Panji Sagasta Mahadierja. Begitulah ia memperkenalkan dirinya. Tak banyak yang Rhea tau, sebatas nama yang tak kalah indah dari orangnya.
Sehabis dari rumah mewah itu, nama Sagasta bersarang berhari-hari di kepala Rhea. Melekat tak mau lepas. Sehabis dari rumah mewah itu pula timbul penyesalan di benak Rhea.
Kenapa sih gue nggak minta nomor teleponnya? Ah, gue bahkan nggak sempet ngenalin diri gue!
Bukan tanpa alasan. Seusai pemuda itu menyebutkan namanya, tiba-tiba Rhea dipanggil oleh Bi Tri. Katanya Bu Dersa--dosen pembimbing akademiknya--sudah selesai dengan urusannya.
Rhea jadi lupa untuk mengenalkan namanya sendiri. Ia hanya sempat berpamitan dan buru-buru turun menghadap Bu Dersa.
Perjalanan Rhea hari itu tak berhenti begitu saja. Ia mengunjungi lima rumah lagi dan baru pulang ke indekosnya tepat ketika adzan maghrib berkumandang.
Bahkan ketika tubuhnya sudah luar biasa lelah setelah menemani Bu Dersa melakukan home visit seharian, Rhea masih sempat senyum-senyum di kamarnya malam itu. Ia juga menyempatkan untuk mencari nama 'Panji Sagasta Mahadierja' di seluruh platform sosial media meski tak ada hasil. Kemampuan stalking Rhea tidak mempan.
"Besok lagi deh," desisnya menyerah.
Rhea menyandarkan kepalanya di atas meja. Tak lama ponselnya bergetar.
Kevin Psiko'18:
Hoi, MU-Tottenham nih, ikt nobar g?
***
"Sangar ... yang kayak gini nih gue suka!"
"Duduk, Rhe. Duduk."
Hebohnya suara-suara yang menyambutnya membuat Rhea tersadar kalau ternyata dia adalah satu-satunya perempuan di antara kerumunan laki-laki ini. Ya, Rhea tak masalah. Lagipula Rhea tak punya banyak pilihan. Daripada dia termenung di rumah sendirian dan 'dihantui' Sagasta, mending berada di sini dan menonton pertandingan bola yang sebenarnya sama sekali tidak ia suka.
Rhea dan teman-teman sekelasnya--Rhea lebih suka menyebutnya sebagai 'kenalan'--berkumpul di salah satu warung kopi yang letaknya tak jauh dari kampus.
Gadis berjaket hijau lumut itu memesan teh tarik dan pisang goreng keju untuk mengusir lapar. Ia ikut tenggelam dalam perbincangan tiada ujung yang sedari tadi berkutat seputaran bola. Rhea berulang kali dipuji karena katanya jarang ada perempuan yang suka dengan hal-hal berbau bola. Mereka salah. Rhea juga tak pernah suka. Ia hanya berpura-pura, untuk memudahkan sosialisasinya.
"Aduh! Gue lupa lagi!" ujar Kevin.
"Kenapa, Vin?" tanya Rhea.
"Gue lupa pesenannya si Denan! Mana rame lagi, males banget!"
"Oh ... sini biar gue pesenin," usul Rhea. Bukan apa, ia hanya ingin menghirup udara sejenak dari obrolan seputar bola yang mulai membuat Rhea bosan. Berpura-pura itu sulit memang. Semua Rhea lakukan demi bertahan hidup dan tidak mati kesepian di kota yang dingin ini
"Eh? Beneran? Tapi rame banget lho itu. Ya udah, dia pesen kopi s**u aja sih," jawab Kevin.
Rhea mengacungkan jempol lalu berjalan menuju area pemesanan. Warung kopi yang sebenarnya sudah cukup besar ini penuh. Bahkan bisa dibilang padat merayap. Rhea sampai harus memasang matanya baik-baik untuk menemukan jalan yang agak lenggang.
Fokus Rhea mendadak hilang ketika ia melihat seseorang berjaket hitam di ujung sana. Seseorang yang terlihat dari samping sedang memainkan ponselnya.
Postur dan garis wajahnya tampak familiar buat Rhea.
Sagas? batinnya.
Rhea tidak berpikir lagi. Ia menyelip, terburu-buru di antara jajaran manusia yang menghalangi pengelihatannya. Seperti seekor hyena yang menyelinap dari balik rerumputan.
Langkah Rhea semakin terburu-buru ketika ia melihat pemuda itu berdiri dari tempat duduknya dan tampak mau pulang. Hingga ... Bruk!
Rhea tanpa sengaja menabrak seseorang. Namun Rhea tetap terfokus pada pemuda itu. Ia makin menyepatkan langkahnya dan ....
"Sagas!" panggilnya. Suaranya yang keras membuat pemuda itu menoleh. Tapi hasil tidak sesuai dengan ekspektasi.
Pemuda itu bukan Sagas. Dan Rhea berakhir dihujani dengan tatapan aneh pemuda itu.
"Eh, maaf, Mas. Salah orang." Rhea menggaruk lehernya canggung.
Belum usai kecanggungan Rhea. Tiba-tiba seseorang meneriakinya.
"Mbak! Kalau jalan tuh lihat-lihat dong! Ini udah nabrak, nggak minta maaf lagi!" Rhea terkejut melihat seorang pemuda yang sweater abu-abunya kotor terkena tumpahan kopi panas.
Laki-laki itu mengibas-ngisbaskan sweaternya. Mengusir rasa panas yang menempel di kulitnya.
Rhea membuka mulutnya seperti mau bicara, tapi menutupnya lagi. Ia tak tau apa yang harus ia katakan. Ia tidak sadar kalau tabrakan tak sengaja tadi rupanya sampai mengotori pakaian seseorang.
Tanpa sadar, teman-teman sekelas yang lebih senang ia sebut sebagai 'kenalan' itu sudah berkerumun di sekitarnya.
"Eh, Mas! Selow dikit dong! Jangan teriak-teriak gitu ke perempuan! Situ laki apa banci?"
Rhea ditarik mundur beberapa langkah. Kevin sebagai orang yang mengajaknya ke tempat ini merasa khawatir.
"Lo nggak papa?" tanyanya.
Dan beberapa detik kemudian, Rhea baru merasakan panas di area lengan kirinya. Rhea baru sadar, jaket hijau lumutnya juga berubah warna jadi hitam kecokelatan.
***
"Gimana keadaan lo? Oke?" Pertanyaan itulah yang pertama kali Rhea dengar saat mengangkat telepon dari Denan.
Rhea bergumam. Sesungguhnya kalau ia mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, ia malu.
Gara-gara pengelihatannya yang salah, Rhea mengakibatkan kericuhan di warung kopi. Rhea yang salah, tapi karena kesalahpahaman, para laki-laki bersumbu pendek itu langsung terpancing emosi.
"Kalian tau, yang kemarin itu salah gue," kata Rhea. "Gue yang jalannya nggak fokus dan nabrak dia."
Rhea ingat betul bagaimana ekspresi pemuda yang ia tabrak semalam. Seolah ada asap yang keluar dari kepalanya.
"Ya ... lo bilangnya pas kita udah diusir dari warung kopi sih," celetuk Denan.
Rhea tertawa kecil. Memang, kericuhan kemarin membuat mereka semua harus angkat kaki dari warung kopi itu. Tidak ada pertandingan bola, MU, Tottenham, atau apapun itu. Agak lucu.
Pemuda yang marah pada Rhea juga diusir keluar oleh sang pemilik warung kopi. Rhea bahkan belum sempat meminta maaf. Tapi Rhea tak ambil pusing, toh mereka tidak akan bertemu lagi.
"Mau ikut main PS nggak, Rhe? Mumpung minggu!"
"Nggak. Gue udah ada janji."
Tentu Rhea menolak, ini hari minggu. Hari yang paling ia tunggu-tunggu dalam sepekan. Hari dimana ia bisa bertemu dengan Sagas.
***
Bu Dersa terheran-heran melihat wajah Rhea yang dipenuhi senyuman.
"Happy banget kayaknya?" tanya Bu Dersa. Rhea hanya bisa nyengir. Ya, ia bukanlah gadis yang mampu menyembunyikan perasaannya. Ketika ia sedih, semua orang akan tau. Begitu pula sebaliknya, ketika ia bahagia, seluruh dunia juga tau
Tak lama, seorang pemuda berkaus biru tua keluar dari dalam rumah. Tangannya menggenggam sesuatu yang tampaknya merupakan kunci mobil.
"Kenalin, ini anak saya Dextra. Dia bakal nganterin kita hari ini," kata Bu Dersa.
Rhea hampir saja mengenalkan dirinya. Tapi melihat mata menghakimi yang dilontarkan pemuda itu membuat Rhea ikut tersadar akan sesuatu.
Lah? Lah? Cowok ini?!