Senin malam di kediaman Saverio terasa berbeda. Biasanya, rumah ini sunyi senyap seperti museum, namun kehadiran Aksa memberikan denyut nadi yang baru. Yasmin baru saja pulang dari kantor, lebih lambat dari biasanya karena ia harus menyelesaikan draf pembelaan untuk menghadapi gugatan Sarah. Saat melangkah masuk ke ruang tengah, Yasmin tertegun. Ia tidak mendengar tangisan atau rengekan Aksa yang biasanya mencari mamanya saat jam tidur. Sebaliknya, ia mendengar suara tawa kecil dan gumaman rendah seorang pria. Yasmin melangkah tanpa suara menuju ruang bermain Aksa. Di sana, di atas karpet tebal, Kaizan—sang CEO yang ditakuti di papan bursa saham—sedang duduk bersila dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Di depannya, Aksa sedang sibuk memasangkan mahkota dari kertas karto

