Saat Lohan dan Arthur sampai pada aula tempat pengujian bakat, itu sudah dipenuhi oleh ratusan murid tingkat pertama. Aula di akademi cukup luas untuk menampung ratusan siswa. Bahkan dengan semua murid baru berkumpul, itu masih memiliki ruang kosong yang sangat cukup untuk menampung ratusan siswa. Biasanya aula ini tidak memiliki sekat sama sekali dan hanya memliki satu podium. Namun saat ini karena peraturan baru dan sistem pengujian fisik, maka aula kini di sekat menjadi dua bagian dengan menggunakan dinding sihir. Dikarenakan pengujian tes fisik membutuhkan para murid untuk tidak memakai pakaian sama sekali, karena alasan itulah ruang pengujian murid laki-laki dan perempuan dipisahkan.
Jika melihat dengan baik, disekeliling aula akan ada beberapa tempat duduk yang berundak membentuk piramida melingkar. Itu biasanya digunakan untuk tamu atau orang tua dari para murid yang akan melakukan tes pengujian bakat. Di dunia dimana bakat adalah segalanya, dan ilmu pengetahuan adalah Tuhan, tes ini sangat diminati oleh kalangan bangsawan sebagai ajang untuk memamerkan keturunan mereka. Namun di sisi lain, jika keluarga mereka memiliki bakat kurang, hal itu juga akan menjadi tamparan terbesar bagi para kepala keluarga.
Dimasa lalu, saat Arthur mengira tidak ada satupun keluarganya yang datang dikarenakan kerahasiaan identitas dan kurangnya bakatnya, Julian–kakaknya datang untuk melihatnya. Namun saat melihat betapa sampah bakatnya, Arthur merasa sangat rendah hati. Bahkan saat Julian memberinya beberapa masukan dan semangat, Arthur justru merasa Julian mengejeknya. Mungkin karena mereka berbeda ibu, saat itu Arthur selalu merasa Julian memusuhinya.
Namun saat ini, Arthur merasa dirinya sangat bodoh. Jelas- jelas Julian saat itu benar-benar peduli padanya namun dirinya justru terbelenggu dari kesalahpahaman yang tidak berujung. Julian bahkan orang pertama yang mau membantunya untuk menemukan jantung Balbark disaat semua orang tidak mempercayainya.
“Apa yang kau lihat?” suara Lohan menarik Arthur kembali pada kenyataan.
“Apa kau mencari keluargamu?” tanya Lohan. Mungkin karena Arthur terus melihat kursi tamu, Lohan memiliki pemahaman sendiri tentang Arthur yang mungkin saja menunggu keluarganya.
“Para tamu boleh masuk saat tes pengujian bakat dimulai. Saat ini kita harus mendengar beberapa pidato dari dekan akademi dulu. Aku membacanya di perpustakaan kemarin.” lanjutnya.
“ Kau sangat aktif ternyata.” Arthur menjawab bercanda.
“Percaya atau tidak, jika bakat kita buruk, menjadi petugas perpustakaan di akademi ini juga akan memiliki cukup poin untuk hidup. Tapi lulus dengan nilai terbaik dan menjadi petualang dungeon tentu lebih baik.” jelas Lohan panjang lebar.
Mata Arthur berkedip. Dia merasa sedang berhalusinasi. Apakah dia salah mengenali orang? Karena dalam ingatannya sosok Lohan tidak kalah kakunya dengan sosok Aiden. Tapi pemuda di depannya ini sangat aktif berbicara padanya.
“Lupakan itu! dia sangat materialistis. Itu pasti dirinya. Diantara kami Lohanlah yang paling mengkonsep apapun itu dengan hasil akhir uang yang banyak.” Arthur mengangguk mantap dengan pemikirannya sendiri.
Arthur menyapu sekeliling dengan pandanganya. Dia mencoba mencari keberadaan teman-temannya dimasa lampau. Aiden, Simoc, Patrick, seharusnya ketiganya tidak jauh darinya. Mengingat Aiden dan Simoc adalah sahabat sejak kecil. Sedangkan Patrick, lelaki itu selalu aktif mencari gadis-gadis cantik. Itu berarti dia tidak akan jauh darinya karena di tempatnya berdiri saat ini adalah tempat terdekat dari sekat yang memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan.
Dugaan Arthur benar, dia dapat melihat Aiden telah berdiri dengan Simoc tak jauh dari mereka, dan Patrick yang saat ini berusaha membuat lubang dengan semacam alat sihir berbentuk bulpoin dari dinding sihir yang Arthur yakin itu dilakukannya untuk mengintip para siswi. Namun untuk saat ini Arthur tidak akan mendekati Patrick. Lebih baik mengenal pemuda itu dengan bantuan sahabat adiknya—adele.
“Lohan, ayo ikuti aku!” Arthur berteriak.
Belum sempat Lohan memberi balasan, Arthur sudah terlebih dulu menarik lelaki itu menyibak kerumunan. Arthur mengajak Lohan mendekati Aiden dan Simoc.
“Teman sekamar! Ah maksudku Aiden!”
Dua pemuda tampan itu menoleh bersamaan. Aiden memasang wajah enggan saat melihat Arthur mendekatinya. Dan kali ini entah bagaimana Aiden merasa Arthur berhasil menipu satu orang untuk mengikutinya.
“Kau mengenalnya? Aku kira kau adalah orang yang antisosial.” Simoc bertanya sambil memperhatikan Arthur.
“Aku ingin mengatakan tidak jika aku bisa.” balas Aiden.
“Kau sungguh kejam, kita adalah sahabat dan bahkan teman sekamar.” Arthur memasang wajah memelas , namun berefek membuat Aiden semakin merinding dengannya. Lohan yang masih dengan pikirannya tentang orientasi Arthur yang menyimpang juga merasakan perasaan merinding yang sama dengan Aiden. Reflek pemuda itu mundur satu langkah dari Arthur.
“Kapan kita bersahabat? Kau gila!”
“Ah baiklah teman Aiden adalah temanku. Aku Simoc Phantovime. Semoga kita dapat berteman dengan baik.” Simoc mengulurkan tangannya pada Arthur yang disambut Arthur dengan cepat. Seperti yang Arthur pikirkan, tidak sulit untuk dekat dengan Simoc jika sudah mengenal Aiden.
“Aku Arthur dan dia Lohan,” Arthur memperkenalkan Lohan yang berada disampingnya. Bagaimanapun caranya Arthur akan membuat mereka berteman sedini mungkin. Namun pada akhirnya Arthur memilih tidak menyebutkan nama keluarganya dan Lohan untuk saat ini meskipun Simoc telah memberi tanda padanya mencari asal usul keluarganya dari perkenalannya.
“Simoc, aku memperingatimu untuk menjauh dari lelaki ini.” Aiden menyela keduanya.
“hei kau tidak bisa…”
Tiba-tiba lampu di dalam aula padam dan menghentikan ucapan Arthur. Lalu di podium muncul sosok anak kecil yang menjadi satu-satunya yang tersorot lampu. Anak itu sangat imut hingga membuat semua siswa mulai ramai pada sosok kecil montok yang terlihat tak kurang dari umur empat tahun.
“Waspada!” Arthur secara reflek menarik Aiden dan Simoc untuk berada di belakangnya. Hal itu cukup menarik perhatian anak kecil yang ada di podium untuk melihatnya. Namun anak itu tidak bergeming dan hanya memberikan senyuman kecil.
Arthur merasa aneh, namun Arthur tidak merasakan aura membunuh dari anak kecil itu. jelas-jelas ini adalah sihir ilusi tingkat tinggi. Membuat sekitarmu menjadi gelap dan hanya ada satu sosok yang menjadi pusat perhatian. Lalu saat semua perhatian terfokus padanya, maka akan ada serangan kejutan.
“ Apa ini? Apakah ada serangan organisasi gelap atau monster lain?”
Arthur tidak ingat bahwa dulu ada momen seperti ini. Saat melihat sekeliling, Arthur dapat melihat dengan cahaya yang samar, setidaknya tidak hanya dia yang waspada. Beberapa kakak senior dan dua siswa baru tampak siap mengacungkan pedang dan alat sihir mereka.
Disaat semua heboh, tiba-tiba lampu kembali menyala. Dan sosok anak kecil itu menghilang digantikan dengan sosok lelaki tua berambut putih panjang dengan luka goresan vertikal di mata sebelah kirinya. Bersamaan dengan wujud itu, Arthur melihat para senior kembali memasukkan alat sihir mereka—tampak lega. Lelaki itu menggenggam tangannya kebelakang—terkekeh pelan.