Rhea hanya menelan pertanyaannya kembali dengan alasan--lagi-lagi--privasi. Padahal dia penasaran setengah mati mengenai lambang DC itu.
"Keren," puji Rhea sambil mengacungkan dua jempolnya. "Terus selain ngelukis, keseharian lo ngapain aja?"
"Nggak banyak. Paling berkebun, kuliah, ya gitu-gitu aja," jawab Sagas.
"Jurusan?"
"Manajemen bisnis," kata Sagas.
Rhea mengangguk-angguk. Belum sempat bertanya lebih jauh, Rhea merasakan getaran dari dalam saku celananya. Ponsel milik Rhea bergetar, alarm yang menandakan habisnya jam home visit di rumah Sagas menyala. Rhea sengaja menyalakan alarm agar ia tak membuat Bu Dersa menunggu-nunggu seperti pekan lalu.
Alam bawah sadar Rhea merasa kecewa.
"Sorry, gue harus pergi. Sampai jumpa, Sagasta!" pamit Rhea.
Greb! Tangan Sagas yang tiba-tiba menahan membuat Rhea kaget.
"Aku udah nunjukin tempat favoritku ke kamu. Jadi kenapa kamu nggak ngasih apa-apa?" tanya Sagas.
"Hah?" Rhea tentu saja bingung. Emang gue harus ngasih apa? Duit? Atau mungkin ... Keperawanan? Heh, gila!
Pikiran-pikiran aneh Rhea membuatnya mengernyit sendiri.
"Kenapa mukanya gitu?" tanya Sagas. Ia lalu tertawa. Manis sekali. "Aku nggak minta duit atau apa kok. Aku cuma mau tau nama kamu."
"Nama? Gue?" tanya Rhea. Pasalnya ia sendiri tak pernah menyangka kalau Sagas mau tau.
"Ya, aku udah cerita banyak hal. Tapi kayaknya aku belum tau apa-apa tentang kamu. Jadi kasih tau namamu dulu, baru aku biarin pergi," tutur Sagas. Tangannya melepas lengan Rhea.
Seketika Rhea mengulurkan tangannya, "Gue Rheanina Kataleyya. Biasa dipanggil Rhea."
Sagas menjabat tangannya.
"Lain waktu, aku mau tau kamu lebih jauh, Rhea."
***
Memang tak ada yang bertahan selamanya. Baik itu manusia, perasaan, ataupun kejadian. Semua bersifat sementara, termasuk kebahagiaan Rhea.
Baru saja--sepersekian menit lalu--ia diterbangkan oleh kata-kata Sagas yang menyatakan ingin mengenal Rhea lebih jauh, sekarang ia harus menerima kenyataan pahit yang terpampang di depan mata. Anak Bu Dersa alias pemuda yang bajunya ia tumpahi kopi tanpa sengaja.
Keadaan masih sangat-sangat aman karena anak Bu Dersa itu tidak memberi pergerakan. Rhea mendarat di rumah Bu Dersa dengan selamat. Hingga akhirnya petaka dimulai.
"Dex, kamu anterin Rhea ke kosannya ya? Kasihan kalau harus naik kendaraan umum," pinta Bu Dersa.
Rhea menggeleng keras.
"Nggak, Bu! Nggak perlu. Saya harus mampir ke tempat lain dulu setelah ini."
"Iya, Dextra bisa kok anterin kamu."
Dextra--begitulah namanya--memasang senyum lebar yang Rhea yakini sebagai senyum palsu sembari membuka pintu mobilnya.
"Udah masuk aja. Mama bakalan tersinggung kan kalau ditolak?"
Bu Dersa mengangguk-angguk. Rhea menggaruk lehernya bingung. Ia sungguh harus menolak tapi tidak enak untuk mengatakannya dua kali. Dengan berat hati, Rhea menerima. Ya, setidaknya anak Bu Dersa itu tidak mungkin membunuh dan memutilasinya di jalan kan?
Rhea bisa melihat senyuman licik dari bibir anak Bu Dersa begitu ia masuk ke mobil. Juga tatapannya yang mengolok-olok secara tersirat.
Suasana di dalam mobil senyap. Tak bertahan lama. Cukup sampai di depan kompleks, Dextra mulai bersuara, "Eh, elo!"
Rhea memandang Dextra cukup skeptis.
"Elo-elo! Gue punya nama ya!" protes Rhea.
"Iya, terserah nama lo siapa, yang jelas jangan pikir gue lupa ya tentang apa yang udah lo perbuat ke gue," kata Dextra.
Rhea memutar matanya jengah.
"Ya elah, waktu itu gue nggak sengaja. Beneran deh!"
"Oh ya? Lo bahkan nggak minta maaf sama sekali. Etika lo dimana coba?" semprot Dextra.
Bibir Rhea mencebik. Memang salahnya tidak meminta maaf.
"Oke, gue minta maaf yang sebesar-besarnya. Maaf juga karena waktu itu gue nggak sempat minta maaf."
Dextra mendengus. Dengusan yang membuat Rhea selaku pendengar merasa tidak senang.
"Lo kira bisa semudah itu? Gue udah dipermalukan ya sama temen-temen sumbu pendek lo itu! Mereka bahkan nonjok gue!" ujar Dextra.
Memang benar Denan sempat melayangkan satu tinjuan di wajah Dextra yang akhirnya menimbulkan memar di pojok bibirnya. Rhea hanya bisa menunduk penuh sesal.
"Bar-bar!" ujar Dextra.
Tiba-tiba mobil Dextra menepi. Ia mengambil sesuatu dari jok belakang. Sebuah paper bag yang kemudian ia lemparkan pada Rhea.
"Itu baju gue yang lo tumpahin kopi. Udah gue bawa ke laundry tapi tetep nggak mau ilang nodanya. Gue nggak mau tau ya, gue minta ganti rugi. Baju yang persis kayak gitu. Ngerti lo?"
Belum usai Rhea mencerna seluruh ucapan Dextra, pemuda itu sudah kembali berbicara. Memerintah lebih tepatnya, "Sekarang turun lo dari mobil gue!"
"Apa?"
***
Brengsek adalah satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Dextra di kepala Rhea. Pemuda tidak b******k mana yang tega menurunkan seorang perempuan di jalanan?
Rhea diturunkan di sebuah jalan kecil yang tampak asing dan bahkan harus berjalan sejauh 3 kilometer untuk menemukan angkutan umum. Keterlaluan bukan?
Sesampainya di indekos, Rhea melemparkan paper bag ke atas kasur dengan kesal. Ia mengacak-acak rambut frustasi. Merutuki kenapa ia harus berurusan dengan pemuda b******k seperti ini.
"Oke Rhe, tenang." Rhea memejamkan matanya. Berusaha mendinginkan otaknya yang nyaris mendidih, "Lo cuma perlu ganti baju si Bodrex-bodrex itu dan petaka ini selesai. Jangan emosi, jangan frustasi. Ini masalah gampang."
***
Bagi Rhea, orang cerdas adalah orang yang selalu punya strategi. Itulah mengapa siang ini ia bergabung dengan kumpulan cewek-cewek hedon. Rhea yang tak begitu tertarik pada fashion ini tak mungkin menelusuri seluruh pusat perbelanjaan di Jakarta hanya untuk mencari sweater yang sama persis dengan milik Dextra. Maka dari itu, Rhea ingin sedikit 'memanfaatkan' sekumpulan gadis ini. Tak ada salahnya, kan?
"Gue mau nanya dong," kata Rhea memecah kebisingan.
"Apa, Rhe?" tanya Tamara, salah satu dari mereka.
Tangan Rhea dengan cekatan menyodorkan gambar sweater kelabu yang ada di layar ponselnya.
"Tau nggak di Jakarta beli ginian dimana? Yang sama persis."
Gadis-gadis itu tampak tertarik.
"Ini item-item di bagian d**a kenapa, Rhe?" tanya Sari penasaran.
"Ceritanya panjang, yang jelas gue harus beli baju kayak gitu. Secepatnya," jawab Rhea.
"Bentar, bentar, kayaknya gue pernah lihat baju kayak gini di butik tante gue deh," ucap Tamara.
Tamara menggulir-gulir layar ponselnya lalu menelepon seseorang. Beberapa detik kemudian Tamara menutupnya.
"Nggak diangkat, Rhe. Nanti deh ya gue ke rumah dia, tanyain tentang ini."
Rhea mengangguk cepat. Inilah pentingnya sosialisasi.
***
Tamara:
Re udh gue cari tw itu sweater kluaran gucci, seri cotton sweatshirt with gucci stripes
Rhea menelan ludah membaca kata 'Gucci'.
Kbtulan tante gue distributor brg branded. Mw nitip g? 1100 USD
Lalu Rhea menarikan jari-jarinya di atas layar seraya menahan firasat-firasat aneh yang terus bergentayangan di kepalanya.
Rhea dengan cekatan mencari aplikasi konversi mata uang di ponselnya. Jantungnya serasa jatuh bebas ke lambung setelah melihat nominal yang tertera di sana.
"A-apa? 15 juta? Baju gituan doang?!" pekik Rhea.
Di saat yang bersamaan, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal
+628981822xxxx:
Gmn nasib sweater gue?
"s**l," desah Rhea. Frustasi.
Beberapa detik kemudian sebuah telepon masuk. Masih dari nomor tak dikenal. Rhea yang kepalanya sudah hampir meledak karena kebingungan pun langsung mengangkatnya.
"Apa sih?! Iya gue pasti ganti! Udah, jangan nelpon-nelpon sih!" bentaknya lalu menekan tombol merah, memutus telepon secara sepihak.
+628512345xxxx:
Rhe, ini aku Sagas. Maaf banget kalau telepon dari aku ganggu kamu.
Seketika, mata Rhea terbelalak. Nyaris keluar dari rongganya.