Orang bilang, manusia boleh merencanakan tapi Tuhan yang tentukan. Tampaknya hari ini kalimat itu benar-benar berlaku untuk Rhea.
Rhea sama sekali tak pernah menyangka kalau ia akan dipertemukan kembali dengan pemuda yang ia tabrak di warung kopi semalam. Pemuda yang Rhea jamin punya dendam tak tersampaikan untuknya. Ini adalah kejutan. Kejutan dari alam semesta buat Rhea.
Fakta bahwa pemuda itu adalah anak dari Bu Dersa merupakan hal yang cukup buruk. Tapi yang paling buruk adalah diamnya pemuda itu. Ia bertingkah seolah tak ada yang terjadi di antara mereka. Ya, ia memang tampak terkejut dan sedikit marah tadi pagi, hanya saja sedetik kemudian ekspresinya berubah. Ia bahkan menyalami Rhea dan memperkenalkan dirinya.
Rhea tak tau apa yang direncanakan pemuda bernama Dextra itu. Satu hal yang ia tau adalah firasatnya buruk dan itu membuatnya gelisah. Rhea yakin akan ada sesuatu yang buruk yang terjadi antara dia dan Dextra. Rhea juga cukup yakin kalau laki-laki bernama Dextra itu bukanlah tipe manusia pemaaf.
Untungnya kegelisahan Rhea sedikit terusir ketika ia sampai di rumah ini. Rumah yang ia pikirkan sepanjang minggu. Rumah tempat Sagas berada.
Tak lama setelah Bu Dersa masuk ke ruangan--yang juga ia masuki pekan lalu--berpintu putih itu, Bi Tri menghampiri Rhea.
"Nak Rhe udah dateng," kata Bi Tri.
"Hehe, iya, Bi," jawab Rhea.
"Ya udah, bibi tinggal dulu ya. Banyak kerjaan."
Rhea mengangguk. Ia merasakan setitik kekecewaan. Pasalnya, Rhea diam-diam berharap ditawari berkeliling dan tanpa sengaja bertemu Sagas seperti pekan lalu.
Ekspektasi tinggal ekspektasi. Kini yang bisa Rhea lakukan adalah duduk manis sembari menunggu Sagas lewat secara kebetulan.
***
Bukan Rhea namanya kalau ia tidak memilih untuk melakukan sesuatu yang lain. Ketimbang duduk menunggu, Rhea memilih untuk memberontak dan melewati batas-batas kesopanan dalam bertamu. Ia tau, menerobos naik ke atas tanpa ijin siapapun adalah sesuatu yang tak seharusnya ia lakukan. Tapi ia rasa ini lebih baik daripada keinginannya yang menggebu untuk bertemu Sagas tidak tersampaikan.
Rhea memegang gagang pintu itu ragu-ragu. Apa gue turun aja, ya? Nggak sopan banget gini.
Tapi sisi egois Rhea muncul. Rasa-rasanya kepalang tanggung kalau ia mundur sekarang. Rasa-rasanya ia akan menyesal kalau membatalkan niat sekarang.
Rhea masuk. Rumah kaca itu tampak kosong dan sedikit berbeda. Bunga-bunga mawar putih yang terhampar di seluruh penjuru ruangan tempo hari mendadak hilang seperti ditelan bumi. Hanya tersisa tanaman-tanaman mawar tanpa bunganya.
Rhea menelusuri setiap sudut dengan mata elangnya, ia tak menemukan siapapun. Sunyi tanpa suara. Rhea kemudian menepuk kepalanya.
"g****k banget sih nyariin dia ke sini segala. Kan bisa aja dia lagi di kamarnya, atau mungkin lagi nggak di rumah," gumam Rhea seraya menelan pahitnya kecewa.
Rhea lalu berjalan santai sejenak untuk menghilangkan kekecewaannya. Kaki Rhea berhenti melangkah ketika sebuah tanaman mawar dalam pot hitam bertuliskan 'Feby' menarik perhatiannya.
Gadis itu berjongkok untuk melihat lebih jelas.
"Feby?" tanyanya sendiri.
"Ya, namanya Feby."
Rhea kaget setengah mati hingga badannya menjingkat. Ia kemudian menoleh ke belakang, tempat suara itu berasal. Sagas sudah ada tepat di belakangnya dengan wajah yang khawatir.
"Kamu kaget, ya?" tanyanya. "Maaf."
"E-eh nggak papa kok," kilah Rhea. "Malah harusnya gue yang minta maaf udah ke sini tanpa ijin."
"Nggak papa kok. Kesini aja selagi kamu mau," tutur Sagas.
Penuturan Sagas yang lembut itu membuat Rhea gugup. Rhea belum pernah bertemu laki-laki selembut ini. Setidaknya selama di Jakarta.
Untuk menghilangkan kegugupannya, Rhea mengalihkan pembicaraan.
"Jadi semua tanaman di rumah kaca ini punya nama?" tanya Rhea.
Sagas menggeleng. Ia lalu berjongkok dan mengelus dedaunan tanaman bernama Feby itu.
"Cuma Feby aja yang punya," katanya.
"Kok?"
Sagas menoleh ke arah Rhea.
"Karena Feby istimewa. Pemberian seseorang," jawabnya.
Rhea membentuk huruf o di mulutnya. Hanya saja, benaknya masih bertanya-tanya, Siapa? Ceweknya?
Rhea bisa saja bertanya lebih jauh, tapi kali ini ia memilih diam. Ya, mereka baru saja bertemu dua kali--meskipun Rhea sudah mengamati Sagas diam-diam belasan kali--dan rasa-rasanya pertanyaan lebih jauh terkesan agak privasi.
Daripada rasa penasarannya tak bisa ditahan lagi, Rhea memilih untuk mengganti topik.
"Ngomong-ngomong mawar yang kemarin pada kemana?" tanya Rhea.
"Udah dikirim."
"Oh ... lo jualan bunga, ya?"
Sagas tertawa kecil. Ia kemudian berkata, "Ya, buat sekarang anggap aja begitu."
"Ini tempat kesukaan lo ya? Soalnya gue selalu lihat lo di sini," celetuk Rhea.
"Selalu?"
Pertanyaan Sagas membuat Rhea mengutuk dirinya sendiri. Pasalnya pernyataan Rhea barusan sama saja dengan memberitahukan bahwa dirinya sering mengamati Sagas diam-diam.
"Ya, m-maksud gue tuh ... kan gue udah dua kali ke sini, dan gue selalu ketemu lo di ruangan ini. Bukan di ruangan lain. Jadi gue mikir ini tempat favorit lo," jelasnya.
Sagas menggeleng.
"Aku emang suka tempat ini. Tapi ada satu tempat lagi yang paling aku suka," ucap Sagas. "Mau kesana?"
Tanpa pikir panjang, gadis berkemeja lavender itu mengangguk.
***
Rhea masih terus menerka-nerka apa lagi kejutan yang rumah ini punya. Pasalnya, baru saja ia dikejutkan dengan kehadiran tangga kecil yang rupanya bersembunyi di ujung koridor lantai dua. Tangga itu merupakan tangga lipat yang disimpan di dek dan menghubungkan koridor dengan sebuah ruangan.
Sagas memanjat mendahului. Awalnya Rhea ragu, tapi rasa penasaran memaksanya untuk mengikuti. Pelan-pelan ia memanjat tangga yang bergoyang-goyang itu.
Namun keberaniannya membuahkan hasil. Rhea dibuat takjub--entah ke berapa kali--oleh ruangan yang baru saja ia masuki. Memang bukan ruangan super luas yang menyuguhkan interior mewah dimana-mana, hanya sebuah ruangan kecil berukuran empat kali lima meter yang dipenuhi lukisan beraneka warna.
Rhea terpukau. Rasanya seperti memasuki ruangan yang ada di ujung pelangi. Lukisan-lukisan itu beragam jenisnya. Ada lukisan bunga serta vas-nya, ada lukisan pemandangan langit malam, ada juga lukisan burung merpati.
Lukisan-lukisan itu memukau untuk Rhea. Sekali lihat saja Rhea tau kalau lukisan-lukisan ini berbeda dari lukisan pemula. Lebih memukau lagi karena jumlahnya yang entah berapa banyak.
"Ini semua ... lukisan lo?" tanya Rhea. Pertanyaan Rhea bukan basa-basi belaka. Dari pengamatan diam-diamnya, Rhea jelas sudah tau kalau pemuda di sampingnya itu sering sekali melukis. Hanya saja Rhea tak pernah tau kalau hasilnya sebegini indah dan sebegini banyak.
"Nggak semua." Sagas menunjuk sebuah lukisan yang menggambarkan keramaian kota. "Ada beberapa yang aku beli, ini contohnya."
Rhea mengangguk-angguk. Kemudian bertanya lagi, "Terus yang mana lukisan lo?"
"Semua yang ada lambang ini berarti lukisan aku," balasnya seraya menunjuk logo--atau lebih tepat disebut sebagai inisial--'DC' di pojok salah satu lukisan.
DC? Inisial ceweknya?