Bab 9—Bimbang

1535 Words
**** Seperti biasa kedatangan Li Tang Shi selalu dielu-elukan dan dibanggakan oleh rakyat Peng Lan. Bahkan pamornya yang melebihi Wang Qi Qi membuat pria itu selalu mendapatkan hati siapa pun yang menantikan hasil sepak terjangnya di medan peperangan. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Wang Qi Qi memilih untuk tidak menyambut kedatangan panglima Li Tang Shi. Gadis itu punya alasan sendiri untuk tidak menemuinya. Mungkin perasaan takut kembali menghuni relung jiwanya sehingga bersembunyi adalah alternatif terbaik untuknya. Menyisir rambutnya yang sepanjang tumit, Wang Qi Qi memilih sendirian di kediaman Lily Naga. Suara rakyat Negeri Peng Lan yang meneriakkan namanya terdengar begitu jelas di telinga Wang Qi Qi. Ia hanya menghela napas dan terus menyisir rambutnya dengan tenang. Mendadak angin berhembus kencang membuat jendela kamar Wang Qi Qi terbuka dengan sendirinya. Sang ratu menoleh lalu berdiri guna menutup jendelanya kembali. Ia tidak menyangka jika angin tiba-tiba berhembus dan membuka jendela dengan sangat kuat. Setelah memastikan jendelanya tertutup, Wang Qi Qi berbalik dan ... Deg. Sosok itu muncul di hadapannya sambil bersedekap tenang. Wang Qi Qi terbelalak, rasa kaget membuatnya tanpa sadar memundurkan langkah dan merapatkan diri di jendela. Mereka bertatapan cukup lama, tajam, dan menyakitkan. Li Tang Shi maju satu langkah dan Wang Qi Qi makin merapatkan tubuh mungilnya di dinding jendela. Pria itu tak habis akal, ia memperpendek jarak wajah mereka hingga tinggal beberapa inchi saja. "Kenapa kau takut?" tanya Li Tang Shi dengan sangat pelan. "Apa aku perlu menjawabnya?" Wang Qi Qi balik bertanya membuat Li Tang Shi harus menyipitkan bola matanya yang indah. "Katakan padaku secara pribadi siapa Kang Wu Jie?" pinta Li Tang Shi tanpa basa-basi. Manik mata Wang Qi Qi menyorot tajam ke arah Li Tang Shi, dengan bibir bergetar ia mengatakan apa yang ada dibenaknya sekarang. "Dia teman masa kecilku. Ini semua tidak ada hubungannya denganmu jadi berhentilah mencampuri urusan pribadiku." Tangan lembut Wang Qi Qi menepis tubuh kekar yang berada di hadapannya dengan sekuat tenaga, gadis itu melangkah menghindari Li Tang Shi. Bagaimanapun ia takkan sanggup jika harus menghadapi Li Tang Shi seorang diri. Merasa tak menemukan jawaban yang memuaskan, Li Tang Shi segera meraih rambut Wang Qi Qi yang tergerai di lantai dan menariknya. Dengan gerakan menghentak, Li Tang Shi berhasil membuat Qi Qi-nya jatuh ke dalam pelukannya yang kuat. "Nona cantik, sepertinya kau lupa dengan siapa kau berhadapan kali ini. Jangan lupa bahwa kini kau berhadapan dengan Li Tang Shi, pelayanmu yang sangat cerdik." "Li Tang Shi ... " "Aku tidak akan mencampuri urusan pribadi orang selama itu tidak berkaitan denganku. Jadi, menurutmu jika Kang Wu Jie melamarmu, itu juga bukan urusanku?" Glek. Wang Qi Qi menelan ludahnya dengan susah payah. Perasaannya memburuk ketika pria itu menyeringai padanya dan kembali mendekatkan wajahnya. "Siapapun yang terikat denganku ia bebas melakukan apa saja kecuali menerima pria lain dalam hidupnya." "Kau tidak bisa mengaturku seketat ini, Li Tang Shi. Aku butuh bahagia dengan pria yang aku cinta jadi jangan paksa aku untuk hidup denganmu sedangkan aku sendiri tidak menyukaimu," tegas Wang Qi Qi lalu berontak. "Jadi kau tak menyukaiku?" Pertanyaan Li Tang Shi sama sekali tidak digubris Wang Qi Qi, gadis bersurai kelam itu justru sibuk ingin melepaskan diri hingga pemberontakannya membuahkan rasa malu. Merasa tidak bisa mengimbangi kekuatan Li Tang Shi, Wang Qi Qi limbung dan jatuh di atas ranjangnya seraya menarik tubuh sang panglima. Posisi Li Tang Shi yang menindihnya kuat-kuat membuat wajah Wang Qi Qi merebak merah, ia tidak tahan untuk tidak menampar wajah Li Tang Shi. Slap. Tangan mungil itu mampu ditahan Li Tang Shi, mereka kembali bertatapan cukup lama hingga akhirnya Li Tang Shi tersenyum dengan sangat lembut pada sang ratu. "Jadi kau merasa tidak menyukai suamimu ini, Qi Qi? Baiklah, bagaimana jika kita buat hubungan kita menjadi lebih sederhana? Aku rasa aku bisa memberimu hak untuk menerima lamarannya tapi di malam purnama terakhir kau tetaplah jadi milikku. Apapun alasannya kau harus tetap menemuiku dan menyerahkan tubuhmu." "Kau-," "Penyanggahan sama sekali tidak diterima," sahut Li Tang Shi seraya melepaskan tangan Wang Qi Qi dan bangkit dari menindih tubuh gadis tersebut. Li Tang Shi berbalik, ia melangkah menjauh beberapa langkah hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan kembali berbalik. Pria itu menatap Wang Qi Qi yang terpekur di atas ranjang dengan tatapan misterius. "Aku sudah bertahun-tahun melihat tubuh telanjangmu tampil di hadapanku meskipun aku terlihat mengerikan di benakmu, sama sekali tak pernah terbersit di benakku untuk menodaimu. Kau harus tahu Wang Qi Qi, kendati aku seorang siluman aku juga pria normal. Setidaknya kau bisa mempertimbangkan, aku tidak pernah berniat untuk menodaimu sampai saat ini. Jadi apakah kau bisa menjamin jika Kang Wu Jie-mu itu bisa se-amanah diriku?" *** Kata-kata Li Tang Shi benar-benar merasuk di benak Wang Qi Qi. Sampai perjamuan makan malam istana pun gadis itu tak bisa berhenti memikirkannya. Jika Li Tang Shi memang orang jahat mungkin dia sudah kehilangan kehormatannya sedari dulu, pria itu mungkin juga akan membiarkannya menanggung aib seorang diri. Tak habis memikirkannya membuat Wang Qi Qi terlihat sangat tegang dan serius, raut wajahnya berubah-ubah setiap waktu. Hal ini menarik perhatian Kang Wu Jie yang turut hadir dalam perjamuan makan malam. "Yang Mulia apakah Anda baik-baik saja?" tanya Kang Wu Jie memberanikan diri untuk memegang jari lentik sang ratu. Keadaan yang ramai riuh membuat perhatian semua orang terpecah bahkan ketika Kang Wu Jie mencoba menyentuh tangan sang ratu tidak ada satu orang pun yang sadar kecuali pria itu, ya siapa lagi kalau bukan Li Tang Shi. "Aku baik-baik saja, Pangeran Kang Wu Jie," jawab Wang Qi Qi pelan lalu menawarkan senyum manis. "Sepertinya ada yang begitu berat di pikiran Anda Yang Mulia, jika berkenan bolehkah hamba mengetahuinya?" bujuk Kang Wu Jie sangat manis. Wang Qi Qi terdiam, ia menundukkan kepala dan mencerna setiap pertanyaan yang Kang Wu Jie lontarkan. Li Tang Shi terus meliriknya dengan pikiran waspada, baginya ia masih berada di zona normal. Tak ada tindakan yang mencolok yang harus ia lakukan untuk melindungi sang nona. "Yang Mulia, malam begitu indah, mungkin sedikit berjalan di luar bisa menghangatkan suasana yang tidak enak," saran Kang Wu Jie dengan tatapan mata penuh berbunga. Wang Qi Qi mengangguk pelan, ia lantas bangkit dari duduknya dan menatap semua anggota istana yang mendadak mengalihkan perhatiannya pada Qi Qi yang berdiri. Melihat sang ratu berdiri, tak sedikit dari mereka menatap penuh cemas. Mereka takut jika tingkah mereka yang kelewat bersuka cita justru membuat sang ratu merasa tak suka. "Malam ini sangat meriah, lanjutkan perjamuan kalian. Aku ingin berjalan-jalan keluar sebentar," ucap Wang Qi Qi dengan suara begitu lembut. Para anggota istana menganggukkan kepala lalu membungkuk hormat pada sang ratu. Mereka melanjutkan acara suka cita tersebut sedangkan Wang Qi Qi berjalan-jalan di sekitar istana dengan ditemani sang panglima dan juga Kang Wu Jie. Melihat sang panglima turut mengikuti mereka, perasaan Kang Wu Jie menjadi tidak baik. "Yang Mulia apa tidak sebaiknya sang panglima tinggal di istana saja? Hamba rasa ia tidak perlu mengikuti perjalanan kita," ungkap Kang Wu Jie pelan dan setengah berbisik di telinga Wang Qi Qi. Gadis itu tak menjawab, mata phoenixnya melirik ke arah Li Tang Shi yang kini tepat berada di belakang punggungnya. "Selain panglima, dia juga pengawal pribadiku. Biarkan dia bersamaku, anggap saja ia tidak ada." Kang Wu Jie menganggukkan kepala, ia tak punya pilihan lain selain mengiyakan. Sebenarnya kalau boleh jujur, ia sedikit terganggu dengan kehadiran panglima Negeri Peng Lan yang sedari tadi seolah mengawasi gerak-geriknya. "Pangeran Kang, malam ini diadakan perjamuan istana dan begitu banyak hal meriah lainnya tapi sepertinya ada yang berbeda dengan diriku. Semenjak ayah dan ibu pergi aku merasa aku kehilangan pegangan. Hidupku sangat sepi, aku merindukan sesuatu yang namanya keluarga." Perlahan Wang Qi Qi menunjukkan hal-hal yang tengah ia pikirkan. "Yang Mulia, setiap orang memiliki keterikatan satu sama lain dalam sebuah keluarga. Aku bisa memahaminya karena aku juga pernah merasakan apa itu kehilangan. Yang Mulia, kau perlu membuka diri untuk orang lain." Wang Qi Qi menghentikan langkah, matanya menyorot Kang Wu Jie seolah meminta penjelasan lebih detail lagi. Pria itu tersenyum manis, perlahan jemari kekarnya terulur meraih tangan Wang Qi Qi. "Yang Mulia, hiduplah bersamaku. Aku berjanji akan membawamu dalam hidupku dan memberikan keluarga yang utuh untukmu." Termenung cukup lama, Wang Qi Qi diam-diam melirik ke arah Li Tang Shi yang bergerak sedikit gelisah di belakangnya. "Aku tidak ingin terburu-buru, Pangeran Kang Wu Jie. Aku tidak ingin menyesal." Mendengar penuturan Wang Qi Qi yang terkesan seolah menolak, Kang Wu Jie hanya mampu menghela napas dalam-dalam dan mencoba menyunggingkan senyum termanisnya. Meski kecewa ia harus terlihat seperti pria sejati yang mana tidak akan menangis meski duri setangkai mawar telah melukai. Bukankah mawar akan terlihat sangat mahal ketika ia memiliki banyak duri yang menaungi?! "Aku tidak akan membuatmu terburu-buru , Yang Mulia. Jika kita jodoh, sejauh apapun jarak di antara kita pasti Dewa akan mendekatkan juga." Senyuman Kang Wu Jie hanya dibalas dengan anggukan Wang Qi Qi. Langkah sang ratu terhenti di jembatan kayu, jembatan yang menghubungkan aula istana dengan kediamannya yang begitu luas. Gadis itu tertegun menatap langit cukup lama, ia merasakan rindu yang luar biasa dalam dadanya ketika melihat langit cerah seperti ini. "Aku ingin memiliki masa depan yang cerah dan baik. Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi. Aku ingin ada kebahagiaan dalam hidupku meski sedikit saja. Pangeran Kang Wu Jie, menurutmu bisakah aku bahagia?" *****////**********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD