10. Mengacaukan Pikiran

1720 Words
Vio sudah tertidur dari setengah jam yang lalu setelah menyelesaikan makan siangnya. Dia tampak pulas berbaring di sofa besar yang mirip seperti kasur. Aku menarik napas panjang sambil beranjak meninggalkannya. Mengurus anak seumuran Vio memang ada senang dan dukanya. Vio yang aktif kadang membuatku sedikit kesulitan. Apalagi dia selalu penasaran dengan semua hal, apa pun akan ditanyakannya jika dia merasa ingin tahu. Dia diam hanya saat tidur dan di saat itulah aku bisa berkonsentrasi bekerja. Vio sangat cerewet, tidak mirip sepertiku yang pendiam dan hanya berbicara seperlunya pada orang yang baru dikenal. Sepertinya dia lebih mirip Beni yang pandai bicara dan mudah bergaul dengan orang lain. Vio sebenarnya adalah perpaduan antara aku dan Beni. Kadang hanya melihat wajah Vio saja, mendadak aku mengingat Beni dan semua hal menyakitkan yang dilakukannya padaku. Tidak, aku tidak membenci Vio karena ada darah Beni yang mengalir di dirinya. Aku bahkan mencintai Vio melebihi diriku sendiri. Vio tidak ada hubungannya dengan kebencianku pada Beni. Siang ini setelah menjemput Vio dari sekolahnya, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kulakukan. Mencoba resep kue baru dan juga memadu padankan beberapa resep. Dengan Vio yang sedang tertidur, harusnya saat ini aku memiliki banyak waktu untuk berkreasi di dapur. Aku sudah merencanakan beberapa resep kue baru yang akan dicoba hari ini, tapi mendadak keinginan itu lenyap dan berganti dengan perasaan serba salah. Apakah semua ini gara-gara pertemuanku dengan Nino? Jika aku memaksakan diri mencoba membuat beberapa resep kue dengan perasaanku yang sedang tidak nyaman ini, mungkin kue yang jadi tidak akan terlalu baik. Bagiku, membuat kue itu membutuhkan suasana hati yang sedang baik, karena membuat kue bukan hanya sekadar mencampurkan bahan-bahan menjadi satu, tapi juga berbagi kebahagian melalui tiap gigitan kue. "Mbak Nay, ada yang mau ambil pesanan." Wajah Niar, kasir bakery mendadak muncul di hadapanku. Bukannya langsung menjawab, aku malah kebingungan menatap wajah niar. "Oh...," sahutku menghilangkan rasa kaget. Aku berpikir sesaat sebelum menanggapi perkataan Niar. Hari ini ada beberapa pesanan, beberapa diantaranya sudah diambil tadi pagi. Dan menjelang siang ini, tinggal satu pesanan lagi yang belum diambil, pesanan paket kue untuk arisan. "Ambil aja di dalam. Pesanan empat puluh paket kue, kan?" tanyaku memastikan. Niar mengangguk menjawab pertanyaanku. "Minta bantu Bimo atau siapa aja yang lagi nggak sibuk. Orangnya sudah bayar lunas, ya." Niar beranjak dan kembali ke meja kasir setelah kalimat terakhirku. Aku sekilas menatap Vio saat Niar menutup pintu ruanganku. Aku tidak boleh membiarkan pikiranku mengacaukan hari ini. Sambil menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan cara yang sama, aku terus merapal kalimat-kalimat yang bisa merubah suasana hatiku. Siapa tahu aku bisa lebih bersemangat. Mungkin satu resep kue bisa aku buat hari ini. Aku tidak boleh membiarkan perasaanku yang mengendalikan diriku. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku tidak melakukan apa pun karena menuruti perasaanku. "Mbak Nay...." Pintu terbuka dan wajah Niar kembali muncul di hadapanku. Kali ini aku baru saja akan bersiap memasuki gudang penyimpanan bahan baku untuk mengambil stok tepung terigu. Donat klasik dengan taburan tepung gula sepertinya bisa mengembalikan mood-ku. Memang bukan buat dipajang di etalase bakery, tapi entah kenapa lidahku seperti merindukan rasanya. "Sudah diambil pesanannya?" tanyaku memastikan. "Sudah, Mbak. Itu...orang yang ambil pesanan mau ketemu," sahutnya. Aku mengernyitkan keningku. Apa ada yang salah dengan pesanannya? "Ada yang kurang? Atau pesanannya salah?" tanyaku. Niar menggeleng dengan cepat. "Nggak Mbak, nggak ada yang salah. Cuma mau ketemu aja," sahutnya. Lagi-lagi aku tidak bisa mengerti tentang maksud perkataan Niar. Cuma mau ketemu? Aku selalu panik jika ada kue di bakery yang tidak sesuai standar. Apa mungkin karena hal itu? Tapi rasanya semua kue yang sudah masuk lebih dulu melalui proses sortir, dan kue yang tidak layak jual, tidak akan mungkin sampai ke pembeli Karena penasaran kenapa sampai pemesan kue tadi ingin bertemu denganku, akhirnya tak urung aku berjalan mengikuti langkah Niar. Jika ada pelanggan yang ingin bertemu dengan owner, biasanya ada sesuatu yang terjadi. Tidak mungkin hanya ingin sekadar bertemu dan berbasa-basi. Semoga kali ini tidak demikian. "Maaf Ibu, ada yang bisa dibantu?" sapaku pada seorang wanita yang sedang membelakangiku. Niar telah memberikan kode jika wanita yang sedang berdiri di hadapan etalase adalah pelanggan yang ingin bertemu denganku. Selama aku menggantikan Mama dan mengambil alih tanggung jawabnya di bakery, baru kali ini ada pelanggan yang secara langsung ingin bertemu denganku. Aku memang jarang berada di depan dan bertemu langsung dengan pelanggan. Aku lebih menikmati berpanas-panasan di dekat oven. Wanita itu menoleh dan seketika aku seperti membeku. Sosok keibuan itu tersenyum ramah sambil menyentuh pundakku perlahan. Aku membalas senyumannya dengan kaku. Garis lurus bibirku sulit sekali dilengkungkan. "Apa kabar, Nay?" tanyanya. Aku menarik napas dengan susah payah. Kenapa pertanyaan apa kabar seperti menghantuiku? Kalau boleh jujur, aku sangat tidak suka dengan pertanyaan itu. Kesannya seperti sedang menertawakan hidupku. "Tante Rima...," ujarku tertahan. Sekali lagi aku mencoba menarik napasku dengan perlahan agar kecanggunggan yang kurasakan bisa menghilang. Aku mengalihkan pandangan dengan menatap helaian rambutnya. Beberapa helai rambutnya kelihatan memutih, ah...masih sama seperti dulu. Ada yang terasa nyeri di dadaku saat mata kami saling bertatapan. "Sudah lama ya, Nay," katanya sambil mengelus lenganku. Sudah lama semenjak aku memutuskan membatalkan pernikahan dengan anaknya. "Tante yang pesan buat acara arisan ya?" tanyaku mencoba berbasa-basi. Jadi ini maksud perkataan Nino waktu di sekolah Vio tadi? Aku bersyukur ternyata bukan Nino yang mengambil pesanan mamanya ini. "Iya, ini pesanannya teman Tante. Buat arisan nanti sore. Gara-gara kemarin sudah mepet dan orangnya malah baru pulang dari luar kota. Makanya Tante yang pesanin," jelasnya. "Tadi Nino yang Tante suruh ambil, tapi mendadak dia dapat panggilan telepon, ada kerjaan katanya," lanjutnya lagi. Tidak ada yang berubah dari Tante Rima, gaya bicara, keramahannya, dan juga sorot matanya yang begitu menenangkan membuatku seperti bernostalgia. "Tante baru tahu kalau ternyata kamu sudah pulang." Dia kembali menyentuh lenganku perlahan. Aku terdiam beberapa saat. Sebenarnya apa yang harus aku lakukan saat ini? Bisakah aku beramah tamah dan berbasa-basi seperti dahulu? Rasanya sulit, mengingat apa yang pernah terjadi dan yang telah aku lakukan untuk menghindari Nino dan keluarganya. Seharusnya aku memeluknya dan menyatakan kerinduanku, sama seperti yang kulakukan saat bertemu Mama. Tapi..., semuanya terasa canggung. "Iya Tante, sudah beberapa minggu," sahutku perlahan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah berbasa-basa seperti ini. "Aduh..., Tante sudah ditelepon nih. Nanti kalau ada waktu Tante mampir ya. Kebetulan minggu depan Jo ulang tahun. Kue ulang tahunnya Tante pesan sama kamu ya," katanya dengan nada tergesa sambil mematikan ponselnya yang berdering nyaring. Aku tidak menggeleng, tidak juga mengangguk untuk permintaannya. Dia menempelkan pipinya di pipiku dengan tergesa dan memberi isyarat jika dia akan datang kembali. Oh...adakah cara agar bisa menghindari orang-orang dari masa lalu? "Gimana Mbak? Nggak ada masalah, kan?" tanya Niar saat aku melewatinya. "Nggak ada kok, tenang aja," sahutku sambil tersenyum. Niar kemudian melayani pelanggan yang akan membayar kue yang telah dipilihnya, sedangkan aku kembali ke ruanganku untuk melihat keadaan Vio. Vio sedang terduduk dengan mata setengah terpejam. Sepertinya dia baru saja terbangun. Aku mendekat dan duduk di sebelahnya. "Mama...," katanya sambil mengucek matanya. "Vio masih ngantuk?" tanyaku sambil membelai rambutnya. "Haus," ucapnya kemudian dan aku segera mengambil botol minumnya. Vio meneguk minumannya dan menyeka mulutnya saat telah selesai minum. "Mama buat kue apa?" tanyanya sambil menatapku. Sejenak aku bingung saat mendengar pertanyaannya karena sepertinya aku menjadi tidak konsentrasi setelah bertemu dengan mamanya Nino. "Oh...itu..., Mama baru aja mau buat donat. Mau yang keju atau coklat?" tanyaku padanya. "Dua-duanya," sahutnya sambil tersenyum lebar. "Vio tunggu di sini ya, Mama buatin dulu. Sambil nonton kartun gimana?" tawarku. Dia kemudian menggeleng dan membuatku mengernyitkan kening. "Mau ikut Mama," ujarnya sambil melingkarkan lengannya di leherku. Aku tersenyum kecil saat melihat sikapnya yang mendadak manja. "Atau main sama Om Bimo aja, gimana?" tawarku lagi. Kontan Vio langsung menggeleng. "Bosan sama Om Bimo terus," jawabnya dengan wajah cemberut. Aku tertawa kecil melihat wajahnya. "Oke, ayo sama Mama ke dapur. Tapi Vio duduk lihatin Mama aja ya," ujarku dan dengan segera dia melompat ke pelukanku, tanda minta digendong. "Vio berat nih," ledekku sambil membawanya ke gendongan. Vio terkikik dan mengeratkan pelukannya di leherku. Aku mendudukkan Vio di dekat meja panjang, tempatku biasa mencampurkan adonan. Aku kemudian masuk ke ruang penyimpanan bahan baku dan mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat donat. Untuk donat sendiri, sebenarnya aku lebih suka donat jadul dengan taburan tepung gula daripada donat yang telah dipasarkan dengan topping glaze yang begitu beragam dan kadang membuatku eneg. Sedangkan Vio juga sangat menyukai donat, terutama donat dengan lelehan coklat yang melimpah. Tentu saja dia akan memakan coklatnya terlebih dahulu, baru kemudian donatnya. Mataku mengedar ke ruang penyimpanan bahan baku yang berukuran tiga kali empat meter ini. Beberapa bahan baku memang distok lebih banyak karena memang digunakan setiap hari. Aku mengambil sebungkus tepung terigu protein tinggi, ragi instan, dan s**u cair kemasan. Sedangkan untuk bahan lainnya, sepertinya masih ada stok di luar. Mata Vio berbinar saat melihatku mencampurkan bahan-bahan sehingga menjadi adonan. Beberapa kali tangannya menunjuk dan bertanya bahan apa saja yang sedang aku masukan ke mixer. Kelihatannya dia memiliki minat yang sama denganku. Baking memang sangat menyenangkan dan merupakan salah satu caraku untuk mengusir kebosanan dan efeknya bisa membuat perasaan menjadi senang. "Ini mesti ditunggu sampai mengembang dulu baru bisa kita goreng," ujarku sambil menutup donat mentah yang sudah terbentuk. Mata Vio mengerjap, dia terlihat tidak sabar. Tapi tak urung mendengarkan apa yang aku katakan juga. "Lama?" tanyanya. "Nggak selama Vio tidur siang," ucapku sambil tersenyum. "Mbak, ada telepon dari pelanggan." Sosok Riri muncul tiba-tiba dan membuatku terkejut. "Niar minta tolong sampaikan ke Mbak," lanjutnya lagi. "Oke, tolong lihatin Vio sebentar ya," kataku dan buru-buru ke depan untuk mengangkat telepon. "Dari pelanggan yang tadi, Mbak," ucap Niar setengah berbisik saat menyerahkan ganggang telepon padaku. Pelanggan yang tadi? "Nay, maaf loh, Tante ngerepotin lagi. Kayaknya kuenya kurang, kalau Tante minta siapin sepuluh kotak lagi dengan kue apa aja yang tersedia, kira-kira bisa nggak?" tanya suara di seberang sana. Ini, kan suara Tante Rima. "Bisa, Tante. Mau diambil kapan?" tanyaku. "Setengah jam lagi Nino ke sana," sahutnya. Aku menegang beberapa saat. "Kebetulan kami ada jasa antar buat pembelian banyak. Kalau butuh cepat, bisa langsung diantar sekarang, Tante," kataku. "Oh, boleh," ujarnya bersemangat dan kemudian menyebutkan alamat untuk mengantarkan pesanan kuenya. "Ditunggu ya, Tante," ujarku. Sebenarnya jasa antar itu hanya kebohonganku saja agar Nino tidak datang ke sini. Aduh! Gawat! Apa Bimo sudah kembali dari bengkel? Kalau tidak ada dia, siapa yang bisa disuruh mengantar pesanan Tante Rima? Nggak mungkin aku, kan? (*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD