Ada belasan OP yang berjejer dengan antrian masing-masing pada setiap departemen. Didalam Olympus, ada tiga departemen yang cukup terkenal. Departemen Imbos yang merupakan departemen yang mempelajari mantra. Kedua Chronos merupakan departemen yang meneliti alat-alat sihir. Dan yang ketiga adalah Invac—departemen penelitan ramuan dan formula sihir.
“Kau sudah menentukan akan masuk ke departemen mana?” tanya Arthur. Dia melihat Aiden cukup bimbang saat akan melangkah dimana dia akan belajar. Jika Aiden masuk pada departemen Invac seperti dulu, maka Arthur akan berusaha keras membujuk pemuda itu untuk masuk pada departemen Invac.
Meskipun tahun pertama adalah tahun dimana siswa dapat pindah departemen jika dirasa tidak cocok, namun menemukan di awal bakatmu adalah yang terbaik. Arthur sendiri dulu memilih departemen Chronos dikarenakan dia tahu bahwa dia tidak memiliki bakat dalam sihir maupun ilmu pedang. Namun saat mendalaminya, Arthur sadar bahwa membuat alat sihir adalah bakatnya. Jadi di kelahirannya kembali ini dia akan memasuki departemen Chronos dengan sepenuh hati.
“Ya.”
Aiden tidak mengatakan apapun tentang departemennya. Namun dengan melihat langkah Aiden yang menuju pada barisan departemen Invac, Arthur merasa lega karena di kehidupan ini Aiden tidak melakukan hal bodoh seperti dulu.
“Aku kira dalam selebaran akademi menanggung semua biaya murid dengan nilai ujian tulis tertinggi.”
“Aku minta maaf, itu memang benar. Namun itu berlaku untuk biaya akomodasi selama kau di akademi. Namun untuk biaya batu Kristal pengujian bakat, itu murni dari pihak murid.”
Suara itu…Lohan Lewis!
Arthur tidak menyangka dia akan bertemu dengan sahabatnya di masa lalu secepat ini. Arthur memang berencana untuk mencari sahabatnya dimasa lampau setelah tes pengujian bakat ini. Namun tidak menyangka bahwa dia akan dipertemukan dengan Lohan lebih awal. Mendengar dari pembicaraan mereka, Arthur tidak dapat menahan rasa asam di hidungnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa Lohan dulu pernah mengalami hal seperti ini. Pantas saja dia terbilang lambat berkembang di akademi meskipun dia jenius. Itu mungkin saja karena Lohan tidak menemukan bakatnya lebih awal.
“Jadi apa kau ingin mengisi ulang poinmu untuk membeli Kristal ungu? Atau kau hanya akan membeli Kristal merah saja?”
“Dia akan ambil Kristal ungu. Kau dapat mengambil poin dari kartuku.” Arthur langsung menyodorkan kartunya menyela antrian. Banyak siswa dibelakang yang melakukan protes, namun Arthur tidak peduli. Mungkin disaat seperti ini dia dapat memanfaatkan nama Dewantara.
“Dan kau adalah?” raut wajah petugas wanita itu tampak tidak senang. Dia berpikir diperlukan tata karma yang baik pada generasi saat ini.
“ Arthur.” jawab Arthur pendek.
“Arthur?” petugas itu bertanya kembali. Hanya ada satu nama Arthur di Asternal, jika petugas itu pintar, maka dia akan tahu apa yang harus dilakukan.
“Oh!” petugas itu tampak menyadari identitas Arthur—wajahnya berubah ramah dalam sekejap.
"Baik tuan, silahkan masukkan kartu identitas anda kedalam mesin OP.”
Arthur segera memasukkan kartunya pada OP. Robot Ai dengan cepat memverifikasi data Arthur dan membuat salinan yang diambil oleh petugas.
“Ini dua Kristal ungu. Semoga harimu menyenangkan.” petugas memberikan dua kristal ungu pada Arthur.
Saat Arthur hendak memberikan Kristal itu pada Lohan, dia tidak menemukan pemuda itu sama sekali. Mata Arthur menyapu kerumunan dan barulah dia menemukan sosok Lohan yang berjalan tak jauh darinya. Arthur bergegas mengejar pemuda itu dan meneriakkan namanya.
“Kenapa kau tidak menunggu?”
“Darimana kau tahu namaku?” Lohan bertanya curiga
Oh! Arthur melupakan fakta bahwa saat ini mereka sama sekali belum saling mengenal.
“Tentu saja dari datamu tadi. Bukankah petugas menyebutkan namamu?”
Lohan tidak pernah merasa petugas itu menyebutkan namanya. Namun jika bukan begitu, tidak layak sosok dirinya diselidiki oleh keluarga kaya seperti Arthur.
“Ambil Kristal ungumu.” Arthur memberikan Kristal ungu itu pada Lohan, namun pemuda itu menolaknya,
“Aku tidak suka dikasihani.”
“Aku tidak memberikan cuma-cuma. Ini adalah hutang. Kau bisa melunasinya saat kau mendapatkan poin kontribusi begitu kau masuk departemen dan mulai belajar.” Arthur berkata.
“Kita tidak dalam hubungan dimana dapat saling mempercayai.”
Arthur merasa kepalanya sakit. Lohan dan pendiriannya. Dia memang pemuda dengan pendirian yang teguh! Ternyata dari remajapun dia sudah seperti ini. Mungkin karena dia yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan, Lohan terbiasa hidup mandiri dan tegas. Kenapa teman-temannya tidak ada yang normal?
“Dengarkan aku, bagaimanapun tes pengujian bakat ini sangat penting untuk kita semua. Dengan mengetahui keseluruhan potensimu, kau dapat belajar dan memilih metode yang tepat. Anggap saja aku berinvestasi padamu. Dengan hal ini, aku harap di kedepannya kau dapat membantuku dengan bakat yang kau punya.”
Lohan termenung. Sesungguhnya sosok Arthur adalah sosok yang dihindari oleh Lohan. Dimata Lohan, sosok Arthur terlihat seperti pemuda sembrono yang dimanjakan keluarganya yang dapat menghamburkan uang sesukanya. Mungkin juga dia bagian dari mereka yang senang menindas murid beasiswa dari kalangan biasa.
Tapi ketika Lohan memikirkan lebih jauh, perkataan Arthur ada benarnya. Saat ini dia tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli sebuah Kristal ungu. Bahkan untuk membeli Kristal merah, itu sama saja menghabiskan semua uang yang diberikan oleh ibu panti asuhan padanya. Dia tidak mungkin bisa hidup di minggu pertama di akademi tanpa uang sama sekali. Karena tugas kontribusi akan dibagikan seminggu setelah siswa memasuki kelas.
Disisi lain, jika dia tidak ikut tes pengujian bakat, dia akan sulit memilih metode yang cocok untuknya dalam berlatih selama di akademi. Rencananya hari ini dia akan menemui paman Bill—salah satu pedagang alat tempur untuk meminjam uang. Namun sepertinya hal itu tidak perlu dilakukan.
“Baiklah, aku akan menganggap ini sebagai hutang. Aku akan segera melunasinya. Katakan siapa namamu?”
Arthur tersenyum dan mengulurkan tangannya, “ Pilihan yang bagus. Kau dapat memanggilku Arthur.”
“Lohan Lewis.”
Aku tahu.
Arthur lega mendapat sambutan tangan dari Lohan.
“Departemen mana yang akan kau ambil?” Arthur bertanya meskipun dia sudah tahu dimana Lohan akan masuk.
“ Chronos.”
“Wow! Itu luar biasa! Sepertinya kita memang ditakdirkan!”
Lohan mengangkat sebelah alisnya. Mendengar kata ditakdirkan dari sesama lelaki itu membuatnya merinding.
“Aku menyukai gadis, meskipun aku belum pernah jatuh cinta.”
Jadi jangan pernah jatuh cinta padaku meskipun kau itu tidak normal!
“Hah?” Arthur bingung.
“Meskipun itu tidak baik, tapi karena kau adalah dermawanku , aku akan merahasiakannya.”ucap Lohan sungguh-sungguh.
“Ya?” Arthur semakin tidak mengerti. Sebenarnya kita sedang membicarakan apa sih?
“Tapi aku suka gadis manis dan panas.” sambungnya.
Namun sayangnya ucapan Arthur itu justru terdengar salah di telinga Lohan. Seolah-olah dia mengatakan , “ Aku menyukai pemuda manis dan sixpack.” bulu kuduk Lohan langsung berdiri. Seumur hidupnya dia baru melihat orang yang orientasi berbeda begitu jujur,
“Aku salut kau sangat jujur. Kau sangat berani.” Lohan mengatakan itu dengan sungguh-sungguh.
Arthur kembali terdiam. Dia merasa mereka berbicara dengan frekuensi yang berbeda. Atau ini memang hanya perasaannya saja?
Tidak ingin berpikir lebih, bersama dengan Lohan, mereka mulai berjalan bersama menuju aula tempat pengujian bakat.