13. Tidak Ada Alasan

1553 Words
"Papa...!" Vio menjerit dengan kerasnya. Kali ini jeritan Vio kembali menarik perhatian pelanggan bakery. Setelah tadi menjerit-jerit karena keinginannya tidak dituruti, kali ini dia kembali menjerit. Tapi jelas saja jeritannya berbeda. Jeritan kali ini terdengar sangat bahagia. Beberapa pasang mata melirik Vio dan Beni yang sedang berpelukan. Aku menghentikan langkahku dan kemudian memperhatikan interaksi keduanya. Sungguh menyebalkan, kenapa dia sampai datang ke sini? "Memangnya Vio mau ke mana?" Beni mengelus kepala Vio dan kemudian mencium pipinya. Darahku berdesir, rasanya menyakitkan. Sepertinya aku benar-benar iri saat melihat kedekatan keduanya. Ah! Aku ini kenapa sih! Bukankah Beni adalah ayahnya Vio, jadi wajar saja jika dia bersikap seperti itu pada Vio. "Ke dalam aja," kataku perlahan saat menghampiri mereka berdua. Keributan Vio memancing rasa ingin tahu banyak orang, bukan hanya pelanggan tapi beberapa karyawan juga tampak mengintip ingin tahu. Apalagi saat Vio meneriakkan kata 'papa' dengan kerasnya. Aku yakin semua karyawan di sini pasti mendadak merasa ingin tahu. Bukan rahasia lagi jika mereka tahu jika aku dan papanya Vio telah bercerai. Melihat bagaimana tampang papanya Vio sudah pasti menjadi salah satu misi penting mereka. Ini pertemuan pertamaku dengan Beni setelah perceraian kami, terasa canggung dan sangat tidak kuinginkan. Vio tersenyum bahagia sambil menarik-narik tangan papanya menuju ruang istirahat kami. Lama tidak bertemu, Beni masih saja sama seperti dulu. Masih sama maksudku masih saja terlihat menarik dan bisa untuk menggoda gadis-gadis yang tertarik padanya. Badannya masih tegap dan tidak terlihat gemuk, tanda dia menjalani hidupnya dengan baik setelah perceraian kami. Wajahnya juga terlihat penuh senyum,.seperti tidak terjadi apa-apa dengannya. Sepertinya memang hanya aku yang terluka dan terlalu meresapi perceraian kami sampai melarikan diri seperti ini. "Vio jadi anak baik, kan?" tanya Beni sambil mendudukkan Vio di sofa. Aku bergerak menjauh, mencari posisi yang tidak terlalu dekat dengannya. Sekarang sudah tidak lagi sama, berada di dekatnya malah membuatku merasa gerah. "Iya, Papa," jawabnya sambil memeluk leher Beni. Aku menahan napas, tidak biasanya Vio bersikap sangat manja seperti ini. Apa karena sudah lama mereka tidak bertemu? "Kabarmu gimana?" Kali ini Beni pasti bertanya padaku. Apa dia masih perlu bertanya bagaimana kabarku setelah apa yang dilakukannya padaku? "Lebih baik," sahutku singkat. Setelah perceraian kami, aku pernah berjanji tidak akan mau bertemu dengannya lagi. Kali ini aku tahu jawabannya kenapa, karena hanya melihat wajahnya saja, kesalahannya kembali terbayang-bayang di pikiranku. Tapi keinginanku itu hanya omong kosong, aku tidak mungkin menghindarinya karena masih ada Vio yang pasti ingin selalu bertemu papanya. "Tadi Vio mau ke mana?" Beni kembali memfokuskan perhatiannya pada Vio. Perlahan aku bergeser dari posisiku menuju pintu. Sepertinya keluar dari ruangan ini lebih baik. "Ulang tahun teman sekolah Vio," jawab Vio dan membuat Beni memperhatikan wajah Vio dengan saksama. Dia menatap dalam-dalam mata Vio dan selang beberapa saat kemudian, Beni mengelus rambut ikal Vio. Hidung mereka bahkan saling bersentuhan karena saking dekatnya. "Terus kenapa teriak-teriak kayak tadi?" tanya Beni dengan lembut. Aku membuang napas panjang, sepertinya aku memang harus keluar dari ruangan ini. "Vio nggak boleh marah-marah sama Mama lagi ya," ucap Beni dan tangannya kemudian mengelus puncak kepala Vio. Kata-kata uang diucapkannya terdengar sangat lembut. Rasanya aku ingin menertawakannya, tidak percaya saja jika Beni bisa berbicara selembut itu pada anaknya. Biasanya kelembutan hanya diberikannya pada gadis-gadis muda. "Ada waktu buat makan malam? Vio mau makan makan bareng Papa dan Mama, kan?" katanya tiba-tiba saat tinggal selangkah lagi kakiku mendekati pintu. Beni seperti meminta dukungan dari Vio dengan menoleh padanya. Makan malam katanya? Yang benar saja? "Nggak bisa, malam waktu sibukku di bakery," sahutku. Aku nggak butuh makan malam bersamanya. "Sekarang aja, Pa." Suara Vio terdengar seperti sebuah rengekan. Mataku melotot tajam. Vio benar tidak mengerti dengan perubahan wajahku yang terlihat menyeramkan. "Vio barusan makan siang, kan?" Aku mengingatkan. "Jam berapa biasanya toko tutup?" tanya Beni kemudian. Sebenarnya apa maksud basa-basinya ini. Aku menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaannya. Solusi dari semua ini adalah Vio. Beni pasti hanya ingin bersama Vio, tanpa perlu ada aku. Tapi relakah aku meyerahkan Vio pada Beni walau hanya beberapa jam? "Nggak pasti, bisa lebih cepat, bisa juga lebih telat. Tergantung pelanggan," sahutku. "Jam segitu biasanya Vio sudah tidur," lanjutku. "Beberapa blok dari sini ada restoran fast food kesukaan Vio. Kamu boleh membawanya nanti sore ke sana," kataku memberi pilihan. Lebih baik Beni berdua dengan Vio saja. Rasanya harga diriku masih terlampau tinggi hanya dengan ditawari makan malam. "Sejak kapan kamu suka makan fast food?" tanya Beni. Aku menghela napas kesal mendengar perkataannya. "Kamu kan bawa Vio, bukan bawa aku," sahutku berusaha menjaga intonasi suara agar Vio menganggap papa dan mamanya sedang baik-baik saja. "Vio mau bujuk Mama biar mau ikut kita?" Beni terlihat mengedipkan matanya pada Vio. "Sore ini ada acara ulang tahun Jo loh," kataku mengingatkan Vio. Wajah Vio tampak kebingungan. Sesekali dia menatap papanya, dan kemudian melirik ke arahku. Hatinya pasti sedang bimbang. "Papa dan Mama temanin Vio ke ulang tahunnya Jo aja," cetusnya. Aku melotot, sedangkan Beni menganggukan kepalanya. "Sama Tante Kia aja ya, Mama nggak bisa, Sayang. Papa juga, kan baru datang, pasti mau istirahat dulu," bujukku. Nada suara yang kubuat sangat lembut sepertinya tidak mempan buatnya, wajah Vio mendadak berubah keruh. "Ikuti aja maunya Vio, Nay. Jangan egois." Beni berbisik di telingaku. Mendadak telingaku terasa panas, Beni tidak tahu apa-apa. Dia pasti berbesar kepala, mengira aku sedang berusaha mencari cara agar menghindarinya. "Lagi banyak pesanan di bakery. Yang lain bakal keteteran kalau kutinggal," sahutku sekaligus memberi penjelasan pada Beni kenapa aku tidak bisa menuruti kemauannya. "Ya sudah, Papa aja yang temanin Vio. Nanti pulangnya baru kita makan bareng Mama." Mataku membesar mendengar perkataan Beni. Seenaknya saja dia mengambil keputusan. "Nggak bisa, Ben!" Aku menahan kesal yang semakin membuatku kesulitan menarik napas. Jika tidak memikirkan antusiasnya Vio dengan ulang tahun Jo, aku sebenarnya tidak mengijinkan dia pergi. Terdengar sangat egois, tapi memang demikian yang terjadi. Bagaimana bisa aku menjalin kembali hubungan baik dengan mantan pacar yang pernah membuatku begitu terpuruk? "Maksudnya aku nggak boleh bawa Vio buat ke acara ulang tahun temannya?" tanya Beni ketus. Aku menarik dan menghela napas panjang. "Vio, ke Tante Riri dulu sana. Katanya ada kue baru yang mau diberi ke Vio," kataku. Vio beranjak dari duduknya dan menuju area dapur. Selama ini aku selalu menjaga agar jangan sampai Vio tahu Mama dan Papanya sedang bertengkar. "Vio juga anakku, Nay. Jangan gara-gara kita nggak bersama lagi, kamu memberi batas buatku," lanjut Beni. Wajahnya tampak kesal. "Oke, aku mengerti. Kamu boleh bawa Vio ke acara ulang tahun temannya. Nanti aku minta Bimo yang antarin kalian," kataku akhirnya. "Mengenai makan malam, aku nggak bisa. Banyak pekerjaan yang nggak bisa aku tinggalin di sini cuma buat hal sepele," lanjutku. Wajah Beni menegang, bibirnya terkatup rapat. Aku tahu dia sedang memendam kekesalan yang begitu besar. Di saat yang bersamaan aku segera keluar dari ruangan ini karena ingin meminta seseorang membawakan minuman untuk Beni. Walaupun dia bukan tamu yang kuharapkan, tapi tidak mungkin aku memperlakukannya dengan buruk di rumahku sendiri. Aku juga sengaja meninggalkan mereka berdua agat Beni bebas melepas rindu pada Vio. Mungkin ada banyak hal yang ingin diceritakan Beni pada Vio, atau pun sebaliknya. Aku sedang berusaha sabar dan menahan rasa egoisku. Mau bagaimana pun Vio juga anaknya, walaupu sangat besar keinginanku untuk memilikinya sendiri. "Bim, tolongin aku dong," ujarku pada Bimo yang sedang membersihkan oven yang tidak terpakai. "Ya, Mbak," sahutnya sambil menoleh padaku. "Tinggalin aja dulu kerjaanmu, nanti aja lanjut lagi," kataku kemudian. "Aku buatin minumnya dulu, nanti kamu yang antarin ke ruanganku ya," pintaku dan tentun saja membuat Bimo menatapku dengan wajah aneh. "Buat siapa, Mbak?"tanyanya kemudian. "Papanya Vio," sahutku singkat dan segera berlalu dari hadapannya karena akan membuat secangkir kopi buat Beni. Merepotkan memang. Anggap saja ini kedatangannya yang terakhir. "Antarin ya, Bim. Orangnya ada di ruanganku," kataku sambil menyerahkan nampan berisi secangkir kopi panas. Walaupun wajahnya bingung dan sarat akan rasa penasaran, Bimo melakukan apa yang aku pinta tanpa bertanya lagi. Atau mungkin malah sebenarnya dia ingin banyak bertanya tapi tidak enak karena melihat wajah masamku. "Sudah, Mbak," katanya setelah mengantar minuman untuk Beni. "Makasih ya, Bim," kataku. "Terus Mbak ngapain di sini? Mau bantuin aku bersihin oven?" tanyanya. Aku tertawa kecil mendengar pertanyaannya. "Lagi ngebiarin Vio berdua sama papanya," sahutnya. "Ya sudah sana, kamu lanjutin lagi bersihin ovennya," lanjutku salah tingkah karena Bimo seperti tahu alasanku berada di tempat ini, bukan sedang membiarkan Vio dan papanya berdua tapi karena aku sedang berusaha menghindar. Aku segera meninggalkan Bimo dan berpikir apa yan sebaiknya aku lakukan sementara Vio sedang bersama Beni di dalam sana. Yang kulakukan akhirnya membantu Niar di kasir karena sepertinya lumayan banyak pelanggan siang ini. Niar terlihat sedikit kewalahan. Apalagi dia harus menerima pembayaran dan juga memasukkan kue pembelian pelanggan ke dalam kotak. Aku kemudian mengambil alih kasir, sementara Niar yang menata kue ke dalam kotak. Begitu lebih baik sehingga Niar tidak kewalahan. Aku menahan napas saat mendadak Vio dan Beni terlihat keluar dari ruanganku. Keduanya saling bergandengan tangan. Mungkin Vio mengajak papanya berbelanja ke mini market sebelah. Vio memang selalu bisa memanfaatkan keadaan. Di antara banyak pilihan dalam hidup ini, satu hal yang begitu ingin kuhindari up seumur hidupku adalah bertemu Beni. Kesalahan yang pernah dilakukannya meninggalkan bekas yang tidak mudah kulupakan. Dan saat ini tiba-tiba dia menunjukkan sosoknya kembali di hadapanku, tentu saja tidak semudah itu aku dapat menerimanya. Beni punya alasan untuk bertemu denganku, karena ada Vio. Sedangkan aku, tidak memiliki alasan apa pun untuk bertemu dengannya lagi. (*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD