"Nggak, makasih. Aku sudah pesan taksi," sahutku dan memperlihatkan raut wajahku yang tidak tertarik dengan tawarannya. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan jika kami akan bertemu dengan keadaan yang sudah berbeda seperti ini. Setiap kalimat yang diucapkannya hanya kubalas dengan singkat dan tidak bersemangat. Memang akan seperti itu akhirnya, dua orang yang dulu sangat dekat akan berakhir sebagai dua orang asing. "Lagi pula acara ulang tahunnya sebentar lagi dimulai, kan?" lanjutku mengingatkan jika ada anaknya yang sedang menunggunya. Nino tampak berpikir, di saat seperti itu aku berharap taksi pesananku segera datang. Aneh, apalagi yang dipikirkannya. Sudah jelas jika acara ulang tahun anaknya lebih penting daripada mengantarku, buat apa dia berpikir lagi. Keningnya berkerut dan d

