BAB 6 Kedatangan Julian Dewantara

1277 Words
“Maafkan aku yang suka bercanda ini. Perkenalkan, aku adalah Pedras—dekan akademi Olympus saat ini. Ini adalah sihir ilusi tingkat tinggi yang menghabiskan banyak energi tapi seharusnya menjadi sihir terlemah jika kalian sadar di awal. Meskipun begitu, ini adalah sihir paling sempurna bagi perampok, teroris, ataupun musuh yang ingin membunuh puluhan bahkan ratusan orang dalam sekali serang. Memusatkan perhatian orang pada satu titik lalu saat kalian lemah, serangan kejutan akan dilancarkan hingga kalian mungkin akan sadar saat kalian tidak lagi hidup. ” Pedras lalu melihat sekeliling aula. “Sangat disayangkan diantara kalian hanya sebagian kecil yang sadar dari trik kecil ini.” entah hanya perasaan Arthur saja atau memang saat mengatakan hal itu Pedras seperti menatapnya. “Namun respon kalian cukup wajar mengingat kalian berada di tahun pertama. Jika ini adalah sungguhan, maka dapat dipastikan ini akan menjadi kekalahan total.” Dekan terus memberikan pidato. Namun tatapan Simoc tidak tertuju pada sang dekan melainkan pada Arthur. Mempertanyakan identitas Arthur yang sebenarnya. Mereka semua adalah siswa tahun pertama dimana mereka hanya belajar latihan fisik penempaan tubuh sebelum masuk kesini. Namun Arthur sudah mampu menyadari masalah sihir ilusi ini. Ditambah lagi penampilannya tadi yang seolah melindungi dirinya dan Aiden seolah-olah dia menjadi orang yang berbeda dari kesan awal Simoc padanya. Simoc kira Arthur hanyalah bangsawan biasa yang sedikit naif , namun sepertinya hal itu salah. Ditambah lagi pemuda ini mampu membuat Aiden meladeninya meski diluar terlihat Aiden menolak, tapi Simoc tahu bahwa Aiden mau menerima Arthur berada di lingkarannya. Aiden adalah orang yang sangat jarang dapat berteman dengan seseorang. Bahkan persahabatan mereka diawali dari kedua orang tua mereka yang memang dalam fraksi yang sama dan mereka sering bertemu. Melihat penampilan Arthur, tidak ada yang aneh dengannya. Arthur memakai seragam lengkap akademi sama dengan dan yang lainnya. Begitulah pemikiran Simoc pada awalnya sebelum kemudian Simoc menemukan cincin bermata zamrud yang ada di ibu jari miliki Arthur. “Cincin itu…” Simoc yakin bahwa itu adalah simbol dari keluarga kerajaan atau kerabat kerajaan. Sebagai pilar perdagangan para bangsawan, sejak kecil Simoc sudah akrab dengan benda-benda berharga dan unik. Salah satunya identitas keluarga kerajaan yang menyimbolkan dengan cincin sihir. Simoc merasa Arthur tidak sederhana sama sekali. “Dengan ini aku ucapkan selamat datang di akademi Olympus anak-anak terbaik. Masuklah ke departemen yang sesuai dengan bakatmu. Ingatlah, keinginan tanpa bakat hanya akan membuang-buang waktumu.” akhirnya Pedras mengakhiri pidatonya. Saat Arthur sadar dari keterkejutannya, dia baru sadar bahwa tamu dari para wali siswa sudah duduk dan berkumpul di aula. Para guru termasuk penjaga perpustakaan yang biasanya tidak akan muncul pada tes pengujian bakat ini juga berbaris berjejer di podium dengan dekan yang berdiri di tengah. Saat Pedras melambaikan tangannya, belasan mesin berbentuk kotak dengan kaki beroda berjalan otomatis di bawah podium. Itu adalah alat pengukur bakat sepasang. Satu berwarna merah dan satunya berwarna biru. Kotak berwarna merah tampak jauh lebih besar. Yang mengejutkan adalah beberapa saat kemudian kedua kotak itu mulai membuka sendiri dan berubah. Kotak biru berubah menjadi sebuah kapsul panjang dan kotak merah berubah menjadi sebuah pintu. Banyak siswa yang terpukau melihat hal ini untuk pertama kali. Bagaimanapun ini adalah sistem penilaian dengan alat baru. Mereka kagum dengan betapa canggihnya kotak ini. “Kalian akan dipanggil satu persatu. Sesuai nomor pendaftaran kalian di awal masuk. kotak biru akan mengukur bakatmu sihir, mental, dan stat lainnya. Sedangkan kotak merah adalah untuk mengukur kemampuan fisik dan bertarungmu. Kalian harus melepas semua pakaian kalian saat melewati pintu kedua karena mesin akan mendeteksi batas kemampuan kalian. Aku hanya mengingatkan bahwa saat masuk kedalam kotak merah, lepaskan senjata kalian. Jika tidak, maka mesin akan mendeteksi itu sebagai fisik kalian juga.” “Wah , aku tidak pernah tahu bahwa tes pengujian bakat akan semeriah ini.” “Tentu saja, aku mendengar dari kakakku, bahwa hari ini kita akan kedatangan tamu penting dari akademi Royal.” “Benarkah? Memang untuk apa mereka kemari? Tidak mungkin diantara pada keluarga kerajaan ada yang masuk ke akademi ini kan?” “Siapa yang tahu? Mungkin untuk aliansi persahabatan.” Berita tentang kedatangan anggota akademi Royal jelas membuat antusias murid semakin meningkat. Dan hal itu semakin meningkat tatkala seorang pemuda tinggi, berambut panjang berwarna biru, dengan seragam akademi royal memasuki pintu aula dengan reporter swasta dibelakangnya. Kedatangannya seolah memberikan euphoria di tengah ketegangan para murid yang akan mengikuti tes. Pemuda itu terlihat tampan dan memiliki aura dominan yang begitu tinggi. Tidak ada yang tidak mengenal pemuda itu. Dialah Julian Dewantara—anak tertua dari keluarga duke dewantara yang masih kerabat dari keluarga kerajaan. Ayah mereka sang duke—Glerand Dewantara merupakan adik kandung dari sang raja Asternal saat ini. Banyak media telah memperlihatkan betapa cemerlangnya seorang Julian dan sosoknya yang memiliki jiwa pemimpin yang sangat baik. Disaat semua siswa dan siswi heboh akan kedatangannya, mata Phoenix milik Julian tampak berkeliling aula seolah mencari sesuatu. Lalu tatapannya berhenti pada satu titik. Saat itu tatapan Julian berhenti sejenak dan tersenyum tipis sebelum melanjutkan berjalan menuju tempat duduk para tamu. Aula kembali heboh. Dengan banyaknya siswa di aula ini, tidak pasti siapa yang dilihat oleh Julian membuat reporter gigih mencari siapa yang menarik perhatian seorang Julian. Siapapun itu, kemungkinan merupakan alasan bagi seorang jenius dari akademi Royal untuk datang ke akademi Olympus. Orang lain mungkin tidak menyadarinya. Namun baik Simon dan Aiden bahkan Lohan yang berada di dekat Arthur jelas sangat menyadari tatapan Julian itu tidak lain tertuju pada Arthur! Secara tidak sadar ketiganya melihat antara Arthur dan Julian secara bergantian sebelum mereka memberikan satu kesimpulan. Melihat tatapan aneh ketiganya, Arthur reflek memeluk tubuhnya sendiri , “Kenapa kalian melihatku seperti itu? tolong jangan membuat tubuhku bergidik! Aku masih menyukai gadis cantik dan imut!” “Jelas sekali senior Julian melihat Arthur.” Lohan membuka suara. “Dan mereka memiliki warna rambut yang sama, belum lagi hanya sedikit dari warga memiliki warna rambut biru keperakan seperti itu. “ Aiden menimpali. “Cincin yang dipakainya, jelas merupakan simbol token dari keluarga kerajaan.” Simoc membenarkan ucapan Lohan dan Aiden. “Kau, katakan siapa nama panjangmu,” tanya Lohan menyelidik. Karena sudah seperti itu, Arthur tidak punya pilihan lain selain mengakuinya, “ Baiklah baiklah kalian menang. Aku Arthur Dewantara. Putra kedua dari keluarga Dewantara yang saat ini kalian pikirkan. Puas?” Mendengar jawaban langsung dari Arthur, ketiganya mendadak terdiam. Ketiganya memiliki pikiran yang sama. Jika Arthur adalah anggota kerajaan itu, bukankah itu berarti dia adalah putra sampah, introvert, dan bahkan tidak pernah muncul di publik karena baik dirinya atau keluarganya merasa malu padanya? Lalu siapa pemuda di depan mereka? Dia sama sekali tidak pemalu tapi justru tidak tahu malu. Dia bukanlah introvert, melainkan orang yang kelebihan energi dan selalu mencari perhatian. “Ayahku benar, kita tidak seharusnya mempercayai rumor.” ucap Simoc. Aiden dan Lohan mengangguk membenarkan. “Haruskah kami memanggilmu yang mulia?” Bulu kuduk Arthur berdiri, “ Demi dewa! Jangan katakan itu!” “Baiklah saat ini lebih penting untuk fokus pada pengujian bakat ini. Ayo kita lebih kedepan untuk melihat beberapa siswa yang sudah mulai menguji.” saat Arthur mengatakan demikian, beberapa siswa sudah masuk ke alat penguji bakat. Saat melihat skor yang mulai muncul pada papan hologram pada setiap alat pengujian, jantung Arthur mulai berdebar. Arthur ingin melihat bagaimana hasil bakatnya pada saat ini. Apakah sama dengan masa lalu, atau dia berhasil membawa perubahan. Arthur sangat menantikannya. Sedangkan dilain tempat, di sebuah ruangan dengan dominan warna hitam, seorang pemuda dengan rambut emas memainkan gelas anggurnya. Dia melihat hologram yang menampilkan beberapa foto anak belasan tahun. “Kau yakin mereka ada di akademi Olympus?” “Ya tuan, saya telah menyelidikinya dengan baik. Saat ini seharusnya mereka tengah melakukan tes pengujian bakat.” Bibir pemuda itu tersenyum tipis, “Menarik.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD