Rasa-rasanya baru kemarin Rhea memutuskan untuk berhenti mengunjungi rumah mewah ini. Rasanya baru kemarin. Dan hari ini ia ada di sini. Bukan sekadar memandang dari kejauhan seperti biasanya, ia berada di pelataran sekarang.
Selagi Bu Dersa berbicara dengan wanita paruh baya yang sepertinya ART di rumah ini, Rhea menatap ke sekeliling. Ia masih terheran-heran, tak percaya kalau ia bisa menginjakkan kakinya ke sini.
Gue pasti mimpi. Iya, ini pasti mimpi.
Kemudian lamunan Rhea terpaksa dibuyarkan oleh Bu Dersa yang menyenggol-nyenggol sikunya.
"Hah?"
"Ayo!" ujar Bu Dersa.
Rhea yang masih terbengong-bengong pun seketika sadar dan mengekor Bu Dersa seperti anak ayam mengikuti induknya.
"Tugas kamu nggak banyak. Kamu cuma perlu tungguin saya di sini sambil pegang barang-barang saya. Kalau ada telepon tolong diangkat, bilang saya lagi ada home visit. Ngerti, kan?" papar Bu Dersa.
Rhea yang sedari tadi hanya fokus pada megahnya interior rumah, sekarang mengangguk-angguk mirip hiasan mobil. Bu Dersa menepuk pelan bahu Rhea dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Rhea memilih duduk di salah satu sofa.
"Wah, megah banget," desisnya.
Desain interior rumah ini bergaya eropa. Dimana setiap ruangan dibuat luas dengan gemerlap lampu berlian di langit-langit. Tapi di luar semua kemewahan itu, Rhea teringat sesuatu.
Cowok itu ..., batinnya.
Mata Rhea beralih ke arah tangga. Mendadak muncul dorongan di kepalanya untuk berkeliling mencari pemuda itu. Berbagai scene romantis dari film dan drama berputar di kepalanya. Dia mungkin saja bisa mengalami adegan-adegan romantis itu bersama laki-laki yang menawan jiwanya itu. Dia punya kesempatan. Tapi sedetik kemudian ia menggeleng keras.
Nggak, itu nggak sopan, Rhea. Jangan kayak gitu! ujarnya dalam hati.
***
Setelah menunggu kira-kira setengah jam, Rhea akhirnya dilanda kebosanan. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah menggeser-geser menu ponselnya agar terlihat sibuk. Entah pada siapa sebenarnya ia menunjukkan 'kesibukan'-nya itu. Toh, yang memerhatikan juga tidak ada. Bahkan tidak ada orang lewat satu pun sedari tadi.
Rhea yang berharap akan bertemu 'pangeran dalam menara'-nya pun tampaknya harus menelan pil pahit bernama 'kenyataan'.
"Ini tehnya, Non. Silakan diminum."
Rhea menyampirkan senyum tipis di bibirnya.
"Makasih, Bu," ucapnya.
"Non bosen ya nunggu sendirian di sini?" tanya wanita bertubuh gemuk itu.
Rhea terkekeh kecil, "Iya, Bu. Jangan panggil 'non', Bu. Janggal. Panggil Rhea aja."
Wanita itu tersenyum. Menurut perkiraan Rhea, umurnya mungkin sekitar empat puluhan dan karakternya terlihat menyenangkan.
"Bagus namanya," pujinya. "Nama saya Sulastri. Panggil aja Bi Tri."
"Eh? Kayak merek operator dong?" canda Rhea.
Bi Tri tertawa, "Ada-ada aja, Non."
"Kok 'non' lagi?"
"Eh, iya. Maaf, suka lupa saya. Maklum udah tua."
Rhea dan Bi Tri kemudian berbincang untuk waktu yang cukup lama. Ada-ada saja yang dibicarakan. Sesekali mereka tertawa-tawa. Tak butuh lama untuk menjadi akrab.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, ponsel Rhea bergetar. Rhea melirik layar ponselnya sekilas lalu memilih mematikan benda persegi panjang itu.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Bi Tri.
Rhea hanya meringis.
"Pasti bosen banget ya, Nak Rhe? Mau keliling?"
"Keliling?"
"Ya, keliling rumah ini."
Rhea membelalak tak percaya.
"Boleh, Bi?"
Bi Tri mengangguk.
***
"... Jadi taman ini dibuat karena nyonya suka ngeteh, Nak Rhe. Makanya ada kursi-kursi santai kayak gini."
Rhea mengangguk-angguk mendengar pemaparan Bi Tri yang selalu terasa menakjubkan di setiap katanya. Rhea rasa, ia belum pernah tau kalau ada rumah yang menyimpan makna di setiap sudutnya seperti rumah ini. Misalnya saja bagian ruang tamu yang dibuat super luas untuk melambangkan kebijaksanaan atau patung Cupid di atas gerbang yang melambangkan harapan agar seluruh penghuni rumah diliputi cinta kasih seumur hidupnya.
"Keren banget, Bi. Semua ada maknanya."
"Iya, Nak Rhe. Tuan sendiri yang desain rumah ini. Khusus buat nyonya."
Rhea tersenyum membayangkan betapa romantisnya pemilik rumah ini.
"Ayo naik ke atas. Yang istimewa ada di sana," ajak Bi Tri seraya menunjuk ke lantai dua.
Rhea tiba-tiba teringat tentang pemuda itu. Begitu sampai di atas, Rhea disambut oleh sebuah lorong panjang. Apabila nuansa di bawah cenderung mewah, maka di atas sini lebih sederhana. Semuanya dicat warna putih. Sunyi dan bersih.
Dari pertengahan lorong, pintu rumah kaca--yang biasanya Rhea perhatikan dari bawah--terlihat. Pintu itu besar, mirip pintu utama yang ada di bawah. Warna putih dan ada hiasan emas di gagangnya. Rumah kaca itu juga terlihat sunyi. Seperti ada daya magis yang membuat rasa penasaran Rhea menggebu-gebu minta dipenuhi.
Bi Tri tiba-tiba berhenti karena dering di ponselnya. Alis Rhea naik, "Kenapa, Bi?"
"Aduh, Nak Rhe, bibi harus turun ke bawah nih. Nak Rhe nggak papa kan ditinggal sendiri?"
"Eh, iya, nggak papa kok, Bi."
"Kalau mau lihat-lihat lanjut aja, Nak Rhe. Maaf banget lho."
Bi Tri lalu menuruni tangga dengan tergesa. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Rhea hendak ikut turun, tapi sesuatu dalam benaknya menahan. Ia menatap pintu itu. Masih dengan rasa penasaran yang sama.
Perlahan tapi pasti, Rhea berjalan mendekati pintu itu. Jari-jemarinya menyentuh gagang pintu dan membukanya pelan-pelan.
Pintu itu terbuka. Aroma yang unik langsung menyapa indera penciuman Rhea. Ragu-ragu Rhea masuk ke sana. Ia ternganga melihat hamparan mawar putih di seluruh penjuru rumah kaca.
"Gila, ini keren banget," desisnya.
Ada jalan lurus di tengah-tengah rumah kaca, membelah hamparan mawar dan menuju ke kaca utama.
Saking takjubnya, Rhea berlari kecil sembari menyentuhi bunga-bunga mawar itu. Ia hanya belum pernah menemukan tempat seindah ini.
Ketakjubannya itu berubah menjadi kekagetan luar biasa ketika tiba-tiba sebuah suara menyapanya, "Hai."
Rhea menoleh ke arah pintu masuk. Pemuda itu ada di sana. Pemuda yang biasanya Rhea lihat dari kejauhan, kini ada di depannya.
"H-hai," sapa Rhea canggung.
Pemuda itu berjalan mendekat. Kulitnya yang putih pucat, bibirnya yang merah alami, dan rambut hitamnya yang tertata rapi rupanya jauh lebih indah ketika dilihat lebih dekat. Rhea merasa sangat damai, lebih dari sebelumnya.
"Penggantinya Kak Tabita, ya?" tanyanya.
Rhea terdiam untuk beberapa saat. Ia berusaha mencari-cari dalam memorinya siapa itu 'Kak Tabita' tapi ia sama sekali tak menemukannya. Melihat wajah Rhea yang tampak berpikir keras, pemuda itu memperjelas perkataannya.
"Asisten psikolog," katanya.
"Oh ... iya, iya. Gue asisten psikolog sementara sampai asisten psikolog yang lama selesai cuti," jawab Rhea.
Pemuda itu tersenyum. Cukup manis hingga rasanya gula darah Rhea naik seketika.
"Oh iya kita belum kenalan," ucapnya.
Pemuda itu mengulurkan tangannya yang pucat.
"Sagas," katanya. "Panji Sagasta Mahadierja."