****
Melihat kesedihan gadis cantik di depannya, Kang Wu Jie tidak sampai hati. Sekian tahun tak bertemu hal ini membuat Wang Qi Qi berubah total. Gadis itu tak memiliki keluarga, wajar saja ia merindukan sebuah kasih sayang dan perlindungan. Melangkah maju, Kang Wu Jie menarik lengan Wang Qi Qi lantas memeluknya.
Wang Qi Qi terkesiap, ia cukup kaget namun tak menolak pelukan tersebut. Reaksi yang sama kini ditunjukkan Li Tang Shi, pria itu beradu pendapat di otaknya. Jika ia tidak menjaga nama baik ratunya niscaya ia sudah maju dan membantai pria yang kini memeluk barang miliknya.
Wang Qi Qi sudah terikat dengannya itu berarti Wang Qi Qi adalah miliknya. Haruskah ia membantai pria itu seperti pria yang sudah-sudah?
Merasa aura dingin Li Tang Shi sampai padanya, Wang Qi Qi melepaskan pelukan Kang Wu Jie. Ia sangat menginginkan sebuah pelukan tapi mengingat Li Tang Shi takkan membiarkan hal ini berlanjut, Wang Qi Qi hanya bisa berusaha agar Kang Wu Jie terhindar dari masalah.
"Aku tidak apa-apa, lepaskan aku," ucap Wang Qi Qi tertunduk sedih.
Kang Wu Jie masih menyimak gadis di depannya, ia tak sampai hati melihat Wang Qi Qi mendung seperti itu. Perlahan ia meraih wajah Wang Qi Qi, menarik dagunya dan membiarkan mereka saling adu pandang. "Besok aku akan kembali ke Bei Zhou, tak menunggu waktu lama aku pasti akan kembali ke sini dan meminangmu sebagai istriku."
"Pangeran ... "
"Aku berjanji maka jangan sedih lagi," bisik Kang Wu Jie dengan mata penuh ketulusan.
Muak melihat drama di depannya, Li Tang Shi maju menghampiri dan memotong pembicaraan antara Kang Wu Jie dan Wang Qi Qi. "Yang Mulia Ratu malam sudah larut, Anda harus kembali ke kediaman Anda dan mulai tidur. Besok ada rapat penting, jika Anda terlambat tidur hamba takut rapat besok akan terbengkalai."
Wang Qi Qi menyadari satu hal, besok tidak ada jadwal rapat dan pria itu mengarang cerita hanya untuk membuatnya terlempar di atas tempat tidur lebih awal. Mengangguk sejenak, Wang Qi Qi mundur dari hadapan Kang Wu Jie.
"Aku harus segera istirahat, Pangeran. Maaf jika aku tidak bisa menemani sampai di akhir acara."
"Tidak apa-apa Yang Mulia Ratu, beristirahatlah! Sampai jumpa besok." Kang Wu Jie tersenyum manis pada Wang Qi Qi.
Gadis itu membalas senyum pangeran Bei Zhou lalu membungkukkan badan penuh santun. Berbalik, Wang Qi Qi melangkah jauh meninggalkan Kang Wu Jie yang masih terpesona oleh keanggunannya.
Bagaimanapun ia akan segera meminta pada ayahnya untuk meminangkan Wang Qi Qi untuknya.
Li Tang Shi menyipitkan kedua bola matanya, ia mengendus sesuatu yang buruk. Ia tidak akan membiarkan Kang Wu Jie memiliki niat atas diri Wang Qi Qi, tidak akan sedikitpun!
****
Baru saja satu langkah memasuki kediaman Lily Naga, Wang Qi Qi dikejutkan dengan suara pintu ditutup dengan cepat. Ia menoleh dan melihat Li Tang Shi yang melakukannya, lihat saja aura itu. Li Tang Shi mencoba kembali menakutinya.
Tubuh Wang Qi Qi bergetar namun ia tidak menyanggah satu kata pun, pria itu menarik tangannya guna mendekat. Dalam sekejap tubuhnya beralih ke hadapannya, menatap mata dingin namun beraura kejam milik Li Tang Shi dengan jantung berdebar sangat kencang.
"Katakan apa maumu sekarang?" Li Tang Shi langsung pada pokok permasalahan.
Alih-alih menjawab, Wang Qi Qi justru menundukkan kepalanya dan bermuka sedih. Melihat gadis di depannya tidak mendengarkan instruksinya, Li Tang Shi menarik dagunya sedikit kasar. "Jangan membuatku makan hati, Wang Qi Qi. Cepat katakan!"
"Aku ... " suara Wang Qi Qi terdengar sangat pelan. Ia menatap manik mata Li Tang Shi dengan berair, ia sudah terbiasa dengan kekejaman Li Tang Shi tapi kali ini ia benar-benar memiliki hati kelabu dan ingin menangis.
Tak bisa melanjutkan ucapannya, Wang Qi Qi meremas hanfu di d**a Li Tang Shi lalu membenamkan kepalanya di sana. Wang Qi Qi menangis sesenggukan, tak peduli itu d**a siapa atau sedang dimana. Ia hanya ingin menangis, benar-benar ingin menangis.
Li Tang Shi mengerutkan dahi, ia mengamati bahu Wang Qi Qi yang sedikit berguncang akibat tangisannya. Merasa hatinya sedikit runtuh, Li Tang Shi mengulurkan tangannya dan merengkuhnya lembut. "Ada aku ... menangislah jika itu perlu."
"Kenapa? Kenapa mereka membunuh seluruh keluarga dan kerabatku? Kenapa mereka melakukannya? Apa salahku pada mereka?" ucap Wang Qi Qi di sela-sela tangisannya.
Li Tang Shi terdiam, ia hanya memeluk dan mengelus rambut Wang Qi Qi sekali. Seharusnya ia yang marah karena Wang Qi Qi membiarkan pria genit itu menyentuhnya namun melihat emosi Wang Qi Qi tidak karuan, ia memilih meredam emosinya dalam-dalam dan menyingkirkannya terlebih dahulu.
"Apa aku tidak memiliki catatan kebahagiaan di telapak tangan Dewa sehingga hanya kemalangan saja yang terus aku dapatkan?! Apakah di masa lalu aku memiliki tabiat buruk sehingga aku tidak diijinkan bahagia di dunia ini? Apa? Kenapa? Panglima bisakah kau membantuku menemukan jawabannya?" tangis Wang Qi Qi semakin hebat di dadanya.
"Tenanglah Wang Qi Qi, jika kau ingin berkeluh kesah jangan sungkan untuk mengatakannya padaku." Li Tang Shi pelan dan berbisik di telinga gadis itu.
Wang Qi Qi terus menangis hingga setelah sekian lama menguras airmata, ia sejenak berhenti. Dengan kepala masih bersandar di d**a Li Tang Shi, Wang Qi Qi sedikit merasa lebih baik. "Panglima, ijinkan aku bahagia dengan Kang Wu Jie. Dia temanku dan aku yakin ia bisa membantuku melalui semua ini."
Suara lembut Wang Qi Qi yang meminta hal yang mustahil membuat emosi Li Tang Shi kembali naik ke udara." Yang Mulia Ratu, ijinkan hambamu ini memenggal kepala Kang Wu Jie esok hari," balasnya tak kalah pedas.
"Panglima ... " Wang Qi Qi mendongak menatap manik mata Li Tang Shi yang begitu dingin.
"Seumur hidup akan kupertaruhkan nyawaku untukmu, seumur hidup akan ku lakukan segalanya demi kebahagiaanmu namun ... aku tidak bisa mengiyakan jika kau meminta hal itu kepadaku. Kang Wu Jie mungkin temanmu tapi dia adalah sainganku. Jangan merengek pada apa yang tidak bisa aku beri, jika kau masih saja mengganggu perasaanku maka bersiaplah menerima sebuah kenyataan."
Ucapan itu seperti ultimatum bagi Wang Qi Qi, ia tidak bisa bergerak namun hatinya terus meminta lebih dan lebih. Wang Qi Qi tertunduk lagi, perlahan ia menempelkan kepalanya di d**a Li Tang Shi. "Aku selalu takut padamu, aku selalu memberi apa yang kau mau jadi bisakah sekali ini saja kau membiarkan aku memilih? Panglima bukankah kau ingin aku selalu bahagia? Jika Ya, aku mohon lepaskan ikatanmu padaku. Aku ingin berjalan dengan pilihanku sendiri, aku pantas bahagia. Iya kan?"
Rengekan Wang Qi Qi membuat Li Tang Shi geram, ia memendam perasaannya dalam-dalam. Ia tidak ingin membuat gadis ini kembali menangis itulah sebab kenapa ia tidak menggertaknya dan membiarkannya terus merengek. Tangan Li Tang Shi terkepal, dadanya bergemuruh hebat. Ia tidak bisa melawan arus cemburu di dadanya. Jika pria yang lalu mudah dihalau, kali ini Kang Wu Jie tidak akan mungkin meninggalkan Wang Qi Qi dengan begitu mudah.
Sesaat Li Tang Shi sadar, Kang Wu Jie adalah saingannya yang begitu nyata. Pria itu sekarang musuhnya, musuh yang menghisap sumsum tulangnya. Li Tang Shi takkan membiarkan Kang Wu Jie hidup atau ia akan kehilangan inang selamanya.
****
"Perintahkan beberapa orang untuk tetap tinggal di Peng Lan dan menyelidiki Li Tang Shi!" perintah Kang Wu Jie pada anak buahnya yang menghadap.
"Baik Yang Mulia Pangeran," angguk sang prajurit dengan patuh.
Sebelum Kang Wu Jie meneruskan ucapannya, matanya sedikit melirik ke arah Wang Qi Qi yang berjalan ke arahnya. Dengan terpaksa ia menyuruh anak buahnya untuk pergi meninggalkannya seorang diri.
"Pangeran, ada apa? Apakah ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Wang Qi Qi ketika sampai di hadapan Kang Wu Jie.
Pangeran tampan itu tersenyum sangat manis, menatap rembulan di hadapannya membuat perasaan berat menghinggapi dadanya. Ia tidak ingin pergi dari Peng Lan.
"Hatiku tertinggal di sini, Yang Mulia Ratu. Aku tidak ingin pergi dari Peng Lan dan meninggalkan Anda," ungkap Kang Wu Jie membuat wajah Wang Qi Qi merona merah.
Melirik sejenak ke belakang sang ratu, Kang Wu Jie melihat Li Tang Shi berwajah masam. Ia tak mengerti kenapa panglima Peng Lan itu seperti menaruh mata gagak di depannya. Li Tang Shi selalu menempel pada Wang Qi Qi dan Kang Wu Jie sangat tidak menyukainya.
"Pangeran, Peng Lan akan selalu terbuka untukmu. Datanglah jika kau merindukan tempat ini," tutur Wang Qi Qi dengan sangat ramah.
Kang Wu Jie kembali tersenyum, hatinya kini menghangat akibat keramahtamahan sang ratu yang begitu cantik. Ia harus segera mendapatkannya, apa pun rintangannya.
"Yang Mulia Ratu, aku dengar kau memiliki satu taman yang paling indah. Aku dengar juga bahwa di sana banyak bunga plum merah dan kuning tumbuh, bisakah kau mengajakku ke sana sebelum aku pergi?" pinta Kang Wu Jie pelan.
Wang Qi Qi tersenyum, mungkin yang ia maksud adalah taman seribu bulan milik keluarganya. Taman itu penuh keindahan, banyak plum tumbuh di sana. Semenjak pembantaian keluarga Wang, tempat yang indah itu ditutup dan hanya pihak keluarga saja yang boleh masuk. Merasa tidak terganggu, Wang Qi Qi mengangguk pada Kang Wu Jie.
"Tentu saja Pangeran," jawab Wang Qi Qi bermurah hati seraya tersenyum manis.
Dalam sekejap mereka dalam perjalanan menuju ke taman seribu bulan dan menikmati pemandangan yang begitu indah. Di belakang Wang Qi Qi maupun Kang Wu Jie, Li Tang Shi memasang raut wajah jelek. Ia tidak bisa tidak menahan perasaan sebalnya terhadap Kang Wu Jie yang terus berkata manis pada Wang Qi Qi.
"Taman ini sangat cantik Yang Mulia Ratu, sangat cantik seperti dirimu," puji Kang Wu Jie sekali lagi.
"Benarkah Pangeran? Taman ini secantik ibuku. Ayah yang membuat taman ini untuk beliau."
Wang Qi Qi tersenyum tipis sambil terus berjalan di bawah naungan bunga plum berwarna merah dan kuning. Tak ada percakapan lagi hingga akhirnya mata Li Tang Shi dibuat panas karena Kang Wu Jie sengaja meraih tangan Wang Qi Qi dan menggandengnya.
"Kita sudah lama berteman Wang Qi Qi jadi biarkan pria ini kembali sebagai kekasih dan bukan sebagai sahabat lagi," ungkap Kang Wu Jie di sela-sela perjalanannya.
Wang Qi Qi terus melangkah pelan, ia tidak menolak genggaman tangan Kang Wu Jie. Baginya, ia sudah cukup umur untuk menikah dan wajar jika ia merindukan kebahagiaan sebuah keluarga. Ia tidak akan menolak jika Kang Wu Jie suatu hari nanti datang dan melamarnya kembali.
Wang Qi Qi menatap manik mata Kang Wu Jie penuh haru. "Pulanglah ke Bei Zhou jika kau memang menginginkan sang tuan rumah maka datanglah beserta keluargamu. Aku akan menerimanya."
Kata-kata Wang Qi Qi seperti lampu hijau bagi Kang Wu Jie, gadis itu tidak menolak keinginannya dan itu membuatnya sangat bahagia. Berbeda dengan Li Tang Shi, ia dibuat kesal bukan main oleh pernyataan Wang Qi Qi baru saja. Apakah diamnya tadi malam dianggap persetujuan bagi Wang Qi Qi? Ah gadis ini ... sangat menyebalkan!
Merasa dicurangi Li Tang Shi melangkah maju ke depan dan menarik lengan Wang Qi Qi cukup kasar, gadis itu berbalik ke arahnya dengan sedikit limbung. Suasana berubah sangat cepat dengan tangan kekarnya ia menangkap tubuh Wang Qi Qi dan mendekapnya sangat erat.
Li Tang Shi gelap mata, ia tidak bisa menahannya terlalu lama maka dari itu ia meraih wajah Wang Qi Qi dan melayangkan kecupan di bibir gadis itu.
Semuanya terpana tak terkecuali Kang Wu Jie, tak peduli bagaimana orang memandang Li Tang Shi terus menyerang bibir Wang Qi Qi hingga basah.
Kang Wu Jie mengepalkan tangan namun sama sekali tidak bergerak. Ia tidak suka namun ia tidak boleh gegabah dengan apa yang kini ia lihat.
"Panglima ... " desis Wang Qi Qi ketika ia berhasil melepaskan cengkeraman Li Tang Shi.
Mata mereka saling beradu, ia tidak mengerti kenapa Li Tang Shi berbuat demikian padanya. Kenapa pria itu lebih memilih membongkar rahasia mereka, kenapa?
"Wang Qi Qi ... " Li Tang Shi berkata dengan teramat tegas dan jelas sambil terus menyorot mata Wang Qi Qi. "Jangan lupa statusmu. KAU ADALAH ISTRIKU. SELAMANYA ISTRIKU!"
*****////*****