Dextra:
Gue sidang besok. Awas g bawa hadiah y.
Rhea geleng-geleng kepala melihat pesan dari Dextra. Bisa-bisanya ada manusia yang amat terus terang minta dikasih hadiah begini. Bukannya terlalu tidak tau malu?
Tapi Rhea tidak lagi heran. Dextra memang bisa saja begitu. Kalau Sagas yang begitu, baru Rhea kaget.
"Gas, mau jalan-jalan dulu nggak? Dextra besok sidang skripsi, gue harus cari hadiah."
"Hadiah?" Sagas bertanya.
"Hm. Biasanya orang kalau sidang skripsi tuh dikasih buket bunga, hadiah, gitu-gitu."
"Oh ...." Sagas mengangguk, "Tapi emangnya perlu banget kamu kasih dia?"
"Ya ... walaupun Dextra nyebelin, tapi baik kok. Nggak apa sekali-kali baik sama dia juga."
"Oke, kalau gitu kita mau kemana sekarang?" tanya Sagas.
"Ke toko bunga, deh. Kayaknya gue mau beliin hadiah yang standar aja. Sakit kepala gue kalau disuruh mikir hadiah buat orang."
Mereka kemudian berjalan sebentar hingga sampai ke toko bunga yang terletak di ujung jalan. Begitu masuk, mata Rhea rasanya disiram dengan keindahan. Dimanjakan dengan merekahnya bunga-bunga yang ada di dalam sana.
"Wah ... cantik banget!" ujar Rhea.
Bukan cuma Rhea, Sagas yang memang cinta bunga-bungaan juga merasa bahagia.
Ada terlalu banyak jenis bunga. Mulai dari bunga segar sampai artifisial, dari putih sampai hitam. Rhea sampai tak tau harus memilih yang mana.
"Ada yang bisa saya bantu, Kak?" seorang pekerja toko bunga itu menghampiri Rhea dan Sagas.
"Mmh ... saya mau pesan buket untuk hadiah sidang skripsi, Kak."
"Sidang skripsinya kapan, Kak?"
"Besok, Kak."
"Oh, bisa, Kak. Mau bunga segar apa bunga artifisial? Terus warna dan tipe bunganya apa?" tanyanya.
Rhea kebingungan. Dia tidak pernah beli bunga-bungaan begini sebelumnya. Kemudian Rhea melirik Sagas, meminta bantuan siapa tau laki-laki itu paham.
"Bunga artifisial aja, Mbak," jawab Sagas, "Kamu warnanya mau apa, Rhe?"
"Kamu aja deh yang pilihin, Gas. Aku nggak ngerti," bisik Rhea.
"Kalau gitu ... bunga marigold aja, Mbak. Sama satu buket lagi, ya, Lily warna oranye. Ukurannya medium aja, ya."
"Kok dua?" tanya Rhea.
"Satunya aku. Aku juga mau dateng ke sidang skripsinya Dextra. Boleh, kan?"
"Oke. Saya buatkan notanya dulu, ya."
Penjaga toko bunga itu pun pergi meninggalkan Sagas dan Rhea sendiri. Sagas kembali sibuk dengan bunga-bunga yang ada di sekitarnya. Sesekali dia mendekatkan hidungnya ke bunga-bunga itu lalu tersenyum lebar.
"Sesuka itu lo sama bunga?" tanya Rhea.
Sagas mengangguk.
"Mungkin kedengarannya aneh. Tapi bunga itu hadiah pertama yang aku dapatkan dari orang lain, selain mama. Makanya bunga punya tempat tersendiri di kehidupan aku."
"Feby?" Rhea mengkonfirmasi.
Feby adalah nama tanaman mawar putih pertama yang Sagas punya.
"Iya."
Feby. Nama itu juga punya tempat tersendiri di kepala Rhea. Terkubur jauh dalam otak dan hatinya. Tempat yang berusaha tak lagi dia buka-buka.
"Kenapa harus Feby?" tanya Rhea.
"Hah?"
"Namanya. Kenapa harus Feby?"
"Karena teman aku yang ngasih benih tanaman mawar itu namanya Feby."
Rhea kemudian tertawa kecil, terasa getir. "Pasaran banget ya nama Feby."
Seketika mendung seolah meliputi seluruh perasaan Rhea. Untuk mengalihkannya, Rhea berusaha mengubah topik yang ada.
"Oh, iya, kenapa lo pilih bunga marigold dan Lily oranye?"
"Marigold artinya kesuksesan. Kamu pasti berharap itu kan buat Dextra?"
Rhea mengangguk.
"Nah, kalau lily oranye artinya kebencian. Dari aku, buat Dextra."
Rhea menatap Sagas dengan serius.
"Ha-ha-ha! Bercanda doang kok, Rhe. Sengaja biar Dextra marah."
***
Sidang skripsi itu biasanya dilaksanakan di ruang sidang fakultas masing-masing. Biarpun namanya sidang, ruangannya nggak sebesar pengadilan yang ada di televisi. Ruangannya bisa dibilang sempit malah.
Dextra sempat berprasangka kalau ruang sidang memang sengaja didesain sempit. Biar menyesakkan dan bikin mahasiswa makin tegang ketika berhadapan dengan dosen penguji.
Karena ruangannya kecil, makanya tidak banyak orang yang bisa masuk ruangan sidang. Biasanya cuma ada dua dosen penguji, dua dosen pembimbing, mahasiswa bersangkutan yang melakukan sidang, dan beberapa orang temannya yang ikut menonton dan memberikan dukungan moral.
Rhea dan Sagas termasuk 'teman' yang ikut menonton. Mereka duduk diam di kursi sambil melihat Dextra mempresentasikan hasil penelitiannya.
Acara kali ini sekalian membuka mata Rhea tentang skripsi yang sama sekali tidak dia pahami. Maklumi saja, namanya juga mahasiswa setengah sadar.
Bukan cuma membuka mata Rhea, Sagas juga. Sagas sebagai mahasiswa online tidak pernah hadir ke sidang skripsi semacam ini. Buatnya, ini juga pengalaman baru. Pengalaman pertama.
Meski hubungannya dengan Dextra bisa dibilang rumit, sulit dimengerti, dan selalu diwarnai pertikaian kalau dipertemukan, menurut Sagas kali ini Dextra terlihat keren ketika sedang melakukan presentasi. Nada bicaranya yang tegas dan tidak ragu-ragu itu menunjukkan bahwa Dextra menguasai materi dengan baik. Belum lagi cara berpakaiannya yang rapi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kali ini Sagas mengakui kalau Dextra cukup berkharisma.
Setelah sesi presentasi, timbul sesi lain yang jauh lebih menegangkan. Tepatnya, sesi tanya jawab. Dosen penguji memberikan Dextra pertanyaan bertubi-tubi setelah memujinya sedikit. Tak cuma pertanyaan, Dextra juga diberi kritik dan saran yang nantinya akan dimasukkan ke dalam revisi.
Kalau Rhea yang ada di sepatu Dextra saat ini, dia mungkin sudah panik dan deg-degan parah. Tapi Dextra malah sebaliknya, dia tampak tenang seolah apa yang dialaminya saat ini bukanlah hal besar. Berkepala dingin, istilahnya.
Dextra mendengarkan tiap pertanyaan dengan saksama kemudian menjawabnya dengan lantang. Tak ada keraguan sedikitpun di nada bicara dan sorot matanya.
"Baik, sesi tanya jawab telah selesai. Setelah ini kami para dosen pembimbing dan penguji akan memberikan penilaian untuk saudara Dextra Anandama Rakasivi. Diharapkan semua yang berada dalam ruangan ini bisa keluar terlebih dahulu, akan kami panggil ketika nilainya sudah siap."
Rhea, Sagas, dan orang-orang lainnya keluar dari ruangan mungil itu. Begitu pula dengan Dextra.
Begitu pintu ruangan ditutup, Dextra terjatuh di atas lututnya. Sendi-sendinya terasa lemas, hilang kekuatan begitu saja.
"Lo kenapa? Sakit?" tanya Rhea khawatir.
"Nggak, gue nggak apa," kata Dextra.
Dextra benar-benar tidak apa-apa. Kakinya lemas karena sedari tadi menahan debar dalam dadanya. Meski tampaknya santai dan kalem, nyatanya sidang skripsi adalah hal yang juga menakutkan buat Dextra.
Sedari tadi Dextra pura-pura berani dan berkharisma. Padahal dalam hati sudah jedag-jedug mirip alunan musik disko di tempat dugem. Dia menjawab pertanyaan dosen penguji dengan lantang seolah tak takut apa-apa. Padahal sudah hampir pingsan karenanya.
"Kenapa lo di sini?" tanya Dextra pada Sagas ketika perasaannya sendiri sudah mampu dia kendalikan.
"Ikut Rhea," jawab Sagas singkat.
"Iya, ngapain? Menuh-menuhin tempat aja!" ujar Dextra.
Lagi, Rhea mencium aroma peperangan. Sebelum semuanya makin parah dan tak terkendali serta bikin Rhea pusing sendiri, Rhea memutuskan untuk mengeluarkan s*****a yang dia punya. Lebih tepatnya foto Sagas dan Dextra yang saling menyuapi satu sama lain di rumah makan Padang waktu itu.
"Eh! Kalian lupa udah tukeran kuman?" ucap Rhea sambil menunjukkan foto itu.
Sagas dan Dextra sama-sama mengernyit geli. Seperti tak percaya bahwa mereka pernah melakukan hal menjijikkan itu untuk satu sama lain.
Cara itu berhasil buat Sagas dan Dextra diam. Mereka tak jadi bertengkar, malah buang muka masing-masing. Rhea tersenyum puas. Akhirnya, ada juga cara untuk mengendalikan dua manusia yang tak pernah bisa rukun ini.
Beberapa saat kemudian pintu sidang itu terbuka. Dosen pembimbing Dextra muncul dari dalam ruangan dan meminta semua kembali masuk ke tempatnya.
Rhea dan Sagas mengekor di belakang teman-teman Dextra yang lain lalu duduk beriringan. Saat yang paling mendebarkan akhirnya tiba. Pengumuman nilai.
AC ruangan yang diatur amat dingin pun tak mempan buat Dextra. Sekujur tubuhnya panas karena jantungnya memompa keras.
"Baik, kami sudah merundingkan nilai untuk saudara Dextra Anandama Rakasivi, mahasiswa kedokteran semester 7 yang telah mengerjakan penelitiannya dengan baik. Maka dari itu, kami memberikan nilai sebesar 87,26 dengan huruf mutu A."
Seisi ruangan yang tak begitu besar itu bertepuk tangan. Memberikan apresiasi pada Dextra yang sudah bekerja sangat keras hingga bisa sampai di titik ini.
"Selamat, Dextra." Dosen pembimbing Dextra menyelamati. Begitu pula dengan dosen penguji.
"Terima kasih, Dokter."
Dextra tampak sangat senang. Sama sekali tak bisa ditutupi. Pundaknya yang sedari tadi ditumpu oleh beban berat, kini jadi lebih rileks.
Dosen pembimbing dan penguji kemudian berpamitan untuk meninggalkan ruangan. Sekalian memberikan kesempatan pada Dextra dan teman-temannya untuk saling merayakan momen ini.
Rhea menyodorkan buket bunga yang sedari tadi dia bawa. "Selamat, Bodrex!"
Dextra menerimanya dengan suka cita. Tak bisa menyembunyikan kebahagiaan di pancaran matanya.
"Thanks," katanya pada Rhea.
Sagas juga memberikan buket bunga miliknya pada Dextra. Tentu saja dengan cara paling dingin yang pernah ada. Pakai buang muka segala. Sungguh lucu di mata Rhea.
"Makasih!" ucap Dextra, sudah pasti dengan nada yang tidak enak didengar oleh telinga.
"Eh, eh! Foto dulu dong!" ujar teman-teman Dextra.
Kemudian secepat kilah Rhea didorong menuju ke dekat Dextra. Bersebelahan. Bahkan menempel seperti perangko yang dilekatkan pada amplop. Di sisi lain Sagas ditarik menjauh oleh salah satu teman Dextra sehingga yang ada di frame kamera hanya Rhea dan Dextra.
"Yang lain nggak ikut foto?" tanya Rhea.
"Yang lain siapa? Di mata gue cuma ada Nina sekarang," ucap Dextra.
***
"Besok gue mau ketemu lo," kata Dextra.
"Ngapain?"
"Ngapain aja," ucap Dextra.
Tanpa menjelaskan lebih jauh lagi, Dextra melambaikan tangan lalu masuk ke dalam bangunan kampusnya yang megah itu. Meninggalkan Rhea dan Sagas yang kini ada di bagian luar.
"Yuk, pulang!" ajak Rhea. Sagas mengangguk.
Sagas dan Rhea berjalan menuju halte bus yang lokasinya tepat berada di depan fakultas Dextra. Iya, rencananya mereka mau naik bus bersama-sama. Akan jadi pengalaman pertama untuk Sagas.
Mereka duduk menunggu di halte dengan tenang. Ada beberapa orang lain selain Sagas dan Rhea. Semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing; ada yang sedang bicara di telepon, ada yang sedang mencari informasi dengan gadget-nya, ada yang sedang mengecek ramalan cuaca, bahkan ada dua orang asing yang saling berkenalan untuk pertama kalinya.
Rhea dan Sagas juga sibuk dengan dunianya masing-masing. Sagas sibuk diam sambil memikirkan entah apa, sementara Rhea sibuk memperhatikan Sagas dan menerka apa yang sebenarnya sedang laki-laki itu pikirkan dalam diamnya.
Sampai bus datang, mereka berdua naik dan duduk di kursi bagian paling belakang. Rhea memberikan Sagas kesempatan untuk duduk tepat di samping jendela agar bisa merasakan sensasi terbaik.
Rhea adalah tipe-tipe orang yang selalu memilih untuk duduk di samping jendela ketika berpergian dengan kendaraan umum. Entah itu bus, kereta, bahkan pesawat. Rhea bahkan selalu bertengkar dengan Rhio ketika naik bus untuk mudik ke kampung halaman orang tuanya. Mereka selalu sibuk memperebutkan kursi di samping jendela. Seolah-olah hidup mereka akan tamat dalam hitungan detik kalau tak duduk di sana.
Bisa dibilang Sagas adalah orang pertama yang membuatnya mengalah mengenai kursi di samping jendela. Rhea sendiri tidak menyangka akan melakukan hal seperti ini dalam hidupnya. Bahkan kalau Rhio diberitahu tentang fakta ini, bisa-bisa merasa shock dan tak terima.
Rhea lowkey jadi bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat dia merelakan kursi favoritnya pada seseorang yang bahkan belum genap satu tahun dia kenal ini. Dia bertanya-tanya apa yang membuat Panji Sagasta Mahadierja terasa begitu istimewa di matanya.
Rhea berharap Sagas senang, tapi nyatanya Sagas diam sepanjang perjalanan dengan ekspresi mendung yang sulit dijelaskan. Dia hanya menatap keluar jendela dengan ekspresi yang tampak amat serius.
Bahkan sampai mereka sampai di halte dekat area rumah pun, Sagas masih tetap diam seribu bahasa. Rhea tak tau kenapa.
"Gas, kenapa dari tadi diem aja? Lo mabuk darat? Bus bikin lo gak nyaman?" tanya Rhea.
Sagas menggeleng. "Enggak kok, Rhe."
"Terus kenapa?"
"Enggak apa-apa kok."
Tapi Rhea seratus juta persen yakin kalau Sagas sedang tidak baik-baik saja. Ada yang sedang dia rasakan dan pikirkan meski Rhea tak tau apa itu.
Jelas ini membuat Rhea frustasi. Tapi rasa-rasanya Rhea harus memberikan ruang untuk Sagas. Sagas berhak divalidasi perasaannya. Sagas berhak punya waktu untuk memendam perasaannya tanpa harus bercerita pada Rhea.
Meskipun Sagas dan Rhea berteman, tak semua tentang Sagas harus Rhea ketahui. Begitu pula sebaliknya. Tetap ada batas-batas privasi yang harus mereka miliki masing-masing. Begitulah pertemanan yang sehat.
"Aku masuk dulu ya, Rhe." Sagas berpamitan begitu sampai di depan rumahnya.
Sagas benar-benar langsung masuk ke dalam rumahnya. Padahal biasanya Sagas akan berdiri dulu di depan rumahnya sambil memandangi punggung Rhea yang pergi menjauh menuju indekos-nya.
Padahal bukan hal besar, tapi nyatanya Rhea merasa sedikit kecewa. Tapi memangnya Rhea siapa sampai harus ditunggu Sagas begitu? Rhea tidak sepenting itu hingga Sagas harus buang-buang waktunya. Rhea paham betul tapi masih saja kecewa.
Mendungnya Sagas seoleh menular pada Rhea. Rhea juga jadi ikut mendung dan tak enak perasaannya. Dia berjalan ke indekos dengan langkah lemas seolah habis lari maraton lima kilometer.
Rhea memang bingung kenapa suasana hati Sagas tiba-tiba berubah. Tapi Rhea lebih bingung kenapa suasana hatinya ikut-ikutan berubah?