itu.
“Ponselku mati saat aku akan membuka pesanmu.” Arthur segera memberikan alasan selogis mungkin.
“Kakak bohong.” wajah Adele lebih cemberut.
“Aku tidak.” sangkal Arthur.
“Ya! Kakak melakukannya. Jika kakak berbohong mata kakak tidak akan pernah melihat kearahku.”
Haruskah aku memberinya hadiah atas kecerdasan adikku?
Arthur merasa kalah dengan bagaimana jelinya adiknya.
“Baiklah aku salah, aku harus mempersiapkan banyak hal karena aku datang terlambat di asrama ini.”
“Benarkah?” tatapan Adele tampak menyelidik, namun hal itu berubah menjadi keterkejutan ketika dia merasakan sapuan telapak tangan Arthur pada puncak kepala gadis itu.
“Acara akan segera dimulai. Sebaiknya kau segera ke kelompok jurusanmu agar tidak terlambat.” Arthur menghentikan usapannya dan tersenyum sebelum melanjutkan,
“Aku harus menemui temanku terlebih dahulu. Nanti aku akan menemuimu atau membalas pesanmu.” tanpa menunggu jawaban dari Adele, Arthur segera berjalan menyibak kerumunan menuju tempat dimana Aiden berada. Adele hanya melihat Arthur berbalik sekali hanya untuk memberikan senyuman yang ditujukan padanya atau bahkan untuk Prisilia—tatapan mata kakaknya yang membuatnya ambigu dengan siapa lelaki itu tersenyum.
“Apakah itu kakakmu?” seorang gadis berambut blonde yang berada di belakang Adele bertanya. Menyadarkan Adele dari keterkejutannya.
“Iya.” jawab Adele tidak yakin.
“Aku pikir kau mengatakan bahwa dia adalah lelaki pemalu dan kau takut dia tidak dapat membaur dengan temannya di akademi. Tapi aku rasa dia lelaki yang ramah?”
“Iyakan? Dia terlihat ramah dan mudah bergaul?” Adele balik bertanya. Sesungguhnya dari awal Arthur menanggapinya, Adele sudah merasakan hal aneh pada sosok kakaknya itu. Arthur dalam ingatannya adalah sosok pemuda yang pemurung yang selalu mengisolasi diri bahkan dari keluarganya sekalipun.
“Apa aku sedang berhalusinasi?” Adele menyentuh bagian yang telah disentuh oleh Arthur. Perasaan hangat dari pemuda itu masih tertinggal di atas kepalanya. Benar-benar memberikannya sebuah kehangatan seorang kakak yang seolah akan melindungi adiknya. Tidak akan pernah berpikir bahwa selain menanggapinya, pemuda itu juga mengelus puncak kepalanya.
“Aku tidak tahu apa yang ada di isi kepalamu, tapi kita harus segera pergi ke tempat pengujian bakat untuk mengambil kelas kita besok.”