BAB 3 menyatukan anggota lagi

1152 Words
Cukup sulit bagi Arthur untuk sampai pada tempat dimana Aiden berada. Lelaki itu memang sangat pandai menemukan tempat terpencil diantara ratusan siswa yang berkerumun. Untung saja gaya berpakaian lelaki itu sangat mencolok. Pemuda itu akan memakai seragam lengkap khas pemuda terpelajar dengan sepasang sarung tangan karet. Jadi walaupun Aiden sengaja menyembunyikan diri dari kerumunan, namun pada dasarnya lelaki itu justru akan semakin kelihatan mencolok diantara kerumunan. “Hai!” Aiden reflek bergerak mundur menghindari ketika tangan Arthur hampir menyentuh pundaknya. Hidungnya mengendus, seolah sedang meneliti aroma untuk beberapa saat sebelum akhirnya tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya menatap Arthur dengan tatapan antara heran, aneh, dan kesal dengan pemuda di depannya ini. Aiden memiliki kemampuan fotografi yang baik. Dia dapat mengingat dengan baik orang, tempat, dan bentuk tanaman hanya dengan sekali melihat. Dan Aiden ingat jelas pemuda di depannya adalah manusia sama yang membuatnya harus mandi lagi karena bau keringat yang di tinggalkannya setelah kontak pelukan tadi. “Aku rasa kita tidak saling mengenal.” ucap Aiden. Tubuhnya secara tidak sadar menjaga jarak dari Arthur. Kewaspadaannya di tingkatkan. Kakaknya—Eugine adalah jenius di bidang penelitian formula sihir, dan itu membuatnya menjadi sasaran anak-anak untuk mendekatinya dan berlagak teman lama. Aiden sangat membenci hal itu. “Karena itu ayo berkenalan! Aku Arthur!” tangan Arthur terulur namun Aiden hanya melihatnya tanpa berniat untuk menyambut balik. Arthur tidak terlalu memikirkannya. Aiden memang seperti itu. lelaki itu hampir dikatakan anti sosial dan sulit untuk dapat berteman. Jika dulu Arthur secara tidak sengaja banyak membantu warga sipil, dapat dipastikan Aiden bahkan tidak akan meliriknya. “Baiklah, jika kau tidak mau untuk berkenalan. Tapi kita akan menjadi teman satu kamar, satu departemen, dan satu visi.” “Siapa yang mengatakan aku akan masuk pada departemen Invac?” balas Aiden “Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa. Tapi kau, seharusnya kau tahu dimana seharusnya bakatmu berkembang. Tidak perlu memikirkan perkataan orang. Jangan jadikan itu tekanan hingga membuatmu menyerahkan bakatmu.” Arthur ingat dimasa lalu pada semester awal Aiden memilih untuk tidak masuk di departemen Invac dikarenakan dia tidak ingin dibandingkan dengan kakaknya—Eugine yang merupakan seorang jenius. Dia paling membenci dipanggil Adik dari jenius Eugine , atau orang akan memandangnya terlalu tinggi untuk menjadi sosok yang setara dengan kakaknya hingga membuatnya tertekan. Saat ini Arthur tidak akan membuat Aiden memilih departemen yang salah hingga membuatnya tertinggal. Dia harus membuat Aiden masuk ke departemen Invac lebih awal dan bertemu dengan Jakayla—ketua asosiasi kimia. Jakayla pasti akan melihat bagaimana jeniusnya Aiden dan akan membantunya dalam penelitiannya. Pada kehidupannya yang dulu, Aiden pernah mengatakan bahwa penyesalan terbesarnya adalah tidak masuk dalam departemen Invac dan melewatkan bertemu Jakayla sehingga penelitiannya terhambat. Jika Arthur tidak salah ingat, Jakayla seharusnya akan datang ke akademi pada pertengahan musim dingin tahun ini. “Gila.” Aiden meninggalkan Arthur untuk lebih dekat dengan tes pengujian bakat. Sirene yang bergema di aula menjadi tanda bahwa tes akan segera dimulai. “Hei! Jangan meninggalkan aku! Ayo kita pergi bersama!” Arthur berteriak lalu menyusul sosok Aiden yang seolah – olah ingin melarikan diri darinya. “Teman sekamar, kau tidak sopan meninggalkan teman seorang diri.” Aiden berpura-pura tidak mendengar ucapan Arthur dan terus berjalan mengikuti beberapa siswa yang di depan. Dalam hati dia bertanya asal mula lelaki tidak tahu malu ini. “Teman sekamar, kau salah jalan. Untuk tes pengujian bakat lelaki jalannya ada disana.” Arthur menunjuk arah berlawanan dari arah mereka berjalan. Saat Aiden melihat arah yang ditunjukkan Arthur, dia menghentikan langkahnya. Ada rona merah samar di pipi Aiden saat menyadari bahwa dia memang salah jalur. Dia baru saja tiba satu minggu lalu. Dan semua kegiatan yang dia lakukan adalah ke perpustakaan Olympus untuk mempelajari beberapa tesis penemuan ramuan dari para senior. Sama sekali belum menyelidiki tentang tempat-tempat di akademi. Jadi dia tidak sadar justru mengikuti gadis-gadis yang berlawanan arah dengan tujuannya. Arthur terbahak , “ Teman sekamar, kau tidak perlu malu. Itu wajar karena mungkin kau lebih suka mempelajari jalan menuju perpustakaan.” Aiden mengerutkan kening. Beberapa kali pemuda disampingnya ini selalu mengucapkan kata yang membuatnya merasa familiar dan seolah dia sangat mengenal dirinya. “ Aiden.” bibir Aiden bergumam lirih. “Hah?” “Jangan memanggilku teman sekamar. Itu menyebalkan.” “Oh!” Arthur bertepuk tangan sekali ketika dia akhirnya paham apa yang dimaksud Aiden. Akhirnya pemuda ini mau memperkenalkan diri. “ Baiklah Aiden, mari kita menjadi sahabat seperjuangan dan bermain bersama!” Aiden merasakan tubuhnya merinding. Dengan cepat pemuda itu berbalik agak berlari menuju tempat pengujian bakat. Mungkin saja benar pikirannya di awal –pemuda bernama Arthur ini mungkin saja tidak memiliki kesehatan mental yang baik. *** Hal pertama yang akan dilakukan Aiden dan Arthur begitu sampai pada tempat pengujian adalah mendaftarkan data diri mereka pada alat sihir OP ( observation Personal). OP sendiri adalah alat sihir berbentuk manusia robot yang dijaga oleh satu petugas sekolah untuk mengumpulkan salinan data yang masuk dan memberikan batu Kristal sebagai bayaran untuk pengujian. Tentu saja batu Kristal itu tidak gratis, itu akan dikurangi dari uang yang tersimpan di kartu identitas secara otomatis. Ada dua Kristal yang digunakan untuk menguji bakat. Pertama adalah Kristal merah—yang akan menguji bakat fisikmu dan sihirmu. Yang kedua adalah Kristal ungu—yang dapat digunakan untuk melihat semua potensi yang ada pada tubuh. Termasuk masalah yang dialami dengan tubuh sehingga dapat memperbaikinya sedini mungkin. Tentu saja harganya sangat berbeda jauh. Satu Kristal merah itu berharga 100 pero. Sedangkan Kristal ungu memiliki harga 1000 pero. Untuk kalangan biasa 100 pero saja sudah cukup untuk menghidupi satu keluarga dengan lima orang selama satu bulan. Dapat dibayangkan betapa mahalnya Kristal ini. Yah, itu wajar mengingat Olympus adalah akademi terbaik setelah akademi Royal. Saat pertama kali mendaftar di akademi, murid akan diberikan kartu identitas diri elektronik yang berisi data diri siswa paling rinci. Selain sebagai tanda pengenal, kartu itu juga berguna untuk menyimpan data tugas, uang elektronik, dan poin prestasi yang berguna untuk membeli beberapa keperluan selama di akademi. Siswa tahun pertama diwajibkan untuk tinggal di asrama dan hanya diijinkan untuk pulang pada libur di awal musim dingin selama satu minggu. Pada tahun kedua, murid akan diberikan tugas untuk keluar akademi dan mulai diperkenalkan dengan dungeon. Dan pada tahun ketiga murid mulai akan diberikan kelonggaran untuk mengasah bakatnya dengan mengambil misi secara pribadi. Semua itu akan mendapatkan poin kontribusi yang dimasukkan menjadi prestasi dan akan dijadikan sebagai uang yang berguna untuk membeli semua hal yang ada di akademi yang kemungkinan sulit ditemukan di luar akademi. Pada dasarnya poin itu lebih mirip pengganti uang. Bagi keluarga kaya, mereka akan mudah mengisi ulang poin dengan menukarkan sejumlah pero yang merupakan mata uang Asternal dengan poin. Dulu Arthur selalu menggunakan cara itu untuk mendapatkan poin. Namun saat ini, Arthur bersumpah dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan poin dengan usaha kerasnya selama di akademi. Disaat Arthur termenung dengan rencananya di masa depan, tidak jauh darinya Arthur dikejutkan oleh suara yang tidak asing untuknya. Itu suara…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD