Pagi itu, meja makan tidak lagi dipenuhi dengan berkas laporan tahunan perusahaan. Sebagai gantinya, ada sebuah peta dunia besar yang dibentangkan di antara piring-piring sarapan. Kaizan, yang biasanya sangat kaku soal efisiensi waktu, kini membiarkan kopinya mendingin hanya untuk mendengarkan perdebatan seru antara dua putranya. "Aku mau ke Jepang! Mau lihat museum robot dan makan ramen asli!" teriak Aksa sambil menunjuk-nunjuk peta dengan garpunya. "Tapi ini sedang musim panas, Aksa. Lebih seru kalau kita ke Swiss. Kita bisa naik kereta menembus pegunungan dan udaranya sangat segar," timpal Rafka dengan gayanya yang lebih tenang namun tetap antusias. Kaizan menoleh ke arah Yasmin yang baru saja duduk sambil membawa teko teh. "Bagaimana menurutmu, Ma? Kamu sang ratu di rumah ini, kam

