Hubungan Buruk

2013 Words
Sagas mungkin tak punya kebebasan untuk waktu yang amat lama. Dia terkurung bagai burung cantik yang diperangkap di dalam sangkar emas. Dia terjebak seperti Rapunzel yang tak bisa kemana-mana dan harus tetap dalam menara. Tapi tetap ada hal yang Rhea iri dalam kehidupan Sagas. Yaitu ... hubungan Sagas dengan ibunya. Mungkin kedengaran aneh dan tidak normal. Rhea sendiri paham. Padahal sudah jelas-jelas hubungan Sagas dan ibunya bukanlah hubungan sehat yang ideal. Tapi tetap saja Rhea kadang iri kalau melihat Sagas dan ibunya sedang bercengkrama. Rhea dulu juga anak yang seperti itu. Apa-apa ibu, sedikit-sedikit ibu. Rhea terbilang cukup dekat dengan ibunya dan menceritakan apapun pada orang yang melahirkannya itu. Namun sekarang ... Rhea jauh dari situasi yang seperti itu. Orang mungkin akan dengan mudahnya mengatakan bahwa Rhea adalah anak durhaka yang tidak tau terima kasih karena sudah dibawa hidup ke dunia ini. Makanya Rhea tak pernah menceritakan masalahnya kepada siapapun. Karena orang-orang hanya mudah menghakimi tanpa bisa menjalani. Meski belum mengenal Sagas dari A sampai Z, satu hal yang Rhea tau pasti. Fakta bahwa Sagas menyayangi ibunya sepenuh hati. Misalnya sekarang, Sagas melukis potret seorang perempuan dengan gaun hitam dan sarung tangan berenda. Orang itu tak lain adalah ibunya. Rhea tau meski bagian wajahnya belum dilukis. Tampak dari auranya. "Nyonya Laras, ya, Gas?" tanya Rhea. "Nyonya Laras siapa?" Rhio menyahut seperti petir yang menyambar. "Ibunya Sagas," jawab Rhea. "Kok mbak bisa kenal sampai ke namanya segala?" Rhio mau tau. Rhea berdecak. Memang tidak seharusnya bicara begini di depan Rhio. Rasa ingin tahunya terlalu tinggi. "Diem, Rhi! Mending kamu tidur atau apa kek! Udah malem juga!" ujar Rhea. "Justru karena udah malem, aku nggak bisa ninggalin mbak sama Mas Sagas sendirian! Mau ngapain kalian pakai ngusir aku segala?" tuduh Rhio. Memang paling repot bicara pada Rhio. Tak ada bedanya seperti bicara dengan anak SD. "Ih! Kamu itu mikir apa, sih, sebenarnya? Jangan nyebelin gitu lah! Mbak cuma capek dengar kamu nanya terus kayak wartawan!" Sagas yang sedari tadi diam dan mencoba fokus pun akhirnya tak bisa terus diam. Dia meletakkan palet warna ya di meja dan menatap Rhea. "Rhe, aku sayang kamu. Tapi kalau kamu cuma mau bertengkar sama Rhio, mending kamu pulang aja ya? Rhio juga, kalau kamu cuma mau ribut, mending tidur aja sekarang. Pokoknya salah satu dari kalian, ngalah tolong." Rhio menjulurkan lidahnya. Merasa menang padahal Sagas sama sekali tidak bermaksud membelanya. Bukan cuma Rhio yang salah paham, Rhea juga. "Oh gitu? Jadi kamu ngusir aku? Oke!" Rhea buru-buru keluar dari rumah Sagas dengan tampang menahan amarah. Bahkan sampai banting pintu saking kesalnya. Sedangkan Sagas sendiri membeku, belum pernah dia melihat Rhea yang gondok begini. Karena masalah sepele pula. Sagas rasanya seperti baru saja diletakkan di atas jembatan yang bagian kanan dan kirinya adalah jurang ketika melihat Rhea ngambek begitu. Di satu sisi Sagas merasa keheranan, tapi di sisi lain Sagas menganggap ngambeknya Rhea adalah sesuatu yang imut. Sesuatu yang tak bisa dia lihat setiap hari. Plak! Tiba-tiba Sagas merasakan hentakan keras di belakang kepalanya. Sakit. Rhio baru memukul saja memukul kepalanya. "Ngapain lo lihatin mbak gue pakai senyam-senyum segala?!" semprot Rhio. *** Begitu melihat noda merah di spreinya pagi ini, Rhea sadar bahwa semuanya gara-gara fluktuasi hormon. Sampai-sampai Rhea marah hanya karena masalah sepele pada Sagas. Rhea masing ingat betul bagaimana perasaannya tadi malam. Dia benar-benar marah seperti orang gila. Dadanya terasa panas menahan amarah cuma gara-gara kata-kata Sagas yang tak seberapa. Setelah bangun pagi ini, kemarahan Rhea lenyap bak tak pernah ada. Yang tertinggal hanyalah rasa malu. Malu karena Rhea tau alasannya untuk marah pada Sagas sangat tidak kuat. Rhea tak seharusnya begitu. Kalau sudah begini, bukankah Rhea jadi kelihatan seperti perempuan yang tidak rasional? Anjir, kalau Sagas ilfeel sama gue gimana? Sudah terlalu terlambat untuk menyesal. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diulang kembali karena Rhea jelas bukanlah Nobita yang punya Doraemon dan mesin waktunya. Rhea hanyalah Rhea. Manusia yang kadangkala mengedepankan emosi ketimbang logika ketika melakukan sesuatu. Rhea terlalu malu atas tindakannya semalam. Rasanya dia ingin lenyap dari muka bumi dan pindah saja ke planet paling jauh dari Galaksi Bimasakti. Atau berubah spesies dari manusia jadi burung agar bisa terbang sejauh mungkin dari Sagas. Maka dari itu, Rhea berusaha menghindari Sagas hari ini. Setidaknya sampai rasa malunya hilang nanti. Atau paling tidak sampai Rhea berhasil menebalkan wajahnya. Satu masalah lagi bagi Rhea pagi ini. Menstruasi di saat tangan terbalut gips begini ternyata sangat-sangat tidak enak. Mau pasang pembalut saja super susah. Benar-benar seperti siksa neraka. Untungnya hari ini gips Rhea akan dilepas. Akhirnya, derita Rhea akan berkurang satu. Setelah memakai jaket dan memastikan bahwa penampilannya tidak begitu buruk, Rhea keluar dari indekos-nya. Kalau biasanya dia lewat depan rumah Sagas, kali ini Rhea memilih jalan yang berlawanan. Memang dia mau menghindari Sagas selagi bisa. "Mbak Rhe!" suara Rhio yang amat familiar menggaung dari arah belakang tubuh Rhea. Rhea menoleh, Rhio dan Sagas sedang berjalan mendekati Rhea. Mati gue! "Mbak Rhea kenapa lewat situ?" tanya Rhio. "P-p-pengin aja!" ujar Rhea. Rhea melirik Sagas. Dia tampak biasa saja, bahkan tersenyum pada Rhea seolah tak terjadi apa-apa. Tak marah sama sekali dengan tingkah Rhea yang jelas konyol tadi malam. Sementara Rhea merasa malu setengah mati. Sagas dan Rhio tampak rapi. Rhio memakai kaus putih dan jaket hitam serta celana jeans. Sementara Sagas memakai Hoodie merah yang tampak sangat cocok dengan warna kulitnya yang pucat. Rambut Sagas dibiarkan alami dan agak berantakan pula. Aduh! Lemah sudah Rhea seperti es krim yang dipapar di bawah sinar matahari Jakarta yang teriknya tak tau diri itu. Bahasa gaulnya; mleyot. "Kalian mau kemana?" tanya Rhea. "Mau nemenin mbak ke rumah sakit," jawab Rhio. "Hah?" "Mbak mau buka gips kan hari ini? Aku emang niat mau nemenin, eh terus Mas Sagas mau ikut. Jadi ya udah sekalian." "Ng-nggak perlu! Mbak bisa sendiri kok!" ujar Rhea. Dia bisa mati karena rasa malunya kalau sampai Sagas ikut mengantarnya lepas gips. Rhea berusaha mengirim telepati pada Rhio. Tapi ini bukan cerita fantasi. Rhio juga bukan Edward Cullen, si vampir ganteng yang bisa baca pikiran. Sudah jelas Rhio tak bisa paham apa maksud Rhea kalau tak diberitahu secara gamblang. "Nggak! Rhio tetep mau nemenin mbak pokoknya! Janji deh nggak minta beli apa-apa!" seru Rhio. Bahkan sampai mengacungkan jari kelingkingnya. Rhea tak lagi punya alasan kuat untuk melarang Rhio dan Sagas ikut. Sementara Rhea harus menahan mati-matian agar tidak mati karena rasa malu yang bersarang di dadanya. *** Rhea kira, pelepasan gips akan sakit dan makan waktu lama. Ternyata tidak. Bahkan tak sampai setengah jam untuk melepas gips di tangan kanan Rhea. Dokternya juga baik dan ramah sehingga Rhea merasa nyaman. Satu-satunya yang membuat Rhea merasa tidak nyaman adalah kehadiran Sagas. Tidak, Sagas sama sekali tidak salah apa-apa. Rhea lah satu-satunya pihak yang bersalah karena marah-marah tanpa sebab. "Nggak sakit, Rhe?" tanya Sagas memecah keheningan di antara mereka. "Ng-nggak." Rhea tergagap. Rhea mengutuk Rhio yang lama sekali tidak kembali dari toilet. Entah apa yang sebenarnya dia lakukan sampai ke toilet selama ini. Rhea yang ditinggal berdua bersama Sagas jadi harus tersiksa dengan atmosfer canggung yang berkuasa. Rhea saat ini sedang duduk berdua dengan Sagas. Saling berhadapan di sebuah kafe yang terletak tepat ada di depan rumah sakit tempat Rhea melepas gips. Di tengah-tengah mereka ada americano pesanan Sagas, caramel macchiato pesanan Rhea, serta cappucino dan cheesecake pesanan Rhio. Sisanya, hanya ada keheningan. "Rhe, kamu masih marah sama aku, ya?" tanya Sagas tiba-tiba. "Hah?" Rhea berdebar mendengar pertanyaan Sagas. Bukan debaran orang jatuh cinta. Akan tetapi debaran yang biasanya orang kaget rasa. Seharusnya Rhea tak kaget lagi. Sagas memang berhak melayangkan pertanyaan ini. Pasalnya dia adalah pihak yang paling merasakan perubahan sikap Rhea dari pagi tadi. "Maaf, ya, Rhe, kalau aku buat kamu marah. Tapi yang semalam itu aku benar-benar nggak niat ngusir kamu kok. Aku cuma butuh ketenangan buat menyelesaikan lukisan aku." Rhea malu setengah mati. Bukan hanya pada Sagas, tapi pada dirinya sendiri. Malu karena Sagas yang sebenarnya tidak salah malah meminta maaf padanya. Sedangkan Rhea yang jelas-jelas tau dirinya bersalah malah diam saja dan berusaha menghindar seperti pengecut sedari tadi. Konyol sekali. Tatapan tulus dari Sagas membuat Rhea luluh. Rasa malunya hilang seketika, digantikan rasa bersalah. "Gue yang harusnya minta maaf, Gas. Lo sama sekali nggak salah, gue aja yang terlalu sensi kemarin. Padahal maksud lo emang nggak begitu. Gue aja yang salah persepsi. Maaf banget, ya, Gas." Sagas tersenyum. "Nggak apa-apa, Rhe. Aku cuma agak bingung karena kamu orang pertama yang ngambek sama aku. Anehnya aku malah suka lihat kamu ngambek gitu. Lucu." "L-l-lucu?" "Iya, lucu." Pipi Rhea bersemu merah. Darahnya berdesir cepat, melewati pembuluh darah. Rhea bisa pingsan kalau begini. Syukurnya Rhio datang di waktu yang tepat. Namun ada yang aneh dari Rhio. Senyumnya merekah dan gerak-geriknya tampak tergesa. "Mbak, aku mau pergi dulu ya! Mau ketemu temen!" serunya. "Hah? Mana punya kamu temen di Jakarta!" Perkataan Rhio ini terdengar aneh bagi Rhea. Pasalnya Rhio dari kecil sampai kelas 3 SMA begini tak pernah keluar dari Jawa Timur. Paling jauh mainnya cuma ke Sidoarjo atau ke Malang kalau ada study tour dari sekolah. Bahkan ini kali pertama dia terbang ke Jakarta. Mana mungkin punya teman begitu saja. "Ada ... pokoknya aku punya temen di Jakarta. Nanti aku pulang pakai taksi biar gak nyasar, jangan khawatir! Mas Sagas, jangan bolehin Mbak Rhea kelayapan ya, Mas! Habis ini pulang aja langsung!" Rhea menghela napas panjang. Sebenarnya cukup khawatir pada adiknya. Mau bagaimanapun kerasnya Kota Surabaya, Jakarta jelas kota yang lebih keras. Kalau diibaratkan, Surabaya itu singa sementara Jakarta adalah T-Rex ganas yang bisa menyerang kapan saja. Terutama untuk Rhio yang biarpun kelihatannya menyebalkan itu tapi kadang bisa kelewat naif. Rhio bisa saja ditipu semudah itu. Rhea jadi ingat saat mereka masih SMP dulu. Masa-masa ketika baru mulai pubertas dan dunia serasa berwarna merah jambu karena serangan jatuh cinta. Waktu itu tidak ada orang yang tidak punya f*******:. Bahkan nenek-nenek penjual ikan di pasar tempat orang tua Rhea bekerja juga punya. Semua orang menjadikan f*******: sebagai pusat kehidupan. Berbagi perasaan di f*******:, berbagi lagu kesukaan di f*******:, bahkan memamerkan hubungan pacaran juga di f*******:. Apalagi untuk anak-anak bau kencur yang berusaha kelihatan dewasa seperti Rhio. Rhea ingat sekali suatu siang di bulan Ramadhan ketika cuaca lagi panas-panasnya, tiba-tiba Rhio mengubah status hubungannya di f*******: menjadi berpacaran dengan seorang perempuan bernama Windy. Dari fotonya, Windy ini tipe-tipe ABG manis yang tidak banyak bicara tapi punya fitur wajah yang menonjol dan membuat orang-orang suka. Rhea langsung bereaksi, jelas saja. Rhea meminta Rhio untuk memutuskan pacarnya itu. Mengancam akan memberitahukannya pada ibu kalau Rhio tidak memutuskan pacarnya itu. Mereka berdua memang sebenarnya tidak boleh berpacaran. Terlalu kecil juga waktu itu. Masih ingusan. Rhio tapi kukuh untuk mempertahankan hubungannya. Dia bahkan bilang ke Rhea kalau dia mau kabur saja bila Rhea mengadu pada ibunya. Rhio bilang dia mau kawin lari bersama Windy-Windy itu karena terlanjur cinta. Amat menggelikan kalau diingat. Bisa-bisanya anak SMP bersikap sedramatis itu. Padahal baru juga pacaran satu hari. Bukannya kawin lari seperti yang dia gembar-gemborkan pada Rhea, keesokan harinya Rhio pulang dengan mata basah dan merah. Dia bahkan menangis di pojokan kamarnya tanpa mau makan dan minum. Butuh waktu lama bagi Rhea untuk membujuk Rhio agar mau bercerita. Rupa-rupanya Rhio menangisi Windy. Bukan karena diputuskan, bukan juga karena perselingkuhan. Tapi karena Windy ternyata tak pernah ada di dunia ini. Kok bisa? Windy ternyata adalah akun yang dibuat teman-teman Rhio untuk mengerjainya. Windy yang selama ini dia kita sebagai perempuan manis yang diciptakan Tuhan buatnya ternyata cuma hasil rekayasa teman-temannya saja. Rhea takut kalau kali ini Rhio juga ditipu seperti itu, bahkan lebih parah. "Rhe, kamu khawatir, ya, sama Rhio?" tanya Sagas, seolah bisa membaca pikiran Rhea dengan begitu mudah. Tapi Rhea memang bukan tipe orang yang bisa menutupi perasaannya. Wajahnya selalu saja berekspresi dengan jelas. "Iya, Gas." Sagas tersenyum sekali lagi. Kalau terus begini bisa diabetes Rhea lama-lama. Sagas lalu bergerak memegang tangan Rhea yang ukurannya setengah dari ukuran tangannya. "Aku memang belum begitu lama kenal Rhio, nggak kayak kamu. Tapi menurut pengamatanku, Rhio itu baik dan cukup bertanggung jawab. Dia juga bukan orang yang gampang ditindas meskipun usianya muda. Aku yakin dia bakal baik-baik aja. Jadi, jangan khawatir ya, Rhe?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD