16. Ayo Mama

1562 Words

Aku memalingkan wajah. Entah kenapa rasanya ingin menganggap pertanyaan Beni seperti angin yang tidak perlu dipedulikan. Sudah kuduga, Beni pasti akan curiga. Tapi apa pedulinya lagi di saat ini padaku, toh dia hanya orang lain buatku. Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya dan terlihat jelas jika dia begitu menunggu jawaban dariku. Beberapa kali matanya menoleh ke arahku dan tidak kupedulikan. Dulu saat Beni mendekatiku, kami memang sering bercerita banyak hal dan sampai akhirnya aku pun menceritakan alasanku hingga bisa sampai ke Jakarta. Aku sempat mempercayainya karena kurasa dia bisa jadi teman yang baik. Beni cukup bisa diandalkan untuk mendengar keluh kesahku. Tapi cukup sampai di situ saja, untuk hubungan yang lebih dalam, Beni benar-benar tidak bisa diandalkan. "Nggak tahu,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD