Tawaran Bu Dersa

1000 Words
Kali ini, Rhea menyusup di antara sekumpulan laki-laki. Berisik, tentu saja. Topik seputar bola bersahut-sahutan. Tak semuanya Rhea kenal. Hanya beberapa yang sekelas dengannya. Kevin yang punya kulit paling terang, Denan yang bertubuh agak gempal, Geris si rambut kribo, dan Faris yang berkacamata. Selebihnya Rhea tak tau. "MU dong! Kemarin aja Burnley kalah telak!" ujar Kevin, salah satu dari mereka. "Ye ... Liverpool pasti menang mah ini!" kata Geris. "Nggak, nggak. Gue setuju sama Kevin. Manchester United pasti yang menang," sahut Rhea. "Lho? Lo juga suka bola, Rhe?" Rhea dihujani tatapan penuh tanya. Jelas, ia tak suka bola. Tapi berpura-pura demi kebaikan tidak sepenuhnya salah, kan? "Iya dong! Apalagi MU!" seru Rhea. "Pemain favorit lo? Matteo Darmian bukan?" selidik Denan. Rhea menggeleng. "Terus siapa? Biasanya kan cewek suka sama dia karena paling ganteng," ucap Faris. "Gue suka Pogba dong. Keren parah!" Jawaban Rhea seketika menghebohkan para pemuda itu. Rhea hanya tertawa kecil, puas karena aktingnya lagi-lagi berhasil. "Rhe, coba lihat grup!" ujar Kevin merusak suasana. Rhea mengernyit kemudian bergegas membuka ponselnya. Angkatan '18 Melati: Rhea dituggu Bu Dersa di ruangannya. *** Rhea ketar-ketir, berdiri di depan pintu putih itu dengan bimbang. Ia akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke ruangan bertuliskan 'ruang dosen' itu. Ada tiga hingga enam orang di dalam ruangan. Mata Rhea langsung berkeliling, mencari-cari seorang wanita berkacamata dan ... itu dia! Sedang duduk di balik mejanya. Rhea menghampiri. "Selamat siang, Bu. Ibu manggil saya?" tanya Rhea sopan. "Iya," ucap Bu Dersa seraya mempersilakan Rhea duduk dengan gestur tangannya. Rhea duduk dengan sungkan. Ini bukan pertama kalinya Rhea bertemu dengan Bu Dersa yang notabene merupakan dosen pembimbing akademiknya. Dua minggu lalu mereka bertemu untuk agenda konsultasi rencana studi. Ya, walaupun pada akhirnya Rhea hanya meminta tanda tangan Bu Dersa di lembar rencana studi miliknya tanpa mengkonsultasikan apa-apa. Dari pertemuan Rhea dua minggu lalu, Rhea mampu menilai bahwa Bu Dersa punya kepribadian yang baik. Beliau ramah, murah senyum, dan--kata teman-teman sekelasnya--sangat mudah dihubungi. Rhea sama sekali tidak takut pada Bu Dersa. Hanya saja, ia harus tetap berhati-hati dan waspada dalam berbicara maupun bertingkah. Tentu, dosen berbeda dari guru-guru sekolah. Menurut Rhea, dosen itu sedikit tidak tertebak. Mana tau, kan, ternyata Bu Dersa berubah jadi galak hari ini? "Rheanina Kataleyya, gimana kabarmu?" tanya Bu Dersa. Rhea tersenyum canggung, "Baik, Bu." "Ibu dengar tentang kamu dari Bu Kiran hari ini," katanya. Deg! Tentu Rhea tau siapa itu Bu Kiran. Dosen filsafat yang memberi kuis dadakan hari ini. "Tentang saya?" "Ya, kata beliau lembar jawaban kuis punyamu kosong." Tepat. Sangat tepat. Memang begitulah yang terjadi pada lembar jawaban kuis Rhea. "Iya, maaf, Bu," tutur Rhea seolah menawarkan perdamaian. Bu Dersa tertawa kecil. Tidak tampak marah sama sekali. "Ini bukan soal permintaan maaf, Rhea. Selama empat bulan ini, kamu bolos 16 kali. Itu bukan jumlah yang wajar. Kamu bisa disuruh ngulang banyak SKS tahun depan. Atau parahnya, kamu bisa di-drop out." Rhea hanya bisa diam. Entahlah, hanya saja kata-kata drop out sama sekali tidak menakutinya. "Saya akan beri kamu penawaran." "Penawaran?" "Ya, penawaran. Jadi saya melakukan home visit setiap hari minggu. Saya biasanya ditemani oleh asisten saya. Tapi dia sedang cuti melahirkan. Saya memberi kamu penawaran untuk menjadi asisten home visit saya sampai semester ini habis," paparnya. "Kayaknya nggak deh, Bu," tolak Rhea. "Kenapa?" "Saya nggak mau aja," jawab Rhea singkat. Tak terselip keraguan sedikitpun dari kata-katanya. Menunjukkan bahwa ia memang tidak mau, bukan pura-pura karena malu. Bu Dersa tersenyum. Tatapannya keibuan, tidak superior dan mengintimidasi sama sekali. "Jangan terburu-buru. Pikir aja dulu. Ini alamat rumah saya, kalau kamu tertarik," ucap Bu Dersa. "Yang jelas penawaran ini nggak akan merugikan kamu sama sekali. Pertama, kamu saya gaji 300 ribu per hari. Kedua, kamu bisa lebih kenal psikologi. Penawaran ini mungkin saja jadi titik balik hidupmu," lanjutnya. Rhea terdiam sejenak. Kemudian berpamitan, "Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya permisi dulu, Bu." Baru tiga langkah, Bu Dersa kembali berbicara, "Rhea, apapun alasanmu. Entah kamu kehilangan semangat belajarmu atau bagaimana, saya yakin kamu tetap harus diberikan kesempatan." Mungkin akan mudah kalau hanya semangat belajar Rhea yang menghilang. Masalahnya, Rhea tak pernah tertarik. Sejak awal. *** Satu-satunya alasan Rhea suka meliburkan diri atau kabur-kaburan dari kelas adalah karena ia tak pernah mau masuk jurusan psikologi. Rhea tertarik pada sastra sejak ia masih SMP. Dan satu-satunya mimpi yang ia punya adalah menjadi seseorang yang terjun di bidang sastra. Ia bahkan tidak peduli kalau nilai indeks prestasinya jelek, disuruh mengulang SKS, atau bahkan di-drop out. Rhea sungguh tak peduli. Tapi Rhea tetap datang minggu pagi ini. Berdiri di depan sebuah rumah minimalis yang tampak hangat. "Bener nggak ya ini alamatnya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia kemudian memutuskan untuk memencet bel. Tak lama Bu Dersa keluar dengan senyuman di wajahnya. "Pilihan yang tepat," kata Bu Dersa. "Ayo masuk." Rumah Bu Dersa tidak terlalu besar. Namun tampak hangat di setiap sudutnya. Ada sebuah foto besar yang Rhea yakini sebagai foto keluarga, sebuah televisi, sofa, serta karpet berwarna cokelat. Rumah yang sangat sesuai dengan karakter Bu Dersa. Rhea menunggu selama dua puluh menit hingga akhirnya Bu Dersa siap. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan melaju membelah ramainya Kota Jakarta. "Apa yang membuat kamu menerima tawaran saya?" "Uang," jawab Rhea enteng. Bu Dersa tertawa kecil, "Ya, setidaknya bisa jadi tambahan uang jajan." Tak lama kemudian ponsel Rhea bergetar. Sebuah telepon. Tapi Rhea memilih untuk menekan tombol merah. "Kenapa nggak diangkat?" tanya Bu Dersa. Rhea menggeleng lalu tersenyum tipis. "Kamu kayaknya kaku banget ya sama saya. Saya memang dosen kamu, tapi jangan terlalu kaku kalau di luar kampus. Anggap saja saya tante kamu." Rhea ragu, sangat. Pasalnya ia pernah dengar, kalau gampang percaya pada dosen sama saja bunuh diri. Rhea hanya berdeham singkat lalu memejamkan matanya. Sengaja, menghindari percakapan dengan Bu Dersa. Selang sepuluh menit, mobil yang dikendarai Bu Dersa berhenti. Rhea yang merasakan itu pun membuka matanya. Rhea baru saja hendak bertanya mengenai tugas-tugasnya sebagai asisten psikolog. Tapi apa yang ada di depan matanya saat ini cukup mengejutkan hingga membuatnya tak mampu berkata-kata. Rahangnya kaku seolah beku. Lho? Inikan? R-r-rumah ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD