Orang-orang yang duduk di kursi tamu mulai mengobrol dan menyiapkan ponsel mereka untuk merekam hasil tes uji bakat anaknya atau masih dalam satu keluarganya. Beberapa ponsel telah memiliki gabungan antara teknologi Ai dengan sihir. Itu membuat ponsel dapat melakukan proses editing pada gambar yang dilihat sehingga menghasilkan gambar atau video dengan kualitas sangat baik. Mungkin saat ini itulah teknologi tercanggih. Namun bagi Arthur itu hanyalah teknologi kuno yang mungkin akan membuat Arthur sedikit canggung menggunakannya. Dengan melihat betapa dibutuhkannya ponsel lebih canggih, Arthur mulai memikirkan bagaimana kalau dia mencuri ide Joule—penemu teknologi ponsel lebih maju sepuluh tahun kedepan?
Namun Arthur menggelengkan kepalanya setelah memikirkan beberapa saat, “ Jika aku membuatnya saat ini, aku tidak akan punya kartu truf masa depan karena efek kupu-kupu yang akan terjadi di masa depan. Aku cukup melindungi mereka yang aku sayangi dan meningkatkan kekuatanku dan teman-temanku saja. Urusan lain, biarlah itu mengalir seperti waktunya.” Arthur bergumam dalam hati lalu kembali fokus pada alat pengujian bakat yang tak jauh darinya.
Diatas alat itu ada terdapat papan skor hologram yang memunculkan peringkat F sampai dengan S pada setiap kategori. Peringkat F adalah peringkat bakat paling rendah yang setara dengan warga sipil. Sedangkan peringkat tertinggi adalah S. Namun pada alat kali ini telah ditambahkan fitur peringkat SS dimana itu peringkat yang lebih tinggi dari S. Mungkin tahun ini memang akademi menaruh harapan sangat besar pada murid yang masuk. Peringkat itu adalah jumlah kalkulasi dari beberapa aspek. Aspek itu adalah stat , optimali skill awal, statistik kekuatan, tipe kekuatan petarung atau bukan dan mental. Semua itu akan dikalkulasi untuk meperkirakan bakat dari F sampai SS. Jadi jelas hal ini sangat menarik reporter untuk meliput siapa tahu akan ada bakat S yang mengesankan.
Ini hanyalah tes awal, dimana itu hanya dijadikan tolak ukur sementara sebelum memasuki pembelajaran akademi. Saat kita sudah melakukan pembelajaran, biasanya semua aspek akan naik jika kamu bukan orang malas. Yang terpenting adalah tes pengujian bakat pada semesteran, itulah yang biasanya akan menjadi tolak ukur masa depan para murid. Jadi tidak masalah data akumulasi peringkat bakat diperlihatkan, namun semua aspek tetap akan dirahasiakan. Pada masa lalu, samar-samar Arthur mengingat bahwa pada angkatannya akan ada tujuh belas peringkat S dan sama sekali tidak ada peringkat SS. Adele dan Simoc adalah salah satu dari siswa yang mendapatkan peringkat S.
Mesin mulai memanggil nama siswa untuk masuk kedalam alat pengujian bakat. Kebanyakan dari yang telah masuk rata-rata rank yang didapatkan mereka adalah C,B, dan A. belum ada F atau S. Pada tahun ini, kemungkinan siswa dari warga sipil hanyalah Lohan—tidak ada yang lain. Jadi akan sangat memungkinkan bahwa kristal yang dipakai para siswa ini adalah kristal ungu—yang akan mendeteksi keseluruhan bakat siswa.
“Aku merasa aneh, kenapa semua siswa tampak pucat setelah dari mesin berwarna merah?” Lohan tidak bisa menahan rasa penasarannya.
“Itu adalah alat untuk menguji fisik dan kemampuan bertarung kita. Bisa jadi kita akan dihipnotis untuk bertarung dengan kemampuan kita.” jawab Simoc, namun dia sendiri tidak begitu yakin dengan jawabannya. Karena ayahnya yang memiliki relasi baik dengan akademipun gagal untuk mengetahui bagaimana alat baru ini bekerja secara detail.
“Sebenarnya ketika kau memasuki mesin itu, alasan kenapa kau harus melepas semua pakaianmu pada pintu pertama adalah agar AI yang merupakan kecerdasan buatan itu memeriksa setiap titik tubuhmu, ketakutanmu, dan kekuatanmu untuk memberikan hologram terbaik sebagai lawan bertarungmu. Bisa jadi itu monster, atau mungkin orang. Ada tiga pintu disana. Dimana ketika kau berhasil melawan lawanmu pada pintu kedua, maka AI akan memberikan lawan lebih tinggi levelnya. Semakin kau gigih, maka Ai akan semakin menaikkan levelnya sampai kau merasa di titik tidak memiliki tenaga,” Arthur menjelaskan pada temannya.
“Oh tentu saja, semua itu hanyalah ilusi yang diciptakan oleh AI yang mensinkronkan dengan stimulus otak jadi mentalmu akan terkuras dengan sangat cepat. Itulah kenapa meskipun bukan pertarungan sungguhan, kau tetap akan merasakan sakit seperempat dari rasa sakit luka yang diperoleh di dunia nyata. Wajar jika mereka keluar tanpa tenaga.” sambungnya.
Arthur akan menjelaskan lebih rinci ketika dia menyadari bahwa ketiga ‘temannya’ menatapnya dengan tatapan aneh, “Hei! Pandangan macam apa itu?”
“Agen informan dari kerajaan memang beda. Aku sangat salut.” Aiden menaikkan kacamatanya.
“Walaupun aku belum bisa menerima kesukaanmu itu, aku sangat kagum dengan pengetahuan dari keluargamu.” Lohan menimpali.
“Hei apa maksudmu dengan kesukaanku? Sepertinya kau telah salah paham walaupun aku tidak tahu apa yang kau salah pahami, tapi aku merasa merinding jika aku tahu. Apapun itu aku tidak seperti itu oke?” sela Arthur.
Lohan menepuk pundak Arthur, “ Jangan malu, aku tidak apa-apa. Aku akan tutup mulut.”
“Apa sih yang kau bicarakan?” belum sampai Arthur menimpali, tangan Simoc telah berada di sisi lain pundaknya.
Simoc mengangguk setuju, “Yah, aku rasa kita memang harus memanggilnya yang mulia bukan?”
“Itu…” Arthur ingin mengatakan bahwa itu tidak benar. Dia tahu itu karena itu telah dia lalui di kehidupan sebelumnya. Tapi tidak mungkin bukan dia mengatakan hal itu?
“Berhentilah bicara, sekarang aku akan mengajari kalian bagaimana kalian bisa mendapatkan akumulasi S pada alat ini.” Arthur memberi kode pada ketiganya untuk mendekat.
“Apa? Kau bisa melakukan itu? bukankah itu curang?” Lohan merasa takut. Bagaimanapun dia adalah warga sipil yang masuk melalui beasiswa. Dia tidak ingin berbuat curang yang membuatnya kehilangan kesempatan untuk bersekolah.
Arthur memukul pelan kepala Lohan, “kau pikir aku setercela itu? kalian mau mendengar atau tidak?”
“Jika memang itu bisa membantu ke level S, kenapa tidak?” jawab Simoc
“Apakah ini aman? Kau tidak berniat untuk keluarga akademi dengan cara halus kan?” itu adalah suara Aiden. Maksud Aiden adalah dengan berbuat curang selama tes, maka akademi akan secara otomatis mengeluarkan murid tersebut.
“Apa kau bodoh? Kemarilah kalian mendekat. Jadi begini…”
***
Satu persatu siswa mulai memasuki alat tes pengujian bakat. Selama ini yang terbaik masih pada kisaran rank A. Itu cukup mengesankan. Bagaimanapun dengan awalan bakat yang baik, tentu saja dengan dilatih dengan baik akan menghasilkan bakat yang lebih baik. Lalu tiba giliran Simoc dan Aiden yang dipanggil oleh AI ( Artificial Intelligence) sebuah kecerdasan buatan yang memang disambungkan pada alat penguji. AI inilah yang akan mencatat data lengkap semua aspek siswa yang akan langsung dikirimkan pada guru. Dan jika ada keluarga yang menginginkan data lengkap keluarganya, maka mereka dapat menghubungi guru lalu memverifikasi data mereka sebelum mempertimbangkan akan membaginya atau tidak. Itu semua dilakukan demi keamanan dan privasi murid di sekolah. Meskipun dalam satu keluarga, orang yang meminta hasil lengkap kemampuan murid bisa jadi memiliki motif lain.
“Kami akan menguji terlebih dahulu,” kata Simoc. Entah mengapa walaupun dia baru mengenal sosok Arthur, namun dia seolah merasakan perasaan akrab dengan pemuda itu yang membuatnya tidak sulit untuk berbaur dengannya.
“ Kalian lakukan saranku tadi. Jika kalian keluar dengan rank S, maka jangan lupakan untuk mentraktirku daging dengan poin kalian.” Arthur menepuk kedua bahu temannya itu. Meskipun Aiden tidak mengatakan apapun, namun Arthur dapat tahu bahwa pemuda itu sudah mengakuinya sebagai teman.
“Jangankan daging, aku akan mentraktirmu selama satu bulan!” sahut Simoc.
“Kalau begitu aku sangat berharap bahwa kalian benar-benar tidak mengecewakanku.” meskipun tanpa trik Simoc akan memiliki bakat S, namun dengan trik yang dia ajarkan Arthur yakin bahwa dia akan memiliki aspek rincian semuanya pada rank S.
Mendorong kedua temannya itu, Arthur dapat melihat Simon dan Aiden mulai memasuki alat tes pengujian bakat itu. keduanya memasukkan batu kristal ungu pada lubang seukuran telur yang berada di samping AI. Lampu indikator pada kedua alat tes langsung menyala tatkala batu kristal itu masuk. Kapsul biru mulai terbuka, Simon, Aiden dan beberapa siswa lainnya mulai memasuki kapsul dan memposisikan diri tidur terlentang sebelum tutup kapsul menutup.
Begitu kelima belas siswa masuk dalam alat pengujian tes, para reporter kembali bersiap merekam kembali dan disiarkan secara langsung. Bukan seperti di akademi Royal yang melarang reporter untuk siaran langsung dikarenakan keluarga kerajaan cenderung ingin akademinya dilaporkan dengan hal – hal baik saja. Namun di akademi Olympus, dekan tidak melarang siaran langsung tentu saja hanya untuk reporter yang memang sudah terpercaya dan dinilai baik.
Segera papan skor hologram pada alat pengujian tes pertama menyala dan menampilkan rank masing-masing peserta. Ketika papan skor miliki Simoc muncul, banyak diantara para wali murid berdiri dan berteriak.