part 32

1139 Words

Senja itu, ruang kerja Yasmin di gedung Malika & Partners masih benderang. Tumpukan berkas di meja Yasmin seolah tidak pernah berkurang meski ia sudah bekerja sepuluh jam tanpa henti. Di layar ponselnya, ada lima panggilan tak terjawab dari Rafka dan sebuah pesan suara dari pengasuh sementara Aksa yang mengatakan bahwa Aksa terus menangis karena ingin dibacakan dongeng oleh mamanya. Yasmin memijat pelipisnya. Air matanya hampir jatuh karena rasa bersalah. Yasmin mencintai pekerjaannya, ia mencintai keadilan yang ia perjuangkan, tapi hatinya perih setiap kali menyadari bahwa ia melewatkan momen-momen kecil putra-putranya. "Aku tidak bisa terus begini," gumam Yasmin. Kaizan pun seringkali baru sampai di rumah saat anak-anak sudah tidur. Meskipun mereka tinggal serumah, mereka seper

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD