Tanganku bergetar menyelesaikan pesanan sebuah kue ulang tahun. Tidak ada permintaan aneh, kue berbentuk mobil-mobilan seperti karakter sebuah film kartun anak-anak yang harusnya bisa kuselesaikan dengan cepat. Tapi yang ada kali ini aku malah beberapa kali harus terdiam karena mendadak kehilangan konsentrasi.
Biasanya aku paling cepat mendekorasi kue ulang tahun seperti ini, apalagi tidak ada permintaan yang aneh. Tapi kali ini aku seperti tidak bisa melakukannya dengan benar.
Entahlah. Menuliskan ucapan selamat ulang tahun di atas kue yang telah dihias saja membuatku beberapa kali melakukan kesalahan. Aku seperti pemula yang baru saja belajar membuat kue. Harusnya tadi aku meminta Riri untuk menyelesaikan kue ini, bukannya malah memaksakan diri seperti ini.
Dua hari yang lalu, seseorang datang ke bakery dengan permintaan kue ulang tahun, aku tidak tahu siapa karena seharian memang kuhabiskan di dapur. Seperti biasa, kasir akan mencatat pesanan sesuai permintaan dan kemudian menyerahkannya padaku atau pun Riri. Karena Riri masih sibuk mengerjakan pesanan kue yang lainnya, akulah yang mengambil alih. Tidak ada satu pun hal aneh yang terlintas saat menerima pesanan kue ulang tahun itu. Tadi pagi aku mengerjakannya seperti kue-kue lainnya, karena tidak ada permintaan khusus seperti penambahan keju, buah, coklat, selai, atau yang lainnya.
Pikiranku mulai tidak tenang saat melihat kertas order yang bertuliskan permintaan ucapan selamat ulang tahun. Jonathan, Jo. Nama yang sama dengan nama anak Nino yang pernah Vio sebutkan beberapa hari yang lalu. Juga tanggal ulang tahun yang sama seperti tertera di lembaran undangan ulang tahun yang diterima Vio. Mungkin beberapa hari yang lalu Tante Rima yang datang untuk memesan kue, atau malah bisa jadi juga Nino.
Saat itu rasanya aku ingin segera meninggalkan kue yang sudah setengah kurias. Dan tentu saja tidak bisa kulakukan karena mau siapa pun yang memesan, pelanggan tetap yang diutamakan.
Seperti ini jadinya. Aku mengerjakan kue pesanannya dengan lamban dan hampir saja menyerah kalau tidak memikirkan membawa nama baik bakery.
Sore ini perayaan ulang tahun Jo, anak Nino. Dari tadi Vio sudah merengek meminta agar aku yang mengantarnya nanti. Aku mengiyakan karena tidak ingin berdebat dan malah membuatnya menangis. Pikiranku sedang buntu untuk bernegosiasi dengan Vio yang pantang menyerah jika menginginkan sesuatu. Mungkin nanti aku akan meminta salah satu karyawan bakery untuk mengantar dan menemani Vio.
Aku tidak mungkin menantang diriku dengan datang ke rumah Nino, bukan? Selain tidak baik untuk perasaanku, aku rasa istri Nino pasti tidak akan senang melihat kedatanganku. Aku tidak punya prinsip untuk bersilaturahmi dengan seseorang yang pernah menorehkan luka padaku.
Aku menahan napas saat akhirnya berhasil menyelesaikan kue ulang tahunnya. Rasanya begitu lega karena tidak ada kesalahan berarti, walaupun dikerjakan dalam waktu cukup lama. Aku rasa Nino sengaja memesan kue ulang tahun anaknya di bakery ini. Seperti ajang pamer kalau dia bahagia dengan keluarganya.
Oh tidak! Sepertinya kelelahan membuat pikiranku kacau. Ini hanya sebuah pesanan kue ulang tahun biasa, kenapa aku malah menghubungkan dengan masalah pribadiku.
Aku segera keluar dari dapur agar bisa menghirup udara segar, berlama-lama dengan kue ulang tahun pesanan Nino malah membuat napasku terasa sesak. Ini begitu aneh, biasanya aku paling suka berlama-lama berada di dapur yang beraroma manis ini.
Aku meraih ponselku dan membawanya menuju ruang istirahat. Dari tadi layarnya berkedip-kedip menandakan ada panggilan masuk. Tapi sengaja kuabaikan karena aku tidak bisa membagi konsentrasi saat sedang mengerjakan pesanan kue. Apalagi pesanan kue yang baru aku selesaikan tadi sungguh berbeda dari yang biasanya.
Satu jam lagi Vio akan pulang sekolah. Siang ini aku akan menjemputnya dengan harapan dia akan memberikan sedikit dispensasi padaku nanti sore, dengan tidak memaksaku untuk menemaninya ke acara ulang tahun Jo.
Atau semoga saja perasaannya sedang baik, sehingga tidak mempermasalahkan jika aku tidak bisa mengantarnya ke acara ulang tahun Jo. Memiliki anak seperti Vio, rasanya aku seperti sedang berhadapan dengan diriku sendiri.
Aku menatap sekilas ke arah layar ponselku. Mataku membesar. Lagi-lagi Beni! Nomornya tertera puluhan kali di panggilan tidak terjawab. Sudah beberapa hari ini aku mengabaikannya dengan tidak mengangkat telepon atau pun menjawab pesannya. Menurutku Beni sudah keterlaluan dengan bertubi-tubi menghubungiku. Ke mana dia dulu saat aku mengharapkan telepon darinya?
Lihat saja yang dilakukannya lagi, dia kembali mengacaukan suasana hatiku yang sedang gelisah karena memikirkan ulang tahun anaknya Nino. Selalu saja seperti ini. Apa sebenarnya yang diinginkannya?
Namanya kembali tertera di layar ponselku. Detik pertama, aku begitu ingin mengabaikan panggilannya kembali. Detik selanjutnya yang muncul perasaan kesal dan begitu ingin memakinya.
"Aku juga punya pekerjaan, Ben. Nggak bisa menerima teleponmu terus," kataku sambil mengangkat teleponnya.
"Dengarkan perkataanku sebentar saja," ujar suara di seberang sana. Aku menarik napas panjang dan menahan keinginanku untuk segera menutup teleponnya. Aku menghitung dalam hati, jika sampai hitungan ke lima dia belum berbicara juga, makan aku akan segera menutup panggilan teleponnya.
"Aku sudah di bandara," ujarnya. Aku mengernyit. Apa dia sedang mengajak orang lain berbicara?
"Bandara?" tanyaku bingung. Kalau pun benar dia sedang berada di bandara, buat apa memberitahuku. Aku tidak peduli saat ini di sedang di mana. Bahkan sekali pun dia mengatakan sedang berada di bulan, aku tetap tidak mau tahu.
"Kirimkan aku alamatmu." Jawabannya semakin membuatku bingung. Bandara? Alamatku? Apa hubungannya semua ini? Tanganku sudah gatal ingin mengakhiri panggilan teleponnya, apalagi dengan kondisi emosiku yang sedang tidak baik in
"Kamu salah telepon," ujarku bermaksud mengakhiri panggilan teleponnya.
"Aku sudah di bandara Supadio, Nay," ujarnya menyebutkan nama bandara di Pontianak. Aku terdiam selama beberapa saat. Sepertinya pendengaranku tidak salah.
"Maksudnya?" tanyaku lagi. Padahal tadi aku mendengar dengan jelas ucapannya tapi tetap saja aku merasa dia sedang asal berbicara.
"Aku ada pekerjaan di Pontianak untuk beberapa hari ke depan. Aku pengen ketemu Vio," sahutnya. Selanjutnya yang kulakukan adalah menarik dan mengembuskan napas dengan kesal. Beni di sini, di kota yang sama denganku dan ingin bertemu Vio. Kedengarannya tidak begitu baik untukku. Seingatku Beni jarang sekali ditugaskan ke luar kota, apalagi tidak ada cabang dari perusahaannya di kota ini.
"Oh...," kataku menanggapi dengan tidak bersemangat.
"Kirimkan aku alamatmu," pintanya lagi. Aku terdiam beberapa saat sambil memikirkan apa memberitahu alamatku padanya adalah ide yang baik.
"Nanti biar aku dan Vio yang datang ke hotel atau tempatmu menginap," kataku memberi penawaran. Rasanya aku tidak ingin Beni datang ke bakery karena akan semakin mengacaukan pikiranku. Biar saja aku dan Vio yang akan datang ke tempatnya menginap. Begitu lebih baik karena aku bisa mengakhiri pertemuan dengannya secepat mungkin.
"Aku cuma ingat nama bakery-mu tapi nggak alamatnya. Apa semua sopir taksi di sini tahu kalau cuma kusebutkan nama bakery-nya?" Beni masih bersikeras jika dialah yang akan datang ke lokasiku berada saat ini.
"Nanti aku kirim lokasinya," kataku akhirnya karena sedang tidak mau berdebat dengannya. Semakin aku menolak, sepertinya Beni akan semakin memaksaku. Jika Beni dan Vio tidak memiliki hubungan sebagai ayah dan anak, aku tidak akan mau mengijinkan dia menginjak bakery-ku. Betapa sebenarnya aku sangat tidak ingin melihat wajahnya. Aku bahkan lupa entah sudah berapa bulan kami tidak bertemu. Bukan hanya kecanggungan, tapi mungkin juga perasaan tidak nyaman saat bertemu dengannya lagi.
Tanpa menuggu basa-basi darinya lagi, aku menutup telepon. Beberapa hal yang terjadi hari ini membuat pikiranku bertambah kacau dan ini tidak baik. Pikiran yang kacau sangat berpengaruh jelek pada pekerjaan yang aku lakukan.
Sepertinya aku memang harus beristirahat hari ini. Dan semoga saja saat terbangun nanti, tidak ada hal buruk yang kuingat lagi.
***
Vio berlari dengan riang semenjak memasuki bakery. Aku baru saja menjemputnya dari sekolah. Sedangkan perihal kedatangan papanya, memang belum aku beritahukan pada Vio. Sudah pasti dia akan kegirangan jika mendengarnya. Ada rasa tidak rela saat aku ingin memberitahukan tentang kedatangan papanya. Apa mungkin aku takut Beni akan merebut perhatian Vio dariku?
"Ma, hadiah buat Jo sudah dibeli?" tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan. Tadi pagi aku sendiri yang membelikan hadiah ulang tahun untuk anak Nino di mini market sebelah. Vio tidak mungkin datang tanpa membawa apa-apa. Walaupun sebenarnya enggan, tapi mau tidak mau aku harus membelikannya. Dan untung saja Vio tidak bertanya apa-apa lagi. Dari raut wajahnya terlihat jika dia begitu senang dan sangat menantikan acara ulang tahun nanti sore. Dilema apa yang sebenarnya sedang menghantuiku? Kenapa rasanya perasaanku tidak tenang? Apa mungkin aku harus memberitahu Vio sekarang kalau nanti sore aku tidak bisa menemaninya?
"Tadi belajar apa aja di sekolah?" tanyaku pada Vio setelah dia menyelesaikan makan siangnya. Dia tersenyum lebar sebelum menjawab pertanyaanku.
"Mewarnai binatang. Punya Vio paling bagus, Ma," ujarnya.
"Kalau gitu nanti kita cari pensil warna baru, biar Vio lebih semangat mewarnainya," kataku sambil mengelus kepalanya.
"Sama buku gambar yang bisa diwarna," pintanya. Wajahnya terlihat berbinar. Mungkin waktunya sudah tepat untukku memberitahunya jika nanti sore aku tidak bisa menemaninya.
"Buku mewarnai? Boleh, nanti kita beli sama-sama ya," sahutku sambil terus berpikir cara yang aman untuk bisa membujuk Vio.
"Vio, nanti Tante Kia ya yang nemanin Vio ke ulang tahun Jo ya," kataku dengan nada pelan.
"Mama mau ke mana?" Seketika wajahnya berubah tidak senang. Aku menahan napas, sepertinya caraku tidak berjalan baik. Baru saja memulai, wajahnya sudah terlihat keruh.
"Mama nggak ke mana-mana. Cuma banyak pesanan kue yang harus mama buat. Jadi nanti Vio diantar Tante Kia aja ya," bujukku.
"Nggak mau!" Vio mencemberutkan wajahnya sambil mengetak-entakkan kakinya.
"Vio cuma mau pergi kalau Mama yang temanin!" Dia beranjak dan berlari meninggalkanku menuju pintu bakery. Aku segera berlari mengejarnya.
"Pokoknya Vio nggak mau kalau sama Tante Kia!" Vio kembali menjerit. Saat pintu telah setengah dibukanya, seseorang yang baru masuk hampir ditabraknya. Orang itu menahan Vio dengan memegang bahunya dan kemudian berjongkok di dekatnya.
"Kalau sama Papa mau, kan?" (*)