Setelah pertemuan dengan Nino di sekolah Vio beberapa hari yang lalu, aku menahan diri untuk sementara waktu tidak mengantar dan menjemput Vio. Ada perasaan takut jika akan bertemu kembali dengannya. Padahal semuanya hanya bentuk rasa tidak percaya diriku. Apa salahnya juga jika bertemu, bukankah aku sudah menganggapnya seperti orang lain? Aku bisa bersikap biasa saja, seperti yang kulakukan pada orang lain yang tidak begitu kukenal. Tapi kenapa aku malah bersembunyi?
Jauh di dasar hatiku, sebenarnya ada rasa tertekan saat melihat wajah Nino, sama seperti yang kurasakan tempo hari. Mungkin memang lebih baik jika kami tidak perlu bertemu lagi, semuanya hanya akan mengorek luka masa laluku.
Setiap pagi, aku akan akan membawa Vio ke bakery dan meminta Bimo untuk mengantarnya ke sekolah. Demikian halnya juga saat Vio pulang, Bimo-lah yang akan menjemputnya. Terdengar seperti orang yang kurang kerjaan, padahal rumah dan sekolah Vio searah.
Entah apa yang aku khawatirkan. Yang pasti, bertemu dengan Nino seperti sebuah ketakutan yang tidak bisa kujelaskan. Membayangkan dia mengantar anaknya ke sekolah, bukan hanya membuatku merasa tidak nyaman, tapi juga ada rasa nyeri di dadaku. Anak yang dikandung oleh Karin dan membuat hubunganku dengan Nino kandas.
Aku tertawa dalam hati. Menertawakan kebodohanku yang masih saja memikirkan Nino, padahal aku sendiri sudah berjanji tidak ingin mengingatnya lagi.
Aku sudah memutuskan meninggalkan Jakarta berserta semua kenangan buruknya. Sama halnya saat aku meninggalkan kota ini lima tahun yang lalu. Aku harap, aku juga bisa melupakan semua kenangan burukku di masa lalu.
Aku baru saja menutup wadah besar berisikan adonan roti dengan sehelai kain bersih. Tinggal menunggu ragi bekerja dan membuat adonan mengembang. Roti memang biasa saja, tapi aku yakin tidak ada yang bisa menolaknya jika disajikan dalam keadaan hangat dengan olesan selai srikaya.
Resep selai srikaya Mama memang selalu menjadi favoritku sebagai pendamping roti. Selai srikaya yang dibuat dari bahan premium, rasa manis yang pas dan wangi telur saat dipadukan dengan roti akan membuat hal yang sederhana pun bisa menjadi istimewa. Apalagi jika roti dimakan dalam keadaan hangat, selai srikaya akan terasa meleleh di dalam mulut. Membayangkannya saja sudah membuatku tidak sabar untuk mencicipinya.
Untuk selai srikayanya sendiri aku lebih suka berwarna kuning alami yang berasal dari kuning telur, daripada menambahkannya dengan pewarna daun pandan. Apalagi jika menggunakan kuning telur dan telur ayam berkualitas, warna kuning yang dihasilkan akan terlihat sangat cantik dan menggugah selera.
Roti panggang dengan isi srikaya ini sebenarnya bukan jenis kue yang dijual di bakery. Aku hanya sedang kangen dan mendadak ingin membuatnya. Sepertinya aku bisa memodifikasi sedikit rotinya agar roti dengan selai srikaya ini terlihat berkelas saat dipajang di etalase.
Aku melirik ke arah Riri yang sedang sibuk dengan croissant-nya, tangannya dengan lincah menggiling adonan agar saat dipanggang nanti kulit croissant akan membentuk banyak lapisan yang renyah.
"Tumben Mbak buat selai srikaya," komentarnya seperti sadar jika sedang kuperhatikan.
"Kangen banget sama selai ini," sahutku jujur.
"Di Jakarta nggak pernah buat ya, Mbak?" tanyanya. Aku terkekeh mendengar pertanyaannya yang terasa lucu di telingaku.
"Nggak tahu deh, nggak kepikiran aja pas di sana mau buat yang beginian," sahutku. Memang benar keadaan yang terjadi, semenjak berpisah dengan Nino dan menikah dengan Beni, aku seolah kehilangan jati diriku. Aku tidak tahu apa hal yang kusukai, bagaimana cara menyenangkan diriku sendiri, dan hal remeh lainnya. Bahkan untuk sekadar melakukan hobi memasak dan membuat kue pun tidak pernah aku lakukan. Jadi wajar saja, saat berada di bakery Mama ini, aku seperti menemukan surgaku.
"Dan di Jakarta, aku juga nggak pernah nemuin selai srikaya seenak resep srikaya Mama," lanjutku.
"Sudah pasti, Mbak. Resep Ibu ini, kan memang nggak ada duanya," balas Riri.
"Aku ada ide nih, kita coba besok aja waktu nggak terlalu sibuk. Kita buat kue sus dengan isi selai srikaya. Gimana?" tanyaku bersemangat saat membayangkan kue sus yang biasanya diisi dengan fla, kali ini diganti dengan selai srikaya.
"Kayaknya cocok deh, Mbak," sahut Riri tak kalah bersemangatnya. Aku memang selalu senang jika berdiskusi tentang resep kue baru pada Riri.
Samar terdengar dering ponselku yang kusimpan di sebelahku. Tanganku yang basah buru-buru kulap dengan serbet. Nama Bimo berkedip-kedip di layar diiringi dering ponsel. Aku memang memintanya untuk menjemput Vio dari sekolahnya.
"Kenapa, Bim?" sapaku.
"Mbak Nay, motorku mogok di jalan. Sekarang aku lagi di bengkel, kayaknya ada spare part yang rusak. Vio belum kujemput, Mbak," sahut suara di seberang sana. Aku terdiam beberapa saat mendengar ucapan Bimo.
"Oke, nggak apa-apa. Nanti aku aja yang jemput Vio. Kalau sudah dari bengkel, langsung balik ya," kataku mengakhiri telepon. Aku tidak mungkin memaksa Bimo menjemput Vio dengan keadaan yang tidak menguntungkan seperti itu.
"Aku jemput Vio sebentar ya. Motor Bimo mogok dan lagi di bengkel. Kalau ada apa-apa dan butuh cepat, kamu telepon aku aja," kataku pada Riri. Dia mengangguk dan aku segera melepaskan apronku dan kemudian menggantungnya.
Aku melirik jam dinding yang tergantung di hadapanku. Masih ada waktu untuk memesan taksi online dan menjemput Vio. Tidak ada kendaraan yang bisa kugunakan, Mama dan Papa sedang berada di luar kota karena ada sepupu jauhku yang menikah. Otomatis kendaraan juga dibawa oleh mereka.
Dari tadi pagi bakery tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pesanan untuk acara arisan dan ulang tahun. Aku rasa, meninggalkan bakery selama beberapa jam tidak akan menjadi masalah. Lagi pula semua karyawan di sini sangat bisa diandalkan.
Setelah aku kembali dari Jakarta, Mama memang menyerahkan seluruh tanggung jawab bakery padaku. Dari mengelola para karyawannya hingga masalah keuangan dan bahan baku. Mama bilang dia ingin menikmati masa tuanya dengan bersantai di rumah. Padahal aku tahu benar jika Mama melakukan semua itu agar aku tidak tenggelam dalam kesedihanku. Dengan adanya kesibukan, dia berharap aku bisa terhibur dan melupakan masalahku.
Walaupun tidak pernah mengatakannya secara langsung padaku, Mama sebenarnya sangat terpukul saat mengetahui aku bercerai dengan Beni. Walaupun Beni bukan menantu terbaiknya, tapi setidaknya bagi Mama, Beni telah membawaku meninggalkan masalah masa laluku. Mama menganggap, aku bisa belajar melupakan Nino karena adanya Beni. Padahal tidak begitu keadaannya. Tidak ada peran Beni dalam prosesku belajar memaafkan diriku sendiri dan melupakan hal buruk di masa lalu. Beni hanya orang yang kebetulan hadir di kondisi terburukku.
Aku bernapas lega saat telah mendapatkan taksi yang akan membawaku ke sekolah Vio. Jalanan memang macet dan membuatku menjadi tidak sabar.
Sebenarnya playgroup tempat Vio bersekolah tidak terlalu jauh dari bakery. Yang menjadi masalah, hanya ada satu jalan yang bisa dipilih dan selalu macet di siang hari seperti ini. Semoga Vio bisa sabar menunggu dan tidak rewel merepotkan guru-gurunya.
Keadaan sekitar sekolah Vio sudah mulai sepi saat aku datang, hanya ada satu dua kendaraan di area parkir dan beberapa orang anak yang masih menunggu jemputan ditemani salah seorang guru. Aku bernapas lega saat melihat Vio ada di antara mereka.
"Maaf, Mama telat jemputnya," kataku sambil menghampirinya. Langkahku tertahan, ada sesosok yang beberapa hari terakhir ini kuhindari sedang berdiri di sebelah Vio.
"Tadi sudah kuajak pulang bareng, tapi nggak diijinkan sama Ibu gurunya," sapanya sambil tersenyum. Aku menahan napas dan berusaha terlihat baik-baik saja. Ternyata aku lengah dan melupakan kekhawatiranku jika berada di sekolah Vio ini. Lihat saja, sekarang dia malah terlihat akrab bersama Vio.
"Makasih sudah nemanin Vio," kataku sambil menarik lengan Vio perlahan dan tidak berminat menatap bagaimana ekspresi wajah Nino.
"Om Bimo mana, Ma?" tanya Vio tiba-tiba.
"Motornya mogok, makanya Mama yang jemput," sahutku sambil membelai kepalanya.
Setelah pamit dengan guru Vio, aku bergegas membawanya pulang.
"Mau kuantarin pulang?" Aku menoleh dan mendapatkan Nino sedang berusaha mengejar langkahku.
"Nggak perlu, aku sudah pesan taksi tadi," kataku sambil menunjukkan ponselku padanya. Padahal kenyataannya aku sama sekali belum memesan satu pun taksi online untuk pulang. Aku tidak peduli, yang penting aku menghindar dulu darinya.
"Nggak apa-apa. Sekalian aku memang mau ke bakery juga, ambil pesanan Ibu buat arisan nanti sore," jelasnya. Mendadak aku menoleh ke arahnya dengan pandangan tidak suka. Aku kira selama ini segala macam bentuk hubungan dan komunikasi antar dua keluarga sudah tidak terjalin lagi. Ternyata perkiraanku salah. Buat apa juga dia memesan kue di bakery Mama. Masih banyak bakery di kota ini yang bisa dihampirinya. Apa dia memang sengaja melakukannya semenjak tahu jika aku telah kembali dari Jakarta? Ah! Tidak mungkin. Apa dia sekurang kerjaan seperti itu sampai harus melakukan hal itu.
Semua ini pasti hanya kebetulan. Saat ini, anggap saja seperti itu.
Saat dia menyebutkan ibunya, tiba-tiba saja bayangan wajah Ibunya seperti melintas di pikiranku dan membuatku merenung selama sekian detik. Dulu, aku pernah begitu dekat dengan ibunya.
"Ayo, Vio pasti sudah pengen cepat-cepat pulang." Suaranya mengejutkanku dan membuatku tersadar jika aku sedang melamun. Oh...bahkan dia sudah berkenalan dengan Vio.
"Kami nggak langsung pulang. Ada beberapa keperluan lain," tolakku lagi.
"Ya nggak apa-apa, bisa sekalian diantar. Sebut aja tujuannya kemana," ujarnya tanpa beban. Lagi-lagi aku menggeleng, tidak menyetujui tawarannya.
"Ayo dong, Ma. Vio juga pengen pinjam mainannya Jo sebentar." Vio menarik tanganku dan menatapku dengan mata mengiba.
"Jo? Jo siapa?!" tanyaku bingung. Vio tersenyum lebar sebelum menjawab pertanyaanku.
"Anak Om Nino," sahutnya masih sambil tersenyum. Tidak...! Aku berusaha menahan letupan kekesalan dalam hatiku. Bagaimana bisa Nino dan Vio sudah saling mengenal tanpa sepengetahuanku?
"Lain kali aja ya, sayang. Mama masih banyak keperluan," bujukku sambil berbisik di telinganya. Vio menggelengkan kepalanya, bibirnya melengkung tanda sedang kesal. Aku berusaha memberi pengertian dengan memberi tatapan mata lembut.
"Lain kali ya, Ma...." Dia mengulang perkataanku. Aku mengangguk dan perlahan mengelus kepalanya.
"Maaf, kami duluan ya. Makasih buat tawarannya," kataku sambil buru-buru meninggalkannya dan tidak memberikan kesempatan padanya untuk membujukku lagi.
Keadaan sudah tidak lagi sama. Pilihan terbaikku memang harus menghindarinya. Seharusnya Nino sadar akan hal itu. Aku dan dia sudah memiliki jalan hidup masing-masing. Aku dengan Vio, dan dia dengan keluarganya. Sekalipun Nino hanya menawarkan bantuan basa-basi ataupun sekadar ingin bertukar kabar, aku tetap tidak bisa menerimanya. Ada penolakan besar dari hatiku.
Sepertinya aku masih belum bisa berdamai dengan masa lalu. (*)