Setiap Vio memintaku untuk menjemputnya di sekolah, aku selalu mengarang berbagai alasan agar dia mau mengerti dan membiarkan Bimo yang menjemputnya seperti biasanya. Entahlah, sepertinya Vio mulai tidak suka dengan rutinitasnya diantar dan dijemput oleh Bimo. Berkali-kali dia merengek memintaku yang menggantikan tugas Bimo.
Mengantar dan menjemput Vio sebenarnya bukanlah hal yang sulit, tapi semuanya berubah sejak aku tahu Nino juga melakukan hal yang sama untuk anaknya. Mungkin bagi Nino, pertemuannya denganku adalah hal yang biasa saja, sama halnya seperti bertemu teman lama. Tinggal basa-basi dan semuanya akan berlalu.
Tapi, tidak tahukah dia jika bertemu dengannya adalah hal tersulit yang saat ini sedang aku hadapi? Rasanya setiap hari aku merasakan kesulitan saat akan melewati sekolah Vio ini. Tapi tidak mungkin aku memindahkan Vio ke sekolah lain hanya karena alasan pribadiku. Aku tidak akan egois untuk hal ini.
Tidak mungkin aku menjelaskan pada Vio ketakutan seperti apa yang kurasakan bila mendatangi sekolahnya. Seperti sebuah phobia, tapi aku sendiri sulit menjelaskan penyebabnya.
Padahal hanya ke sekolahnya dan kemudian membawa Vio pulang, apa salahnya juga? Salahkan saja pikiranku yang masih terus memikirkan akan bertemu dengan Nino saat berada di sekolah Vio. Padahal sebenarnya itu hanya satu kemungkinan di antara sepuluh peluang yang terjadi.
Kadang ada waktunya Vio tidak terlalu peduli siapa yang akan mengantar atau pun menjemputnya. Tapi, adakalanya jika sikap manjanya sedang kambuh, dia akan menolak siapa pun dan bersikeras harus aku yang menemaninya baik saat pergi ke sekolah maupun saat pulang.
Aku mematikan sambungan telepon dari Bimo dengan perasaan kesal. Kejadian yang sama terulang lagi. Vio menolak pulang karena Bimo yang menjemputnya. Dia marah karena tadi pagi aku telah berjanji akan menjemputnya saat pulang. Salahku juga yang memberinya janji, tapi tidak menepatinya. Bimo yang kebingungan karena Vio menolak pulang dengannya, akhirnya hanya bisa berkeluh padaku. Aku ingi marah, tapi tentu saja semua ini bukan salah Bimo. Malah akulah yang paling bersalah karena sudah tahu Vio akan rewel dengan Bimo, malah masih mencobanya.
Di bakery saat ini memang sedang sibuk, banyak pesanan pelanggan dan beberapa stok kue harus dibuat lagi. Aku menarik napas panjang, sebenarnya kesibukan di bakery hanya alasan kedua. Sejenak aku merasa sangat bersalah pada Vio. Sepertinya aku hanya mementingkan keegoisanku.
Mungkin sekarang saatnya aku melupakan masalah masa laluku karena mau bagaimana pun masalahku, Vio yang paling penting. Aku mengerti apa yang dirasakan Vio, dia pasti merasa kesal dan marah karena lagi-lagi aku melupakan janjiku.
Ah! Sudahlah. Masalah bertemu Nino, itu adalah urusan belakangan. Anggap saja dia benar-benar orang dari masa lalu yang selayaknya tidak perlu diingat.
"Ri, aku tinggal sebentar ya. Vio rewel lagi, nggak mau dijemput Bimo," kataku pada Riri yang sedang memotong-motong fondant yang akan digunakan untuk menghias cup cake. Beberapa lusin cup cake yang sedang dihias oleh Riri merupakan pesanan acara ulang tahun salah seorang pelanggan.
Riri tertawa kecil mendengar perkataanku. Bukan rahasia lagi jika setiap hari aku selalu saja mengeluh tentang rewelnya Vio. Setipa pulang dari sekolah dia pasti akan bertengkar denganku dan juga dengan Bimo. Bimo yang tidak tahu apa-apa itu juga jadi korban kekesalannya.
"Seperti biasa ya, Mbak," ujar Riri mengomentari Vio. Aku terkekeh sambil beranjak dari hadapannya.
"Oke, Mbak. Nggak ada yang mesti dilanjutin?" tanyanya.
"Sudah masuk oven semuanya. Nanti biar Mas Toni aja yang nungguin," sahutku. Riri mengangguk dan kemudian melanjutkan pekerjaannya. Mungkin ada baiknya besok aku mempertimbangkan Papa yang menjemput Vio. Dengan Kakek dan Neneknya, Vio masih sedikit segan, mungkin karena baru bertemu.
Aku menyambar ponsel dan kunci mobil dengan tergesa. Rasa kesalku perlahan menghilang saat memikirkan Vio yang saat ini pasti sedang menangis karena tidak mau dijemput Bimo. Sepertinya akhir-akhir ini aku terlalu keras padanya.
Ponselku berdering kembali. Sambil menyalakan mobil, aku melirik layarnya perlahan. Mungkin Bimo yang sudah kebingungan menenangkan Vio.
Keningku berkerut. Beni?! Dia selalu menelepon di saat yang tidak tepat.
"Aku lagi di jalan, kalau penting nanti aja telepon lagi," kataku ketus. Kali ini aku masih berbaik hati dengan mengangkat teleponnya pada dering pertama, padahal biasanya aku malah selalu mengabaikan sambungan teleponnya.
"Aku nggak pernah telepon kamu kalau nggak penting, Nay," sahut suara di seberang sana. Pentingnya Beni hanya sebatas menanyakan kabar Vio. Jadi apa lagi hal penting yang dimaksudnya sekarang?
"Nanti aja, Vio masih di sekolah," kataku tidak peduli.
"Vio sudah sekolah? Kenapa kamu nggak cerita sama aku?" potongnya cepat.
"Aku kira kamu tahu dari cerita Vio. Bukannya Vio sering menghubungimu," balasku.
"Sudahlah, nanti aja bicara tentang Vio," katanya.
"Jadi, ada apa? Apa kamu mau bicara dengan Vio?" Aku mulai terpancing emosi.
"Aku mau bicara sama kamu, bukan sama Vio," balasnya. Aku mengembuskan napasku dengan kesal.
"Apa yang mau kamu bicarakan denganku? Aku nggak punya banyak waktu, Ben," ujarku.
Apa mungkin dia ingin membahas berita seputar kantornya ataupun berbagi cerita bahagia tentang keberhasilannya membuat perusahaan mendapat laba yang besar? Tidak, kan?
"Nanti aja, Ben. Aku mau jemput Vio dulu." Dan telepon pun aku tutup tanpa menunggu persetujuan Beni.
Semakin hari frekuensi telepon Beni semakin meningkat. Dari yang seminggu sekali menjadi hampir setiap hari.
Katanya dia meneleponku karena ada hal yang penting, tapi tidak demikian yang terjadi. Tujuannya menelepon juga hanya membicarakan seputar hal tidak penting, hanya basa-basi. Tujuan utamanya memang berbicara pada Vio, tapi tetap saja setelah itu dia akan memintaku mengobrol dengannya juga. Obrolan yang terjadi juga lebih banyak tidak bermanfaat.
Aku tidak pernah meladeni pembicaraannya. Biasanya jika di sudah berbicara hal tidak penting, aku akan segera memutuskan sambungan telepon. Hubungannya denganku hanya sebatas perantara baginya untuk berhubungan dengan Vio.
Beni seperti gangguan yang muncul di saat yang tidak tepat. Di saat kepalaku sedang pusing karena memikirkan Vio, dia malah semakin memperparahnya. Beni tidak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan setelah pengkhianatannya. Dia tidak pernah merasa dirinya bersalah karena itu masih memiliki keberanian untuk menghubungiku terus.
Aku memperlambat kecepatan mobil saat memasuki sekolah Vio, sambil mataku mencari sosoknya yang saat ini pasti sedang bertengkar dengan Bimo. Aku tertawa membayangkan tingkah Vio. Padahal orang yang paling dicarinya di bakery adalah Bimo, dan juga orang yang sama yang selalu diajaknya bertengkar. Vio tidak pernah bisa aku dengan Bimo, selain karena Bimo juga sering mengusilinya.
Aku bisa melihat Vio sedang berdiri di sebelah gerbang sekolah dengan menyilangkan tangan di d**a, wajahnya keruh tanpa senyum. Dia mirip seperti anak remaja yang sedang bertengkar dengan pacarnya dan menolak diajak pulang bareng. Aku tertawa membayangkan khayalan tidak masuk akalku. Sedangkan Bimo yang berdiri di sebelahnya, tampak pasrah. Bisa kutebak, Bimo pasti sudah lelah membujuknya untuk pulang dan mereka berdua berakhir dengan saling diam. Aku tertawa kecil, menyadari betapa lucunya tingkah laku Vio. Kalau sedang ngambek seperti ini, dia sangat mirip denganku yang akan mengabaikan segala macam bujuk dan rayuan. Karena buatku sendiri, aku tidak perlu dibujuk atau pun dirayu saat sedang marah. Cukup didiamkan, dan aku akan membaik dengan sendirinya.
"Vio nggak mau sekolah lagi," ujarnya saat melihat kedatanganku. Dia tidak memelukku seperti biasanya, tangannya tetap disilangkan di dadanya.
"Kenapa, Sayang?" tanyaku sambil menunduk dan membelai rambutnya. Bimo telah kuberi kode agar pulang duluan. Lebih baik dia pulang ke bakery daripada membantuku membujuk Vio, mereka berdua terlihat sedang tidak akur. Sejujurnya aku juga kasihan dengan Bimo, selain mengurus bakery, dia juga sering kuminta melakukan hal yang berhubungan dengan keperluan pribadiku. Mengantar dan menjemput Vio contohnya.
"Aku ke rumah dulu, Mbak. Tadi dapat telepon dari Ibu disuruh ambil barang," ujarnya padaku. Aku mengangguk dan tak lama Bimo berlalu dari hadapanku. Bimo pasti ingin berkeluh tentang rewelnya Vio padaku, tapi tidak jadi karena wajah Vio yang masih terlihat kesal.
"Teman-teman Vio yang lain dijemput mama sama papanya. Vio sendiri malah dijemput Om Bimo. Vio nggak mau," ucapnya tanpa jeda. Bibirnya masih ditekuk dan dia enggan tersenyum sedikit pun.
"Apa salahnya juga dijemput Om Bimo. Malah lebih cepat. Kalau sama Mama, kan sering kena macet," ujarku.
"Pokoknya tetap nggak mau sama Om Bimo!" katanya tak terbantahkan.
"Jadi Vio maunya Mama yang jemput?" tanyaku memastikan. Dia mengangguk yakin. Bibirnya berkerut dan setiap bicara dia selalu menendang-nendangkan kakinya.
"Kalau Mama lagi sibuk, gimana?" tanyaku. Bola matanya berputar seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sesekali dijemput Om Bimo nggak apa-apa, kan?" tawarku. Dia masih diam, sepertinya tawaranku tidak terlalu menarik buatnya.
"Vio nggak mau sama Om Bimo. Mama aja. Kenapa harus Om Bimo sih, Ma?" tanyanya terlihat tidak sabar.
"Iya, kadang-kadang dijemput sama Om Bimo kalau Mama lagi sibuk. Boleh?" tawarku lagi.
"Vio maunya Mama terus yang jemput," ujarnya dengan bibir berkerut.
"Oke, Mama usahakan," kataku akhirnya. Tidak ada negosiasi yang akan berhasil jika dilakukan saat Vio sedang kesal. Sepertinya aku akan membicarakan masalah ini nanti saat perasaannya sudah membaik.
"Ayo kita pulang," ajakku sambil mengulurkan tangan. Vio menatapku sekali lagi, seperti memintaku untuk menepati janjiku.
"Ayo," kataku lagi. Senyumnya perlahan merekah. Dia menggenggam tanganku erat. Sepertinya kali ini aku akan berusaha menyenangkan hati Vio, mungkin dengan mengajaknya makan es krim kesukaannya.
Aku tidak mau mengedarkan mataku karena takut jika malah akan melihat Nino. Aneh sekali rasanya yang ada di pikiranku ini. Padahal belum tentu Nino menjemput anaknya hari ini. Pikiranku saja yang terlalu jauh memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Ma, minggu depan ulang tahunnya Jo," kata Vio saat di dalam mobil. Aku berpikir sejenak sebelum membalas perkataannya. Syukurlah setelah beberapa hari sekolah, ternyata Vio telah mendapatkan teman.
"Jo?" tanyaku bingung. Vio mengangguk yakin.
"Teman sekelas Vio?" tanyaku lagi.
"Jo nggak sekelas sama Vio," jawabnya. Aku melirik sekilas ke arah Vio sebelum menyalakan mobil.
"Jo anaknya Om Nino, Ma," jelasnya lebih lanjut. Tanganku menegang, aku melirik Vio sekali lagi untuk memastikan ucapannya.
"Vio dapat undangan ulang tahunnya. Nanti Mama antarin ya?" (*)