Baru setengah jam yang lalu Beni membawa Vio, tapi entah kenapa waktu terasa berjalan sangat lambat. Setelah menahan emosi untuk tidak memulai pertengkaran dengan Beni, aku menyerah dan membiarkan Beni menemani Vio ke acara ulang tahun Jo, anaknya Nino. Awalnya aku memang tidak mau Beni yang menemani Vio, rasanya lebih baik salah seorang karyawan bakery daripada Beni. Tapi bukan Beni namanya kalau dia tidak berhasil membujukku.
Sepertinya aku harus mengalah, baik itu mengenai perasaanku maupun keengananku berhubungan dengan Beni lagi. Aku tidak mungkin bertengkar dengan Beni di hadapan Vio hanya gara-gara keinginan Beni untuk menemani Vio.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarang keinginan Beni menemani Vio ke acara ulang tahun anak Nino. Terlalu keras padanya hanya akan membuat Beni semakin penasaran dan bertambah gigih memaksaku. Dan yang paling penting, saat ini kami sedang berada di bakery. Perdebatanku dengan Beni hanya akan membuatku suasana bakery menjadi tidak nyaman.
Dalam hatiku terus menenangkan diriku sendiri. Apa salahnya juga sedikit mengalah dengan membiarkan Beni meluangkan waktunya bersama Vio. Anggap saja sebagai balasan karena selama kami menikah dulu, dia selalu menelantarkan Vio. Beni lebih mementingkan hal lain dibanding keinginan Vio untuk bermain bersamanya. Dalam satu bulan, mungkin hanya sekali saja dia bisa memberikan waktunya untuk aku dan Vio.
Dengan perasaanku yang memang dingin padanya, aku sebenarnya tidak begitu mempermasalahkan. Asal dia memenuhi kebutuhanku dan Vio, dan satu lagi tetap menjaga pernikahan kami, itu sudah cukup. Aku tidak perlu perhatian, kasih sayang, atau pun apalah itu. Dengan pengalaman burukku menjelang pernikahan, aku rasa hal seperti itu tidak kubutuhkan lagi.
Nyatanya Beni malah mengkhianatiku. Dia tidur dengan salah seorang karyawan baru di kantornya. Wanita yang menjadi selingkuhannya itu tahu jika Beni telah menikah, karena itu dia sengaja mengirimkan video tidak senonoh padaku dengan maksud agar dia bisa memiliki Beni seutuhnya. Video itu berisi rekaman adegan layaknya suami istri mereka.
Aku sangat membenci perselingkuhan. Karena itu tidak ada kesempatan kedua walaupun Beni mengutarakan alasannya sampai dia berselingkuh. Dadaku terasa nyeri saat mengingat apa yang pernah Beni lakukan padaku. Rasanya seperti mengalami dua kali kegagalan. Dulu dengan Nino, dan Beni kembali menggulanginya.
Dengan kemunculan Beni, mendadak aku merasa seperti dibawa pada masa laluku. Aku mengusap wajahku dengan kesal sampai akhirnya di pikiranku tidak memikirkan apa pun lagi, tidak juga tentang Beni.
Dan akhirnya tadi aku mengalah dan membiarkan keduanya pergi. Begitu lebih baik, Vio tidak ngambek lagi dan Beni juga tidak terus-menerus mendesakku. Sifat keras kepalanya sepertinya adalah perpaduan antara sifatku dan Beni.
Seharusnya aku tidak perlu khawatir Beni akan bertemu dengan Nino. Antara aku, Beni, dan Nino juga sudah tidak memiliki hubungan apa pun. Jadi aku harus tenang dan tidak boleh memikirkan apa pun hal buruk yang akan terjadi jika Beni dan Nino bertemu. Berpikirlah positif, Nay. Aku terus menenangkan diriku sendiri dan berusaha tidak memikirkan apa pun.
Setelah Beni membawa Vio, aku kemudian mengurung diri di ruang istirahat. Beni benar-benar telah mengacaukan suasana hatiku. Keinginanku untuk menyelesaikan pesanan kue berada di level terendah yang membuatku menyerahkan semuanya pada Riri. Padahal ada banyak pesanan kue hari ini, selain kue rutin yang harus dipajang di etalase. Rasanya aku sungguh tidak profesional, hanya gara-gara masalah pribadiku, aku menelantarkan seluruh pekerjaanku.
Aku menatap lurus ke dengan tatapan mata kosong. Aku sangat menyesalkan kedatangan Beni karena membuat pikiranku jadi kacau. Ayolah Nay, Beni bukan apa-apa lagi buatku. Selama pernikahan kami, tidak pernah ada hal istimewa yang dilewati. Jadi kenapa kali ini aku malah begitu memikirkannya?
Tadi juga tidak ada pembicaraan berarti yang kami bicarakan, Selain pembicaraan mengenai Vio. Menanyakan pekerjaan kantor seperti apa yang mengharuskan dia sampai datang ke sini, juga tidak kutanyakan. Apalagi menanyakan kabarnya. Bagiku tidak ada basa-basi jika berhubungan dengan Beni. Bukankah itu sudah menjadi tanda jika saat ini aku dan Beni hanyalah dua sosok orang asing yang tidak perlu saling mengetahui kabar masing-masing?
Aku menarik napas panjang agar bayangan Beni cepat sirna dari pikiranku. Jika ditanya masihkah aku marah padanya. Tentu saja. Tidak secepat itu aku memaafkannya. Kalau pun suatu hari nanti aku memaafkan kesalahannya, bukan karena aku menerima begitu saja dengan apa yang pernah dilakukannya padaku. Tapi mungkin semuanya karena Vio. Alasan satu-satunya yang membuat aku masih mau bertemu Beni.
Aku mengetuk-ngetuk meja di hadapanku dengan gerakan perlahan. Jam dinding yang tergantung di hadapanku seperti tidak menunjukkan perubahan. Jarum detiknya bergerak sangat lambat.
Aku mengkhawatirkan Vio. Haruskah kususul saja mereka? Apa memang benar Beni membawanya ke ulang tahun Jo? Bukannya tadi Bimo yang mengantar mereka? Dia pasti tahu keberadaan mereka saat ini.
Ponsel yang terletak di meja buru-buru kuambil, tapi selang beberapa detik kemudian kuletakkan kembali di tempat semula. Apa yang aku takutkan? Beni menculik Vio? Ayah menculik anak kandung? Terdengar sangat menggelikan.
Dibanding dari semua hal itu, seharusnya aku lebih mengkhawatirkan pertemuan Beni dan Nino jika memang Beni menemani Vio ke acara ulang tahun Jo. Sadarkah Beni jika Nino adalah orang yang menjadi alasanku ke Jakarta?
Beni tahu semua cerita tentang Nino. Dia hanya tidak kenal bagaimana sosok Nino. Ah...entahlah, kenapa kali ini aku merasa takut Beno bertemu Nino? Apa karena statusku dan Beni yang tidak lagi bersama? Seharusnya aku malah lega karena itu. Apa yang sebenarnya kutakutkan, harusnya tidak ada.
Ponselku berdering perlahan dan menampilkan nomor Beni di layarnya. Aku menarik napas panjang sebelum mengangkat teleponnya. Padahal baru saja aku memikirkannya, orangnya malah menghubungiku.
"Bisa susul kami sekarang?" Aku mengernyit mendengar suara Beni saat panggilannya kuangkat.
"Susul? Ke mana?" tanyaku bingung. Apa Beni memintaku menyusulnya ke acara ulang tahun Jo? Tentu saja aku tidak mau. Atau mungkinkah Vio yang mendadak rewel dan ingin aku yang menemaninya? Atau...
"Bimo nggak bisa nemuin alamat temannya Vio yang ulang tahun," sahutnya. Keningku kembali berkerut. Bimo yang sangat hafal jalan sampai tidak bisa menemukan alamat rumah Nino?
"Dan mendadak mobilmu mogok, jadi sekarang kami lagi di bengkel," lanjutnya. Aku mendengar dengan saksama perkataan Beni. Entahlah, mengapa aku malah menarik napas lega saat mendengar ucapan Beni. Mobil sedang berada di bengkel, itu artinya bisa jadi mereka tidak bisa datang ke acara ulang tahun. Sepertinya keberuntungan sedang bersamaku.
"Terus kenapa aku mesti nyusul?" tanyaku ketus. Menemani Beni di bengkel bukan hal yang bagus.
"Kasihan Vio bosan di sini," sahutnya.
"Bawa dia pulang aja pakai taksi. Bimo biar nungguin di bengkel," ujarku.
"Aku nggak ngerti jalan, Nay." Suaranya terdengar putus asa.
"Oke, tunggu lima belas menit lagi," kataku akhirnya. Alasan Beni terdengar sangat tidak masuk akal. Tidak mengerti jalan? Bukankah dia bisa meminta bantuan sopir taksi untuk mengantarnya ke bakery seperti yang dilakukannya dari bandara tadi? Kalau masalah Bimo, tentu dia tidak perlu khawatir. Cukup tinggalkan saja dia di bengkel, Bimo bisa pulang sendiri.
Aku membuang napas sambil bersiap untuk menuju bengkel yang dikatakan Beni tadi. Karena Vio-lah, aku menuruti kemauannya. Aku tidak perduli andaikan dia tersesat dan tidak bisa menemukan jalan ke bakery, asal tidak ada Vio bersamanya.
"Kue pesanan ulang tahunnya sudah diambil?" tanyaku saat melewati Niar yang sedang tidak ada pelanggan.
"Atas nama Jonathan ya, Mbak?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk mengiyakan.
"Belum, Mbak. Padahal janjinya satu jam yang lalu bakal diambil," sahut Niar. Aku berpikir selama beberapa detik, apakah ini Jonathan yang berbeda dengan yang ada di kepalaku? Kalau iya, sungguh bodoh sekali yang kulakukan saat membuat kue ulang tahunnya tadi. Tapi rasanya tidak mungkin ada kebetulan yang seperti itu. Apa mendadak Nino berubah pikiran dan tidak jadi mengambil kue ulang tahun anaknya. Atau bisa jadi istrinya tidak senang karena Nino memesan kue ulang tahun anak mereka di sini.
Astaga! Apa sebenarnya yang ada di isi kepalaku ini? Kenapa hal tidak masuk akal yang kupikirkan?
"Simpan aja dulu, hubungi orangnya kalau sampai malam masih belum diambil. Kemarin sudah bayar lunas, kan?" tanyaku memastikan. Jika sudah lunas, tidak masalah pelanggan tidak menggambil kue pesanan mereka karena tidak ada kerugian yang ditimbulkan.
"Iya, sudah lunas, Mbak," sahut Niar
"Aku keluar sebentar. Kalau ada perlu, hubungi ke ponselku aja ya," ujarku. Niar mengangguk mengiyakan perkataanku.
Aku mendorong pintu bakery dengan perlahan. Dari kejauhan terlihat seseorang sedang berjalan dengan tergesa menuju ke bakary. Dia bahkan setengah berlari saat melihatku.
Nino!
Apa masih ada kesempatan buatku untuk menghindar? Ah! Sepertinya tidak ada karena saat ini dia sudah berada di hadapanku, menatapku dengan wajahnya yang terlihat penasaran.
"Kamu mau pergi?" sapanya dengan napas terengah. Aku terdiam beberapa saat, pertanyaannya membuatku bingung.
"Iya," sahutku singkat.
"Vio mana? Aduh...sebentar, aku ambil pesanan kue Jo dulu. Nanti kita bareng aja perginya," kata Nino dengan tergesa. Aku menatapnya bingung. Saat satu pertanyaan akan kuutarakan, dia sudah buru-buru masuk ke bakery.
Beberapa saat aku mematung di posisiku. Selain karena kaget dengan kehadiran Nino, aku juga memikirkan perkataannya tadi. Pergi bareng? Apa dia mengira aku sedang menunggunya sehingga seenaknya saja dia mengajakku pergi bareng.
"Aku hampir kelupaan sama kue ini. Kemarin Ibu yang pesan soalnya." Sebuah suara tiba-tiba terdengar jelas di telingaku. Aku menoleh, benar saja Nino sudah berdiri di sebelahku dengan sekotak besar kue ulang tahun di tangannya. Sekilas aku melirik kotak kue yang dipegangnya. Tidak tahukah dia jika aku mengorbankan seluruh konsentrasiku untuk membuat kue anaknya itu. Rasanya apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan caranya yang hampir melupakan pesanan kue ulang tahun anaknya itu.
"Ayo bareng aja ke rumahku. Acaranya juga belum mulai kok," katanya lagi. Jadi dia mengira aku dan Vio akan datang ke acara ulang tahun anaknya? Tentu saja aku tidak mungkin melakukannya, walaupun dia sampai memohon. Ini sangat tidak masuk akal jika aku sampai pergi ke acara ulang tahun anaknya itu. Mungkin aku bisa bersikap biasa saja, tapi aku tidak yakin dengan tanggapan istri Nino saat melihat kedatanganku.
"Vio barusan pergi diantar Bimo. Cuma mendadak mobil mereka mogok," jelasku. Dengan gerakan pelan, aku bergerak menjauhi Nino yang terasa begitu dekat denganku. Buatku semuanya masih terasa canggung.
"Aku mau pergi buat jemput Vio di bengkel," lanjutku. Semoga dengan penjelasanku, Nino akan buru-buru pergi dari hadapanku. Lagi pula acara ulang tahun anaknya sebentar lagi akan dimulai, dia tidak mungkin bersikeras memaksaku untuk ikut dengannya sementara Vio saja masih bersama Beni di bengkel.
"Aku antarin ke bengkelnya. Jo berharap banget Vio bisa datang ke ulang tahunnya." (*)