Huhhh,,, huhhh
Entah sudah berapa kali Elia menghela napasnya karena kebosanan.
Elia ingin sekali keluar dari kediamannya, tapi jika keluar dirinya pasti bertemu dengan dayang yang membuatnya kesal disepanjang jalannya.
Elia berpikir apa yang akan dia lakukan agar tak terus bosan, membuat obat? sudah, kalau buat cream, bedak, masker, lipstik? masih banyak nanti bisa kebuang.
Sambil berdiri didepan jendela kamarnya Elia terus berpikir sampai ketika dia melihat lahan kosong disamping kediamannya lalu Elia langsung berlari keluar menemui dayang yuni.
"Dayang yuni" panggi Elia.
"Ehh, yang mulia permaisuri" kaget Yuni.
"Yuni apa disini pasar atau tempat orang berjualan?" Tanya Elia mengabaikan keterkejutan dari Yuni.
"Ada yang mulia permaisuri, tapi itu diluar dari istana ini" jawab Yuni.
"Memang itu tujuanku, aku ingin keluar dari sini" batin Elia.
"Kalau begitu antar aku kesana" ucap Elia.
"Ampun permaisuri, kalau permaisuri ingin keluar dari istana permaisuri harus izin terlebih dahulu pada yang mulia kaisar" ucap Yuni.
"Aku tidak mau" ucap Elia.
"Ahah, aku punya ide" ucap Elia kencang.
"Maksud yang mulia?" bingung Yuni.
"Aku pinjam bajumu yuni" ucap elia.
"Tapi permaisuri" ucap Yuni takut.
"Alah kelamaan, udah ayok" ucap Elia menarik tangan Yuni.
Sesampainya dikamar Yuni, Elia langsung membuka lemari dan langsung memilih baju.
"Ampun yang mulia permaisuri, untuk apa baju hamba?" Tanya Yuni takut karena Elia mengambil bajunya.
"Untuk dipakailah" ucap Elia ketus.
"Kau juga harus ganti baju, dan terus pakai ini" ucap Elia memberikan cadar pada Yuni.
"Tapi yang mulia" ucap Yuni.
"Udah cepat pakai jangan banyak omong" ucap Elia.
Beberapa menit kemudian mereka berdua bmselesai memakai pakaian dan cadar yang sangat sederhana.
"Yang mulia..." ucap Yuni gugup.
"Udah ayok tunjukin jalan keluar dari istana ini" ucap Elia kesal lalu mendorong yuni agar cepat berjalan.
"Biasanya para dayang keluar istana melalui pintu belakang permaisuri" ucap Yuni.
"Kenapa gak bilang dari tadi" kesal Elia saat gerbang istana ada didepan mata.
"Ampun yang mulia" ucap Yuni takut.
"Udah ayok cepat, dan jangan panggil saya yang mulia atau permaisuri, panggil saja amelia" ucap Elia.
"Baik per.. eh Amelia" ucap Yuni.
"Bagus, ayok cepat tunjukin jalannya" ucap Elia.
Baru saja beberapa langkah, langkah mereka terhenti karena ada dua orang prajurit menghadangnya.
"Berhenti"
"Mau kemana kalian?" Tanya salah satu prajurit.
"Kami disuruh yang mulia permaisuri untuk kepasar" ucap Elia dengan suara yang dibuat-buat.
"Bukankah yang mulia permaisuri sedang sakit" ucap salah satu prajurit lagi.
"Iya karena itu kami kepasar membeli obat untuk permaisuri" ucap Elia lagi.
Karena para prajurit dan yang lainnya hanya mengetahui permaisuri sedang sakit dan tidak keluar dari kediaman hampir dua minggu.
"Yasudah kalian boleh pergi" ucap prajurit mempersilahkan mereka pergi.
"Tunggu"
"Aduh apa lagi sih" kesal Elia dalam hati.
Dayang yuni tubuhnya sudah bergetar, takut ketahuan.
"Iya ada apa?" Tanya Elia sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Semoga yang mulia permaisuri cepat sembuh" ucap prajurit ramah.
"Terima kasih, kalau begitu kami permisi" ucap Elia.
"Silahkan" ucap prajurit.
"Ternyata masih banyak yang perduli pada permaisuri ini" batin Elia tersenyum.
Walaupun banyak para pelayan yang memanfaatkan kebaikan permaisuri tapi tidak dengan para prajurit, para prajurit selalu segan pada permaisuri, karena kebaikan permaisuri.
"Wow, apa ini pasarnya yuni?" Tanya elia kagum melihat suasana didepannya yang begitu ramai.
"Benar amelia" ucap Yuni.
"Yuni apa disini ada tempat buat makan?, aku lapar" ucap Elia sambil mengusap perutnya yang sedari tadi sudah berbunyi.
"Ada Amelia disana" ucap Yuni sambil menunjukkan sebuah kedai makanan.
"Mau pesan apa?" Tanya pelayan ramah, saat Elia telah duduk.
"Semua makanan yang paling enak enak disini" ucap Elia karena tak tau makanan yang ada disana.
"Yuni duduklah" ucap Elia saat melihat yuni masih berdiri disampingnya.
"Tidak usah Amelia" ucap Yuni.
"Tidak apa Yuni duduklah" ucap Elia.
Yuni pun patuh dan duduk disamping Elia dan beberapa menit kemudian makanan pun datang dan mereka berdua makan dengan tenang.
Setelah itu Elia dan yuni kembali kepasar untuk melihat-lihat saja, kalau ada yang suka ya dibeli.
Tapi kebanyak yang dibeli elia ialah makanan, padahal tadi sudah makan eh malah beli semua jenis makanan yang ada dipasar.
Saat elia sedang berjalan santai tiba-tiba saja terjadi keributan.
"Pencuri berhenti kau" teriak seseorang dan menangkap pencuri.
Bugggh
Bugggh
"Berhenti" teriak Elia lalu menghampiri orang itu.
Dan terlihat seorang anak kecil usianya sekitar 10 th sedang dipukuli.
"Ada apa ini?" Tanya Elia, udah tau ada pencuri masih ditanya.
"Anak ini mencuri kue ditoko saya" ucap salah satu pria dewasa.
"Benar itu?" Tanya Elia pada anak kecil dan diangguki, Elia pun menghela napas kasar.
"Berapa harganya?" Tanya Elia.
"4 perak" jawabnya, Elia pun memberikan uang yang orang itu ucapkan.
Elia pun membawa anak kecil itu sedikit menjauh dari pasar.
"Siapa namamu?" Tanya Elia.
"Siwan" ucap anak itu sambil menunduk.
"Kenapa kamu mencuri?" Tanya Elia, anak itu masih saja menunduk.
"Mei meiku kelaparan belum makan dari kemarin" jawab Siwan dan Elia pun mengangguk.
"Ini uang untukmu beli makan" ucap Elia sambil memberikan 5 keping koin emas.
"Terima kasih nyonya" ucap Siwan sambil bersimpuh didepan elia.
"Panggil saja jie jie" ucap Elia, sambil membantu siwan berdiri.
"Kita obati dulu lukamu" ucap Elia sambil mengambil bahan-bahan obat lalu menumbuknya dan mengoleskannya pada luka Siwan.
"Terima kasih jie jie, saya permisi ingin menemui mei meiku" ucap Siwan dan diangguki elia.
"Amelia sejak kapan kau pandai meracik obat?" Tanya Yuni.
"Sejak sekarang" jawab Elia.
"Udah, lebih baik sekarang kita kebali keistana" lanjut Elia dan yuni pun menurut.
Karena hari sudah menjelang sore Elia pun bergegas kembali keistana, dia tak takut dimarahi kaisar yang pikirkan ialah Yuni, 'bagaimana kalau yuni dipenggal oleh kaisar songong itu' batin Elia, bisa-bisa ia kehilangan dayang setianya itu.
Diistana sekarang telah terjadi keributan karena permaisuri menghilang tak ada yang tau.